NovelToon NovelToon
DITALAK SESAAT SETELAH AKAD

DITALAK SESAAT SETELAH AKAD

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami
Popularitas:9.6k
Nilai: 5
Nama Author: Barra Ayazzio

Raya Aprillia Safitri tidak pernah membayangkan bahwa hari yang seharusnya menjadi awal kebahagiaannya justru berubah menjadi awal dari kehancurannya.

Demi baktinya kepada sang ayah, Raya menerima perjodohan dengan seorang pria bernama Kamil. Ia menekan segala keraguan, meyakinkan dirinya bahwa pernikahan bisa tumbuh seiring waktu. Namun, takdir berkata lain.

Baru saja ijab kabul dinyatakan sah, belum sempat Raya menghela napas lega sebagai seorang istri, satu kata menghancurkan segalanya.

Talak.

Di hadapan saksi. Di detik yang sama ketika statusnya berubah menjadi seorang istri, ia juga sekaligus menjadi wanita yang diceraikan.

Lebih menyakitkan lagi, ayah yang begitu ia cintai tumbang saat itu juga, tak kuat menahan kenyataan pahit yang terjadi di depan matanya… dan menghembuskan napas terakhirnya.

Di tengah duka dan kehancuran, Raya hanya bisa terpaku… sementara Kamil berdiri dengan senyum penuh kemenangan, seolah semua ini adalah bagian dari rencana yang telah lama ia susun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

21. Di Kantor Polisi

Suara doa mulai mereda, satu per satu para tamu mengusap wajah mereka. Tahlilan malam terakhir itu berjalan dengan khidmat, tapi bagi Hakim, ketenangan itu terasa semu. Pikirannya sudah lebih dulu pergi, mendahului langkahnya yang masih tertahan di ruang tamu rumah duka.

Hakim dan Iqbal sudah siap berangkat, namun mereka belum memberi tahu kepada siapa pun kalau mereka akan ke kantor polisi. Khawatir terjadi kehenohan.

yang sekiranya akan mengerti keadaannya.

"Bilang ke Fathya aja, dia yang akan mengerti keadaan kita. Kalau ke istriku terlalu jauh manggilnya, nanti akan kentara banget!" Hakim berkata.

"Ok."

Iqbal ke dalam, dia langsung memberikan isyarat ke Fathya untuk mengikutinya. Fathya mengerti, dia langsung bangkit dan mengikuti Iqbal ke luar.

"Thya,” panggilnya lirih.

"Iya, ada apa Bang?”

Hakim mendekat, Iqbal berdiri sedikit di belakangnya. Wajah Hakim terlihat tegang, jauh berbeda dari biasanya.

"Kami mau keluar sebentar,” ucapnya pelan, berusaha tetap tenang.

"Kok keluar? Tahlilannya kan belum benar-benar selesai,” jawab Fathya heran, suaranya juga ikut merendah.

Iqbal menyela singkat, “Ada urusan penting, Thya. Harus sekarang.”

Fathya mengernyit. Ia menatap bergantian ke arah Hakim dan Iqbal, mencoba membaca situasi.

"Urusan apa?” tanyanya lagi.

Hakim menarik napas sebentar, lalu berkata pelan, "Ke kantor polisi.”

Mata Fathya langsung melebar. “Polisi? Kenapa? Siapa—”

"Iya,” potong Iqbal cepat, seolah tak ingin percakapan itu makin panjang. “Masalah Kamil.”

Nama itu langsung membuat Fathya terdiam. Wajahnya berubah, antara kaget dan khawatir.

"Dia lagi?” gumamnya lirih.

Hakim mengangguk lemah. “Iya.”

Beberapa detik mereka terdiam. Suara orang-orang yang masih berbincang pelan di dalam rumah menjadi latar yang kontras dengan percakapan singkat tapi berat itu.

"Terus… papa tahu?” tanya Fathya hati-hati.

Hakim langsung menggeleng. “Jangan dulu, Thya.”

Nada suaranya tegas, tapi ada kekhawatiran yang tak bisa ia sembunyikan.

"Abang nggak mau papa kepikiran. Malam ini aja beliau udah capek banget,” lanjutnya lebih pelan.

Iqbal menambahkan, “Kalau papa nanya, bilang aja kita ada keperluan mendadak. Nanti kita yang jelasin kalau semuanya udah selesai.”

Fathya terlihat ragu. “Tapi kalau beliau nyariin—”

"Tolong, Thya,” potong Hakim, kali ini suaranya sedikit lebih dalam. “Jangan bilang dulu. Kita urus ini secepatnya.”

Fathya menatap kedua kakaknya itu cukup lama. Ia tahu, kalau sudah seperti ini, berarti masalahnya bukan hal kecil.

Akhirnya ia mengangguk pelan. “Iya… aku ngerti.”

Hakim menghembuskan napas lega, meski hanya sedikit.

"Jaga papa ya!” ucapnya.

Fathya mengangguk lagi. “Kalian hati-hati!”

Iqbal menepuk pelan bahu adiknya itu. “Doain aja!”

Tanpa banyak kata lagi, Hakim dan Iqbal segera berbalik. Langkah mereka cepat, hampir tergesa, seolah kalau mereka terlalu lama di sana, mereka bisa berubah pikiran.

Begitu keluar dari rumah, udara malam langsung menyergap. Lebih dingin, lebih sunyi… dan entah kenapa terasa lebih berat.

Mereka berjalan menuju mobil tanpa bicara.

Pintu mobil terbuka, lalu tertutup hampir bersamaan. Mesin dinyalakan, dan dalam hitungan detik, mobil itu mulai menjauh dari rumah yang masih dipenuhi cahaya dan sisa-sisa doa.

Perjalanan menuju kantor polisi pun dimulai.

Mobil melaju membelah malam yang mulai sepi. Lampu-lampu jalan berderet panjang, sesekali menyorot wajah tegang dua bersaudara di dalamnya.

Iqbal menggenggam setir lebih kuat dari biasanya. Rahangnya mengeras, napasnya terdengar berat. Sementara di kursi samping, Hakim duduk diam, menatap lurus ke depan, tapi jelas pikirannya penuh.

Beberapa menit pertama, tak ada yang bicara. Hanya suara mesin dan gesekan ban dengan aspal yang mengisi keheningan. Sampai akhirnya—

Mobil melaju tenang di tengah jalanan malam yang lengang. Tidak ada kemacetan, tidak ada klakson bersahutan—hanya deru mesin yang stabil dan lampu jalan yang bergantian menerangi wajah dua bersaudara di dalamnya.

Iqbal fokus menyetir, tapi sesekali ia menghela napas panjang. Sementara Hakim duduk di samping, kedua tangannya saling menggenggam, seolah menahan sesuatu yang mengganjal di dada.

Beberapa saat, mereka sama-sama diam.

Bukan karena tidak ada yang ingin dibicarakan, tapi karena masing-masing sedang menyusun kata yang tepat.

"Bal…” suara Hakim akhirnya memecah keheningan.

"Iya.”

"Menurut kamu… si Kamil kenapa sih?”

Iqbal tidak langsung menjawab. Matanya tetap lurus ke depan, tapi pertanyaan itu jelas sampai.

"Aku juga nggak tahu,” jawabnya pelan. "Makanya aku heran.”

Hakim menoleh sedikit. “Heran gimana?”

Iqbal menarik napas, lalu menghembuskannya perlahan. “Kamil itu… dulu nggak kayak gini, Bang.”

Hakim mengangguk kecil. “Iya… aku tahu.”

Nada suaranya terdengar berat.

"Dulu dia paling nurut,” lanjut Iqbal. “Kalau disuruh ini-itu, dia jalanin. Nggak pernah aneh-aneh. Bahkan…” ia sempat terdiam sejenak, “papa aja sampai percaya penuh sama dia.”

Hakim menunduk sedikit. “Makanya… sampai dijodohin sama Raya.”

"Iya,” sahut Iqbal cepat. “Kalau dia dari dulu udah begini, mana mungkin keluarga kita berani ambil keputusan itu.”

Keduanya terdiam sejenak.

Nama Raya seperti membuka kembali satu lembar cerita yang belum benar-benar selesai.

"Aku masih nggak nyangka,” gumam Hakim pelan. "Semua berubah secepat itu.”

Iqbal mengangguk kecil. “tetiba tanpa angin tanpa hujan menceraikan Raya di hari pernikahannya, hingga viral. Setelah itu ngomong gak karuan, viral lagi hingga mama meninggal karena serangan jantung. Eeh sekarang malah ada di kantor polisi."

"Iya, padahal dulu…” suaranya mengecil, “dia yang paling jaga nama keluarga.”

"Iya,” sahut Iqbal lirih. “Sekarang malah…”

Kalimat itu tidak dilanjutkan. Tak perlu. Keduanya sudah sama-sama paham.

Mobil terus melaju, stabil. Lampu merah di kejauhan membuat Iqbal mengurangi kecepatan, lalu berhenti perlahan.

Cahaya merah memantul di kaca depan, memberi jeda singkat pada perjalanan mereka.

"Ini pertama kalinya ya…” kata Hakim tiba-tiba.

Iqbal melirik sekilas. “Apa?”

"Kita ke kantor polisi… karena ada keluarga kita yang bermasalah.”

Iqbal terdiam.

Beberapa detik, hanya suara mesin yang masih menyala halus.

"Iya,” jawabnya akhirnya. “Dan semoga yang terakhir.”

Hakim menghembuskan napas panjang. "Iya, aku harap juga gitu.”

Lampu berubah hijau. Mobil kembali berjalan.

"Aku cuma…” Hakim kembali bicara, suaranya pelan tapi jujur, “aku nggak mau kita kehilangan dia, Bal.”

Iqbal menggenggam setir sedikit lebih erat, tapi kali ini bukan karena marah—lebih karena menahan sesuatu.

"Kita belum kehilangan dia,” katanya akhirnya. "Cuma… dia lagi jauh aja.”

Hakim menoleh, menatap adiknya itu.

"Dan tugas kita sekarang?” tanya Hakim.

Iqbal menarik napas dalam, lalu menjawab tenang,

"Bawa dia pulang… kalau dia masih mau pulang.”

Hakim terdiam.

Kalimat itu sederhana, tapi cukup untuk membuat dadanya terasa sesak.

Di kejauhan, bangunan kantor polisi mulai terlihat jelas. Lampunya terang, kontras dengan gelapnya malam. Dan tanpa mereka sadari, perjalanan malam itu bukan cuma tentang menjemput Kamil—tapi juga tentang mencoba memahami… apa yang sebenarnya sedang terjadi pada adik mereka.

Iqbal dan Hakim tiba di kantor polisi dengan langkah cepat. Wajah keduanya sama-sama tegang, meski dengan ekspresi yang berbeda. Hakim terlihat menahan banyak pertanyaan, sementara Iqbal jelas tidak sabar sejak turun dari mobil.

Ruang pemeriksaan itu tidak terlalu besar. Aroma kopi dan kertas bercampur dengan hawa dingin dari pendingin ruangan. Di sana, Kamil duduk dengan tangan terlipat di atas meja, wajahnya tampak lelah tapi masih menyisakan keras kepala yang khas.

"Ih, akhirnya datang juga kalian,” ucap Kamil santai, seolah-olah ini bukan masalah besar.

Hakim menarik kursi, duduk di hadapannya. "Mil, sebenarnya apa yang terjadi?”Suara Iqbal terdengar lebih serius dari biasanya. Alisnya sedikit berkerut, menatap Kamil yang duduk dengan bahu kaku.

Kamil menghela napas pendek. “Aku... mukul seseorang.”

Hakim yang berdiri di sampingnya langsung menoleh cepat. “Siapa?” tanyanya refleks, nada suaranya naik tanpa sadar.

Kamil menggeleng pelan, rahangnya mengeras. "Aku gak tahu namanya… yang jelas dia merebut Amanda dariku.”

"Amanda?” Iqbal menyipitkan mata, mencoba mencerna. Nada suaranya berubah, ada sedikit keheranan sekaligus rasa ingin tahu.

"Dia cewek yang sedang aku perjuangin cintanya,” jawab Kamil, kali ini lebih tegas. Tatapannya lurus ke depan, seolah membela sesuatu yang ia yakini.

Iqbal bertukar pandang singkat dengan Hakim, lalu kembali menatap Kamil. “Terus… kau mukul laki-laki itu di mana?”

"Di apartemennya Amanda.”

Kalimat itu membuat suasana mendadak berubah.

Iqbal mendengus pelan, sudut bibirnya terangkat tipis, bukan karena lucu—lebih ke arah sinis. "Sepagi itu sudah di apartemen Amanda…” Ia menggeleng kecil. “Jangan-jangan dia nginep di sana.”

Kamil diam. Matanya turun sesaat, lalu kembali menatap lurus, tapi kali ini lebih dingin.

"Aku gak tahu.”Jawaban itu terdengar pendek, tapi berat.

Iqbal menarik napas panjang, lalu menyandarkan tubuhnya. Nada suaranya kali ini lebih dingin, bahkan cenderung menghakimi.

"Kalau gitu… jauhi Amanda!” ucapnya tegas. "Dia cewek yang gak bener.”

Detik itu juga, kepala Kamil terangkat.

"Apa?”

1
Salsa Billa
thor mana bisa sekli ucap talk 3 thor?
Barra Ayazzio: Iya betul, emang aturannya talak itu harus dijatuhkan bertahap, 1, 2, dan 3. Di sini author hanya menggambarkan betapa jahatnya Kamil, betapa dia ingin memperlihatkan kepada semuanya, kalau talak itu hak suami. Dia bisa langsung menjatuhkan talak, walaupun baru saja akad. Terimakasih komentarnya.😊
total 1 replies
aku
ini kisahnya komil kah jadinya???? 🙄
Nana Geulise
buat kamil : iya jangan dilepas amanda biar tahu dulu topengnnya amanda.🫢🫢🫢
partini
pasti berjodoh dong kalian serasi 1000%,,Thor raya ngilang terus deh gantian dong Jagan begundal itu terus sinopsisnya kan kan raya kebanting cerita nya kamil
Anonim
nanti kan langsung headshot
Anonim: hah??? Ochinchin??
total 4 replies
lLy trililly
thour jngan terllu kbnyakan hidup enak s kamil ma Mandah Najiis bngett..mending balik ke Raya ja
sunaryati jarum
Malah kamu untung Mil,Manda sudah bunting.🤣🤣🤣 🤭 balasan kau terima lewat Amanda Kamil
sunaryati jarum
Semoga klarifikasi kamu bisa menjawab teka- teki / penasaran kenapa mau saja dijodohkan.
Nana Geulise
udah sikat aja mil jgn ragu bekas aldo beserta bonus anak...kalian tunggu aja tabur tuai...lebih sakit dari yang ditetima keluarga raya...🫢🫢🫢😁
partini
aduh mil mil ga usah banyak mikir gas lah nikahi cepet dapat bonus loh kecebong mantan pacar cakepppp👍
falea sezi
keluarga kamil aja. bego semua
falea sezi
woy tolol jelas2 nginep masak main gundu/Curse//Curse/ bloon g ketulungan. penampilan aja kayak. lacur
sunaryati jarum
Jika Kamil benar mencintaimu apapun keadaannya diterima
partini
semoga berjodoh dengan pak Akmal kalau dia masih single sih
partini
dihhh Amanda bego kamu harus nya bikin tidur bersama dulu baru jerat gitu loh cara Kunti bogel pada beraksi ga pro kamu
sunaryati jarum
Diberi barang ORI berkualitas malah milih barang bekas dan murahan .
Arieee
😡nikahin Sono amanda🤣biar cepet dapet anak🤣
partini
akhirnya kalian bersatu emang betul" pasangan yg cocok dunia akhirat
mantappp
sunaryati jarum
Kamu orang sok Kamil,di perusahaan keluarga saja tidak bisa beradaptasi.Untuk.Amanda ,benar kata ibu Aldo dan saudara Kamil,kau wanita yang tidak bisa menjaga martabat kamu sendiri.Keenakan Aldo hanya menanam benih.Minta Kamil menutup aibmu, untuk membuktikan cintanya mau tidak,tapi kamu harus terus terang jika hamil anak Aldo atau pria lain
sunaryati jarum
Ya sekarang.jadia saja kalian sudah sama-sama sendiri
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!