NovelToon NovelToon
Musuh Bebuyutan Kok Pacaran?

Musuh Bebuyutan Kok Pacaran?

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Romantis / Komedi
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rofiwan

Dafa Mahendra itu kapten basket paling keren se-antero sekolah, tapi otaknya suka agak lemot kalau urusan cinta. Niatnya mau nembak Kinar Kirana (kapten basket putri) pakai cara super romantis di koridor yang gelap, Dafa malah salah sasaran! Akibat salah narik tangan karena panik, dia justru menyatakan cinta ke Lilis Nurmala—kapten cheerleader sekaligus musuh bebuyutannya yang super galak dan hobi adu mulut dengannya.

Sialnya, momen salah tembak itu viral! Demi menjaga gengsi dan menghindari hukuman dari guru karena bikin keributan, mereka terpaksa pura-pura pacaran. Di sisi lain, Kinar yang aslinya naksir Dafa mulai panik dan mencoba merebut Dafa kembali. Belum lagi Azril, kapten futsal yang protektif banget sama Lilis, siap menghajar Dafa kapan saja. Tapi, siapa sangka? Dari yang tadinya hobi bertengkar, saling mengejek, dan pasang jebakan jail tiap hari di kelas, Dafa dan Lilis justru pelan-pelan malah saling bikin baper beneran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

'Dafa vs Lilis' Musuh Kok Pacaran 07.

Pelajaran Fisika di jam terakhir selalu terasa seperti simulasi neraka bagi Lilis.

Suara dengung kipas angin tua di langit-langit kelas beradu dengan monolog Bu Retno tentang hukum termodinamika.

Namun, yang membuat atmosfer ruangan itu seratus kali lebih menyesakkan bagi Lilis bukanlah rumusnya, melainkan makhluk yang duduk tepat di sebelahnya.

Daffa Mahendra.

Akibat insiden video viral semalam dan sidang dadakan di ruang BK tadi pagi, Bu Asih mengambil keputusan sepihak yang dianggapnya sebagai 'terapi pembinaan'.

Mereka berdua dipaksa duduk sebangku di barisan paling belakang. Tujuannya? Agar Bu Asih bisa mengawasi gerak-gerik mereka dengan mudah dari meja guru.

"Catat yang di papan tulis, Lilis. Jangan melamun terus," tegur Bu Asih tajam tanpa menoleh, tangan nya sibuk menuliskan turunan rumus dengan spidol.

Lilis tersentak. Dia segera memperbaiki posisi duduknya, buru-buru menyalin tulisan di papan tulis ke buku catatan bersampul cokelat miliknya. Dia mencoba fokus.

Setidaknya, dia harus terlihat sibuk agar tidak perlu berinteraksi dengan Daffa.

Namun, Daffa punya cara sendiri untuk merusak ketenangan.

Cowok itu sama sekali tidak memegang pulpen. Tubuhnya merosot di kursi, seragamnya dikeluarkan, dan kedua matanya menatap kosong ke langit-langit. Jelas sekali dia sedang bosan setengah mati.

Detik berikutnya, Lilis merasakan sebuah bayangan bergerak di sisi kirinya.

Tanpa izin, Daffa mencondongkan tubuhnya ke arah meja Lilis.

Tangan kanannya yang panjang terulur, merebut paksa sudut buku tulis Lilis yang sedang dipakai untuk mencatat.

"Eh, apa-apaan sih?" bisik Lilis setengah mendesis, takut terdengar Bu Asih. Dia mencoba menarik bukunya kembali, tetapi tenaga Daffa jauh lebih kuat.

"Pinjam pojokannya bentar. Gabut gue," sahut Daffa santai, suaranya berbisik rendah tepat di samping telinga Lilis.

Dengan wajah tanpa dosa, Daffa mulai menggerakkan pulpen hitamnya di margin bawah buku Lilis.

Lilis hanya bisa melotot tajam, menahan napas saat melihat goresan tangan Daffa.

Alih-alih menulis rumus, Daffa dengan sangat lihai menggambar sebuah sketsa karikatur monyet berekspresi konyol yang sedang memegang pom-pom pemandu sorak.

Di bawah gambar itu, Daffa menuliskan huruf kapital besar,

KETUA MACAN POM-POM LAGI MUTE.

Lilis mengepalkan tangannya di bawah meja hingga buku-buku jarinya memutih.

Itu hinaan verbal yang digambar dengan sangat rapi. Daffa menoleh ke arah Lilis, menaikkan kedua alisnya sambil memamerkan cengiran usil yang luar biasa menyebalkan.

"Mirip lu kalau lagi ngamuk. Lucu," bisik Daffa memanas-manasi.

Lilis menarik napas dalam-dalam, menghitung sampai tiga dalam hati untuk menahan diri agar tidak menancapkan ujung jangka ke leher Daffa. Dia menarik bukunya kembali dengan sentakan kasar, lalu membalik halaman baru tanpa berkata apa-apa.

Wajahnya datar, tetapi otaknya bekerja cepat.

Daffa pikir dia bisa menang begitu saja setelah mengacaukan reputasinya di depan Azril tadi siang? Tidak akan.

Lilis bukan tipe cewek yang akan menangis di pojokan kamar mandi karena dijaili.

Dia tipe cewek yang akan memastikan pembalasan dendamnya terasa jauh lebih menyakitkan.

Saat Bu Asih berbalik memunggungi kelas untuk menulis soal latihan, Lilis beraksi.

Tatapannya terjatuh pada botol lem kertas cair merek UHU berukuran besar di dalam tempat pensilnya.

Lem itu berjenis heavy duty yang biasa dia gunakan untuk merekat properti cheerleaders. Sangat lengket, cepat kering, dan susah hilang.

Dengan gerakan sehalus pencopet profesional, Lilis membuka tutup lem tersebut. Dia memanfaatkan momen saat Daffa sedang memalingkan wajah ke jendela, asyik memperhatikan anak-anak kelas sebelah yang sedang olahraga.

Tangan Lilis bergerak ke bawah meja, menjangkau celah di antara paha Daffa dan permukaan kursi plastiknya.

Dengan presisi tinggi, dia menuangkan cairan bening kental itu dalam jumlah banyak tepat di bagian tengah dudukan kursi Daffa—titik strategis di mana celana abu-abu cowok itu menempel sempurna.

Setelah selesai, Lilis memasukkan kembali lemnya dan duduk dengan posisi paling tegak seolah dia adalah murid paling teladan di sekolah ini.

Dua puluh menit berlalu.

Bel tanda berakhirnya jam pelajaran sekolah akhirnya berbunyi, memecah keheningan kelas yang mencekam.

Suara riuh langsung memenuhi ruangan saat anak-anak mulai mengemas tas mereka.

"Oke, di rumah tolong kerjakan latihan halaman seratus dua. Besok kita cocokkan," kata Bu Retno sambil membereskan bukunya dan berjalan keluar kelas.

Daffa meregangkan otot-otot lehernya yang kaku. "Akhirnya bebas," gumamnya.

Cowok itu bertumpu pada kedua kakinya dan bersiap untuk langsung berdiri dari kursinya. Namun, saat dia menyentak tubuhnya ke atas, ada bunyi SREEEKKK yang cukup nyaring terdengar dari arah bawah.

Daffa tertahan. Ada sensasi tarikan kuat yang menahan bagian belakang celananya.

Refleks, Daffa memberikan sentakan lebih keras. Bunyi sobekan kain yang kali ini jauh lebih jelas terdengar di sudut barisan belakang yang mulai sepi.

Daffa berhasil berdiri, tetapi dia langsung merasakan embusan angin dingin yang tidak biasa menerpa bagian pantatnya.

Daffa menoleh ke belakang. Di atas permukaan kursi plastik itu, menempel seongkah kain abu-abu berukuran telapak tangan yang robek sempurna dari celana seragamnya, menyisakan pemandangan celana pendek boxer bermotif garis-garis hitam di balik celana sekolahnya yang kini bolong besar.

Daffa mematung. Matanya berkedip beberapa kali, mencoba memproses apa yang baru saja terjadi.

Di sebelahnya, Lilis sudah tidak bisa menahan diri lagi. Tawanya pecah seketika. Dia menutup mulut nya dengan kedua tangan, tetapi suara tawa kepuasan itu tetap lolos dengan nyaring.

Bahunya berguncang hebat, dan matanya sampai berair melihat ekspresi syok di wajah Daffa yang biasanya selalu terlihat mengendalikan situasi.

"Hahaha! Bagus banget ventilasi barunya, Daf! Biar gak sumpek mikirin termodinamika!" seru Lilis di sela-sela tawanya.

Daffa menatap kursinya, lalu menatap Lilis yang tertawa terpingkal-pingkal sampai kepalanya diletakkan di atas meja.

Kesadaran langsung menghantam kepala Daffa. Dia melihat botol lem yang ujungnya masih agak basah mencuat sedikit dari tas Lilis.

"Lis... lu bener-bener psikopat, ya?" misuh Daffa, suaranya tertahan antara kesal dan ingin tertawa karena kebodohan situasi ini.

Tangan kanannya refleks menutupi bagian bokongnya yang terekspos. "Celana gue cuma dua, Lilis! Ini kalau gue pulang naik motor, bisa masuk angin aset gue!"

"Lagian siapa suruh nyoret-nyoret buku gue?" Lilis mendongak, wajahnya memerah karena terlalu banyak tertawa, tetapi matanya memancarkan kemenangan yang mutlak. "Itu namanya karma instan. Hukum alam."

"Karma mata lu tekor!" Daffa mendengus, buru-buru menyambar tas ranselnya dan menggendongnya dengan posisi sangat rendah ke bawah untuk menutupi robekan tersebut. "Untung kelas udah sepi. Kalau kagak, jatuh harga diri gue sebagai cowok paling ganteng di angkatan ini."

"Ganteng dari mana? Yang ada lu mirip monyet pom-pom buatan lu sendiri," cibir Lilis sambil mulai merapikan barang-barangnya ke dalam tas.

Daffa tidak membalas lagi. Dia sibuk membongkar kantong depan tas ranselnya dengan gusar. Mulutnya terus menggerutu, mengeluarkan sumpah serapah lucu yang membuat Lilis diam-diam masih menahan senyum.

Setelah mengaduk-aduk isi tasnya selama satu menit, Daffa akhirnya menemukan apa yang dia cari. Kotak P3K kecil yang selalu dia bawa di dalam tas karena dia sering terluka saat latihan basket.

Daffa mengambil selembar plester luka berukuran paling besar yang ada di dalam kotak tersebut—plester kain berwarna cokelat yang biasa dipakai untuk luka robek di lutut.

Dengan posisi tubuh yang aneh—setengah membungkuk dan tangan kirinya menahan tas untuk menutupi pandangan dari arah pintu kelas—Daffa mencoba menempelkan plester itu ke bagian celananya yang bolong.

Dia kesusahan karena posisinya yang tidak proporsional.

"Bantuin napa, Lis! Lu yang bikin dosa, lu yang tanggung jawab!" omel Daffa sambil menoleh ke belakang dengan posisi tubuh yang sangat canggung.

"Ogah. Najis banget gue megang-megang bokong lu," tolak Lilis mentah-mentah sambil menyilangkan dada.

"Ini darurat! Cuma biar boxer gue gak kelihatan pas gue jalan ke parkiran!" Daffa mendecak, akhirnya dia menempelkan plester itu sendiri secara asal-asalan.

Bunyi plek terdengar saat plester kain itu merekat di pinggiran kain seragamnya yang robek, menciptakan pemandangan yang luar biasa konyol, celana abu-abu sekolah yang ditambal plester luka cokelat ukuran jumbo.

Lilis memperhatikan interaksi konyol itu dengan perasaan yang perlahan berubah.

Tawa yang tadinya meledak-ledak di dadanya perlahan menyusut, digantikan oleh kehangatan aneh yang asing.

Daffa tidak membentaknya. Cowok itu tidak benar-benar marah atau memaki dengan kasar seperti cowok-cowok lain yang mungkin akan mengamuk jika dipermalukan seperti ini.

Daffa hanya menggerutu, menerima kekalahannya dengan cara yang... entah kenapa terasa sangat manusiawi dan menggemaskan.

Daffa membalikkan badannya setelah memastikan plester itu menempel kuat, meskipun tampilannya sangat hancur. Dia menatap Lilis dengan mata menyipit, pura-pura galak.

"Urusan kita belum selesai, ya. Besok, es teler gue diskon jadi lima ribu gara-gara celana ini," ancam Daffa menunjuk Lilis dengan pulpennya yang sempat tertinggal.

Lilis menaikkan dagunya, kembali ke mode defensifnya yang biasa, walau sudut bibirnya tidak bisa berbohong. "Enggak ada diskon. Aturan tetap aturan, Mahendra."

Daffa menghela napas pasrah, menaikkan tas ranselnya ke punggung dengan posisi serendah mungkin, lalu berjalan mendahului Lilis menuju pintu luar kelas.

Langkah kakinya agak kaku karena menahan plester agar tidak lepas.

Lilis berjalan di belakangnya, menatap punggung tegap Daffa yang kini terlihat konyol dengan tambalan plester di bagian bawah.

Labirin yang dia takuti tadi siang saat berhadapan dengan Azril mendadak tidak terasa semenakutkan itu lagi.

Setidaknya, orang yang terjebak bersamanya di dalam labirin ini adalah cowok aneh yang rela celananya robek demi sebuah balasan setimpal.

......................

...****************...

Tbc,

1
Gege Mas
yaaah pikir plotnya lilis hilang ingatkan..trus jadi berpuluh puluh episode buat kembali ingat dafa..🤣
Gege Mas
apik Dan epic
Gege Mas
perasaan di bab berapa sudah di perjelas..disini di putar balik lage.. othor memainkam durasi ini..🤣🤭
Rofiwan: satu bab doang /Sob/🤣
total 1 replies
falea sezi
makanya jangan bego dava.. ayo lis putusin hubungan pura2 kalian
falea sezi
makanya jd cowok jangan serakah suka lilis malah nemenin mantan gebetan🤣🤣 plin plan elu🤣
falea sezi
abis ne bodoh amat m dava donk lis jual. mahal putusin hubungan pura2🤣 berjuang apanya pret si dava
mars-venus
ceritanya gak bosenin asliii
mars-venus
jujur ini gimana caranya berenti baca novel.. berasa males kerja pen baca sampe akhir😫
falea sezi
lanjut
falea sezi
jual mahal lis ngapain ngejar cowok duluan🤣 ogah amat mending di cintai Dripada mencintai
falea sezi
biarin aja lis dava ma Kinar 🤣 nanti jg dia nyesel tp uda telatt🤣
falea sezi
lanjut q kirm hadiah
Gege Mas
luncurkan 10k kata Thor...gasskeun
Nita Nita
wekwekwekwek 😄
Queen Aisyah
woy, sampe keselek siomay saya baca ginian/Sob//Curse/
Nita Nita
😄😄😄😄😄🤣🤣🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!