"Katanya sahabat masa kecil itu cuma masa lalu, tapi kenapa kehadirannya bisa menghancurkan masa depanku?"
Bagi Nawang, Timy adalah segalanya—cowok yang berjanji melindunginya di bawah inisial kalung T&N. Tapi segalanya berubah saat Kanaya, teman masa kecil Timy yang rapuh dan penuh trauma, kembali hadir. Demi alasan kemanusiaan, Timy perlahan melangkah terlalu jauh hingga melupakan janji-janjinya pada Nawang.
Saat Nawang memilih mundur karena lelah dianaktirikan, Rendy—Ketua OSIS berhati es—hadir menawarkan sandaran baru.
Di saat Timy tersadar dirinya hanya dijadikan pelampiasan egois oleh Naya, semuanya sudah terlambat. Penyesalan Timy membawanya pada Jihan, gadis misterius yang diam-diam membalut lukanya.
Ini bukan sekadar cerita tentang cinta segitiga, melainkan tentang melepaskan yang sia-sia, menyembuhkan luka, dan menemukan kedewasaan di koridor sekolah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia Terbongkar 31.
Rencana Naya malam ini seharusnya berjalan sempurna.
Berjalan kaki berdua dengan Timy di bawah temaram lampu jalan, berpura-pura terkejut saat menyadari ban motor Timy kempis total, lalu menawarkan diri untuk menemaninya menunggu tambal ban sembari memonopoli perhatian cowok itu.
Sebuah skenario egois yang sudah tersusun rapi di kepalanya untuk menghapus eksistensi Nawang dari hidup Timy.
Namun, variabel tak terduga selalu punya cara sendiri untuk merusak rencana paling matang sekalipun.
"Ban lu bocor parah, Tim," Naya berakting, menyentuh karet roda belakang motor matic Timy yang kini benar-benar kandas menyentuh aspal parkiran depan sekolah. "Kok bisa ya? Padahal tadi pas kita jalan ke depan kayaknya masih aman."
Timy menghela napas berat. Kelelahan fisik akibat latihan basket dan tekanan mental yang tidak Naya ketahui membuat bahunya merosot. Dia berlutut, memeriksa permukaan ban. "Bukan bocor halus ini. Kayaknya kena paku gede. Sial banget hari ini."
Naya baru saja hendak membuka mulut untuk melancarkan modusnya—mengajak Timy nongkrong di kafe seberang jalan—ketika sebuah klakson mobil memotong momentumnya.
Sebuah SUV hitam mewah berhenti tepat di samping gerbang sekolah yang mulai sepi.
Kaca mobil diturunkan, menampilkan wajah seorang cowok berusia awal dua puluhan dengan kacamata berbingkai tipis.
Wajahnya tipikal orang kota yang tegas dan teratur.
"Naya!" panggil cowok itu.
Naya menegang. Suara itu familier, dan itu adalah suara terakhir yang ingin dia dengar di dunia ini saat sedang bersama Timy. Arga. Sepupunya yang kuliah di Jakarta.
"Kak Arga? Kok... kok di sini?" Naya tergagap, melepaskan pegangannya pada lengan Timy secara refleks.
Arga turun dari mobil, mengancingkan jaket denimnya. "Mamah lu yang nyuruh. Katanya lu susah dihubungin dari sore. Kebetulan gue baru sampai Bandung sejam lalu dan langsung ke arah sini. Ayo balik, dicariin nyokap lu." Tatapan Arga beralih ke Timy, lalu ke ban motor yang kempis. "Kenapa motornya?"
"Bocor, Kak," sahut Timy sopan, mencoba berdiri meski tubuhnya kentara sekali lelah. "Ini mau saya dorong ke depan."
"Nggak usah, repot. Naya bareng gue aja," kata Arga lugas. Dia memandang Naya dengan tatapan yang sulit diartikan—tatapan seorang kakak yang tahu terlalu banyak rahasia. "Nay, masuk mobil. Biar temen lu urus motornya sendiri."
Naya menggigit bibir bawahnya.
Skenarionya berantakan.
Jika dia menolak, Arga adalah tipe orang yang tidak segan membongkar argumen di depan umum. "Tim, gue..."
"Gak apa-apa, Nay. Balik aja duluan sama sepupu lu. Gue bisa urus ini," potong Timy datar. Ada rasa lega terselubung di nada suara Timy karena akhirnya bisa sendiri, sebuah detail kecil yang luput dari ego Naya yang sedang panik.
Dengan berat hati dan wajah tertekuk, Naya berjalan memutari mobil dan masuk ke kursi penumpang.
"Gue tinggal bentar, mau beli rokok di kedai seberang," ucap Arga pada Naya sebelum menutup pintu mobil.
Namun, alih-alih menyeberang jalan, langkah Arga terhenti di dekat pos satpam yang remang-remang.
Di sana, bersandar pada tembok dekat pagar pembatas, gadis berjaket abu-abu yang tadi mengonfrontasi Naya di parkiran sedang berdiri tenang. Dia memegang sebuah botol air mineral, tampaknya sedang menunggu ojek daringnya datang.
Arga mengerutkan kening. Instingnya sebagai mahasiswa psikologi tingkat akhir langsung menangkap dinamika aneh.
Gadis itu tidak melihat ke arah mobil, tapi tatapan nya tertuju lurus pada Timy yang kini bersusah payah mendorong motornya sendirian keluar gerbang.
Arga meraba sakunya, mengeluarkan pemantik, lalu mendekat ke area pos satpam. "Punya korek?" tanyanya basa-basi, sebuah interaksi kasual antar-orang asing di jalanan.
Gadis berjaket abu-abu itu menoleh. Matanya yang tajam menilai Arga dalam satu detik, lalu dia merogoh saku jaketnya dan melemparkan sebuah korek gas murah ke arah Arga. Tepat sasaran.
"Thanks," Ucap Arga, menyalakan rokoknya. Dia menyandarkan bahunya di tembok yang sama, beberapa langkah dari si gadis. "Adik sepupu gue emang selalu bikin repot orang di sekitarnya."
Gadis itu tidak langsung menjawab. Dia hanya mendengus pelan, seringai tipis yang sama kembali terukir di bibirnya. "Adik sepupu lu yang di dalam mobil? Atau cowok bodoh yang lagi dorong motor itu?"
Arga terkekeh pendek, namun matanya mengamati tajam. "Dua-duanya. Tapi yang di dalam mobil itu yang paling ahli kalau soal memanipulasi situasi."
"Oh, ya?" Gadis itu memutar-mutar botol air di tangannya. "Gue sempat lihat dia megang batu bata di parkiran dalam tadi. Nyaris ngehancurin motor cowok itu sebelum dia mutusin buat cabut pentil bannya aja. Agak ekstrem buat ukuran anak SMA."
Jantung Arga berdesir. Tebakannya benar. Naya belum berubah. Kebutuhan gadis itu untuk dikasihani dan memegang kendali atas orang lain masih sama besarnya seperti saat dia di Jakarta dulu.
"Dia punya... isu emosional," kata Arga, mencoba menguji sejauh mana gadis asing ini tahu atau peduli. "Semenjak om gue—bokapnya Naya—meninggal satu tahun lalu, dia selalu merasa berhak dapet perhatian penuh dari semua orang. Dia pakai trauma itu sebagai tameng. Makanya gue maklum kalau temen-temen sekolahnya agak kewalahan."
Mendengar itu, gadis berjaket abu-abu itu tiba-tiba menghentikan gerakan tangannya. Dia menoleh penuh ke arah Arga. Kali ini, tidak ada nada sinis. Hanya ada tatapan dingin yang menusuk.
"Trauma?" tanya gadis itu, suaranya rendah namun bergaung jelas di keheningan malam. "Lu sepupunya, kan? Jangan bilang lu juga kemakan sama aktingnya?"
Arga mengernyitkan alis. "Maksud lu?"
"Gue pernah tinggal di Jakarta setahun lalu. Daerah Kemayoran," kata gadis itu datar, menatap lurus ke mata Arga. "Gue satu lingkaran pertemanan sama sepupu lu itu di tempat lesnya dulu. Naya yang histeris setiap kali dengar kata 'Ayah'? Naya yang pingsan kalau ditinggal sendirian? Itu cerita lama yang sengaja dia rawat biar tetap hidup."
Arga terpaku. Rokok di jarinya terabaikan. "Lu tahu dari mana?"
"Gue ada di sana, di klinik psikologi swasta dekat jalan tanah abang, waktu hasil observasi akhir dia keluar," sahut gadis itu tanpa beban, seolah sedang membicarakan cuaca. "Terapisnya bilang dia udah fully recovered. Sembuh total. Dia udah bisa nerima kenyataan tanpa serangan panik sejak setahun lalu. Tapi begitu dia pindah balik ke Bandung... dia sadar kalau jadi 'gadis rapuh yang trauma' itu jauh lebih menghasilkan keuntungan daripada jadi cewek normal."
Informasi itu menghantam Arga seperti gada besi. Sebagai keluarga, mereka di Jakarta memang selalu memperlakukan Naya seperti kaca yang mudah pecah karena mengira lukanya belum kering.
Ternyata, Naya memanfaatkan fakta perpindahan kotanya untuk meriset ulang 'karakter' dirinya di mata orang-orang baru—termasuk Timy.
Sebuah klakson motor membuyarkan obrolan mereka. Sebuah motor matic dengan jaket hijau khas ojek daring berhenti di depan pagar.
"Ojek gue udah sampai," kata gadis itu. Dia merebut kembali korek gasnya dari tangan Arga dengan gerakan cepat.
"Tunggu," tahan Arga. "Nama lu siapa? Kenapa lu gak bongkar ini di depan cowok itu tadi?"
Gadis itu memakai helmnya, lalu menatap Arga dari balik kaca helm yang bening. "Buat apa? Biarin aja cowok itu belajar sendiri. Dan nama gue nggak penting. Bilang aja sama sepupu lu... aktingnya bagus, tapi penontonnya mulai bosan."
Motor ojek itu melaju, meninggalkan Arga yang terpaku di bawah temaram lampu jalan.
Arga membuang puntung rokoknya, lalu berjalan kembali ke mobil dengan langkah berat.
Di dalam kursi penumpang, Naya sedang sibuk berkaca, merapikan rambutnya seolah tidak terjadi apa-apa, siap untuk pulang dan mengetik pesan penuh drama lainnya untuk Timy.
Arga membuka pintu kemudi, masuk, dan mencabut kunci kontak tanpa menyalakan mesin. Dia menoleh ke samping, menatap Naya dengan pandangan yang membuat Naya mendadak merasa telanjang.
"Kenapa, Kak?" tanya Naya, mulai merasa tidak nyaman.
"Nay," suara Arga terdengar sangat dingin, memecah keheningan kabin mobil. "Gue baru tahu, kalau udara di Jakarta setahun lalu ternyata beneran bisa nyembuhin orang ya?"
Wajah Naya instan memucat. Semua warna pelangi yang tadinya ada di wajahnya luntur dalam sekejap.
Logika manipulatifnya yang biasanya berputar cepat, mendadak mati total malam itu.
......................
...****************...
Tbc,