IG: @hyacinthschia
Brooklyn dan Liam menikah karena perjodohan demi menyelamatkan keluarga Liam, meski hati pria itu tetap milik Helena. Selama beberapa tahun Brooklyn setia menjaga rumah tangga dengan cinta sendirian, hingga kembalinya Helena memicu perceraian di hari ulang tahunnya.
Brooklyn menghilang dan berubah menjadi agen rahasia, sementara Liam baru menyadari ketulusan Brooklyn serta kebohongan Helena setelah semuanya terlambat. Saat Liam diburu mafia, ia tak menyangka bahwa sosok yang ditugaskan melindunginya adalah mantan istrinya sendiri. Kini, di tengah bahaya yang mengintai, keduanya terpaksa berhadapan kembali dengan masa lalu yang belum selesai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hyacinthus Rainwood, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Pagi yang Kacau
Pagi itu, Liam terbangun seperti biasa pada pukul enam pagi, mengikuti rutinitas yang telah bertahun-tahun ia jalani sebelum berangkat ke kantor Whitmore Group. Namun sesuatu terasa berbeda begitu ia membuka lemari pakaiannya, sebuah perasaan janggal yang belum pernah ia rasakan sepanjang hidupnya sebagai seorang eksekutif yang selalu tampil rapi dan terorganisir.
Lemari itu tampak berantakan, jauh berbeda dari kerapian yang biasa ia dapati setiap pagi. Kemeja-kemejanya tidak tersusun berdasarkan warna dan jenis seperti biasanya, dasi-dasinya tergantung sembarangan tanpa urutan yang jelas, dan jas-jasnya tampak sedikit kusut, seolah tidak pernah disetrika dengan teliti seperti yang selalu ia dapatkan selama bertahun-tahun terakhir.
Liam mengernyitkan dahi, mencoba mencari kemeja putih favoritnya yang biasa ia kenakan untuk pertemuan penting hari itu, namun setelah beberapa menit mencari dengan frustrasi, ia baru menyadari bahwa kemeja tersebut ternyata masih berada di keranjang cucian, belum sempat dicuci dan disetrika.
"Bagaimana bisa ini terjadi?" gumamnya kesal, mengambil kemeja lain yang tersedia meski warnanya tidak sepenuhnya cocok dengan jas yang telah ia pilih sebelumnya.
Selama bertahun-tahun pernikahannya dengan Brooklyn, meski ia tidak pernah benar-benar menghargainya secara terbuka, Brooklyn selalu memastikan lemari pakaiannya tertata rapi, setiap kemeja telah disetrika dengan sempurna, dan pakaian yang akan ia kenakan untuk pertemuan-pertemuan penting selalu sudah disiapkan sehari sebelumnya berdasarkan jadwal yang telah Brooklyn pelajari dengan teliti dari kalender kerjanya.
Kini, dengan Helena yang tidak pernah menunjukkan minat sedikit pun terhadap urusan rumah tangga semacam itu, tugas tersebut jatuh ke tangan staf pelayan yang meski kompeten, tidak memiliki pemahaman mendalam tentang preferensi khusus Liam seperti yang dimiliki Brooklyn selama bertahun-tahun.
Setelah akhirnya memilih kombinasi pakaian seadanya, Liam berdiri di depan cermin besar kamarnya, mencoba mengenakan dasi sutra biru gelap yang telah dipilihkan pelayan untuknya. Namun setelah beberapa kali percobaan yang berakhir dengan simpul yang berantakan dan tidak rapi, ia menyadari sebuah kenyataan yang mengejutkan—selama bertahun-tahun pernikahannya, Brooklyn selalu yang mengenakan dasinya setiap pagi, sebuah kebiasaan kecil yang tidak pernah benar-benar ia hargai hingga saat ini, ketika ia harus melakukannya sendiri dan menyadari betapa ia tidak terbiasa dengan tugas sederhana tersebut.
"Sial," umpatnya pelan, melepas dasi yang kembali berantakan itu untuk kesekian kalinya, keringat mulai membasahi dahinya karena frustrasi yang semakin memuncak.
...***...
Dengan harapan mendapatkan sedikit bantuan, Liam melangkah menuju kamar tidur tempat Helena masih tertidur lelap, jam menunjukkan pukul tujuh pagi, waktu yang seharusnya sudah cukup untuk membangunkan seseorang yang berencana memulai hari dengan produktif.
"Helena," panggilnya pelan, mengguncang bahu Helena yang masih terlelap di bawah selimut sutra mahal. "Helena, bangunlah. Aku butuh bantuanmu sebentar."
Helena mengerang tidak senang, membalikkan tubuhnya menjauh dari Liam sambil menarik selimut lebih rapat menutupi tubuhnya. "Liam, ini masih terlalu pagi. Biarkan aku tidur lebih lama."
"Aku hanya butuh bantuan mengenakan dasi ini," jelas Liam, mencoba mempertahankan kesabarannya meski rasa frustrasi sudah mulai menggerogoti dirinya sejak pagi. "Aku ada pertemuan penting jam sembilan, dan aku tidak bisa mengenakan dasi ini dengan benar."
Helena akhirnya membuka matanya, menatap Liam dengan ekspresi yang jauh dari menyenangkan. "Kau membangunkanku hanya untuk masalah dasi? Liam, aku benar-benar butuh istirahat setelah malam yang melelahkan kemarin. Kenapa kau tidak meminta salah satu pelayan untuk membantumu?"
"Aku sudah mencoba, tapi mereka semua sedang sibuk menyiapkan sarapan," jawab Liam, mulai merasakan kekesalan yang sulit ia sembunyikan. "Aku pikir kau bisa membantuku sebentar saja."
"Aku tidak tahu cara mengenakan dasi, Liam," bentak Helena, kini benar-benar terbangun dengan suasana hati yang buruk. "Aku bukan pembantu rumah tanggamu! Kenapa kau tidak belajar melakukannya sendiri seperti pria dewasa lainnya?"
Kata-kata tajam itu membuat Liam terdiam sejenak, sedikit terkejut dengan nada suara Helena yang begitu ketus di pagi hari. Namun ia memilih untuk tidak memperpanjang perdebatan, mengingat waktu yang semakin mepet untuk persiapannya ke kantor.
"Baiklah, maafkan aku sudah mengganggumu," ucap Liam, suaranya terdengar kecewa, sebelum akhirnya keluar dari kamar dengan dasi masih tergantung longgar di lehernya, belum berhasil diikat dengan rapi.
Ia menghabiskan lima belas menit tambahan mencoba berbagai teknik yang ia ingat samar-samar dari video tutorial di internet, akhirnya berhasil mengikat dasi tersebut meski hasilnya jauh dari sempurna dibandingkan simpul rapi yang biasa Brooklyn buatkan untuknya setiap pagi.
...***...
Ketika Liam akhirnya turun menuju ruang makan untuk sarapan, harapannya untuk memulai hari dengan lebih baik kembali kandas. Di atas meja makan, tersaji sepiring telur orak-arik yang terlalu matang, roti panggang yang sedikit gosong di beberapa bagian, dan kopi yang rasanya terlalu pahit tanpa takaran gula yang tepat seperti yang biasa Brooklyn siapkan sesuai seleranya.
"Apa ini?" gumam Liam kesal, mencicipi sesuap telur orak-arik yang teksturnya terlalu kering dan hambar, jauh berbeda dari telur benedict lembut dengan saus hollandaise buatan Brooklyn yang selalu berhasil memulai harinya dengan sempurna.
Marta, pelayan yang bertugas menyiapkan sarapan pagi itu, mendekat dengan ekspresi sedikit cemas. "Apakah ada yang salah dengan sarapannya, Tuan Whitmore?"
"Rasanya tidak seperti biasanya," jawab Liam, mencoba menahan kekesalannya meski jelas terdengar dalam nada suaranya. "Bisakah kau membuatkan sesuatu yang lain?"
"Tentu, Tuan. Apa yang Anda inginkan?"
Liam terdiam sejenak, menyadari bahwa ia bahkan tidak pernah perlu menjelaskan preferensi sarapannya secara detail kepada Brooklyn, karena wanita itu selalu tahu persis apa yang ia sukai tanpa perlu diberitahu berulang kali. "Aku... aku ingin telur benedict dengan saus hollandaise, dan kopi dengan sedikit gula serta susu almond."
Marta mengangguk, meski jelas terlihat kesulitan mengingat kombinasi spesifik yang diminta Liam, sebuah kombinasi yang sudah begitu melekat dalam ingatan Brooklyn setelah bertahun-tahun memperhatikan setiap detail kesukaan suaminya.
Sambil menunggu sarapan baru yang akan memakan waktu tambahan, membuat Liam semakin terlambat untuk pertemuan pentingnya, ia duduk sendirian di meja makan yang kini terasa begitu sunyi tanpa kehadiran seseorang yang biasa menemaninya dengan percakapan ringan sambil memastikan setiap kebutuhannya terpenuhi dengan sempurna.
Ia menatap ruang makan yang begitu megah namun terasa begitu hampa pagi itu, pikirannya tanpa sadar mulai membandingkan kekacauan yang ia alami sejak bangun tidur dengan ketertiban dan kenyamanan yang selalu ia dapatkan tanpa pernah benar-benar ia sadari selama bertahun-tahun pernikahannya dengan Brooklyn.
Setiap detail kecil yang dulu ia anggap sebagai hal yang biasa saja—pakaian yang selalu tersedia rapi, dasi yang selalu terikat sempurna, sarapan yang selalu sesuai seleranya—kini terasa begitu berharga ketika semuanya menghilang begitu saja dari kehidupannya sehari-hari.
"Ini hanya masalah penyesuaian," gumamnya pelan pada diri sendiri, mencoba meyakinkan dirinya bahwa kekacauan pagi ini hanyalah hal sementara yang akan segera teratasi seiring waktu. "Semuanya akan membaik setelah beberapa minggu."
Namun ketika ia akhirnya berangkat menuju kantor dengan pakaian yang kurang pas, dasi yang tidak sepenuhnya rapi, dan perut yang masih terasa tidak nyaman akibat sarapan yang terburu-buru, sebuah pemikiran kecil yang tidak nyaman terus mengganggu benaknya sepanjang perjalanan—pemikiran tentang betapa banyak hal kecil namun penting yang selama ini Brooklyn lakukan untuknya tanpa pernah ia hargai, dan betapa ia baru menyadari nilai dari semua itu justru ketika semuanya telah hilang sepenuhnya dari kehidupannya.
Liam menghela napas panjang di dalam mobilnya yang melaju menuju kantor Whitmore Group, menatap keluar jendela dengan pikiran yang dipenuhi kebingungan yang semakin bertambah setiap harinya—kebingungan tentang apakah keputusan yang telah ia ambil selama ini benar-benar merupakan pilihan yang tepat, ataukah ia telah kehilangan sesuatu yang jauh lebih berharga dibandingkan yang pernah ia sadari sebelumnya.