NovelToon NovelToon
AKU: Catatan Lelaki Yang Mencintaimu

AKU: Catatan Lelaki Yang Mencintaimu

Status: tamat
Genre:Teen / Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:405
Nilai: 5
Nama Author: Ayuni Reisz

"Jika waktu bisa kuhentikan, aku ingin selamanya berada di sisimu, menjaga hubungan kita hingga garis terakhir."

Banyak yang berkata jika masa remaja adalah masa yang menyenangkan. Sepertinya kalimat itu berlaku juga untuk Izang, pemuda 17 tahun yang menyukai adik kelasnya, Ara. Meskipun awalnya bersama karena terpaksa, hal itu tidak menyurutkan rasa cinta Izang pada Ara.Bahagia? Harusnya. Namun, cobaan mulai menimpa bertubi-tubi. Mulai dari perceraian orang tua, kepindahan ke Bandung, hingga hubungan jarak jauh (LDR).Di saat mereka berjuang mempertahankan cinta, takdir justru mendatangkan badai yang jauh lebih kejam—sebuah vonis sakit yang mengancam sisa usia Izang. Akankah mereka yang memulai hubungan dengan tertatih, bisa bertahan hingga akhir? Ataukah perpisahan selamanya menjadi ujung dari kisah ini?

💔 Kisah Romantis Melankolis - POV Pria (Siapkan Tisu!)
🕒 Update Setiap Hari!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayuni Reisz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB SATU: Awal Mula (Bagian 4)

"Cewek yang lu taksir tuh Intan?" pertanyaan itu meluncur dari Alan tiga hari setelah percakapan kami tempo hari. Aku, yang tengah enak menenggak jus jerukku, langsung tersedak dan menatap sahabatku itu dengan tatapan bertanya-tanya.

"What? Jangan ngaco deh! Dia kan sahabatku doang," tegasku sambil mengelap mulutku yang basah.

"Terus kenapa anak kelasnya pada heboh? Mereka pada bilang kalau Intan bakal nembak lu hari ini," perkataan Alan lagi-lagi membuatku menganga.

"Iya, suer! Kagak ngegosip gue. Cewek gue sendiri yang bilang. Dia kan sekelas sama Intan. Makanye gue buru-buru ke sini nyamperin lu, konfirmasi kabar," Alan melanjutkan kalimatnya tanpa menunggu aku menjawab atau setidaknya mengatupkan mulutku. Meskipun aku sulit percaya tapi untuk ukuran seorang informan, Alan tidak akan pernah berbohong atau melebih-lebihkan cerita.

"Anak-anak udah tahu?" tanyaku sambil buru-buru membereskan buku-bukuku yang berceceran di meja. Baru kali ini aku panik gara-gara ada cewek yang akan menyatakan cinta padaku. Bukan karena aku tidak bisa menolak Intan, tapi dia adalah sahabatku. Dan sekarang dia mengacaukan sendiri janjinya padaku.

"Kurang tahu sih. Ini tadi si Ario juga yang nyuruh gue ngomong ke lu. Keknya sih yang tahu baru dia doang tapi sekolah kita kan kagak gede-gede amat, Zang. Paling bentar lagi juga mereka pada nyamperin lu."

"Sial, sial, sial!! Tuh cewek ngapain sih? Rencanaku bisa gagal total kalau kayak gini ceritanya," aku mengacak-acak rambutku kesal. Terbayang dalam pikiranku rencana penembakan cemerlang yang sudah dengan susah payah kuperhitungkan dan akhirnya kini harus pupus sebelum terlaksana.

"Zang, lupain dulu deh rencana lu. Change to plan B, man! Lu nggak mungkin alasan udah punya cewek ke Intan. Dia kan tahu kalau lu jomblo. Dan dia juga tahu siapa aja cewek yang deket ama lu selain dia."

"Tapi dia nggak tahu siapa yang aku incer," jawabku sambil bergegas berlari. Aku bisa mendengar teriakan Alan saat memanggil namaku. Tapi karena terlalu panik, aku sudah tidak memikirkan Alan dan sahabat-sahabatku yang mungkin sekarang sudah mulai mencariku. Aku sudah cukup gila untuk memikirkan rencana B dan rencana itu sedang kulakukan sekarang.

"Ara!!" panggilku saat sampai di kelas bercat biru itu. Tanpa sadar aku mengeluarkan suara yang cukup keras hingga hampir seluruh anak di kelas itu menoleh. Ara yang saat itu tengah sibuk membaca novel mendongakkan kepalanya.

"Apa sih, Mas? Teriak-teriak segala," jawabnya sembari berjalan mendekat. Begitu dia berdiri di dekatku, aku langsung menyeretnya ke kebun belakang sekolah. Aku tahu tempat itu pasti sepi di jam pulang seperti ini.

"Hakhu...mhau...ngomhong," tuturku dengan ucapan yang tidak jelas. Hidung dan mulutku ternyata tidak mau bekerja sama meskipun sudah dalam keadaan terjepit seperti ini.

"Pelan-pelan, Mas! Mau ngomong apa sih sampe nyeret-nyeret aku ke sini segala?" kali ini ganti Ara yang menggandeng dan mendudukkanku di kursi pucat kebun yang mulai reyot. Oh God, this is the worst plan B that I ever thought!

"Aku suka sama kamu," jawabku tanpa pikir panjang. Ara, yang awalnya hanya melihatku sekilas-sekilas, kini menatapku lekat-lekat. Aku tahu tatapan itu artinya bertanya.

"Aku mau kamu jadi pacarku."

"Kamu gila ya, Mas? Kenapa tiba-tiba ngomong gitu? Katamu kamu udah punya cewek inceran?"

"Ya cewek itu kamu, Ra! Aku udah lama nggak nganggep kamu sebagai adik. Aku juga nggak pernah cerita ini ke anak-anak karena aku takut mereka ngelarang aku suka sama kamu. Tahu sendiri kan kalau mereka segitu sayangnya sama kamu. Maaf kalau ini mendadak. Sebenernya aku mau nembak kamu waktu lulusan nanti, tapi Intan ngehancurin rencanaku," jelasku sebelum Ara meminta.

"Mbak Intan?" kening Ara berkerut. Berarti berita ini belum menyebar ke kelas Ara.

"Ya, dia mau nembak aku hari ini. Ceweknya Alan yang bilang."

"Lantas kenapa harus aku, Mas? Kamu kan tahu kalau..."

"Iya tahu. Aku tahu kalau kamu suka Joan, Ra. Tapi please! Kamu lihat kan gimana nggak pedulinya Joan dengan semua perhatianmu? Cukup 3 tahun aja kamu suka dia, Ra. It's time to move on! Belajarlah buat suka orang lain, belajarlah buat suka aku. Sadarlah kalau selama ini aku yang lebih banyak ngeluangin waktu buat kamu dibanding Joan. Atau kalau nggak gitu, anggep aja ini sebagai pelampiasanmu karena nggak bisa jadian sama Joan. Aku nggak masalah dengan itu," aku mengeluarkan semua alasan yang terlintas di pikiranku. Aku tak peduli jika nanti aku memang menjadi pelampiasan. Yang terpenting sekarang Ara berkata 'Ya' dengan penembakanku.

"Tapi aku nggak mau nyakitin kamu, Mas. Apalagi kamu sama mas Joan juga berteman. Aku nggak bisa sejahat itu sama kalian berdua!" Ara beralasan lagi.

"Aku tahu, aku paham, Ra. Tapi tolonglah bantu aku! Intan nggak mungkin bisa aku bohongin. Ini satu-satunya cara. Kita bisa putus sewaktu-waktu kalau kamu masih nggak bisa suka sama aku. Kamu bisa mutusin aku kalau aku tetep nggak bisa bikin kamu berpaling dari Joan. Itu hakmu. Aku cuma pingin negesin kalau aku bener-bener suka kamu, apapun nanti yang terjadi," tuturku meyakinkan. Kulihat gadis jangkung di sampingku itu mulai memainkan jemarinya dengan gelisah. Mungkin dia sedang dalam perdebatan batin. Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Senjataku sudah habis. Tinggal menunggu vonis aku menang perang atau tidak.

"Are you sure about this?" tanya Ara perlahan. Baru kali ini aku tahu dia bisa mengeluarkan suara sepelan itu. Tanpa pikir panjang, aku menganggukkan kepalaku mantap. Ara pun terdiam lagi. Beberapa detik kemudian, aku melihat dia menghela napas panjang.

"Fine, aku mau jadi pacarmu, Mas! Mungkin aku emang harus mulai move on. Tapi jangan berharap terlalu banyak dulu, ini percobaan," mendengar jawaban Ara barusan rasanya aku bisa pingsan saking senangnya. Buru-buru aku menggenggam tangannya dan tersenyum cukup lebar.

"Makasih ya, Ra. You're really my angel! Tunggu aku di taman depan, nanti aku samperin. Aku mau ngambil barang-barangku dulu di kelas."

"Ngg...oke," jawab Ara singkat. Aku menatapnya sebentar sebelum benar-benar berlari meninggalkannya. Entah kenapa lariku yang sekarang jauh lebih ringan daripada lariku yang tadi. Who carelah. Yang penting sekarang statusku bukan jomblo. Hahaha, tidak kusangka status jombloku terpatahkan oleh Ara. Dan dia menjadi pacar pertama yang kupunya.

"Dari mana aja, Zang? Aku cariin dari tadi," suara Intan membuyarkan kebahagiaanku sesaat setelah aku memasuki kelas. Di sana sepi, tak ada satupun tas atau buku di atas meja. Itu artinya semua anak kelasku sudah pulang. Saat itu aku melihat Intan duduk di kursiku, membuka buku pelajaranku yang belum kumasukkan ke dalam tas.

"Mm...nggak dari mana-mana. Emangnya ada apa?" aku bertanya sembari berusaha berjalan sesantai mungkin menghampirinya. Aku berusaha meredam keinginanku untuk melompat kegirangan atau bahkan meneriakkan nama Ara. Aku harus menyimpan berita bahagiaku ini untuk beberapa menit lagi. It must be a freaking surprise!

"Aku mau ngomong sesuatu sama kamu. Penting gitu."

"Oh ya? Apa? Curhat?" aku menatap Intan menunggu. Intan malah tersenyum.

"Nggak. Aku cuma mau bilang aja kalau aku suka sama kamu dan pingin kamu jadi pacarku." You see? Bingo!

"Oh," jawabku singkat sambil mengulum senyum. Kali ini ganti Intan yang menatapku menunggu.

"Cuma 'oh'? Kamu nggak kaget?"

"Kaget buat apa? Udah ketahuan kali kalau kamu suka aku. Dulu kan aku udah pernah nanya. Ya meskipun waktu itu kamu nggak mau ngaku," tukasku enteng. Aku pun dengan segera memasukkan buku-bukuku ke dalam tas. Baru beberapa menit jauh dari Ara saja aku sudah ingin menemuinya lagi. Aku benar-benar tidak ambil pusing dengan Intan yang sepertinya sudah mulai salah tingkah di depanku.

"Jadi? Kamu mau jadi pacarku kan?" tanyanya lagi. Aku dengan tidak sopannya menertawakan pertanyaan Intan.

"Ha? Pacar? Aduh sorry banget deh, Tan! Kamu telat. Aku barusaaan aja nembak cewek lain. Dan kebetulan diterima. Otomatis aku nggak bisa nerima kamulah," aku berkata sambil mendekatkan diriku pada Intan. Dia memberiku tatapan tak percaya.

"Apa? Nggak usah bohongin aku deh, Zang! Aku tahu kamu jomblo dan aku tahu siapa aja cewek yang udah kamu tolak. Aku tahu kriteriamu dan aku juga tahu siapa aja cewek yang deket sama kamu."

"Apa untungnya bohongin kamu? Ya, mungkin kamu emang tahu semua itu. Tapi kamu kan nggak pernah tahu siapa cewek yang aku suka. Kamu nggak pernah tahu siapa cewek yang aku incer. Lagian kalau kamu tahu kriteriaku, kenapa kamu ngelanggar omonganmu sendiri? Katanya kamu nggak mungkin suka aku? Eh, sekarang malah nembak juga."

"Ya tapi..."

"Udahlah, Tan! Apapun alasan yang kamu bilang sekarang nggak bakal ada gunanya. Itu nggak bakal ngubah keputusanku. I'm taken," ujarku sembari berjalan meninggalkannya.

"Tunggu, Zang! Aku mau tahu siapa cewekmu," pernyataan Intan barusan membuatku berhenti. Aku sudah menunggu pertanyaan itu.

"Cari tahu sendiri ajalah! Cewekku lumayan terkenal kok di sekolah ini," aku nyaris tertawa saat mengucapkan kalimat yang terakhir itu. Aku tahu Intan akan menemukan jawabannya dalam semalam. Aku hanya tinggal menunggu dan membuat Ara bersiap dengan segala kemungkinan yang ada. Jika saat dia menjadi 'adikku' banyak perempuan yang berterima kasih padanya, mungkin sekarang dia akan mulai mendapatkan perlakuan yang berbeda. Dan aku juga harus ikut menanggung risikonya.

"Hei, Bung! Jangan macem-macem sama adik kita ya! Anda tahu risikonya kan?" tanpa sadar aku sudah memasuki taman dengan tangan Ario yang melingkari bahuku. Aku menoleh dan mendapati senyum jahil di wajahnya. Bagus, teman-temanku pasti sudah menginterogasi Ara. Dasar para lelaki yang tidak bisa diam. Mereka pasti tidak akan membiarkan hidupku tenang. Apalagi sekarang aku mengambil adik kesayangan mereka sebagai pacar. Baiklah, aku memang tidak memiliki pilihan lain lagi selain membalas pertanyaan Ario itu dengan senyum dan janji setuju.

"Fine, I'll take it!"

...***...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!