NovelToon NovelToon
Dikhianati di Usia Senja, Dipinang Miliarder

Dikhianati di Usia Senja, Dipinang Miliarder

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Selingkuh / Pelakor jahat / Cinta Lansia / Tamat
Popularitas:1.1M
Nilai: 5
Nama Author: Anindita Kirana

Ratna Wulandari, dokter desa berusia enam puluh tahun, telah mengabdikan 37 tahun hidup untuk suami Bambang dan seluruh keluarga. Namun sebuah paket terlarang membongkar rahasia gelap suaminya: selama puluhan tahun ia berselingkuh dengan cinta pertama Sari, rutin kirim uang, belikan rumah bahkan pesan kavling makam pasangan untuk berdua. Saat Ratna buktikan semua fakta ke anak-anaknya, mereka justru minta dia diam demi nama keluarga dan harta. Dikhianati suami, diabaikan anak, Ratna akhirnya berhenti bersabar dan berjuang merebut hak hidupnya yang sempat terbuang sia-sia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anindita Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 4

Bab 04 - Nasihat Melati

Melati datang ke rumah ibunya keesokan siang dengan wajah panik.

Ia tidak datang sendiri. Suaminya, Rizal, mengantar sampai depan pagar, tetapi tidak ikut masuk. Di jok belakang mobil, anak perempuan mereka tertidur dengan botol susu masih menempel di tangan.

"Mas, tunggu sebentar saja," kata Melati sambil membuka pintu mobil.

Rizal mengangguk. "Jangan lama-lama. Nanti aku harus buka toko."

Ratna melihat dari teras.

Melati berjalan cepat, sandal hak pendeknya berbunyi di lantai semen halaman. Usianya tiga puluh empat, sedang hamil anak kedua, wajahnya lebih bulat dari biasanya. Ia masih memakai seragam toko kecil mereka di dekat stadion kota.

"Ibu kenapa? Semalam Ibu cuma bilang penting. Aku sampai tidak bisa tidur."

Ratna membuka pintu lebih lebar. "Masuk dulu."

Melati masuk, tetapi tubuhnya tidak bisa diam. Ia duduk di ruang tengah, lalu berdiri lagi, lalu duduk. Matanya menangkap kotak besi di meja.

"Itu apa?"

Ratna tidak menjawab langsung. Ia mengambil map, lalu menyerahkannya kepada Melati.

"Baca."

Melati membuka map dengan cepat.

Pada foto pertama, dahinya berkerut.

"Ini Bapak waktu muda?"

Ratna mengangguk.

"Yang perempuan ini siapa?"

"Sari Handayani."

Melati masih bingung beberapa detik. Lalu wajahnya berubah.

"Sari yang dulu itu?"

Ratna tidak heran Melati tahu. Nama Sari pernah beberapa kali terdengar dalam keluarga, biasanya sebagai cerita masa muda Bambang. Cinta pertama yang tidak jadi. Cerita seperti itu dulu terdengar ringan, bahkan kadang jadi bahan candaan saat Lebaran.

Melati melihat foto berikutnya, struk restoran, bukti transfer, lalu kuitansi kavling makam.

Tangannya berhenti di lembar terakhir.

"Kavling makam?"

Suaranya mengecil.

"Iya."

"Atas nama Bapak dan Sari?"

"Iya."

Melati menatap ibunya. "Ini salah paham, kan?"

Ratna duduk di seberangnya. "Kamu pikir salah pahamnya di bagian mana?"

Melati membuka mulut, lalu menutupnya.

Ia membaca ulang bukti itu dengan wajah semakin pucat. Setelah beberapa menit, ia meletakkan semuanya di meja.

"Bapak tahu Ibu sudah tahu?"

"Tahu."

"Dia bilang apa?"

"Dia bilang Sari tidak punya siapa-siapa. Dia hanya membantu."

Melati memejamkan mata.

"Ya Allah..."

Ratna menunggu amarah keluar dari mulut anaknya. Ia membayangkan Melati akan memaki Bambang, menangis, lalu memeluknya. Melati memang sering keras kepala, tetapi ia anak perempuan satu-satunya. Ratna pikir, setidaknya sesama perempuan, Melati akan mengerti perasaan ibunya.

Melati justru berkata pelan, "Bu, jangan gegabah."

Ratna menatapnya.

"Apa maksudmu?"

Melati menelan ludah. "Maksudku... ini memang salah. Bapak salah. Tapi Ibu jangan langsung berpikir macam-macam. Jangan langsung minta cerai atau bikin ribut."

Kata cerai belum keluar dari mulut Ratna.

Tetapi Melati sudah lebih dulu takut.

"Kenapa?" tanya Ratna.

Melati mengusap perutnya. "Ibu sudah enam puluh. Kalau Ibu cerai, Ibu mau tinggal di mana? Di klinik terus? Rumah ini atas nama siapa? Tanahnya bagaimana? Nanti kalau Bapak keras kepala, urusannya panjang. Sidang di Pengadilan Agama tidak sebentar, Bu."

Ratna diam.

Melati melanjutkan cepat, seolah takut ibunya salah paham.

"Aku bukan membela Bapak. Sungguh bukan. Tapi kita harus realistis. Ibu pikir hidup sendiri di usia begini gampang? Dimas punya keluarga. Raka sering keluar kota. Aku juga punya rumah tangga sendiri. Aku sedang hamil. Kalau Ibu tinggal bersamaku, rumah kecil. Mertuaku juga sering datang."

Ratna menatap wajah anaknya.

Setiap kalimat Melati seperti jarum. Tidak menusuk dalam sekali, tetapi banyak. Bertubi-tubi.

"Jadi menurutmu aku harus diam?" tanya Ratna.

"Bukan diam. Tapi pikirkan baik-baik."

"Aku sudah tiga puluh tujuh tahun berpikir baik-baik."

Melati menggigit bibir. "Bu, aku tahu Ibu sakit hati. Aku juga marah. Tapi Bapak tetap Bapak. Kalau Ibu bongkar ini ke semua orang, keluarga kita malu. Tetangga pasti ramai. Grup WA RT itu mulutnya lebih cepat dari toa masjid."

Ratna hampir tersenyum pahit.

Malu.

Lagi-lagi malu.

Bambang takut malu. Melati takut malu. Semua orang takut malu.

Tidak ada yang bertanya Ratna menanggung malu macam apa ketika tahu suaminya menyiapkan makam dengan perempuan lain.

"Melati," kata Ratna pelan, "kamu lihat ini."

Ia menunjuk kuitansi makam.

"Bapakmu ingin dikubur di samping Sari. Bukan di samping aku."

Mata Melati memerah. "Aku tahu."

"Tidak. Kamu belum tahu. Kamu hanya membaca kertasnya. Aku yang tidur satu ranjang dengannya puluhan tahun. Aku yang mencuci bajunya. Aku yang merawatnya waktu dia operasi. Aku yang membesarkan kalian saat dia sibuk dengan urusan sendiri. Lalu di akhir hidupnya, tempat di sampingnya sudah dia berikan ke perempuan lain."

Melati menunduk.

Ratna bertanya, "Kalau Rizal melakukan itu padamu, apa kamu akan diam?"

Melati langsung mengangkat wajah. "Mas Rizal tidak mungkin."

"Aku dulu juga berpikir begitu tentang bapakmu."

Melati terdiam.

Dari luar, terdengar klakson pendek. Rizal mungkin memberi tanda.

Melati menoleh ke jendela, lalu kembali menatap ibunya.

"Bu, setidaknya jangan sekarang. Jangan waktu aku sedang hamil. Aku tidak kuat kalau keluarga ribut. Mertuaku pasti banyak tanya. Nanti mereka pikir keluargaku berantakan."

Ratna menatap perut Melati.

Seumur hidup, setiap kali anak-anak berkata tidak kuat, Ratna yang menguatkan diri. Saat Dimas butuh biaya kuliah, Ratna membuka praktik sampai malam. Saat Raka menikah, Ratna menjual gelang pemberian ibunya. Saat Melati melahirkan anak pertama, Ratna bolak-balik dari kampung ke kota untuk membantu meski lututnya sudah sering nyeri.

Sekarang pun, yang pertama dipikirkan Melati adalah dirinya sendiri.

Ratna tidak marah. Belum.

Ia hanya merasa lelah.

"Aku memanggilmu karena kamu anakku," kata Ratna. "Bukan karena aku meminta izin."

Melati tersentak. "Ibu..."

"Dimas dan Raka juga harus tahu."

"Jangan!" Melati hampir berdiri. "Kalau Mas Raka tahu, dia pasti meledak. Dia paling keras. Nanti Bapak dihajar. Nanti urusan makin besar."

"Urusan ini memang besar."

"Tapi bisa diselesaikan pelan-pelan."

"Sari menunggu pelan-pelan selama sepuluh tahun. Bapakmu membohongiku pelan-pelan selama sepuluh tahun. Aku tidak mau mati pelan-pelan juga."

Melati menutup mulutnya.

Untuk sesaat, ia tampak seperti anak kecil yang baru pertama kali melihat ibunya bukan sebagai ibu. Melainkan sebagai perempuan.

Perempuan yang bisa terluka.

Perempuan yang bisa muak.

Perempuan yang bisa pergi.

Melati duduk kembali. Suaranya lebih rendah.

"Ibu mau apa?"

Ratna menjawab jujur, "Aku belum tahu."

"Kalau Bapak minta maaf?"

"Aku belum tahu."

"Kalau Bapak janji meninggalkan Sari?"

Ratna menatap kotak besi.

"Aku juga belum tahu."

Melati menghela napas panjang. "Bu, orang seusia Ibu... maaf, maksudku, kalau cerai, nanti orang bilang apa? Mereka pasti bilang Ibu tidak sabar. Mereka pasti bilang sudah tua masih cemburu. Mereka pasti bilang laki-laki memang begitu, yang penting pulang."

Ratna bertanya, "Dan kamu akan bilang apa?"

Melati tidak langsung menjawab.

Diamnya lebih jujur daripada kata-kata.

Ratna mengangguk pelan.

"Baik."

"Bu, bukan begitu..."

"Tidak apa-apa. Aku sudah dengar cukup."

Melati menangis. Air matanya jatuh, mungkin karena sedih, mungkin karena takut. Ia meraih tangan Ratna.

"Aku sayang Ibu. Aku cuma tidak mau Ibu susah."

Ratna membiarkan tangannya digenggam.

"Aku juga sayang kamu. Tapi sayang tidak boleh selalu berarti aku yang menelan semuanya."

Klakson di luar berbunyi lagi.

Melati menghapus air mata cepat-cepat. "Aku harus pulang. Nanti aku telepon Mas Dimas dulu. Jangan Ibu yang bicara. Biar aku pelan-pelan."

"Tidak perlu."

"Bu..."

"Aku akan bicara sendiri."

Melati menatap ibunya dengan panik.

Ratna berdiri, merapikan map, lalu memasukkannya kembali ke tas.

"Kamu pulanglah. Jaga kandunganmu."

"Ibu jangan lakukan apa-apa sebelum aku telepon lagi."

Ratna tidak menjawab.

Melati keluar dengan langkah berat. Di depan pagar, ia sempat menoleh. Ratna berdiri di ambang pintu, wajahnya tenang. Terlalu tenang sampai Melati merasa lebih takut.

Setelah mobil Rizal pergi, Ratna mengambil ponsel.

Ia membuka kontak Dimas.

Jarinya sempat berhenti.

Lalu ia menekan tombol panggil.

Ketika suara anak sulungnya terdengar, Ratna berkata, "Dimas, pulanglah sore ini. Ada yang harus Ibu tunjukkan."

Di ujung telepon, Dimas tertawa canggung.

"Ada apa, Bu? Serius sekali."

Ratna menatap kotak besi di meja.

"Tentang bapakmu."

1
Hariyanti
cerita yg bagus Thor 🥰🙏 penuh pesan moral utk belajar lebih baik ttg hidup 🙏🙏🙏
Hilma Abubakar
Yook bingung barengan.
hi hi hi.
Hariyanti
😭😭😭😭😭😭😭
Hariyanti
aku suka part ini🤗 kereen banget buat yg mau belajar ttg hidup itu punya batas👍👍👍
Hariyanti
warisan yang terbaik adalah ilmu
Hariyanti
keren......👍👍👍 hubungan darah yg dibalut batas yg tegas.tapi itu terjadi karena orang tua yg kaya.gimana kalau kondisi orang tua yg tak mampu 🤔🤔🤔......... mungkin harus bikin batas versi lain yg tidak menggunakan istilah berbakti sebagai senjata pamungkas.karena byk orang tua yg menggunakan senjata itu untuk menekan anaknya.
Hariyanti
aku salut dgn prinsip dan mental Bu Ratna 👍👍👍👍mampu menjaga harga diri sendiri dari kepungan parasit berkedok anak dan keluarga.karena byk orang yang takut hilang validasi yg beralibi keluarga.
Hariyanti
sudah resmi bercerai kah.....🤔
Hariyanti
ada yaa anak iri dgn kehidupan ibunya sendiri 🤔🤔🤔 padahal anak perempuan yg sdh menikah tanggung jawab suaminya 😏😏
Hariyanti
lah .....sudah satu rumah😏😏😏
Hariyanti
kok bisa ya 🤭🤭🤭 status masih dlm proses tp sdh mengembangkan diri.tp utk budaya barat itu bukan masalah 🤔🤔yg jadi masalah ini backgroundnya budaya timur🤭🤭
Hariyanti
kalo usia senja mencari cinta🤔 apa yang dicari sihhhhh🤔🤔🤔
Hariyanti
asli....! kyknya author pelupa yaaa🤭kan katanya melati suka nitipin anak ke Bu Ratna, tapi mendadak LG planning anak buat masa depan

🤔🤔🤔
Hariyanti
kok aneh sih🤔🤔 ktnya sdh pindah ke perumahan tp tetangga lama masih tetap bisa kepoin urusan Bu Ratna 🤔🤔 mungkin author lupa dgn konsep lingkungan yg sdh dibuat🤭🤭
Lina Ina
bagus bu rini banyak membantu bu ratna...kelurga mcm apa bila tahu adik ada calon suami kaya semua seperti semut
Lina Ina
melati kamu sepatutnya sedar diri..kalau mahu apa2 minta sama suami bukan minta sama ibu kamu,kamu sudah berkawin sudah ada suami..apa guna suami ada tp tak boleh pakai,ibu kamu sudah tua ibu kamu pergi ketenangan hidup sebb masa muda sudah lelah membesarkan kamu dan anak2 yg lain,dan kalau kehidupan kamu enggak mampu harus kamu ukur diri kamu terlebih dahulu,dan jgn beban kan kepada ibu kamu yg menjelang senja
Hilma Abubakar
klinik yg lama dgn rumah baru,tetangganya kok sama.
Tarwiyah Nasa
proses cerai nya aja belom di proses dah hub.dg orang baru..
terus apa bedanya dg lakinya..

mending selesaikan dulu baru setelah itu terserah..biar GK terlihat murahan...dan gosip warga
Hilma Abubakar
episud yg lalu, bu ratna naik motor melihat rumah yg dikontrak, tetangganya punya nama sama ya?
Lina Ina
yang paling best tertangga2 yg busy body dan sporting dan lucu 🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!