NovelToon NovelToon
Istri Bisu Tuan Penguasa Cacat

Istri Bisu Tuan Penguasa Cacat

Status: sedang berlangsung
Genre:Orang Disabilitas / Mafia / Pengantin Pengganti
Popularitas:29.3k
Nilai: 5
Nama Author: Yulianti Azis

Sejak kecil, Kirana Lin dibuang ke desa karena terlahir bisu. Meski tak mampu berbicara, ia memiliki kecerdasan luar biasa dan segudang prestasi.

Dua puluh tahun kemudian, Kirana kembali ke keluarga Lin untuk menggantikan putri angkat mereka menikah dengan Kendra Wu, penguasa keluarga Wu yang lumpuh akibat kecelakaan.

Semua orang mengira Kirana akan menderita di tangan Kendra. Namun, gadis bisu itu justru berhasil membuat sang penguasa jatuh cinta dan membantunya merebut kembali semua yang telah dirampas darinya.

Yuk simak kisahnya! Yang tidak suka langsung skip!👊👊

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bercerai Setelah Semuanya Selesai.

Pagi itu, sinar matahari perlahan masuk melalui celah tirai kamar. Kirana yang masih setengah sadar tiba-tiba membuka mata dengan wajah terkejut karena pipinya terasa menempel pada sesuatu yang hangat dan kokoh.

Ia belum sepenuhnya menyadari keadaan, sehingga tangannya bergerak menyentuh permukaan dada di bawah wajahnya.

Kirana bahkan sempat mengusapnya beberapa kali dengan ekspresi kagum sebelum senyum kecil muncul di wajahnya.

Wah, mimpiku sangat indah. Rasanya nyata sekali sampai aku bisa menyentuh dada bidang seperti ini, batinnya dengan mata berbinar.

"Sudah puas pegang-pegangnya?"

Suara serak yang terdengar tepat di dekatnya membuat tubuh Kirana seketika kaku. Matanya membesar sebelum perlahan mendongak.

Betapa terkejutnya Kirana ketika mendapati Kendra sedang menatapnya dengan wajah datar. Lebih memalukan lagi, ia baru menyadari bahwa dirinya ternyata berada di atas tubuh pria itu.

Kirana langsung panik. Tanpa berpikir panjang, ia mendorong tubuh Kendra untuk menjauh darinya.

Bruk!

"Akkh!"

Tubuh Kendra langsung jatuh ke lantai. Pria itu meringis sambil mengerutkan kening karena benturan yang cukup keras.

Kirana membeku beberapa detik. Tatapannya segera turun ke kaki Kendra yang masih belum sepenuhnya pulih.

Astaga!

Kirana buru-buru turun dari tempat tidur dan membantu Kendra bangkit. Wajahnya penuh rasa bersalah, sementara kedua tangannya bergerak cepat memastikan Kendra tidak mengalami cedera.

Kendra menatapnya tajam. "Tidak cukup kau meraba-rabaku saat tidur, sekarang kau malah menjatuhkanku. Kau benar-benar luar biasa Kirana."

Kirana langsung meringis. Wajahnya memerah karena malu, lalu ia buru-buru mengambil ponsel dan mengetik.

"Aku tidak sengaja."

Kendra membaca tulisan itu lalu mengangkat alis. "Tidak sengaja? Kalau begitu, lain kali jangan terlalu bersemangat saat bangun tidur."

Kirana langsung menundukkan wajah. Ia tidak tahu harus membela diri dengan cara apa karena memang dirinya sendiri yang panik hingga membuat Kendra terjatuh.

Kirana benar-benar merutuki dirinya yNg jika tidur memang banyak gerak. Ia masih berpikir tidur sendirian.

"Lain kali—"

Kendra hendak mengatakan sesuatu lagi, tetapi tiba-tiba ia terdiam. Ada sensasi aneh yang terasa dari bagian kakinya.

Pria itu perlahan menundukkan pandangan. Selama bertahun-tahun setelah kecelakaan, bagian kakinya hampir tidak memberikan sensasi yang berarti, tetapi pagi itu ia merasakan sesuatu yang sudah lama tidak dirasakannya, yaitu rasa sakit.

Kendra menggerakkan jarinya sedikit. Matanya langsung berubah ketika menyadari bahwa ia benar-benar dapat merasakan gerakan tersebut.

"Kirana," panggil Kendra pelan.

Kirana segera mendongak. Melihat ekspresi serius Kendra, ia ikut memperhatikan kaki pria itu.

Kendra mencoba menggerakkan kakinya sekali lagi. Kali ini gerakannya memang masih sangat kecil, tetapi cukup untuk membuat keduanya terdiam.

"Aku bisa merasakannya," ucap Kendra dengan suara rendah.

Mata Kirana langsung berbinar. Ia segera berjongkok di hadapan Kendra dan memeriksa kaki tersebut dengan penuh perhatian.

Kendra masih terpaku pada kakinya sendiri. "Jadi pengobatanmu benar-benar mulai bekerja."

Kirana mengangguk dengan senyum lega. Ia kemudian mengetik sesuatu di ponselnya dan menunjukkannya kepada Kendra.

"Sudah kubilang, aku akan menyembuhkanmu."

Kendra membaca kalimat itu cukup lama. Kemudian ia menatap Kirana dengan sorot mata yang sedikit berbeda dari biasanya.

"Sepertinya aku memang tidak salah memilihmu sebagai dokter. Kali ini aku memaafkanmu."

Kirana mengangkat dagu dengan bangga. Namun, ketika teringat bagaimana dirinya tadi berada di atas tubuh Kendra, wajahnya kembali memerah dan ia buru-buru mengalihkan pandangan.

Kendra memperhatikan perubahan wajah Kirana. "Dan satu hal lagi."

Kirana menoleh dengan ekspresi bingung.

"Kau tetap harus meminta maaf karena menjatuhkanku."

Kirana menghela napas kecil sebelum mengetik di ponselnya. "Maaf."

Kendra mengangguk puas. "Baik, aku terima."

Kirana baru saja hendak berdiri ketika Kendra menambahkan dengan wajah datar, "Tapi untuk kejadian kau meraba-rabaku tadi, kita akan membicarakannya nanti."

Mata Kirana langsung membesar. Ia mengambil bantal dan menutup wajahnya sendiri karena malu lalu berlari keluar dari kamar, sementara Kendra hanya menggeleng pelan.

Di balik wajah datarnya, perhatian Kendra kembali tertuju pada kakinya, baru kali ini ia merasakan sejak kecelakaan, ia memiliki alasan kuat untuk percaya bahwa suatu hari nanti dirinya mungkin benar-benar bisa berjalan kembali.

Tapi begitu mengingat kejadian semalam dan pagi ini. Wajah Kendra memerah sampai ke telinga.

"Sial! Aku harus mandi air dingin lagi!" rutuk Kendra.

Di sisi lain Kirana buru-buru turun ke lantai bawah dengan langkah cepat. Wajahnya masih memerah, bahkan sesekali ia menundukkan kepala seolah berharap tidak ada seorang pun yang memperhatikan keadaannya.

Beberapa pelayan yang sedang membersihkan ruang keluarga saling melirik. Mereka merasa heran melihat nyonya muda mereka yang biasanya tenang kini berjalan terburu-buru dengan wajah semerah tomat.

Kirana berhenti di dekat tangga setelah merasa cukup jauh dari kamar. Ia mengembuskan napas panjang, lalu menepuk-nepuk kedua pipinya dengan telapak tangan.

Tenang, Kirana. Sadarlah.

Ia menepuk pipinya sekali lagi, kali ini sedikit lebih keras. Ingat! Kalian akan bercerai setelah Kendra sembuh dan kau sudah bisa berbicara kembali.

Kirana mengangguk sendiri seolah sedang memberikan nasihat kepada dirinya. Jangan sampai lupa kalau pernikahan ini sejak awal hanyalah sebuah kesepakatan.

Tanpa disadarinya, Nyonya Cassia kebetulan sedang berjalan melewati ruang keluarga. Wanita itu berhenti ketika melihat menantunya berdiri sendirian sambil menepuk-nepuk pipi.

Cassia mengerutkan kening. "Kirana?"

Kirana langsung tersentak dan menoleh. Wajahnya semakin panik ketika menyadari Cassia sudah berdiri tidak jauh darinya.

"Ada apa, Nak?" tanya Cassia dengan wajah khawatir. "Kau kenapa? Demam?"

Kirana buru-buru menggelengkan kepala. Ia kemudian tersenyum tipis untuk meyakinkan ibu mertuanya.

Cassia masih belum percaya begitu saja. Ia mendekat dan mengangkat tangannya untuk menyentuh kening Kirana.

"Keningmu tidak terlalu panas," gumam Cassia. "Tapi wajahmu merah sekali."

Kirana kembali menggeleng sambil melambaikan tangan, memberi isyarat bahwa dirinya baik-baik saja. Setelah itu ia menunjuk ke arah ruang makan.

Cassia memperhatikan gerakannya beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk. "Kau yakin tidak apa-apa?"

Kirana mengangguk cepat.

"Kalau begitu, baguslah," ujar Cassia sambil tersenyum lega. "Jangan sampai kau sakit. Mami masih punya banyak rencana untuk mengajakmu jalan-jalan."

Kirana tersenyum kecil mendengar ucapan itu. Ia kemudian mengangguk lagi sebagai tanda setuju.

Cassia menggandeng lengan Kirana dengan santai. "Ayo, kita sarapan dulu. Kendra juga pasti sebentar lagi turun."

Langkah Kirana langsung terhenti sesaat ketika mendengar nama Kendra. Wajahnya yang tadi mulai kembali normal perlahan memerah lagi.

Cassia yang tidak menyadari perubahan itu terus berjalan sambil berkata, "Pagi ini Mami sudah meminta pelayan menyiapkan banyak makanan. Kau harus makan yang cukup."

Kirana hanya bisa mengangguk sambil menahan rasa malu. Dalam hati, ia kembali mengingatkan dirinya sendiri agar tidak lupa pada kesepakatan mereka.

Bercerai setelah semuanya selesai.

1
𝓑𝓪𝓫𝔂💋🅡🅘🅝🅐&🅩🅤👻ᴸᴷ
akhirnya Kirana udah bisa berbicara, walaupun masih terbata²🥳💃🏻
teh tubruk
gimana ga benjol ya, gayung kayu loh itu yg di lempar ke kepala mu ken😂😂
teh tubruk
selamat Kirana akhir nya kamu udh bisa bicara lagi ikut senang deh😊
teh tubruk
apakah ini suara teriakan nya Kirana??
juwita
syukurin si licik kehilang kakinya. klo kendra msh ada kaki nya suatu saat bisa sembuh dn jln lg. lah si Harry udh g ada kaki dipotong dia. sungguh karna setimpal🤣🤣🤣
Ayudya
mampir lagi MOM
ismi
marco juga mendengar lho waktu kirana berteriak ,,kak yull
Icka Soesan
seperti nya si meylan itu yg meracuni Kirana waktu kecilnya, feeling aku sih yg anak kandungnya dia si Shania itu. bukan Kirana
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
mulai virus bucin menyerang Kendra nih 😂😂 saya doakan semoga Kendra dan Kirana bisa cepat" bucin satu sama lainnya ya biar cepat jg dpt debay twins atau triplet 💪💪
syh 03
hore akhirnya Kirana bisa bicara 🤲🤲🥹
Maria Lina
cie "cie kendra ya kesengsem ya awas jatuh cinta lo wkwk
𝓑𝓪𝓫𝔂💋🅡🅘🅝🅐&🅩🅤👻ᴸᴷ
club malam ya, kak thor
bukan "kelab"
syh 03
karma sesuai perbuatan lah 😒
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
Kendra blm ngeh kl td Kirana bisa berteriak mengeluarkan suaranya 🤗🤗 sbntr lg Kirana pasti bisa bicara 💪💪
mama_im
sukurin 😤😤😤 temen temen nya juga harus di bantai sih
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
si Meylan msh aja percaya sama si minyak goreng pdhl dah berapa kl ulahnya ke bongkar tp msh blm ngeh 😏😡
Maria Lina
mantap..makasih bnykk"ya thor ud up nya🙏🙏😘😘
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
Kendra takut jg ya kl Kirana marah 😂😅
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
karma mu baru berjalan Harry jd tenang aja karna itu blm sbrp 😏😏
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
Kendra kamu hrs hati" karna Kirana bnyk yg ngincar untuk dilecehkan jd kamu hrs lenyapkan mereka agar berkurang orang jahatnya 😏😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!