NovelToon NovelToon
Datang Untuk Membayar

Datang Untuk Membayar

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Horor / Iblis
Popularitas:295
Nilai: 5
Nama Author: ayaelsa

DATANG UNTUK MEMBAYAR

(Orang Mati Datang Membayar Janjinya)

"Tanggal delapan saya bayar, Cik..."

Maya berjanji melunasi utangnya tepat tanggal delapan. Lalu ia menghilang.

Hingga malam itu, pintu digedor. Maya berdiri di sana — menyerahkan uangnya.

Namun pagar terkunci rapat dari dalam. Dan kabar menyebut: Maya sudah meninggal dua minggu lalu.

Siapa yang baru saja membayar?



Tentang janji, kehormatan, dan sosok yang melintasi kematian demi menepati kata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6: JEJAK DI AMBANG PINTU

Bercak jejak tanah merah basah di atas teras luar rumah Maya itu membeku kaku di bawah pandangan mataku.

Garis tanah basah itu memanjang pelan dari celah bawah pintu kayu depan menuju jeruji hijau pagar.

Sret... sret...

Suara gesekan langkah kaki tetangga yang melintas di gang depan menyadarkanku dari tatapan kosong.

Aku mengayunkan langkah kaki pantofelku menuju mulut gang, mendekati warung kelontong sederhana milik Pak Wo.

Warung berdinding papan kayu itu berdiri tepat di persimpangan gang permukiman kami.

Pak Wo sedang sibuk menyusun beberapa bungkus mi instan dan rentengan kopi saset di atas rak bambu tua.

Pria tua itu menoleh saat mendengar bunyi ketukan langkah kakiku di atas lantai semen.

"Sugeng enjang, Bu Sari. Badhe tindak kantor nggih?"

"Sugeng enjang, Pak Wo. Nggih, badhe berangkat kerja sakniki."

Aku menghentikan langkah di depan meja kayu warung, merapatkan tas kerja cokelat di dada.

"Nyuwun sewu, Pak Wo. Nopo dua hari ini sempat ningali Mas Rian liwat teng warung?"

Pak Wo menghentikan tangannya yang memegang bungkus kopi, dahinya berkerut mengingat-ingat.

"Oalah, Mas Rian nggih? Rabu malam jam sembilan, piyambake sempat mriki beli rokok, Bu."

"Waktu mriki, raut wajahe Mas Rian ketok pucat lan tegang banget. Piyambake mboten kathah omong kaya biasane."

"Nopo Mas Rian wonten ngendika mau lunga teng pundi, Pak Wo?"

"Mboten ngendika punapa-punapa, Bu Sari. Cuma pas numpak motor matik, teng jok mburi wonten karung plastik goni gedhe seng diikat tali karet kenceng banget."

Detail tentang karung goni itu langsung kusimpan dalam ingatanku.

Rian terlihat membawa karung goni besar di jok motornya pada Rabu malam. Aku belum tahu apa isinya atau untuk apa karung itu dibawa.

"Matur nuwun sanget informasine nggih, Pak Wo. Saya pamit riyin badhe mengejar bus."

"Nggih, Bu Sari, ati-ati teng jalan."

Aku melangkah bergegas menyusuri trotoar batu menuju halte bus di tepi jalan raya.

Hawa udara pagi Kota Malang yang dingin berhembus lembut menerpa kemeja seragam biru bank yang kukenakan.

Di dalam bus kota bercat hijau tua yang melaju pelan menyusuri aspal, cerita Pak Wo terus berputar di benakku.

Karung goni besar di jok motor Rian, suara mesin matik kasar yang didengar Dini pukul satu malam, dan jejak tanah basah di teras Maya berdiri berdampingan tanpa jawaban yang pasti.

Ketanpajelasan itu membuat dadaku terasa kaku dan tertekan sepanjang perjalanan menuju kantor.

Ckiiit!

Decit rem bus kota bergema nyaring saat kendaraan umum itu berhenti tepat di depan gedung bank tempatku bekerja.

Aku menuruni tangga bus perlahan, melangkah masuk melintasi pintu kaca utama gedung.

Suara bel penanda jam operasional pukul tujuh tiga puluh pagi menyambut kedatanganku di area loket.

Lantai granit putih yang bersih dan hembusan angin pendingin udara mengarahkan kakiku menuju loket dua.

Aku menarik kursi kerja berbusa hitam, meletakkan tas kerja cokelat di ceruk bawah meja, lalu menyalakan layar monitor komputer.

Kesibukan melayani antrean setoran tunai dan pencairan slip nasabah menyita konsentrasiku sepanjang pagi.

Namun, di sela-sela denting mesin penghitung uang dan ketukan stempel basah, bayangan rumah sebelah yang terkunci dari luar tetap mengendap di kepala.

Lastri yang duduk di loket tiga sempat melirik ke arahku saat antrean nasabah sedang senggang.

"Bu Sari kelihatan agak melamun hari ini. Ada masalah di rumah ya, Bu?"

"Mboten kok, Las. Cuma agak kepikiran rumah sebelah yang dari kemarin terkunci dari luar."

"Oalah, tetangga Bu Sari yang pernah cerita itu ya? Semoga mboten ada masalah apa-apa nggih, Bu."

"Iya, Las, matur nuwun. Semoga saja cuma pergi ke rumah kerabatnya."

Jam operasional loket kasir resmi berakhir pukul tiga sore.

Proses rekapitulasi kas harian berjalan seimbang tanpa ada selisih nominal sepeser pun.

Aku merapikan peralatan kerja, mengunci laci kas, lalu melangkah keluar gedung bank tepat pukul empat sore.

Sinar matahari sore Kota Malang yang keemasan membentang hangat di atas aspal jalan raya.

Sesampainya di persimpangan gang permukiman kami sekitar pukul lima sore, aku tidak langsung pulang ke rumah.

Langkah kakiku mengarah ke warung makan sederhana milik Bu Astuti di lorong gang sebelah barat.

Warung berdinding papan itu merupakan tempat beberapa warga gang biasa berhenti untuk mengobrol sore.

Aku melangkah masuk, menyapa Bu Astuti yang sedang merapikan etalase kaca berisi lauk pauk.

"Sugeng sore, Bu Astuti."

"Oalah, Sugeng sore, Bu Sari. Baru pulang kerja nggih?"

"Pinarak riyin, Bu," tambah Bu Astuti ramah sembari menarik bangku kayu jati.

Aku duduk di atas bangku kayu, memesan segelas teh hangat untuk menyegarkan tenggorokan.

Bu Astuti mengangsurkan gelas porselen berisi teh manis hangat ke mejaku.

"Bu Astuti, kemarin sempat dengar kabar soal proyek bangunannya Mas Rian mboten?"

Bu Astuti mendesahkan napas pelan, lalu mendekatkan posisi berdirinya ke mejaku.

"Iki lho, Bu Sari... Kemarin Bu RT sempat cerita kalau proyek bangunan Mas Rian di daerah Tidar sebenarnya sudah macet dari tiga minggu lalu."

"Macet kados pundi, Bu Astuti?"

"Katanya bahan bangunannya mboten dibayar sama pemborong utama. Mas Rian dikejar-kejar penagih utang material sampai datang ke lokasi proyek minggu lalu."

Berarti masalah uang Rian memang bukan sekadar kabar yang kudengar sepintas.

"Pantesan Tante Maya kemarin sore kelihatan bingung dan panik banget nggih, Bu Astuti."

"Mboten cuma panik, Bu Sari. Pak Wo depan gang juga sempat cerita, Rabu sore sebelum rumah digembok, Mas Rian sempat adu mulut agak keras sama Maya di teras."

Cerita itu membuatku semakin yakin bahwa pertengkaran memang terjadi di teras rumah sebelah sebelum pintu itu dipasangi gembok dari luar.

Namun keberadaan Maya dan Rian sampai detik ini tetap tidak ketahuan di mana.

"Matur nuwun informasine nggih, Bu Astuti. Saya permisi pulang dulu sudah mau Magrib."

"Nggih, Bu Sari, sami-sami. Ati-ati nggih."

Aku melangkah keluar dari warung Bu Astuti, menyusuri lorong gang semen yang mulai temaram oleh bayangan petang.

Suara azan Magrib bersahut-sahutan dari pengeras suara mushola di sekeliling permukiman kami.

Hawa dingin malam Malang mulai merayap pelan, merengkuh permukaan kulit wajah dan lenganku.

Sebelum melangkah masuk ke pintu depan rumahku sendiri, aku membelokkan langkah ke koridor gang samping.

Langkah kakiku yang beralas sepatu pantofel bergerak sangat pelan di atas lantai ubin semen.

Suasana di lorong samping rumah Maya terasa amat sepi dan dibalut kegelapan tipis.

Aku mendekati pintu pagar besi hijau kusam milik rumah Maya.

Gembok perak tebal berbentuk segi empat masih terpasang kaku membelenggu rantai besi dari luar.

Aku membungkukkan badan sedikit, mencermati ubin teras semen tempat aku melihat jejak tanah basah tadi pagi.

Bercak jejak tanah merah basah yang tadi pagi masih segar kini telah mengering total di atas ubin.

Bercak itu berubah menjadi kerak tanah merah kusam yang berdebu tipis.

Namun, ketika pandangan mataku menyusuri ujung garis kerak tanah itu menuju celah bawah pintu kayu depan Maya, mataku menangkap sebuah benda kecil yang terselip.

Di balik celah bawah daun pintu kayu yang terkunci dari dalam, terselip selembar potongan kain perca kusam berukuran sebesar telapak tangan.

Kain perca itu berwarna kelabu tua, tampak basah dan berumbai-umbai kaku.

Padahal, saat aku menyapu tadi pagi dan saat melihat jejak tanah, potongan kain itu sama sekali tidak ada di celah pintu.

Aku mengulurkan tangan kanan melewati jeruji pagar besi yang terasa memagut jemariku.

Ujung jariku meraih tepi potongan kain perca kusam itu, lalu menariknya perlahan keluar dari celah bawah pintu.

Sreeek...

Potongan kain perca basah itu berhasil kupegang di dalam telapak tanganku.

Kain itu terasa sangat dingin, berat, dan berlumpur kaku di telapak tanganku.

Tepat saat kain itu berada di tanganku, semerbak aroma pekat langsung berhembus menusuk hidungku.

Aroma tanah merah basah bercampur bau kain lembap tua memenuhi udara sekitar.

Aroma itu mengingatkanku pada bau asing saat telepon kantor berdesis dan saat ketukan di dinding kamarku bergetar semalam.

Jantungku berdegup cepat menghantam dinding dada di balik seragam bank.

Aku meremas potongan kain perca basah itu di dalam genggaman tangan kananku.

Sensasi dingin yang janggal merambat cepat naik menyusuri pergelangan tangan hingga ke tengkukku.

Tanpa menunggu lebih lama, aku berbalik cepat menuju pintu samping rumahku sendiri.

Sreeek!

Aku membuka pintu samping rumahku dengan gerakan tangan terburu-buru, lalu melangkah masuk ke dalam koridor.

Klek!

Selot besi pintu samping kuputar rapat dari dalam, mengunci pintu kayu itu rapat-rapat.

Aku menyandarkan punggung pada daun pintu, menghela napas panjang beberapa kali untuk menenangkan degup jantungku.

Di ruang tengah yang terang dan hangat, aroma harum nasi gurih dan tumisan terong menyambutku.

Dini dan Ranti sedang sibuk menata piring dan mangkuk porselen di atas meja makan.

"Ibu sudah pulang? Kok mukanya kelihatan pucat banget, Bu?"

"Iya, Din. Tadi jalan dari halte lumayan kencang karena angin sore dingin banget."

"Ayo makan malam dulu, Bu. Ranti sudah masak sayur sama terong balado hangat."

Aku melangkah menuju kamar tidur utamaku terlebih dahulu untuk menyimpan tas kerja dan kain perca tersebut.

Aku mematikan lampu utama kamar, menyalakan lampu tidur temaram di meja rias.

Tanganku menarik laci meja rias bagian atas yang terkunci rapat.

Klek!

Laci kayu itu terbuka pelan.

Di dalam laci tersimpan lipatan nota kelontong berangka 8 tebal dan buku catatan alamat Mbak Yuni.

Aku meletakkan potongan kain perca kusam yang terbungkus tisu bersih tepat di samping nota berangka 8 tersebut.

Dua benda kini tersimpan terkunci di dalam laci kamar pribadiku.

Aku mendorong laci meja rias hingga rapat, lalu memutar kunci kecilnya hingga berbunyi klak.

Klek!

Setelah mencuci tangan dan wajah di kamar mandi, aku bergabung bersama Dini dan Ranti di meja makan.

Obrolan hangat kedua putriku memberikan suasana tenang yang amat kukutuhkan.

"Bu, besok hari Sabtu Dini libur kuliah. Mau Dini bantu bersih-bersih halaman depan?"

"Boleh, Din. Nanti kita bersihkan sama-sama sekalian siram tanaman Ranti."

Selesai makan malam dan merapikan dapur bersama anak-anak, aku kembali ke dalam kamar tidur utamaku sekitar pukul delapan malam.

Aku berdiri di dekat jendela kamar depan yang menghadap langsung ke lorong gang samping.

Tanganku menyibak sedikit tirai kain krem, memandangi pekarangan rumah sebelah yang berada di balik kegelapan malam.

Pintu kayu dan gembok perak di pagar Maya membisu tanpa pergerakan.

Namun teka-teki itu makin menebal di dalam kepalaku.

Ke mana Maya pergi, dan ke mana Rian membawa karung goni besar itu?

Siapa pengendara motor matik yang berhenti di depan gang samping pukul satu malam kemarin?

Bagaimana sepasang sandal jepit biru milik Maya bisa berpindah dari teras rumah itu, dan bagaimana kain perca basah berbau tanah basah bisa terselip di celah pintu?

Dan apa hubungan semua kejadian ini dengan tanggal 8 di kalender dapurku?

Srok... srok...

Suara gesekan benda basah yang berat mendadak terdengar merayap di atas ubin lorong gang samping, tepat di balik dinding luar kamar tidurku.

Bersamaan dengan suara seretan itu, bau tanah merah basah yang pekat berhembus tajam menerobos masuk lewat celah ventilasi atas jendela.

Tanganku yang memegang kain tirai seketika membeku kaku di udara.

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!