Dara adalah gadis dari keluarga kelas bawah yang dijebak oleh pemuda kaya bernama Riko yang berujung kehamilan Dara. Riko menolak untuk bertanggung jawab karena mempertahankan status sosial dan nama baik keluarga.
Keputusan Dara memilih untuk mempertahankan kehamilannya yang menyebabkan dirinya dibuang dari keluarganya sendiri karena dianggap sebagai sebuah aib.
Kisah Dara yang berjuang sendiri dalam kehamilannya begitu pilu dan penuh perjuangan hingga melahirkan seorang anak perempuan yang sangat lucu dan jenius yang diberi nama Juwita.
Kehidupan Jiwita tak kalah menyedihkan, dia selalu dikucilkan dan dijauhi karena dicap sebagai anak haram, bahkan setiap prestasi yang didapatkan selalu tak dianggap oleh siapapun kecuali ibunya yang selalu memberikan semangat dan dukungan. Kesabaran dan tekad Dara dan Juwita diuji dengan banyaknya lika-liku kehidupan yang harus dijalani.
Mampukah mereka bertahan, membalikan keadaan dan membalas rasa sakit yang dialami ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tetes Kopi di Atas Papan Ketik dan Bayangan Masa Lalu
Kutipan itu bukan sekadar kiasan; ia adalah realitas yang harus ditelan Juwita setiap hari bersama sarapan seadanya. SMA Pelita Bangsa adalah istana kaca bagi anak-anak konglomerat. Di tempat ini, nilai seorang manusia tidak diukur dari isi kepalanya, melainkan dari merek mobil yang mengantarnya setiap pagi dan seberapa tebal donasi orang tuanya untuk pembangunan gedung olahraga sekolah.
Juwita, dengan seragamnya yang menguning dan sepatu kanvas yang solnya mulai menipis, adalah anomali yang merusak pemandangan. Ia melangkah menyusuri lorong sekolah berlantai marmer itu sambil mendekap erat sebuah laptop bekas tebal yang casingnya sudah tergores di sana-sini. Laptop itu adalah harta karun terbesarnya, dibeli dari hasil tabungan ibunya selama dua tahun menjadi buruh cuci piring. Di dalam mesin tua yang sering mati mendadak itu, tersimpan ratusan baris kode algoritma kecerdasan buatan yang tengah Juwita kembangkan untuk kompetisi sains nasional.
Langkahnya terhenti ketika ia memasuki laboratorium komputer yang sepi. Di sanalah tempat persembunyian favoritnya, jauh dari tatapan merendahkan dan bisik-bisik kejam teman-temannya. Juwita membuka laptopnya, matanya langsung berbinar menatap deretan kode di layar hitam. Namun, ketenangannya hanya bertahan sepuluh menit.
Pintu laboratorium terbuka dengan suara berdebum keras. Tiga orang siswa melangkah masuk sambil tertawa keras. Pemimpin mereka adalah seorang pemuda bertubuh jangkung dengan seragam yang sengaja dikeluarkan, mengenakan jam tangan mewah yang memantulkan cahaya lampu. Namanya Kevin Aditama.
Mendengar nama belakang pemuda itu saat pertama kali masuk sekolah, dada Juwita sempat sesak. Ia tahu betul siapa keluarga Aditama. Namun, Juwita memilih diam, menyimpan erat rahasia gelap itu di dasar hatinya. Kevin adalah putra sah dari pernikahan Riko Aditama, sang pewaris takhta, yang berarti pemuda arogan di hadapannya ini adalah adik tirinya.
"Oh, lihat siapa yang ada di sini," suara Kevin memecah keheningan lab, nada suaranya sarat akan ejekan. Ia berjalan mendekati meja Juwita, diikuti oleh Rania dan seorang teman lainnya. "Si Anak Haram rupanya sedang sibuk. Bikin apa lo? Program buat ngemis online?"
Rania tertawa melengking. "Atau program buat cari bapak kandungnya yang kabur, Kev? Eh, tapi kan ibunya aja nggak tahu bapaknya yang mana!"
Juwita mengatupkan rahangnya rapat-rapat. Jemarinya di atas keyboard berhenti bergerak. Ia tidak menatap mereka, matanya tetap terpaku pada layar monitor, berusaha menulikan telinga. Abaikan mereka, Juwita. Jangan buang energimu, bisik batinnya, mengulang mantra yang selalu ibunya ajarkan.
Merasa diabaikan, ego Kevin tersentil. Pemuda yang selalu dipuja dan ditakuti itu tidak terbiasa tidak diacuhkan, apalagi oleh seseorang yang ia anggap tak lebih dari sekadar sampah sekolah. Kevin mencengkeram layar laptop Juwita dan menariknya dengan kasar hingga menghadap ke arahnya.
"Gue lagi ngomong sama lo, gembel!" bentak Kevin. Matanya kemudian menyipit melihat deretan kode algoritma dan simulasi pasar saham di layar Juwita. Kevin, yang nilainya selalu berada di bawah rata-rata meski telah mendatangkan puluhan guru les privat, merasa terhina melihat hasil kerja otak gadis miskin di hadapannya. Ia tahu kompetisi sains nasional minggu depan adalah obsesi ayahnya, dan Kevin belum memiliki proyek apa pun.
"Lo mau ikut kompetisi nasional pakai rongsokan ini?" Kevin tersenyum sinis. "Mending lo mundur aja. Sekolah nggak akan biarin nama Pelita Bangsa diwakili sama anak yang silsilah keluarganya aja kotor."
"Tolong kembalikan layarnya. Aku harus menyelesaikan ini," ucap Juwita datar, suaranya dingin, sepasang mata bulatnya akhirnya menatap tajam langsung ke mata Kevin. Ada sesuatu dalam tatapan Juwita yang membuat Kevin bergidik sesaat—sebuah bayangan kelam yang anehnya terasa sangat familier bagi Kevin, seolah ia tengah menatap mata ayahnya sendiri saat sedang marah.
"Berani lo natap gue kayak gitu?!" Kevin membentak, menutupi kegugupannya dengan amarah. Tangan kirinya yang memegang gelas berisi es kopi karamel tiba-tiba bergerak dengan gerakan memutar.
Dengan sengaja, Kevin menumpahkan seluruh isi gelas itu ke atas keyboard laptop Juwita.
Cairan lengket berwarna cokelat itu merembes cepat ke sela-sela tuts, disusul suara desisan arus pendek dari dalam mesin. Layar laptop itu berkedip hebat selama beberapa detik sebelum akhirnya mati total, menyisakan kepulan asap tipis berbau plastik terbakar.
Waktu seakan berhenti berdetak di laboratorium itu.
Juwita mematung. Matanya melebar menatap layar hitam yang memantulkan wajah pucatnya. Ribuan baris kode yang ia kerjakan hingga kurang tidur, jerih payah ibunya mencuci piring hingga tangannya melepuh... semuanya lenyap dalam hitungan detik.
"Ups," ucap Kevin dengan seringai kemenangan. Rania dan temannya tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi hancur di wajah Juwita.
"Maaf ya, tangan gue licin," Kevin merogoh dompet kulitnya, mengeluarkan lima lembar uang seratus ribuan, lalu melemparnya dengan merendahkan hingga jatuh tepat di atas keyboard yang basah dan mati itu. "Tuh, gue ganti. Cukup kan buat beli beras di rumah kumuh lo, atau buat beli seragam baru yang nggak bau terasi?"
Adegan itu terjadi begitu lambat di mata Juwita. Lembaran uang yang dilemparkan dengan tatapan merendahkan itu bagaikan mesin waktu yang menariknya kembali pada cerita ibunya belasan tahun silam. Di malam badai, Riko Aditama melakukan hal yang persis sama kepada Dara. Darah keluarga Aditama memang mengalir dengan kesombongan yang menjijikkan.
Juwita perlahan berdiri. Tubuhnya gemetar, namun bukan karena sedih, melainkan karena amarah yang begitu pekat hingga nyaris membuatnya kehilangan kesadaran. Tangannya terkepal begitu kuat hingga kuku-kukunya melukai telapak tangannya sendiri.
Kevin menatap Juwita dengan alis terangkat menantang. "Kenapa? Lo mau mukul gue? Pukul aja! Besok lo dan ibu lo bakal tidur di kolong jembatan karena beasiswa lo gue cabut dan sekolah ini bakal ngeluarin lo dengan tidak hormat!"
Juwita tidak memukulnya. Ia bahkan tidak meneteskan air mata setetes pun. Sebaliknya, Juwita perlahan mengambil lembaran uang basah itu dari atas keyboard-nya, melipatnya dengan rapi, lalu menyelipkannya ke dalam saku kemeja Kevin dengan gerakan yang sangat tenang. Ketenangan yang justru membekukan darah siapa pun yang melihatnya.
"Simpan uangmu, Kevin Aditama," bisik Juwita tepat di depan wajah pemuda itu. Suaranya serendah bisikan iblis, bebas dari rasa takut. "Komputer ini memang mati. Tapi otak di kepalaku tidak. Sampai jumpa di panggung kompetisi nasional."
Juwita berbalik, memasukkan laptop matinya yang masih meneteskan sisa kopi ke dalam tas ranselnya, lalu berjalan keluar dari laboratorium dengan langkah tegap, meninggalkan Kevin yang terpaku dengan rahang mengeras dan harga diri yang mendadak terasa terancam.
Malam harinya, di dalam bilik sempit yang hangat oleh aroma singkong rebus, Dara menyadari ada yang berbeda dari putrinya. Juwita tidak mengeluh. Ia tidak menangis. Gadis itu duduk bersila di atas lantai semen, di bawah penerangan lampu bohlam kuning, menulis ratusan baris kode secara manual di atas buku tulis tebal yang kertasnya sudah menguning. Ia menulis dengan kecepatan yang menakutkan, matanya fokus, menyala oleh nyala api dendam yang tak lagi bisa dipadamkan.
Dara mendekat, melihat tas ransel Juwita yang terbuka dan aroma kopi serta komponen terbakar yang menguar darinya. Dara menyentuh bahu putrinya dengan lembut. "Laptopmu rusak, Nak?"
Juwita berhenti menulis sejenak. Ia menoleh ke arah ibunya, mengukir senyum tipis yang terasa begitu asing di wajah seorang remaja. "Hanya kecelakaan kecil, Bu. Ada teman yang tidak sengaja menumpahkan minumannya."
Dara tahu putrinya berbohong. Ia bisa melihat luka di balik ketenangan itu. "Juwita... menangislah kalau kamu mau. Ibu tidak marah."
"Tidak ada yang perlu ditangisi, Ibu," jawab Juwita, matanya kembali menatap lembaran kertas di pangkuannya. "Mereka pikir mereka menghancurkan senjataku, tapi mereka lupa bahwa senjata sesungguhnya ada di sini." Juwita mengetuk pelipisnya perlahan. "Ibu tidak perlu khawatir. Juwita janji, sebentar lagi, kita tidak akan pernah diinjak-injak lagi."
Di bawah cahaya temaram malam itu, Dara menyadari satu hal yang membuat hatinya bergetar antara bangga dan ngeri. Anak perempuan kecilnya yang dulu menangis saat dipanggil 'anak haram' kini telah mati. Sebagai gantinya, lahir seorang monster jenius yang sedang merakit bom waktu yang kelak akan meledakkan seluruh istana kesombongan keluarga Aditama dari dalam. Pertunjukan yang sesungguhnya baru saja dimulai.