NovelToon NovelToon
LANGIT Dan BUMI

LANGIT Dan BUMI

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Romansa Fantasi / Action
Popularitas:8.6k
Nilai: 5
Nama Author: Sinho

Apa yang akan terjadi jika Dua dunia di pertemukan dalam sebuah keputusan penting?, dan ini terjadi pada Dua manusia yang di pertemukan secara tidak sengaja, LANGIT Wanita dengan semua kendali penuh dan kekuasaannya, sedangkan BUMI laki-laki sederhana dengan semua kelebihannya.

Yuk ikuti ceritanya, di jamin seru, menggemaskan dan juga menegangkan.

Salam Author Sinho, jangan lupa Bahagia ya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Suasana ruang makan utama di Mansion Dewanta malam itu terasa begitu mencekam, seolah-olah udara di dalamnya telah membeku menjadi kristal-kristal es yang siap pecah kapan saja.

Ruangan yang megah dengan langit-langit tinggi dihiasi lampu kristal bergaya klasik itu biasanya memancarkan kehangatan sebuah keluarga konglomerat.

Namun, malam ini, kemewahan itu terasa seperti penjara bawah tanah yang sunyi dan menekan.

Di salah satu sisi meja, Langit dan Bumi duduk berdampingan. Keduanya menampilkan gestur yang luar biasa tenang, duduk dengan gaya elegan dan penuh rasa percaya diri.

Pakaian formal yang melekat di tubuh mereka seolah menegaskan posisi mereka yang tidak mudah tergoyahkan.

Di ujung meja, Kakek Jaka Dewanta, sang patriark sekaligus pemegang kekuasaan tertinggi di keluarga Dewanta Group, duduk dengan tatapan mata yang tajam namun sulit dibaca.

Sementara itu, di seberang Langit dan Bumi, Paman Hendra duduk dengan rahang yang mengeras, memancarkan aura permusuhan yang begitu pekat.

Anggota keluarga besar yang lainnya, yang tersebar di kursi-kursi lebih jauh, tampak memilih untuk menarik diri sedalam mungkin.

Mereka duduk dengan punggung tegak, pandangan lurus ke arah piring masing-masing, atau sesekali melirik dengan cemas.

Mereka terlihat jauh lebih serius dan tegang daripada biasanya, seolah-olah bernapas terlalu keras pun bisa memicu ledakan.

Tak satu pun dari mereka yang berani bersuara. Mereka memilih diam seribu bahasa, sama sekali tidak ingin terlibat atau terseret ke dalam pusaran konflik mematikan yang sebentar lagi akan pecah antara Langit dan pamannya, Hendra.

Hendra Dewanta menggeser gelas kristalnya dengan kasar, menciptakan bunyi berdenting yang memotong keheningan.

Matanya yang merah menatap tajam ke arah pergelangan tangan Bumi yang sedikit menyembul dari balik lengan kemeja satinnya.

Di sana, sebuah tato hitam dengan motif geometris yang rumit terukir di kulit Bumi.

Hendra menatap tato itu dengan pandangan jijik yang sangat kentara, seolah-olah sedang melihat noda lumpur yang mengotori kesucian ruang makan mewah tersebut.

Hendra menyunggingkan senyum sinis, lalu melemparkan kata-kata berbisa yang sengaja dirancang untuk meruntuhkan harga diri lawan bicaranya.

"Aku benar-benar tidak habis pikir dengan jalan pikiranmu, Langit," buka Hendra, suaranya menggema di ruangan yang sunyi itu, membuka serangan pertamanya dengan nada meremehkan yang sangat kental.

"Kau memilih dia untuk memimpin masa depan keluarga kita? Masa depan Dewanta Group?"

Hendra menjeda kalimatnya, sengaja memberi ruang agar seluruh anggota keluarga mendengar setiap artikulasinya.

Ia menunjuk Bumi dengan dagunya, menunjukkan gestur tanpa rasa hormat.

"Seorang montir jalanan yang pendidikannya bahkan tidak pernah menyentuh bangku kuliah sedikit pun. Seseorang yang menghabiskan waktunya dengan oli dan mesin di bengkel kumuh, kini ingin diletakkan di puncak takhta bisnis yang dibangun dengan darah dan air mata? Ini sungguh memalukan. Dewanta Group akan menjadi lelucon di mata dunia bisnis."

Sindiran tajam Hendra langsung membuat atmosfer di meja makan semakin mendingan.

Beberapa anggota keluarga tampak menahan napas, menunggu ledakan yang mungkin terjadi.

Langit, yang mendengar penghinaan itu ditujukan langsung kepada Bumi, merasakan darahnya berdesir panas, rahangnya mengatup rapat, dan kedua tangannya di bawah meja mulai mengepal erat.

Sorot matanya berubah menjadi sedingin es, siap membalas serangan verbal pamannya dengan kalimat yang tak kalah mematikan.

Langit sudah bersiap untuk membuka suara dan menghancurkan arogansi Hendra di depan semua orang.

Namun, sebelum sepatah kata pun sempat keluar dari bibir Langit, sebuah sentuhan lembut namun tegas terasa di bawah meja.

Bumi dengan sengaja menggeser kakinya, memberikan isyarat lewat sentuhan kaki yang tenang ke arah kaki Langit.

Itu adalah sebuah kode, sebuah pesan tanpa suara yang meminta Langit untuk tetap tenang dan membiarkan dirinya yang menangani situasi ini.

Langit melirik Bumi sekilas, dan mendapati ekspresi wajah Bumi yang sama sekali tidak terganggu oleh makian Hendra.

Dengan gerakan yang sangat tenang dan penuh tata krama, Bumi meletakkan sendok dan garpunya di atas piring porselen tanpa menimbulkan bunyi sedikit pun.

Gerakannya begitu halus, sangat sopan, dan mencerminkan didikan kelas atas, kontras dengan latar belakang yang baru saja dihina oleh Hendra.

Setelah memastikan posisinya sempurna, Bumi mengangkat kepalanya. Ia menatap lurus ke dalam manik mata Hendra yang dipenuhi kebencian, bukan dengan kemarahan, melainkan dengan sebuah senyuman berkelas yang sarat akan ketenangan.

Bumi mulai berbicara. Suaranya terdengar sangat tenang, tidak ada nada tinggi atau gemetar, namun setiap kata yang keluar dari bibirnya terdengar begitu berbobot dan menghujam langsung ke ulu hati.

"Pendidikan tinggi di universitas ternama memang sangat penting, Paman Hendra. Saya sama sekali tidak menampik hal itu," ujar Bumi, memulai kalimatnya dengan pengakuan yang terdengar merendah namun sebenarnya adalah sebuah jebakan taktik.

"Tapi bagi saya, ada satu hal yang jauh lebih mahal dan tidak bisa dibeli dengan selembar ijazah dari luar negeri sekalipun. Hal itu adalah integritas."

Bumi menjeda ucapannya, membiarkan keheningan malam kembali menekankan kata 'integritas' ke dalam benak semua orang yang hadir di sana.

"Saya mungkin memang hanya seorang lulusan SMK Otomotif," lanjut Bumi, dengan nada suara yang tetap stabil namun perlahan-lahan mulai terasa menekan.

"Saya memang menghabiskan bertahun-tahun di jalanan, hanya tahu cara membongkar dan memperbaiki mesin-mesin yang rusak agar bisa berjalan kembali dengan semestinya. Saya tahu bagaimana mendeteksi bagian yang busuk dari sebuah sistem mekanis dan membuangnya demi keselamatan."

Bumi mencondongkan sedikit tubuhnya ke depan, melipat kedua tangannya di atas meja dengan santai, namun tatapannya mengunci Hendra sepenuhnya.

"Namun setidaknya, dengan segala keterbatasan latar belakang saya, saya tidak pernah mencoba untuk merusak perusahaan keluarga sendiri dari dalam, saya tidak pernah menusuk dari belakang atau menggerogoti aset keluarga demi kepentingan pribadi, seperti yang belakangan ini gencar beredar di berita-berita audit internal perusahaan. Memperbaiki mesin yang rusak tentu jauh lebih terhormat daripada menjadi tikus yang merusak mesin yang sudah berjalan dengan baik, bukan?"

Kalimat terakhir Bumi diucapkan dengan nada yang sangat tenang, hampir seperti bisikan, namun dampaknya bagaikan hantaman yang sangat keras.

Sindiran Bumi mengenai 'berita audit internal' langsung menusuk ke titik paling lemah dari Paman Hendra.

Semua orang di ruangan itu tahu bahwa belakangan ini ada isu miring mengenai penyelewengan dana besar-besaran di salah satu anak perusahaan yang dipimpin oleh Hendra, dan Bumi baru saja menelanjangi borok itu di depan seluruh keluarga besar, terutama di hadapan Kakek Jaka.

Suasana ruang makan seketika berubah drastis. Hendra yang tadinya tampak begitu berkuasa dan penuh arogansi, kini mendadak bungkam seribu bahasa.

Wajahnya yang semula merah padam karena amarah, perlahan-lahan berubah menjadi sangat pucat, seolah-olah seluruh darah telah tersedot keluar dari tubuhnya.

Bibirnya bergetar, ingin membalas namun tidak ada satu kata pun yang mampu keluar dari tenggorokannya. Skakmat yang diberikan Bumi begitu rapi, bersih, dan mematikan.

Di ujung meja, Kakek Jaka Dewanta yang sejak tadi hanya menyimak, tiba-tiba terbatuk kecil.

Ia mengambil sapu tangan dari saku jasnya, menempelkannya ke mulut untuk menyembunyikan senyum kepuasan yang terukir di bibir tuanya.

Mata sang kakek berkilat bangga melihat bagaimana Bumi, pemuda yang sempat diragukan banyak orang, mampu menumbangkan singa tua seperti Hendra hanya dengan beberapa patah kata yang elegan.

Jangan lupa Komen ya, waktunya VOTE.

1
Siti Aisah
semoga mereka berdua kebablasan cinlok🤣🤣😜
Sinho: Amin, makasih komennya kak
total 1 replies
Siti Aisah
curiga deh sm bumi??? sindiran nya kenak banget 😁
Siti Aisah
lanjut aku baca maraton ni kak author soalny makin keseni makin penasaran bumi""😜
Siti Aisah
ternyata langit masih punya kakek kukira cuman punya paman satu"nya yg jahat🤭
Siti Aisah
semoga itu langit ''karena hawatir takut bumi di apa"in🤭
Siti Aisah
thor kata kumah bumi ceo menyamar deh soalnya biarpun dia bercanda kata"nya ada benernya hehe
Siti Aisah
ngelucu trus bang bumi biar langit ceria selalu😁
Siti Aisah
dasar bumi bisa aja bikin orang senyum " lanjutkan...
Siti Aisah
bumi mah bisa"nya bikin anak perawan merona dan dedekan😜
Siti Aisah
thor katakumah ya kayanya ci bumi ini pria yg punya pengaruh deh bukan tukang bengkel biasa... pasti cuman lgi menyamar🤣🤣
Siti Aisah
benerkah yang di cerita kan bumi tetang hidupnya se menyedihkan itu, atau hanya cerita karangan untuk menghibur langit supaya bisa terus tertawa dan tersenyum, hanya author yg tahu penasaran ih🤭
Siti Aisah
aku jdi ikut gila tersenyum sendiri😜lanjut thor
Siti Aisah
udah makan garam asin nya hidup ni mah bumi, jdi udah mental baja dan besi, seru thor jdi tertawa sendiri sekalian sedih🤗🥲
Siti Aisah
pokoknya langit tebayang" ga bisa bobo🤣🤣
Siti Aisah
langit 'bumi pura" menjadi nyata 😁
Siti Aisah
apa bumi adalah mafia thor bikin penasaran aja??
Siti Aisah
macho pastinya ci bumi, pokonya bumi bukan tukang bengkel biasa iyakan ...pasti ada kejutan dri author
Siti Aisah
pasti ada rahasia bumi yg di sembunyikan, bumi bukan orang biasakan thor??? mungkin asal tebak😜
Siti Aisah
wah untung bumi tidak mempersulit langit, ayo semangat langit hancurkan paman mu dan sekutunya, seperti bumi bukan montir biasa yakan thor🤗
Mundri Astuti
dah jadi beneran aja langit sama bumi, bumi ke nya bisa ngimbangin dan ngga keberatan 🤭
Sinho: makasih komennya kak😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!