Alvierra Zea Khanza atau biasa dipanggil Zea rela menjadi gubernur demi mewujudkan impian sang nenek. Tapi sejak menjabat, berbagai teror dan ancaman mulai mengincarnya.
Demi keselamatan Zea, sang kakek mengirim seorang pengawal pribadi bernama Sagara Arya, kapten dingin yang ternyata menyimpan misi rahasia yaitu membunuh Zea.
Sayangnya, menghadapi gubernur yang bar-bar, keras kepala, tetapi begitu tulus mencintai rakyatnya membuat Kapten Sagara perlahan melupakan misinya.
Di antara ancaman, rahasia, dan perasaan yang tak seharusnya tumbuh, sang kapten justru jatuh cinta kepada perempuan yang seharusnya menjadi targetnya.
Ketika tugas dan cinta berada di dua sisi yang berlawanan, akankah Sagara memilih perintah atau melindungi perempuan yang telah mencuri hatinya?
Yuk stay tune ya. Yang gak suka silakan skip.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Salah Paham
Pagi itu, udara masih sejuk Alvierra Zea Khanza berjalan santai di sebuah taman kota. Gadis berusia dua puluh sembilan tahun itu mengenakan hijab hitam polos yang dipadukan dengan baju olahraga longgar dan celana training panjang yang juga tidak ketat, membuatnya tetap nyaman bergerak selama berolahraga.
Di sampingnya, sahabatnya, Intan, sedang melakukan peregangan sambil sesekali melirik Zea.
Keduanya sudah bersahabat sejak SD di mana Intan pindah dari kota J ke kota M, sehingga Intan sama sekali tidak takut mengomentari tingkah Zea, bahkan ketika komentar itu berpotensi membuat sahabatnya naik darah.
“Aku dengar, Kakek Sultan kirim pengawal pribadi buat kamu, ya?” tanya Intan sambil meregangkan kedua tangannya ke atas.
Zea yang sedang membungkukkan badan langsung mengangkat kepala. “Ho'oh. Aku kesel banget.”
Intan terkekeh. “Kenapa kesel? Syukurlah ada yang bantu ngawasin kamu.”
“Bantu ngawasin?” Zea mendengus. “Lebih tepatnya mengawasi setiap gerak-gerikku. Kakek itu berlebihan banget. Aku cuma lempar batu doang, kok.”
“Cuman? Kau sudah berbuat onar berapa kali? Kau tidak ingat dua minggu sebelumnya? Apa yang kau lakukan?” Intan mengangkat alis.
Zea terdiam.
Intan menyeringai. “Kamu ngejar pelaku pencurian motor sampai tiga blok.”
“Itu beda kasus.”
“Bedanya apa?”
“Dia lari.”
Intan menahan tawa. “Dan kamu mengejarnya karena?”
“Karena dia lari.”
Intan akhirnya tertawa kecil sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Makanya aku bilang, syukurlah ada yang bantu kamu. Biar kamu nggak berbuat seenaknya. Semoga pengawal itu tahan banting dan tahan mental.”
Mata Zea langsung melotot tajam. “Maksudmu?”
“Enggak ada.”
“Intan.”
“Aku cuma berharap dia orang sabar.”
“Kenapa harus sabar?”
“Karena yang dijaga kamu.”
Zea mendengus kesal. “Aku ini gubernur, bukan anak kecil.”
“Justru karena kamu gubernur.”
Intan kemudian berdiri tegak dan merapikan ujung bajunya. “Btw, aku dengar-dengar pengawalmu itu kapten dari pasukan khusus, loh.”
Zea menoleh. “Seriys! aku gak tahu.”
“Iya. Katanya pengalaman tempurnya banyak.”
Intan kemudian memasang wajah sok serius. “Pasti sudah tuir, berkumis tebal, wajahnya seram, terus kalau ngomong cuma, 'Ya, Nyonya.'”
Zea membayangkan gambaran yang diberikan Intan. Ia kemudian menghela napas panjang.
“Bodoh amat.”
“Jangan-jangan orangnya galak.”
“Lebih bagus.”
“Kenapa?”
“Biar dia tahu sendiri rasanya menjaga gubernur yang nggak bisa diam.”
Intan tertawa. “Aku justru kasihan sama dia.”
“Kenapa kasihan?”
“Karena dia belum tahu kalau tugas terberat dalam hidupnya bukan menghadapi musuh bersenjata.”
Zea menyipitkan mata.
Intan menunjuknya. “Tapi menghadapi kamu.”
“Intan!”
Tawa Intan pecah di taman itu.
Baru saja keduanya selesai melakukan pemanasan, tiba-tiba terdengar suara seorang perempuan tua dari arah jalan.
“Tolong! Tolong! Pencuri!”
Zea langsung menoleh.
Seorang nenek tampak berlari dengan wajah panik sambil menunjuk ke arah sebuah gang. Napasnya tersengal-sengal, sementara beberapa orang yang berada di sekitar tempat itu hanya berdiri dan melihat.
“Tolong! Ada pencuri dompetku!” teriak sang nenek lagi.
Tanpa berpikir panjang, Zea langsung berlari.
“Zea—”
Intan bahkan belum sempat menyelesaikan kalimatnya ketika sahabatnya sudah menghilang di tikungan.
“Ya ampun!” Intan memegang kepalanya. “Dia benar-benar nggak bisa lihat masalah sedikit saja, ya?”
Sementara itu, Zea sudah menghampiri sang nenek. “Kenapaki, Nek?”
Nenek itu menunjuk ke sebuah gang dengan wajah cemas. “Nak, tolong ka' kasihan. Itu ada pencuri lari bawa dompetku!”
Zea langsung melihat ke arah yang ditunjuk.
“Ada orangnya?”
“Ada! Tadi ada laki-laki lari di lorong sana. Dia—”
Belum sempat sang nenek menyelesaikan kalimatnya, Zea sudah melesat.
“Nak, tunggu dulu! Tadi ada jga—”
Suara sang nenek perlahan menghilang di belakang Zea.
Zea berlari secepat mungkin menuju gang tersebut. Sebagai gubernur yang sering turun langsung ke lapangan, ia memang memiliki kebiasaan buruk berupa bertindak lebih dulu sebelum memikirkan akibatnya.
“Berhenti!”
Dari kejauhan, Zea melihat seorang pria mengenakan hoodie hitam sedang berdiri di ujung gang. Tangannya memegang sebuah dompet berwarna cokelat.
Mata Zea langsung menyipit. “Nah!”
Pria itu baru saja menoleh ketika Zea sudah berlari mendekatinya.
“Wah! Ganteng-ganteng malah nyuri!” seru Zea. “Ternyata kau pencurinya!”
Pria itu terdiam. Ia bahkan belum sempat menjelaskan ketika Zea sudah melayangkan tendangan ke arahnya.
“Serahkan dompetnya!”
Pria itu spontan menghindar ke samping. Tendangan Zea hanya mengenai udara.
“Hah?”
Zea langsung memutar tubuhnya dan kembali melancarkan pukulan.
Pria itu mengangkat lengannya dan menangkis.
Buk!
Zea mengerutkan kening. “Berani juga kamu!”
Pria itu tetap diam. Zea kembali menyerang, satu pukulan, dua pukulan.
Semuanya berhasil dihindari pria tersebut dengan gerakan yang tenang.
Zea semakin kesal. “Diam saja, ya?!”
Pria itu akhirnya bersuara. “Bisa berhenti menyerang selama lima detik?”
“Tidak!”
Zea kembali melayangkan pukulan. Pria itu menunduk dan menghindar.
“Empat detik saja.”
“Tidak!”
“Dua detik?”
“Tidak!”
Pria itu menghela napas. Zea kembali mencoba menendangnya, kali ini pria itu menangkap pergelangan kaki Zea sebelum tendangannya mengenai sasaran.
Zea membelalak. “Lepaskan!”
Pria itu melepaskannya.
Zea mundur beberapa langkah untuk menjaga keseimbangan. “Kamu siapa sebenarnya?”
Pria itu tidak menjawab. “Kenapa diam?”
“Karena Anda tidak memberi saya kesempatan bicara.”
Zea terdiam sesaat. Kemudian menunjuk dompet di tangan pria itu.
“Terus itu apa?”
Pria tersebut melihat dompet itu sekilas. “Dompet.”
“Ya, aku juga tahu itu dompet!”
“Kalau tahu, kenapa bertanya?”
Zea langsung terdiam. Wajahnya berubah kesal.
“Jangan kurang ajar.”
“Saya hanya menjawab pertanyaan Anda.”
“Berarti kamu memang pencuri.”
“Tidak.”
“Kalau bukan pencuri, kenapa pegang dompet itu?”
Pria itu hendak menjawab, tetapi tiba-tiba terdengar suara Intan dari kejauhan.
“Zeaa!”
Zea dan pemuda tampan itu menoleh bersamaan. Terlihat Intan menarik pelan nenek itu menghampiri keduanya.
Wajah Intan terlihat kesal karena harus berlari mengejar Zea yang kembali bertindak tanpa berpikir panjang.
“Astaga! Kau benar-benar, yak! Pergi begitu saja tanpa berpikir!” seru Intan begitu sampai di hadapan Zea.
Zea malah mengabaikan omelan sahabatnya. Ia menoleh kepada sang nenek dan menunjuk pria beralis tebal itu dengan penuh keyakinan.
“Nek, itu bukan pencurinya?”
Sang nenek tampak bingung mendengar pertanyaan tersebut. Ia kemudian memperhatikan pria yang ditunjuk Zea beberapa saat sebelum tiba-tiba mengangkat tangannya.
“Bukan, Nak!”
Zea mengedipkan mata. “Bukan?”
“Iye, bukan!” jawab sang nenek. “Ini yang tadi nenek mau bilang. Tadi ada laki-laki lain yang kejar pencuri itu.”
Sang nenek kemudian menunjuk pria tampan tersebut.
“Dia juga bantu nenek. Dia yang kejar itu pencurinya sampai ke sini.”
Wajah Zea seketika berubah. “Oh.”
Intan langsung menoleh kepada Zea dengan tatapan mengejek. “Oh?”
Zea pura-pura tidak mendengar.
Pria itu tidak banyak bicara. Ia hanya menyerahkan dompet yang sejak tadi berada di tangannya kepada sang nenek.
“Ini.”
Sang nenek menerima dompet tersebut dengan kedua tangan. “Terima kasih banyak, Nak. Semoga dapat jodoh baik, nah.”
Pria itu hanya mengangguk singkat.
Zea yang masih merasa penasaran langsung bertanya, “Terus pencurinya mana?”
Pria tampan itu tidak menjawab. Ia justru bergeser sedikit ke samping. Barulah Zea melihat sesuatu yang sejak tadi tertutupi tubuhnya.
Seorang pria terkapar di tanah beberapa meter di belakangnya. Pria tersebut tidak bergerak dan tampaknya sudah tidak sadarkan diri.
Zea langsung melongo. “Loh?”
Intan ikut melihat ke arah yang sama. Kemudian ia menatap Zea. “Jangan bilang kamu tadi—”
“Aku kira dia pencurinya!”
Intan langsung menutup wajahnya dengan telapak tangan.
Sementara itu, Zea menatap pria tampan tersebut dengan wajah sedikit malu. Ia kemudian melangkah mendekat.
“Maaf, yak.”
Pria itu menoleh. Tatapan matanya tetap dingin. “Tidak masalah.”
Setelah itu, pria tersebut langsung berbalik dan berjalan pergi tanpa menunggu ucapan apa pun dari Zea.
Zea mengerutkan kening. “Eh?”
Pria itu terus berjalan.
“Orang itu pergi begitu saja?”
Intan menghela napas. “Memangnya kamu berharap dia berdiri di sini sampai kamu kasih pidato permintaan maaf?”
Zea mendengus. “Cih. Dingin banget jadi orang.”
Sagara tetap berjalan tanpa menoleh.
Zea semakin kesal karena pria itu bahkan tidak menunjukkan sedikit pun ketertarikan untuk meladeni omelannya.
“Sudah bikin aku salah paham, terus pergi begitu saja.”
Intan langsung menatapnya tidak percaya. “Yang salah paham siapa?”
Zea diam.
Intan melipat kedua tangannya di depan dada. “Kamu.”
“Aku kan nggak tahu.”
“Makanya dengarkan orang sampai selesai sebelum main serang.”
Zea mengangkat dagunya. “Aku cuma mau membantu.”
“Iya, membantu.”
Intan mengangguk-angguk dengan wajah mengejek. “Dengan cara menendang orang yang sebenarnya sedang membantu nenek.”
Zea mencibir. “Ya sudah, aku kan sudah minta maaf.”
“Untung dia sabar.”
Zea kembali melirik ke arah pria yang semakin jauh.
Intan menggeleng-gelengkan kepala. “Lagipula, mana ada pencuri wajahnya tampan sekali?”
Zea langsung mencibir. “Kalau tampan, memang nggak boleh nyuri?”
Intan terdiam. Lalu sudut bibirnya terangkat. “Bukan begitu maksudku.”
“Terus?”
“Ya ... pencuri biasanya kelihatan lebih mencurigakan.”
Zea mendengus. “Sudahlah.”
Sang nenek yang sejak tadi memperhatikan mereka akhirnya tersenyum kecil.
“Nak, terima kasih sudah bantu nenek.”
Zea langsung kembali memperhatikan sang nenek. “Oh iye, Nek. Di manaKi tinggal? Kami antar pulang.”
“Tidak usahmi, Nak. Dekatt ji rumahnya nenek.”
“Tidak apa-apa.”
Zea tersenyum ramah. “Daripada nenek jalan sendiri setelah kejadian seperti ini.”
Intan mengangguk. “Ayo, Nek. Kami antar.”
Sang nenek akhirnya menurut.
tp psti malu nya luar biasa kan setealh terllu pwrcaya diri ahahahaA🤣🤣🤣
SOOOOOKOOOR
mau tanding apa lagi bel diri gas ken zea
jangan di kira bukan dari militer zea tak tau apa2 justru karna itu dia di latih sedemiaknrup untk melindungi diri nya s dri sudah tajir dari orok kali 🤣🤣🤣🤣
mlh ini pura2 polos
hadeh mboh lah rumit wis asli
piye terusan jal
kyo2 arep meledug kompore 🤣🤣🤣🤣
aaaahhh kira2 apa lagi ya
Zea atau kau Soraya? 😏