Di balik utang yang mencekik, janji gaib menanti di atas bukit.
Terdesak tagihan, biaya sekolah tertunggak, dan ancaman penyitaan toko besok pagi, seorang ayah di ujung keputusasaan mendengar rahasia: tetangganya Pak Kasan mendadak kaya setelah mendatangi Simbah, juru kunci Makam Keramat Panjang.
Makam berukuran tak lazim di bukit itu konon memberi pinjaman tanpa bunga bagi yang terdesak. Tapi di dunia gaib, tak ada yang benar-benar gratis. Saat wangi pandan basah dan tanah kuburan mulai menyelimuti kamarnya, ia harus memilih sebelum subuh: seberapa mahal harga yang dibayar, saat yang dipertaruhkan bukan harta, melainkan nyawa sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2 — JEJAK DI AMBANG SENJA
Matahari terbit dengan warna merah keandongan yang suram di atas atap seng rumah kami.
Cahaya fajar menyusup tipis melalui celah papan dinding, menimpa wajah Ningsih yang masih terlelap.
Aku berdiri di ambang pintu dapur, memandangi panci beras yang sudah kosong melompong.
"Mas... kamu tidak tidur semalaman?" suara Ningsih terdengar parau dari arah pintu kamar.
Ia melangkah perlahan sambil merapikan kain sarung yang melilit pinggangnya.
"Aku tidak bisa memejamkan mata, Ningsih," jawabku sambil mengusap tengkuk leherku.
"Isi kepalaku rasanya mau pecah memikirkan janji Pak Leksa pagi ini."
Ningsih menarik napas panjang, lalu berjalan mendekati kompor minyak yang dingin.
"Beras benar-benar sudah habis bersih, Mas," bisiknya lirih dengan bibir gemetar.
"Pagi ini aku cuma bisa merebus dua buah singkong sisa kemarin buat sarapan Dedek."
"Tidak apa-apa, Ningsih, berikan saja singkong itu buat Dedek sekolah," sahutku pelan.
"Nanti siang aku berusaha cari uang tunai buat beli beras lima kilo."
Ningsih menatapku dengan pandangan ragu yang sangat dalam.
"Kamu mau cari uang ke mana lagi jam begini, Mas?" tanyanya penuh kecemasan.
"Kemarin sore semua warung grosir sudah menolak memberikan bon barang baru."
Aku mengalihkan pandanganku ke luar jendela, menatap kebun pisang yang tertutup kabut.
"Ujang kemarin malam janji mau membantuku mencari pinjaman modal," jawabku berbohong.
Aku tidak berani menyampaikan nama Simbah atau Makam Keramat Panjang pada istriku.
Aku tahu betul Ningsih pasti akan menangis histeris jika mengetahui niat nekatku.
"Kang Ujang benar-benar mau bantu kita, Mas?" tanya Ningsih memastikan.
"Dia punya kenalan orang berada di desa sebelah yang biasa meminjamkan uang," kelitku.
Ningsih menghembuskan napas lega, seolah beban berat di pundaknya sedikit terangkat.
"Alhamdulillah kalau memang ada jalan keluar dari Kang Ujang," gumamnya lirih.
"Tolong sampaikan terima kasih banyak pada beliau nanti kalau kalian bertemu."
Rasa bersalah yang teramat sangat mendadak menusuk ulu hatiku hingga terasa sesak.
Aku hanya bisa menganggukkan kepala kaku tanpa sanggup menatap manik matanya.
Tok! Tok! Tok!
Suara gedoran keras di pintu depan menghentikan percakapan kami secara seketika.
Hantaman pada papan kayu itu begitu bertenaga, seolah hendak merubuhkan pintu rumah.
"Surya! Buka pintunya sekarang!" teriak suara berat dari luar rumah.
Wajah Ningsih mendadak pucat pasi bagaikan mayat.
Tangannya yang dingin menggenggam erat lengan kemejaku yang lusuh.
"Itu suara Pak Leksa, Mas," bisik Ningsih ketakutan setengah mati.
"Bagaimana ini? Beliau benar-benar datang menagih utang kita pagi ini."
Aku menepuk pelan punggung tangan Ningsih untuk menutupi rasa gentarku sendiri.
"Kamu masuk ke kamar saja bersama Dedek, Ningsih," perintahku tegas.
"Biarkan aku yang menghadapi Pak Leksa di teras depan."
Ningsih mengangguk cepat, lalu berlari masuk ke dalam kamar tidur anak kami.
Aku melangkah menuju pintu depan dengan jantung yang berdegup kencang berhantaman.
Begitu selot besi kutarik, pintu terdorong keras dari luar hingga mengenai bahuku.
Pak Leksa berdiri gagah di teras dengan berkacak pinggang di atas papan kayu.
Di belakangnya, dua orang pria berbadan tegap mengenakan jaket kulit hitam berdiri.
"Mana uang pembayaran tunggakan toko dua minggu kemarin, Surya?" bentak Pak Leksa.
Matanya yang merah melotot tajam, menembus langsung ke dalam mataku yang lelah.
"Selamat pagi, Pak Leksa," sapaku berusaha bersikap sopan dan tenang.
"Tolong beri saya waktu sampai besok sore buat melunasi semua sisa utang barang."
Pak Leksa tertawa bersungut-sungut, sebuah tawa ejekan yang menyakitkan telinga.
"Waktu sampai besok sore?" ulangnya dengan nada suara meninggi.
"Janji manis seperti itu sudah puluhan kali keluar dari mulutmu sejak bulan lalu!"
"Saya tidak mau tahu lagi, hari ini juga kamu harus bayar tunai tiga juta rupiah!"
"Kalau tidak ada uang tunai sekarang, barang-barang di tokomu akan saya angkut!"
"Tolong kasihanilah keluarga saya, Pak Leksa," mohonku sambil merapatkan telapak tangan.
"Anak saya masih kecil dan butuh makan hari ini."
"Kalau sisa barang di toko diangkut semua, kami mau makan apa esok hari?"
Salah satu pria berbadan tegap di belakang Pak Leksa melangkah maju satu tapak.
Tangannya menunjuk tepat ke arah dadaku dengan tatapan mata mengintimidasi.
"Jangan banyak alasan kamu, Surya!" gertak pria berjaket kulit itu garang.
"Bos kami sudah cukup sabar memberikan tenggat waktu pembayaran!"
"Kalau kamu tidak punya uang tunai, kunci motor di samping rumah itu serahkan!"
Darahku mendadak tersirat naik ke kepala mendengar ancaman penyitaan motor.
Sepeda motor tua itu adalah satu-satunya alat kerja yang kumiliki untuk mengangkut barang.
"Jangan ambil motor itu, Pak!" cegahku setengah berteriak.
"Besok sore saya janji pasti akan menyerahkan uang tunai tiga juta rupiah utuh!"
Pak Leksa menatapku lama dengan pandangan penuh selidik dan kecurigaan tebal.
"Kamu tidak sedang berbohong kan, Surya?" tanya Pak Leksa dengan nada dingin.
"Dari mana kamu bisa dapat uang tunai tiga juta rupiah dalam waktu sehari?"
"Ada saudara saya dari kota yang mau datang mengirimkan pinjaman modal besok siang," jawabku.
Aku terpaksa merangkai kebohongan baru demi menyelamatkan motor dan sisa barang toko.
Pak Leksa meludah ke tanah persis di dekat ujung jempol kakiku yang tidak bersandal.
"Bagus kalau begitu, ingat baik-baik janji utangmu ini, Surya!" ancam Pak Leksa.
"Besok sore jam lima, saya akan datang ke sini lagi membawa mobil bak terbuka."
"Kalau uang tiga juta rupiah itu tidak ada, motor dan isi tokomu saya angkut!"
Tanpa menunggu jawabanku lagi, Pak Leksa berbalik arah dan melangkah pergi.
Kedua anak buahnya mengikutinya dari belakang setelah memberikan tatapan mengancam.
Aku menyandarkan tubuhku yang lemas ke tiang kayu teras yang berdebu.
Keringat dingin membahasi seluruh punggung kemejaku hingga terasa lengket.
Siang harinya, matahari memancar terik membakar permukaan jalanan tanah desa.
Aku berdiri menunggu di pinggir jalan persimpangan desa sambil memegang motor.
Suara raungan mesin motor Ujang yang khas akhirnya terdengar mendekat dari balik tikungan.
Ujang menghentikan motornya tepat di sampingku, lalu membuka kaca helm plastiknya.
"Sudah siap kamu pergi menemui Simbah sekarang, Mas?" tanya Ujang.
"Pak Leksa baru saja datang menagih dengan mengancam menyita rumahku, Jang," jawabku.
"Aku tidak punya pilihan lain lagi selain ikut bersamamu siang ini."
Ujang mengangguk paham, lalu memberi isyarat kepala agar aku mengikuti kendaraannya.
"Ikuti sepeda motorku dari belakang, Mas," ujar Ujang mengarahkan.
"Rumah Simbah berada jauh di dalam hutan bambu ujung desa sebelah."
Kami berdua memacu sepeda motor menyusuri jalanan tanah yang kian menyempit.
Pohon-pohon jati tua dan rimbunnya rumpun bambu mendominasi pemandangan.
Udara siang yang semula panas mendadak berubah menjadi dingin dan lembap.
Suara jangkrik hutan menyahut-nyahut riuh, menciptakan irama gaib yang mencekam.
Setengah jam berkendara, Ujang memperlambat laju motornya di dekat gapura kayu.
Di balik gapura tua itu, terlihat sebuah rumah panggung kayu beratap ijuk.
Rumah itu berdiri sendirian di bawah naungan pohon beringin raksasa.
Aroma bau kemenyan yang dibakar dan wangi melati busuk tercium sangat pekat.
Ujang mematikan mesin motornya, lalu memarkir kendaraannya di bawah beringin.
"Tetap tenang dan jangan pernah bertindak lancang di dalam rumah Simbah, Mas," bisik Ujang.
"Jawab saja apa yang beliau tanyakan nanti dengan jujur tanpa ditutup-tutupi."
Aku mengangguk pelan sambil menelan ludah yang terasa sangat pahit.
Kami berjalan melangkah menaiki tangga kayu rumah panggung yang berderit.
Di teras rumah yang remang-remang, seorang lelaki tua bersarung hitam sedang duduk bersila.
Rambutnya yang putih panjang terurai hingga ke bahu, dan kulit wajahnya keriput.
"Mbah... ini saya Ujang membawakan kawan yang sedang terdesak," sapa Ujang sopan.
Lelaki tua yang dipanggil Simbah itu tidak segera menjawab atau menggerakkan tubuhnya.
Ia mengambil sebatang rokok klembak menyan, lalu menyalakannya dengan bara api.
Asap putih tebal membumbung tinggi, membawa aroma wangi mistis yang pusing.
"Siapa namamu, anak muda?" tanya Simbah dengan suara serak berat.
"Nama saya Surya, Mbah," jawabku pelan sambil menundukkan kepala dalam-dalam.
"Saya datang ke sini karena terdesak utang yang harus dilunasi besok sore."
Simbah terkekeh pelan, sebuah tawa serak bagaikan gesekan dua amplas kasar.
"Utang duniawi memang selalu membuat manusia lupa diri dan kehilangan akal," ujar Simbah.
"Apakah kamu benar-benar siap menanggung segala konsekuensi tempat tersebut, Surya?"
Sumpitan asap menyan ditiupkan Simbah tepat ke arah wajahku yang menunduk.
"Saya tidak punya jalan keluar lain lagi buat menyelamatkan anak istri, Mbah," jawabku.
"Pak Leksa mau menyita seluruh isi toko dan rumah saya besok sore."
Simbah mengangguk pelan sambil menghisap dalam-dalam rokok klembak menyannya.
"Tiga juta rupiah itu angka sangat kecil bagi penunggu Makam Keramat Panjang," kata Simbah.
"Di sana kamu bisa mendapatkan uang tunai sepuluh kali lipat dari utangmu."
Dada saya mendadak berdegup kencang mendengar nominal uang dari Simbah.
"Bagaimana cara saya meminjam uang dari penunggu makam itu, Mbah?" tanyaku.
Simbah memajukan posisi tubuhnya, mendekatkan wajah keriputnya hingga berjarak dekat.
Aroma nafasnya terasa sangat dingin dan berbau amis tanah kuburan.
"Malam besok adalah malam Jumat Kliwon," bisik Simbah dengan nada misterius.
"Tepat tengah malam, kamu harus datang sendirian berjalan kaki ke makam."
"Apakah Ujang atau Simbah tidak ikut mendampingi saya ke sana?" tanyaku terkejut.
Simbah menggelengkan kepalanya rapat-rapat dengan tatapan mata yang sangat tajam.
"Perjanjian gaib itu harus dilakukan pribadi antara peminjam dan penunggu," jawab Simbah.
"Orang luar tidak boleh berada di sekitar kompleks makam saat ritual berlangsung."
"Lalu apa saja syarat yang harus saya bawa saat datang besok malam, Mbah?" tanyaku.
Simbah merogoh sesuatu dari dalam lipatan kain sarung hitam yang dikenakannya.
Ia mengeluarkan sebuah kantong kain mori putih kecil yang kusam dan bernoda tanah.
Kantong mori itu diletakkannya di atas lantai kayu tepat di depan lututku.
"Di dalam kantong ini ada segenggam tanah kuburan tua dan tiga kuntum bunga kantil," jelas Simbah.
"Bawa kantong ini besok malam, lalu usapkan tanahnya ke dahi dan telapak tanganmu."
"Setelah itu kamu harus membakar bunga kantil di atas batu nisan makam."
Aku menatap kantong mori putih itu dengan bulu kuduk yang berdiri meremang.
"Apakah penunggu makam itu akan meminta tumbal nyawa manusia dari keluargaku, Mbah?" tanyaku.
Pertanyaan itu adalah ketakutan terbesar yang sejak kemarin malam menghantuiku.
Simbah tertawa terkekeh-kekeh, membuat bahunya yang kurus bergetar di bawah sarung.
"Penunggu Makam Keramat Panjang tidak pernah meminta tumbal nyawa anak atau istri," jawab Simbah.
"Beliau hanya meminta imbalan rasa hormat dan janji kesetiaan dari peminjam."
"Janji kesetiaan dalam bentuk apa yang beliau minta dari saya, Mbah?" tanyaku.
"Kamu harus bersedia datang membersihkan makamnya setiap Selasa dan Jumat Kliwon," ujar Simbah.
"Dan kamu tidak boleh membelanjakan uang pinjaman itu buat hal maksiat."
"Kalau kamu melanggar janji itu, uang pinjaman berubah menjadi tanah merah."
Aku menghela napas lega mendengarkan penjelasan syarat dan larangan Simbah.
"Hanya itu saja syarat yang harus saya patuhi, Mbah?" tanyaku memastikan.
"Hanya itu syarat utamanya buat meminjam modal pertama kali," jawab Simbah.
"Ambil kantong mori itu sekarang dan simpan rapat-rapat di dalam rumahmu."
Dengan tangan yang gemetar hebat, aku mengulurkan jemariku meraih kantong mori.
Begitu kulit jariku menyentuh kain mori, rasa dingin membekukan merambat ke lengan.
Grombol!
Suara angin kencang mendadak menghantam atap ijuk rumah panggung Simbah.
Pintu kayu rumah terbuka menghentak dengan sendirinya, memperlihatkan kegelapan hutan.
Daun-daun kering beterbangan masuk ke dalam teras, berputar-putar di sekeliling kami.
Aroma wangi pandan basah dan bau bunga kantil menyengat memenuhi teras.
Simbah memejamkan matanya rapat-rapat sambil komat-kamit merapalkan mantra.
Ujang yang duduk di sampingku langsung menundukkan kepala ke lantai kayu.
Aku terpaku kaku dengan kantong mori putih tergenggam erat di telapak tanganku.
Suara bisikan gaib seperti rintihan ratusan orang yang kesakitan terdengar ditiup angin.
"Surya... datanglah besok malam..." bisik suara gaib itu bergema di telingaku.
Keringat dingin mengucur deras dari pelipis dan dahiku, membasahi kemeja.
Simbah perlahan membuka matanya kembali, memandangku dengan tatapan mata yang dalam.
"Penunggu makam sudah menyambut niat kedatanganmu, Surya," kata Simbah berbisik.
"Pulanglah sekarang dan persiapkan dirimu buat malam esok hari."
Aku berdiri dari lantai teras dengan tubuh yang terasa sangat lemas.
Ujang membimbing lenganku, membantuku melangkah turun meniti tangga kayu.
Kami berjalan kembali menuju lokasi parkir sepeda motor di bawah beringin.
Sepanjang perjalanan pulang menyusuri hutan bambu, aku tidak sanggup mengucapkan patah kata.
Pikiranku sepenuhnya terikat pada kantong mori putih yang tersimpan di dalam saku.
Takdir hidupku dan keselamatan keluargaku kini tinggal menunggu waktu esok malam di Makam Keramat Panjang.