Dianggap sampah tanpa bakat. Dikhianati oleh seniornya sendiri. Dan dipaksa menyaksikan kematian sang guru di depan mata.
Hiraisin hanyalah murid terbuang di Sekte Awan Putih yang dianggap tak punya masa depan karena meridian tubuhnya terluka. Namun, di tengah gempuran brutal pasukan Raja Kegelapan, darah Hiraisin menetes di atas hulu pedang patah berkarat—membangunkan rahasia purba yang lama tertidur.
Segel di tubuhnya hancur. Petir dari langit menyambar, membakar meridiannya dan membangkitkan legenda yang telah lama punah: Pedang Kilat.
Kini, dengan luka pengkhianatan di dada dan percikan listrik yang sanggup merobek malam, Hiraisin memulai perjalanan darah. Di hadapannya berdiri jutaan pengikut iblis, para jenderal mengerikan, dan Raja Kegelapan yang menguasai takhta dunia.
Satu tebasan telah lahir. Dan kegelapan tak akan pernah sama lagi.
"Saat dunia dikuasai bayang-bayang, kilat adalah satu-satunya keadilan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Astrius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Peta Prasasti Purba & Jejak Cincin Api
Cahaya keemasan dari Hati Samudera Purba memancar begitu hangat, membiaskan bayangan Runa-Runa melayang di sekeliling aula utama Istana Bawah Air Sejati. Di tengah aura keheningan yang suci, Prasasti Purba berdiri megah—sebuah batu granit hitam bertatahkan kristal pelangi yang telah terkubur dari jangkauan dunia selama puluhan ribu tahun.
Liora melangkah perlahan mendekati batu prasasti tersebut. Jarinya yang halus mengusap permukaan ukiran huruf-huruf kuno yang terukir rumit. Di sampingnya, Putri Nerida memejamkan mata, mengalirkan seberkas tenaga batin darah bangsawan duyung untuk mengaktifkan mekanisme bacaan prasasti.
HUMMMMMM!
Seketika itu juga, Runa-Runa Bahasa Dewa Purba di atas prasasti menyala terang satu per satu. Aksara-aksara cahaya melepaskan diri dari permukaan batu, melayang di udara dan membentuk sebuah proyeksi peta sihir tiga dimensi dari benua dan lautan purba.
"Ini... peta sebaran kekuatan Artefak Pedang Kilat Purba," bisik Liora dengan mata berbinar-binar. Suaranya penuh dengan nada takjub sewaktu menerjemahkan lambang-lambang kuno tersebut. "Di masa penciptaan, Pedang Kilat Purba ditempa dari lima elemen dasar yang menyatu dengan kilat Surgawi: Angin, Air, Api, Tanah, dan Jiwa."
"Dua pecahan telah menyatu kembali di dalam pedangmu, Hiraisin," ujar Putri Nerida seraya menunjuk dua simpul cahaya ungu-keemasan di peta sihir yang berputar perlahan. "Pecahan pertama adalah Saraf Kilat Angin, dan pecahan kedua yang baru saja kau dapatkan adalah Inti Kilat Samudera."
Hiraisin menyentuh gagang Pedang Kilat Purba di punggungnya. Ia bisa merasakan dua aliran energi yang berbeda—hembusan tajam bagaikan angin taufan dan ketenangan arus lautan yang dalam—kini mengalir harmonis di dalam bilah pedangnya.
"Di mana lokasi pecahan ketiga?" tanya Hiraisin singkat, pandangannya mengunci simpul cahaya merah menyala yang berdenyut gelisah di sudut selatan peta sihir.
Liora mencondongkan tubuhnya, membaca barisan bait Runa di bawah simpul merah tersebut. Wajah cantiknya mendadak memucat.
"Pecahan ketiga... adalah Pecahan Bilah Api Purba," tutur Liora pelan. "Pecahan itu bersemayam di dalam Palung Cincin Api—sebuah wilayah gunung api bawah laut yang terisolasi di kedalaman terlarang Perairan Selatan. Di sana, suhu airnya mencapai ribuan derajat Celsius dan dipenuhi magma abadi yang beracun."
Putri Nerida mengangguk membenarkan. "Suku Duyung Kelam mengenalnya sebagai Lautan Magma Merah. Wilayah itu adalah tempat yang paling dijauhi oleh seluruh biota laut. Bukan hanya karena lingkungan alamnya yang sangat mematikan, tetapi juga karena wilayah itu dijaga oleh sesosok penguasa kuno yang tertidur."
"Dan ada peringatan tambahan di prasasti ini," potong Liora, menunjuk Runa kehitaman yang bergetar di dekat peta Palung Cincin Api. "Pasukan Abyss juga sedang menuju ke sana. Panglima Tertinggi Abyss telah mengutus Komandan Divisi Kedua mereka—Komandan Pyroth sang Pembakar Lautan—untuk merebut pecahan itu lebih dulu!"
"Jika mereka berhasil mendapatkan pecahan elemen Api, energi destruktif Abyss akan menjadi tak tertandingi," ujar Kapten Roderick yang berdiri di dekat pintu masuk aula seraya mengepalkan tinjunya erat-erat. "Kita tidak boleh membiarkan monster-monster itu mendahului kita!"
Hiraisin menatap proyeksi peta sihir yang perlahan meluruh kembali menjadi debu cahaya. Matanya berkilat tajam dengan keteguhan yang tak tergoyahkan.
"Kita berangkat ke Palung Cincin Api sekarang," tegas Hiraisin.
Satu jam kemudian, berita tentang kejatuhan Komandan Morvath dan pembersihan racun Pasang Hitam telah menyebar ke seluruh penjuru kota bawah air. Suasana duka yang tadinya mencekat kini berganti menjadi sorak-sorai kebahagiaan dan rasa syukur dari ribuan warga Suku Duyung Kelam.
Di dermaga utama kota, kapal Bahari Purba telah selesai diperbaiki oleh para pengrajin karang duyung. Dinding lambung kapal yang tadinya tergores asam laut kini diperkuat dengan pelat kristal karang keras yang membiaskan warna biru-perak.
Putri Nerida berdiri di tepi dermaga, diiringi oleh barisan prajurit duyung berzirah perak yang membungkuk hormat. Di tangannya, Putri Nerida membawa sebuah kotak teratai yang terbuat dari kristal es purba.
"Hiraisin, Liora, Kapten Roderick," panggil Putri Nerida anggun. Ia membuka kotak kristal tersebut, memperlihatkan tiga buah mutiara berukuran sebesar kepalan tangan yang memancarkan pendar dingin yang amat menenangkan.
"Ini adalah Mutiara Es Jiwa Samudera," jelas Putri Nerida seraya menyerahkan kotak tersebut kepada Liora. "Mutiara ini adalah harta karun tertinggi Suku Duyung Kelam yang dibentuk dari embun air suci Hati Samudera Purba. Jika kalian membawanya, mutiara ini akan membentuk kubah pelindung suhu es yang sanggup menahan tekanan magma abadi dan menetralkan gas belerang beracun di Palung Cincin Api."
Liora menerima kotak itu dengan penuh rasa hormat. "Terima kasih banyak, Putri Nerida. Bantuan ini teramat sangat berharga bagi perjalanan kami."
Putri Nerida menatap Hiraisin dengan pandangan penuh rasa percaya. "Kalian telah menyelamatkan bangsa kami dari kehancuran dan kepunahan. Atas nama seluruh rakyat Duyung Kelam, aku bersumpah—jika kelak Sang Pewaris Petir membutuhkan bantuan armada laut suku kami di permukaan, panggilah namaku melalui Mutiara Samudera ini, dan kami akan datang membelah lautan untuk bertarung di sisimu!"
"Sumpahmu kami terima dengan bangga, Putri," jawab Kapten Roderick seraya memberi hormat penuh tata krama ksatria laut.
Hiraisin membungkukkan badannya sedikit. "Jaga Istana Bawah Air ini dengan baik, Nerida."
"Semoga dewa lautan dan petir purba selalu memberkati langkah kalian," bisik Putri Nerida tulus saat air mata harunya menetes menjadi butiran mutiara kecil di atas dermaga kristal.
Dengan lambaian tangan hangat dari ribuan warga duyung yang berbaris di sepanjang dermaga, Kapten Roderick menarik tuas utama kapal. Bahari Purba perlahan terangkat melayang, meluncur keluar dari kubah udara pelindung dan kembali membelah kegelapan lautan dalam.
Atas bantuan pusaran air buatan para penyihir duyung, Bahari Purba melesat kencang melintasi jurang-jurang lautan dalam kecepatan yang melipatgandakan perjalanan biasa.
Namun, semakin mereka berlayar menjauh ke arah selatan, perubahan ekstrem pada ekosistem laut mulai terasa dengan sangat nyata.
Warna air laut yang tadinya biru pekat perlahan bertransformasi menjadi keruh kemerahan. Kehangatan air laut menghilang, berganti menjadi hawa panas yang membakar bahkan dari balik pendar pelindung Runa kapal. Di dasar lautan, terumbu karang yang indah menghilang, digantikan oleh hamparan batu basalt hitam berstruktur tajam dan retakan-retakan kerak bumi yang memuntahkan lahar cair.
GLUMMMM... GLUMMMMM!
Lautan mendadak bergetar hebat. Semburan air mendidih bercampur abu vulkanik menyembur dari bawah laut, menciptakan gelembung-gelembung udara raksasa yang meledak di permukaan air.
Liora berdiri di geladak kapal, memegang kotak Mutiara Es Jiwa Samudera. Dari kejulan mutiara es itu, terhampar aura kebiruan dingin yang membungkus seluruh lambung Bahari Purba, menahan gelombang hawa panas yang mencoba membakar kayu purba kapal tersebut.
"Suhu air di luar kapal telah menembus lima ratus derajat," ujar Liora seraya mengamati termometer sihir di tangannya. "Tanpa Mutiara Es dari Putri Nerida, kapal kita pasti sudah hancur meleleh dalam hitungan detik."
"Lihat ke depan!" teriak Kapten Roderick dari balik kemudi kapal.
Di hadapan mereka, membentang sebuah dinding guratan gunung api bawah laut raksasa yang melingkar bagaikan cincin raksasa di dasar samudra. Dari kawah-kawah kawah gunung api tersebut, magma merah menyala mengalir deras bagaikan sungai api bawah air, menerangi kegelapan samudra dengan pendar merah darah yang mengerikan.
Inilah Palung Cincin Api—wilayah terlarang tempat bersemayamnya Pecahan Bilah Api Purba.
Di tengah raungan gunung api dan dentuman gelembung magma, Hiraisin melangkah ke ujung anjungan kapal. Pedang Kilat Purba di punggungnya mendadak bergetar hebat. Pendar ungu-keemasan di sarung pedangnya meletupkan percikan api kecil yang menari-nari liar, merespons keberadaan gelombang elemen api raksasa di dalam kawah utama.
Namun, di saat yang bersamaan, mata tajam Hiraisin menangkap sosok ribuan bayangan hitam yang berlayar di atas perahu-perahu besi hitam berornamen tengkorak yang membara di sekitar kawah.
Di atas kapal besi terbesar, berdiri sesosok ksatria jangkung berzirah baja merah menyala yang memegang kapak perang raksasa berapi. Dari balik helm zirahnya, sepasang mata membara menatap Bahari Purba dengan senyuman haus darah.
Komandan Divisi Kedua Abyss, Komandan Pyroth, telah menunggu mereka di pintu masuk kawah api.
"Akhirnya kau datang juga, Bocah Petir," gema suara Pyroth membelah gemuruh letusan gunung api, membakar air laut di sekitarnya menjadi buih uap yang mendidih. "Kawah ini akan menjadi kuburan membara bagi kalian semua!"
Hiraisin menggenggam erat gagang pedangnya, membiarkan energi sinergi petir dan airnya meledak menyelimuti tubuhnya.
"Niat yang bagus," pangkas Hiraisin dingin. "Tapi api milikmu yang akan kupadamkan hari ini."