NovelToon NovelToon
Di Cerai Suami, Di Nikahi Tuan Muda

Di Cerai Suami, Di Nikahi Tuan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / CEO
Popularitas:179.8k
Nilai: 5
Nama Author: Yam_zhie

Dilara di cerai oleh Kevin karena wanita yang di cintai Kevin kembali.

Setelahnya Dilara melamar menjadi seorang baby sitter, dan di terima pada salah satu keluarga kaya. Dilara memang seorang sarjana, namun dia butuh pergi cepat dari rumah Kevin dan juga butuh tempat tinggal baru. intinya dia ingin lepas dari Kevin dan memulai hidup barunya.

namun, ternyata di rumah itu ada seorang tuan muda bernama Elian yang selalu membuat Dilara kesal dengan sikap dinginnya. lalu apakah pada akhirnya mereka akan saling suka? apa keluarganya akan setuju dengan hubungan mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dilara 6

"Maafkan aku... Kamu adalah wanita sempurna dan juga istri yang baik, kamu pantas mendapatkan kebahagiaan di luar sana... Maafkan aku sekali lagi, sudah memberikan luka selama pernikahan kita..."

Dilara membeku sejenak, mendengar pengakuan lugas yang keluar dari bibir Kevin. Kata "sempurna" dan "istri yang baik" merambat pelan, mengetuk kesadaran paling dalam di hatinya.

Ia tidak membalas dengan amarah atau kalimat tajam. Dilara hanya menarik napas panjang, mencoba menahan getaran di dadanya, lalu menatap Kevin lurus-lurus dengan sepasang mata yang bening menggenang.

"Terima kasih sudah menilai usaha kecilku selama ini, Mas," bisik Dilara sangat pelan.

Suaranya halus, namun justru kelembutan itulah yang seketika meremas jantung Kevin hingga terasa sangat sesak. Satu tetes air mata lolos membasahi pipi Dilara, disusul lelehan berikutnya yang tak lagi mampu ia bendung. Kevin terpaku. Hatinya serasa dihantam beban amat berat melihat wanita yang selalu tersenyum sabar itu kini menangis tanpa henti di depannya.

"Kalau aku memang istri yang baik..." Dilara mengusap pipinya lembut, mencoba tersenyum di tengah lelehan air matanya.

"Nyatanya aku tidak pernah bisa mengetuk pintu hatimu, Mas? Kenapa setiap kali aku mendekat, kamu selalu melangkah mundur?"

"Dilara..." Kevin melangkah mendekat, matanya berkaca-kaca.

Jemarinya terulur hendak mengusap air mata istrinya, namun tertahan di udara saat Dilara menyatukan kedua tangannya sendiri di depan dada. Penolakan halus agar Kevin tidak menyentuhnya.

"Aku tidak marah padamu, Mas. Sungguh," tutur Dilara lembut, matanya menatap Kevin penuh kepasrahan.

"Perasaan memang tidak bisa dipaksakan. Kamu tidak salah karena tetap mencintai Asha, dan aku pun tidak salah karena pernah berharap suamiku bisa membalas rasa cintaku."

"Jangan berkata seperti itu, Ra..." suara Kevin pecah, parau dan bergetar hebat. Rasa bersalah yang teramat sangat berdesakan menjejaki dadanya.

"Mendengarmu pasrah seperti ini membuatku merasa menjadi pria paling jahat di dunia."

"Kamu tidak jahat, Mas. Kamu hanya sedang jujur pada hatimu sendiri," sambung Dilara dengan keikhlasan yang teramat tulus.

"Hanya saja... rasanya memang cukup mengerikan saat aku sadar bahwa perjuanganku selama ini harus berakhir di sini. Aku belajar memasak makanan kesukaanmu, menunggu pintu rumah ini terbuka setiap malam, merapikan kemejamu... Semua itu kulakukan semata-mata bukan karena kewajiban, Mas, tapi karena aku mencintaimu, mencintai pria yang menjadi suamiku."

Setiap kata yang diucapkan Dilara dengan nada begitu tenang dan santun itu justru menancap amat dalam di ulu hati Kevin. Pria itu menunduk dalam-dalam, menyapu wajahnya kasar saat air matanya sendiri akhirnya menetes ke lantai. Perasaan asing yang baru ia rasakan sejak memeluk Dilara semalam kini berbalik menghantamnya, rasa kepedihan luar biasa karena menyadari betapa besarnya cinta wanita di depannya ini.

"Maafkan aku, Dilara..." rintih Kevin lirih, suaranya dipenuhi keputusasaan.

"Maaf karena aku terlalu buta untuk melihat ketulusanmu selama ini. Maaf..."

Dilara mengangguk pelan, menyapu sisa air mata di wajahnya. Ia meraih gagang kopernya dengan erat.

"Sudah kumaafkan sebelum kamu meminta, Mas," ucap Dilara pelan namun mantap.

"Terima kasih untuk satu tahun ini. Terima kasih sudah memberiku kesempatan menjadi seorang istri, meski hanya sebentar. Tolong jaga dirimu baik-baik, berbahagialah dengan Asha, wanita yang kamu cintai..."

"Ra, tolong..."

"Kamu sudah memutuskan, Mas. Jadilah pria yang bertanggungjawab dengan keputusan kamu sendiri..."

Dilara menarik koper besarnya berdiri, lalu menegakkan tubuhnya. Ia menatap Kevin yang masih bergeming dengan raut penyesalan di depannya.

"Malam ini aku akan mencicil memindahkan barang-barangku ke rumah Nisa dulu, Mas. Sambil sebagian aku berikan kepada yang membutuhkan." ucap Dilara tenang, memecah keheningan kamar.

"Besok pagi baru aku langsung berangkat ke tempat kerja baruku."

Kevin tersentak. Ia bergegas bangkit berdiri, matanya menatap panik pada koper yang kini sudah terkunci rapat di tangan Dilara.

"Rumah Nisa?" ulang Kevin cepat, mencoba menahan langkah Dilara.

"Kalau kamu memang mau titip barang di sana tidak apa-apa, tapi setidaknya beri tahu aku, Dilara... kamu bekerja di mana? Rumah keluarga siapa yang kamu maksud pagi tadi?"

Dilara hanya merapikan tali tas di bahunya tanpa ada niat membuka suara.

"Jawab aku, Dilara!" desak Kevin, suaranya meninggi dipenuhi kecemasan yang membakar dada.

"Kamu itu masih istri sahku! Aku berhak tahu di mana kamu bekerja dan dengan siapa kamu tinggal. Bagaimana kalau tempat itu tidak aman untukmu?"

Dilara menatap Kevin lurus-lurus. Sebuah senyuman tipis yang amat dingin terbit di bibirnya.

"Untuk apa kamu tahu, Mas?" bisik Dilara pelan.

"Aku cuma khawatir padamu!" potong Kevin parau.

"Rasa khawatirmu terlambat, Mas Kevin. Karena sebentar lagi kita akan menjadi mantan. Dan kewajiban juga tanggungjawab kamu atas aku gugur... Fokuslah untuk perceraian kita, aku tak akan datang agar prosesnya cepat dan kamu bisa segera menikah dengan Asha..." balas Dilara mantap.

Dilara melangkah maju, membiarkan roda kopernya berderit pelan menyusuri lantai kamar. Kevin berdiri mematung di ambang pintu, lidahnya kufur kata, tak lagi memiliki alasan maupun keberanian untuk menahan langkah wanita yang kini benar-benar telah pergi dari hidupnya.

Keroncong halus di perutnya mengingatkan Dilara bahwa ia belum menyentuh makanan sejak siang. Ia melangkah keluar dari kamar menuju area dapur untuk mencari sesuatu yang bisa mengganjal perut.

Namun, begitu kakinya mendekati meja bar, langkah Dilara terhenti. Aroma pasta bekas olahan Asha dan sisa-sisa minyak di atas kompor membuat dadanya terasa sesak.

Selama satu tahun ini, dapur adalah istananya. Tempat di mana ia menuangkan seluruh cinta dan harapannya lewat setiap masakan yang ia siapkan untuk Kevin. Kini, melihat tempat itu telah tersentuh dan dikotori oleh wanita lain, ada rasa mual dan enggan yang membuncah di dada Dilara.

Tanpa menyentuh satu pun peralatan masak di sana, Dilara hanya berjalan menuju kulkas. Ia mengambil satu botol air mineral dan sebutir apel merah, lalu duduk di kursi meja makan, mengupas buah itu perlahan.

Kevin yang memperhatikan gerak-gerik Dilara dari ruang tengah meremas jemarinya kuat-kuat. Ia sadar betul alasan di balik sikap istrinya. Pria itu menyapu pandang ke arah dapur, istana kecil yang dulu selalu dijaga kebersihannya oleh Dilara dengan penuh rasa bangga, kini terasa tercemar. Kesadaran itu menghantam Kevin tepat di dada.

"Kamu... cuma makan apel?" suara Kevin memecah keheningan, terdengar amat bersalah dan canggung saat ia berjalan mendekat.

Dilara tidak mendongak. Ia terus mengupas kulit apelnya. "Ini sudah cukup, Mas."

"Dapur ini... maafkan aku, Dilara. Aku akan minta orang untuk membersihkannya malam ini juga," lirih Kevin dengan tenggorokan menyempit. Ia bergegas mengambil ponsel di sakunya.

"Jangan makan apel saja. Aku sudah pesan makanan dari restoran favoritmu lewat aplikasi. Sebentar lagi sampai."

Dilara menghentikan pisau di tangannya, lalu menatap Kevin dengan pandangan yang membuat pria itu makin merasa kerdil.

"Terima kasih, tapi tidak usah repot-repot, Mas. Selain ada apel, di meja juga masih ada roti yang bisa aku makan..." jawab Dilara pelan namun menolak tegas.

"Dilara..."

1
nely_48
Selamat ya dilara,, atas kehamilan mya
nely_48
bucin² d rmh,, ai d luaran mh dilara ga ada pengawalan
Ambu Rinddiany Thea
dilara ambu pilihin atu aja baju busui nya 🤭
Nur Bani
pak andrian itu..twrnyata bpknya eelan..di kira asistenye
Ambu Rinddiany Thea
dilara boleh gantian ga sejenak posisinya sm Ambu gt .. 🤭😩
Ambu Rinddiany Thea: sujud sukur ambu mah lmn s abah ampe ka langsing 🤣🤣🤣
total 2 replies
Lim Kursini
dunia halu emang mudah hamil kembar aku jadi iri pingin punya bayi kembar
Yam_zhie: aku juga pengen punya anak kembar. tapi inget ada bocah di rumah yang bikin emosi tiap hari. othor mengurungkan niat punya anak lagi dan tutup pabrik 🤣
total 1 replies
nely_48
ko bisa d Terima jd asisten sekretaris sih org tdk ber adab n nol etitude kya s mely
nely_48
elian kata nya kau cinta mati pd istri mu,, Knp istri tercinta mu ga ada pengawalan ketat n pengawal bayangan yg melindungi nya saat istri mu sedang tdk bersama mu ❓
mana bukti keposesifan cinta mu elian, mana ❓❓ lihat istri mu d serang, d hina staf bawahan mu loh
gemes pd elian ih😤😤
nely_48
itu peringatan buat mu ya elian n dilara,, sesuaikan standar penampilan org kaya itu hrs elegan n berkelas,,, jgn bilang sederhana. big no ya,,, semurah² nya standar gamis org kaya pst kelihatan elegan mahal biarpun tdk glamor
nely_48
gagal ngadon kn elian,, gmn mau jd baby triplets ath dilara
Ambu Rinddiany Thea
aslina hyg nyered awakna make kuda talian hela beheng na 🤣
Ambu Rinddiany Thea: /Good/
total 2 replies
Ambu Rinddiany Thea
ko aku malu sendiri ya bayangin liat s mely kaya gt , pd amat gt ya , emang mau gt elian sama makhluk jadi2an modelan gt , 😩 yasallam
Puspita Sari
saya pikir malah bibit pelakor tdi 🤣
Ambu Rinddiany Thea
hadeeeeeh aya2 bae nya , tah kitu jelema kurang adab jg etitud teh nanaon anu d nilai teh pisik jg penampilan , karek jadi sekertaris sifat kitu komo mun , yaaaa gt tea lah 🤭
Ambu Rinddiany Thea
yaaah gagal dong mau bikin adek buat 3 kurcaci itu 🤭😄
ryuka
🤣🤣🤣🤣🤣🤣 hancur sudah rencana kamu ellian
nely_48
jgn lh terlalu posesif ath elian,, ga baik jg buat tumbuh kembang ayla nanti
nely_48
posesif nya elian overload
nely_48
terlalu posesif itu ga baik elian,, km seolah-olah ragu akan diri mu sendiri n dilara,, takut dilara d rebut oleh kevin lg ya
nely_48
terlalu protektif skl elian,, ga usah d sekolahin umum klau ayla takut d dekati temen cowo nya sih😆😆
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!