Sebagai putri kesayangan dari keluarga bangsawan Montclair, Lady Aurelia selalu mendapatkan apa pun yang ia inginkan. Namun, watak keras kepalanya membawa petaka saat ia jatuh cinta pada sang Raja. Demi mewujudkan keinginannya, keluarga Montclair terpaksa merelakan putri tercinta mereka masuk ke istana—bukan sebagai ratu, melainkan hanya sebagai seorang selir.
Kehidupan istana ternyata tak seindah impian Aurelia. Dinginnya sikap Raja dan kekejaman kompetisi antar-selir menghentikan langkahnya secara tragis. Ia tewas terbunuh di tangan selir lain, sementara Raja yang dijunjungnya bahkan tidak sudi melirik jasadnya.
Namun, takdir memberinya kesempatan kedua.
Aurelia terbangun kembali di hari keduanya sebagai selir. Terbangun dari kematian membawa rasa sakit yang membakar sekaligus dendam yang membara. Keras kepala yang dahulu membinasakannya, kini berganti menjadi ambisi yang mematikan. Aurelia bertekad: ia tidak akan mati sia-sia untuk kedua kalinya.
Satu per satu, para selir yang mengh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Klarina_za29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aliansi yang Tak Terduga
Sore hari menyelimuti sudut-sudut Istana Interior dengan bayang-bayang panjang yang suram. Di sudut paling terasing dari wilayah barat, berdiri Pavilion Utara—sebuah bangunan kayu tua berukir samar yang lapuk dimakan waktu dan hampir sepenuhnya dilupakan oleh penghuni istana lainnya. Di sinilah Selir Vivienne mengurung diri selama tiga tahun terakhir. Wanita yang dulunya merupakan putri dari keluarga bangsawan militer kelas menengah itu disingkirkan oleh Faksi Vance usai menolak menjadi bidak politik Genevieve, dibiarkan membusuk dalam kesepian tanpa anggaran logistik yang layak.
Pintu kayu Pavilion Utara berdecit pelan saat terdorong buka. Vivienne yang sedang menyulam kain linen muram di dekat jendela mendongak seketika, matanya membelalak kaget saat melihat sosok yang melangkah masuk melintasi ambang pintu.
Aurelia melangkah masuk dipimpin oleh Marta, mengenakan gaun malam sutra berwarna zamrud gelap yang mempertegas keanggunan alaminya. Kehadiran Aurelia di tempat yang begitu kumuh bagaikan kilatan emas di tengah lumpur.
"Lady Aurelia Montclair?" gumam Vivienne dengan suara serak yang bergetar. Ia terburu-buru berdiri, hampir menjatuhkan keranjang benangnya, lalu membungkuk canggung. "Hamba... hamba tidak menyangka akan menerima kunjungan dari pemilik Pavilion Timur dan Selatan di tempat terasing ini."
Aurelia menyunggingkan senyum tipis yang hangat, sebuah ekspresi yang sangat berbeda dari tatapan dingin yang biasa ia perlihatkan di Hall of Council. "Berdirilah, Lady Vivienne. Hamba datang kemari bukan sebagai penguasa dua pavilion, melainkan sebagai seorang wanita yang menghormati keberanian Anda di masa lalu."
Vivienne tertegun. Ia membiarkan Aurelia duduk di atas kursi kayu sederhana di hadapannya, sementara Marta bergegas menuangkan teh chamomile hangat dari porselen yang dibawanya sendiri.
"Keberanian?" terkekeh Vivienne pahit, menatap cangkir teh di tangannya. "Keberanianku menolak permintaan Genevieve tiga tahun lalu hanya membuahkan hasil pengasingan ini. Di istana ini, prinsip tanpa kekuatan hanyalah tiket menuju liang kubur."
"Dan itulah sebabnya hamba berada di sini malam ini, Vivienne," desis Aurelia halus namun sarat akan ketegasan yang memikat. "Prinsip Anda tidak salah. Yang Anda butuhkan saat itu adalah sebuah pilar yang cukup kuat untuk menopang perlawanan Anda."
Aurelia memiringkan kepalanya, menatap lurus ke dalam sepasang mata suram milik Vivienne. "Genevieve mengisolasi Anda karena ia takut pada jaringan prajurit setia yang dimiliki oleh ayah Anda di markas pertahanan utara. Meskipun Anda terkurung di sini, hamba tahu bahwa pelayan-pelayan tua dari keluarga Anda masih lalu lalang membawa pesan rahasia melewati koridor rahasia Pavilion Barat."
Jantung Vivienne berdesir keras. Wajahnya yang pucat bertambah tegang. "Bagaimana Anda bisa...?"
"Di istana ini, informasi adalah mata uang utama," potong Aurelia lembut. "Faksi Vance mengira Anda adalah bangkai yang tak berguna. Namun bagi hamba, Anda adalah kunci terselubung untuk menembus benteng pertahanan interior milik Genevieve. Bergabunglah dengan hamba, Vivienne. Hamba menawarkan Anda pemulihan nama baik, alokasi anggaran penuh dari Pavilion Selatan, dan pembalasan dendam yang manis atas tiga tahun penderitaan Anda."
Vivienne mengepalkan jemarinya hingga buku-buku jarinya memutih. Kebencian yang terpendam selama bertahun-tahun di dalam dadanya kini menyala kembali bagaikan bara yang disiram minyak. Ia menatap Aurelia—melihat binar kecerdasan dan kekuatan tak terbendung di mata wanita Montclair itu.
"Apa yang Anda minta sebagai imbalannya, Lady Aurelia?" tanya Vivienne, suaranya kini kembali tegap dan mantap.
Aurelia menyunggingkan senyum memikat yang sarat akan kemenangan. "Sederhana. Hamba membutuhkan mata dan telinga Anda di dalam koridor rahasia Faksi Vance. Setiap dokumen, setiap bisikan mengenai pergerakan Genevieve menuju Perayaan Musim Panas... harus berada di meja kerja hamba sebelum matahari terbit."
Vivienne bersujud di hadapan Aurelia, menyentuhkan dahinya pada jemari lentik Aurelia. "Hamba, Vivienne, bersumpah atas nama kehormatan keluarga hamba untuk menjadi belati tak terlihat di balik punggung Anda, Lady Aurelia."
Aliansi tak terduga telah terbentuk di sudut tergelap istana. Aurelia menegakkan tubuh Vivienne dengan senyuman puas; satu lagi jaringan spionase penting telah tertancap sempurna tepat di jantung pertahanan Genevieve.
Aurelia mengulurkan tangannya, membantu Vivienne untuk kembali duduk di bangkunya dengan keanggunan yang penuh wibawa. Langkah ini bukan sekadar menambah jumlah pengikut, melainkan menyalakan kembali api perlawanan dari seorang wanita yang telah lama dipadamkan oleh kekejaman Faksi Vance. Marta dengan sigap meletakkan dokumen perjanjian perlindungan keluarga di atas meja, yang langsung ditandatangani oleh Vivienne tanpa ada sedikit pun keraguan.
"Mulai esok hari, anggaran logistik dari Pavilion Selatan akan dialirkan secara bertahap ke Pavilion Utara di bawah dalih renovasi fasilitas," ujar Aurelia, mendengarkan denting cangkir teh yang bergetar samar di jemari Vivienne. "Pelayan-pelayan rahasiamu dapat bergerak bebas menggunakan seragam pengawas baru tanpa memicu kecurigaan dari para penjaga Faksi Vance."
Vivienne menyapu air mata yang menggenang di sudut matanya, lalu mengangguk mantap. "Lady Genevieve memiliki kebiasaan menghancurkan setiap dokumen rahasia di perapian kamar pribadinya setiap tengah malam. Namun, pelayan tua yang bertugas membersihkan abu perapian itu adalah mantan pengasuhku yang sangat setia. Apabila ada sisa perkamen yang belum terbakar habis, hamba pastikan potongan itu akan sampai ke tangan Anda."
"Itu adalah informasi yang sangat berharga, Vivienne," sahut Aurelia seraya menyunggingkan senyum dingin yang memikat. "Setiap potongan kecil dari perkamen rahasia Genevieve adalah paku tambahan untuk mematok peti matinya di hadapan Dewan Kerajaan."
Aurelia bangkit berdiri, merapikan gaun zamrudnya yang mengombak indah di atas lantai pualam tua. Ia menatap ke luar jendela Pavilion Utara yang menghadap langsung ke arah menara utama Faksi Vance, di mana lampu-lampu minyak menyala terang memancarkan keangkuhan palsu.
"Genevieve mengira bahwa dengan mengisolasi Anda dan menguasai Dewan, ia telah menutup seluruh celah di Istana Interior," gumam Aurelia halus. "Ia tidak pernah menyadari bahwa di balik dinding-dinding tua yang ia lupakan, dendam dari orang-orang yang pernah ia tindas sedang berkumpul untuk meruntuhkan kekuasaannya."
Vivienne mengantarkan Aurelia hingga ke ambang pintu rahasia di samping pavilion. "Hamba akan mempertaruhkan nyawa hamba untuk persekutuan ini, Lady Aurelia. Izinkan hamba menyaksikan kejatuhan wanita yang telah merenggut masa muda dan kehormatan keluarga hamba."
"Anda tidak perlu mempertaruhkan nyawa, Vivienne," balas Aurelia seraya menepuk pelan bahu selir terasing itu. "Cukup bertahan dan saksikan bagaimana aku mengambil kembali seluruh tahta dan kehormatan yang seharusnya menjadi milik kita."
Ketika pintu kayu tua Pavilion Utara tertutup rapat, Aurelia melangkah kembali menyusuri jalan setapak yang temaram bersama Marta. Angin malam yang berembus dari arah pegunungan terasa menyejukkan, membawa serta keyakinan bahwa jaringan mata-matanya kini telah merambah hingga ke sudut-sudut paling tersembunyi di istana.
Dengan mengamankan kesetiaan Selir Vivienne, Aurelia telah berhasil melengkapi kepingan puzzle terakhir dalam peta intrik interior. Kini, pergerakan Faksi Vance tidak lagi menjadi rahasia yang tak tersentuh, dan jalan menuju pertempuran terbuka di perburuan kerajaan telah terbentang luas di hadapannya.
~ To Be Continue