Clara Nagendra, siswi berprestasi dengan senyum tempelan sempurna, hidup dalam rumah dingin yang hanya memuja adiknya, Thea. Di balik nilai 98 dan piala emas, ia menyembunyikan gagal ginjal kronis stadium 4 dalam diary biru lusuhnya. Hanya Nenek Kamila dan tiga sahabatnya yang melihat lukanya. Pertemuannya dengan Kim Seokjin, ketua geng motor yang ditakuti, mengubah segalanya. Dari musuh jadi rumah. Dari taman belakang yang bersih hingga janji rumah kecil bernomor 7 di Lembang, Clara akhirnya menemukan tempat pulang — bukan gedung, melainkan pelukan yang tidak menuntutnya sempurna. Sebuah kisah tentang luka yang tak terlihat, cinta yang menjadi tempat istirahat, dan rumah yang tertinggal namun tetap menyala.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja Juliani Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29 — Tolong, Jangan Kasih Tahu Seokjin
Tiiiiit —
Suara monitor panjang bikin koridor langsung diem.
Nenek yang berdiri langsung lemes, duduk. Tangannya masih genggam gantungan kunci rumah kecil. Ada noda merah di sisinya.
Seokjin berdiri beberapa langkah dari pintu UGD. Napas masih berat abis lari dari sekolah. Diary biru Clara ada di tangannya, sampulnya kena rembes darah dari perban tadi.
Pintu UGD kebuka. Dokter Risa keluar, masker diturunin setengah.
"Keluarga Clara?"
"Saya neneknya," Nenek langsung berdiri.
Dari lift, Mama Vania lari, kebaya wisuda masih dipake. "Saya mamanya!" Papa sama Thea di belakang.
Dokter angguk. "Tadi sempat drop dan aksesnya berdarah banyak. Sekarang udah kami stabilkan sementara, tapi masih kritis. Dia sadar sebentar dan minta ketemu satu orang. Namanya Mutiara."
Mutiara yang di dekat Diana langsung kaget. "Saya?"
"Iya," kata Dokter.
Seokjin maju. "Dok, saya pacarnya, boleh masuk bareng?"
Dokter natap Seokjin. "Dia minta Mutiara dulu ya, Jin. Sebentar aja. Abis itu kamu boleh."
Seokjin telan ludah. "Oke."
Mutiara jalan ke pintu, tangannya gemeter. Sebelum masuk dia noleh ke Seokjin.
"Temenin dia, Mut," kata Seokjin pelan.
Pintu ketutup.
Di dalem, lampu putih terang, bau obat. Clara pucet, oksigen kepasang, perban baru di tangan.
Begitu liat Mutiara, Clara senyum.
"Mut..."
Mutiara langsung genggam tangannya. Dingin.
"Diary gue..." Clara ngelirik tas Mutiara.
Mutiara taruh diary biru di dada Clara. Clara ngusap sampulnya.
"Mut, tolongin gue satu hal."
"Jangan ngomong gitu, Cla."
"Please. Jangan kasih tau Seokjin dulu."
Mutiara kernyit. "Maksudnya?"
Clara natap langit-langit, matanya berkaca. "Jangan kasih tau dia kalau gue lagi ngomong kayak mau pergi. Kalau keadaan gue makin buruk... jangan kasih tau dia sekarang."
"Kenapa?"
"Gue capek, Mut. Gue gak mau wajah terakhir yang dia inget itu gue di ranjang kayak gini. Gue mau dia inget gue yang ketawa di taman. Yang bikin daftar rumah kecil. Yang pengen pelihara Kopi sama Susu."
Mutiara nangis tanpa suara.
"Dia udah cukup takut dari pagi," lanjut Clara pelan. "Gue tau dia nunggu di luar bawa gantungan rumah itu."
"Gue harus bohong sama dia?"
"Bukan bohongin penyakitnya, Mut. Dia kan udah tau dari lama. Bohongin kalau gue lagi pamitan. Gue sayang dia, makanya gue mau dia inget Clara yang di taman, bukan Clara yang di UGD."
Air matanya jatuh ke diary.
"Diarynya kasih ke dia nanti ya, kalau semuanya udah selesai. Di dalemnya ada semua yang gak pernah bisa gue bilang."
Mutiara angguk sambil nangis. "Janji?"
"Iya. Gue janji."
"Terus... bilangi Mama gue sayang Mama. Bilangi Thea jangan pernah ngerasa bersalah. Ini bukan salah dia."
Mutiara angguk terus.
"Dan Seokjin... bilangi makasih udah jadi rumah gue."
Clara merem sebentar, napasnya berat. "Rumah itu... tetep rumah."
Perawat kasih isyarat waktu abis.
Mutiara cium tangan Clara. "Lo harus balik, Cla. Tulisan buat Seokjin belum selesai."
Clara senyum tipis, matanya merem pelan.
Mutiara keluar dengan berat.
Begitu pintu kebuka, semua berdiri. Seokjin paling cepet.
"Clara gimana?"
Mutiara gigit bibir. Dia inget janji barusan. Gak boleh bilang kalau Clara lagi pamitan.
"Dia capek banget, Jin. Tadi sempet ngobrol, terus minta istirahat. Dia minta gue jagain diarynya dulu."
Seokjin natap diary di tangan Mutiara. Dia tau Mutiara nangis bukan cuma karena capek.
"Dia ngomong apa?"
"Dia titip pesan buat Mama sama Thea. Buat lo... nanti dia bilang sendiri."
Seokjin angguk, duduk lagi. Tangannya masih ada sisa darah kering. "Yang penting dia istirahat."
Mutiara duduk di lantai, meluk diary, nangis diem-diem. Mama Vania samperin, "Makasih ya, Mut."
Jam 3 sore, gak ada kabar.
Jam 4, pintu masih ketutup.
Jam 5, Seokjin gak beranjak. Sesekali liat pintu, liat jam, liat Mutiara yang gak berhenti meluk diary.
"Dia pasti tidur," gumam Seokjin. Mutiara cuma nunduk.
Pukul 17.30 pintu akhirnya kebuka. Dokter Risa keluar, wajahnya beda. Bukan tegang panik, tapi lelah.
Nenek langsung berdiri. "Dok?"
Dokter lepas masker pelan, natap Nenek, Mama, Papa, Thea, Mutiara, Diana, Safira, terakhir Seokjin.
"Bu... kami sudah berusaha semaksimal mungkin."
Koridor langsung sunyi.
Mutiara langsung tutup mulut.
Seokjin kernyit. "Dok?"
Dokter narik napas. "Maaf. Clara gak berhasil kami selamatkan."
Dari dalem UGD kedengeran jeritan Mama.
"CLARAAAAA!"
Seokjin beku. "Enggak..."
Dia mundur selangkah, terus lari ke pintu.
"CLARA!"
Perawat tahan pintu. "Mas, tunggu!"
Seokjin mukul pintu. "Clara, gue di sini!"
Mutiara jatuh duduk, diary terlepas dari pelukannya, kebuka. Halaman terakhir keliatan.
Buat Seokjin... makasih udah jadi rumah—
Gak selesai.
Mutiara nutup muka, tangisnya pecah.
Seokjin masih di depan pintu, nunduk, kepalan tangannya gemeter.
"Lo janji bilang rumah... jangan pergi."
Beberapa detik kemudian sesuatu jatuh dari saku belakang diary. Kertas kecil dilipet rapi.
Mutiara ngambil. Bukan resep. Tulisan tangan Clara rapi banget.
Di atasnya tertulis:
SURAT BUAT SEOKJIN
JANGAN DIBUKA SEBELUM GUE PERGI.
Mutiara natap tulisan itu lama, air matanya jatuh lagi.
Clara udah siapin kata terakhirnya jauh sebelum hari ini.