NovelToon NovelToon
Antara Nyaman Dan Cinta

Antara Nyaman Dan Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa Fantasi
Popularitas:43
Nilai: 5
Nama Author: Anindia Andin

Olivia seorang penyanyi, karirnya semakin bersinar setelah mendapat warisan bros dari sang nenek yang dulunya juga seorang sinden terkenal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anindia Andin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ritual

"kamu sudah lama ikut nenek mas?" tanya Olivia disela makanannya

"lumayan vi.. dulu bapakku yang bantu nek Marni. bapak meninggal aku yang gantikan"

"aku sebenarnya ndak dekat sama nenek, apa betul nek Marni itu dulu sinden mas?"

"setauku juga gitu vi, kata bapak, nek Marni itu sinden kondang pada jamannya. menjadi incaran banyak laki-laki"

"yo jelas mas, wis tua aja masih cantik gitu"

Tejo diam

"iya kan mas?"

"iya vi... sebenarnya aku dulu nolak permintaan bapak untuk menggantikan pekerjaannya. tapi mau bagaimana lagi, gajinya juga lumayan "

"jadi nek Marni sampai sekarang kaya ya mas"

"yo kata banget vi... uang e banyak, emasnya juga banyak. tanahnya dimana-mana"

"iya ta? aku ndak tau ya mas"

"kamu cucu Satu-satunya vi, yang mewarisi ya kamu, mau siapa lagi"

"tapi di desa lho mas. jauh"

"ya ndak pa-pa... buat celengan. harta e nek marni untuk tujuh turunan ndak habis vi. oh ya ada titipan dari nek marni" setelah mencuci tangannya, tejo mengeluarkan segepok uang dari dalam tasnya

"buat apa mas?" Olivia menerima pemberian tejo

"dari nek marni. nek marni takut kamu sampai kelaparan"

"aku ambil ini aja mas" Olivia mengambil sedikit uang itu

"jangan... ini ambil semua"

"ndak mas.. kebanyakan ini. aku juga sudah kerja mas. bilang ke nenek biar ndak khawatir"

"wis kamu simpan. nek marni ndak suka kalau pemberiannya di tolak. oh ya. trus nek marni pesan 3 bulan lagi kamu harus pulang"

"pulang? lha setiap bulan kan pulang kesini mas"

"bukan ke rumah ini, tapi ke rumah nek marni"

"buat apa?"

"nanti kamu tau sendiri vi..."

******

Malam telah tiba, setelah azan isya berkumandang, tejo menyiapkan tempat ritual yang akan mereka lakukan

"vi... kunci pagarnya"

Tejo memastikan jika harus benar-benar aman, tidak ada orang yang datang

"harusnya ini di lakukan tengah malam vi... tapi ndak pa-pa jam segini. tapi harus aman"

Olivia mulai serius mendengar kata-kata tejo

"kamu ganti bajumu pakai kain jarik liris itu" ucap tejo menunjuk kain yang sudah dia bawa

"ini mas? tapi..."

"pakai dalaman aja"

Olivia tak yakin dengan perintah tejo, dan mematung di pintu kamarnya

"kok ndak ganti... kenapa? takut? takut kalau aku macan-macam?"

Olivia diam

"tenang vi... aku ndak akan macam-macam sama kamu. kalau aku macam-macam bisa di bunuh aku sama nek marni" ucap tejo meyakinkan Olivia

Tejo laki-laki normal, laki-laki mana yang tidak ngiler melihat keelokan tubuh Olivia. Olivia pergi kekamar milik orang tuanya menganti baju dengan jarik

"kamu sudah mandi to?"

"sudah mas.. "

"datang bulan?"

"ndak mas"

"wis kamu tidur di situ"

Olivia menurut perintah tejo, tidur terlentang di lantai kamar miliknya

"hpmu wis mati vi?"

"belum mas"

"matikan dulu"

Olivia kembali bangun dan meraih ponsel di atas meja.

Olivia kembali kedalam posisinya semula

"tapi ini buat apa mas? aku takut"

"nanti kamu tau sendiri.. ndak usah takut. wis tidur"

Olivia merebahkan tubuhnya, memandang langit-langit kamarnya

tejo mengambil ayam ingkung utuh bersama jeroannya, memotel daging ayam itu lalu menyuapkan ke Olivia

"makan"

Olivia mengunyah ayam berwarna hitam pekat, ayam cemani yang sudah di rebus tanpa bumbu. rasanya tawar dan alot

tejo membuka kotak berisi bros tepat di samping Olivia

"vi... nanti kalau aku ambil darahmu, langsung pejamkan mata. kalau kamu merasa ada yang memanggilmu dengarkan, jangan dijawab. jangan membuka mata sebelum aku tepuk pundakmu"

Olivia mengikuti arahan tejo

Tejo mulai melakukan ritual, membaca mantra yang tidak jelas di telinga Olivia. tejo memegang tangan Olivia, memutar-mutarkan di atas kemenyan. aroma kemenyan semakin membuat aura mistis semakin terasa mencekam. uap kemenyan tejo kibaskan di sekujur tubuh Olivia, mulai dari rambut sampai ujung kaki sambil terus mengucapkan mantra. tejo mencelupkankan bros bermata merah itu kedalam air 7 sumber yang sudah di siapkan, mencelupkan tangan Olivia kedalam air-air itu.

tejo mengambil kembang kantil dan memotongnya menjadi dua bagian lali menyuapkan kemulut Olivia

"makan.. kunyah.. telan"

Olivia menuruti perintah tejo, sambil merasakan getirnya rasa bunga itu

Tejo kembali memegang tangan Olivia, mengucapkan mantra di setiap jari-jari Olivia

" mbah buyut.. niki putu njenengan dugi... "

lalu crusss... tejo menusuk jari telunjuk Olivia dengan jarum, Olivia memejamkan matanya

Tejo menekan telunjuk Olivia yang untuk mengeluarkan setetes darah di teteskan di atas batu bros merah itu sambil terus mengucapkan mantra

Olivia masih memejamkan matanya

"via... " namanya di pangil Olivia mengingat pesan tejo tidak boleh membuka matanya

"Olivia... " suara itu kembali memanggil namanya

"Olivia... putuku... iki si mbah buyut" suara itu kini semakin jelas ingin mengajaknya berbicara, Olivia tidak berani membuka mulutnya, Olivia semakin memejamkan matanya. tejo melihat reaksi Olivia, dan terus membaca mantra kini semakin kencang dan cepat

Tejo kembali mengibaskan asap kemenyan ke seluruh tubuh Olivia, semakin asap kemenyan itu di kibaskan semakin jelas Olivia mendengar suara perempuan tua

"Olivia... putuku... aku melu koe nduk... "

setelah itu suara nenek Tua menghilang, keringat dingin keluar dari dahi Olivia. dahi Olivia kini sdh mulai tidak tegang lagi. tejo menepuk pundak Olivia

"buka matamu vi... jangan berbicara"

Olivia membuka matanya, memandang langit-langit kamar itu, tak terasa setetes air mata mengalir

Tejo menggunting sepucuk rambut Olivia dan membakarnya di atas bara kemenyan. Olivia melirik tejo yang memejamkan mata sambil terus membacakan beberapa mantra dan keringat keluar dari wajah tejo begitu banyak. kini Olivia melihat tejo beda dengan tejo yang dia temui tadi, tejo terlihat seperti orang tua, dahinya keriput. Olivia sampai memundurkan kepalanya meyakinkan diri jika itu tejo bukan orang lain.

Tejo pelan-pelan membuka matanya, mulutnya masih terus mengucapkan mantra. lalu tersenyum kepada Olivia

"sudah selesai vi" ucap tejo

Olivia hendak bangkit

"duduk dulu, minum sedikit-sedikit" ucap tejo sambil mengulurkan air 7 sumber itu. Olivia meminum sedikit tujuh air itu

"sudah vi... kamu ganti baju"

Olivia pergi untuk mengganti bajunya, tejo membereskan semua peralatan ritualnya. Olivia ingin segera selesai, ingin menanyakan siapa suara tadi

"sudah selesai vi" tanya tejo

"sudah mas"

"kamu mau tidur disini apa mau langsung kembali ke Surabaya?"

"langsung kembali aja mas"

"ya wis aku yang tidur disini" ucap tejo ringan sambil terus merapikan alat-alatnya

"kamu yakin mau tidur disini mas?"

"iya.. kenapa? kamu kira aku takut?"

"aku ndak berani mas. kalau sudah selesai aku mau tanya"

"apa? suara?"

"iya mas" ucap Olivia sambil mengaktifkan ponselnya, berberapa notifikasi panggilan dari teman dan dimas

"mas aku pulang sekarang ya"

"naik apa?"

"aku pesan taksi online"

Tejo selesai menyimpuni peralatannya. duduk di ruang tamu sambil menyulut rokok dan menghisapnya pelan

"kamu tadi dengar apa vi?"

"katanya mbah buyutku mas, ikut aku"

"ya itu mbah buyut mu, yang punya bros itu"

"aku takut mas"

"takut kenapa?"

belum juga Olivia mendengarkan penjelasan tejo, taksi Online yang dia pesan sudah tiba di depan rumahnya

"yakin mau disini mas?"

"iya... mau keluar dulu. lapar" ujar tejo sambil mengelus perutnya yang keroncongan

Olivia pergi meninggalkan rumah miliknya, semakin melihat rumah itu semakin merinding yang dia rasakan

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!