NovelToon NovelToon
PERMAISURIKU DARI ABAD KE-21

PERMAISURIKU DARI ABAD KE-21

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:977
Nilai: 5
Nama Author: Ve Love

Aku masuk ke dalam tubuh calon permaisuri sial dan terdampar di Kerajaan Langit. Di kepalaku, Sistem yang jatuh dari langit aktif!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ve Love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6 - RACUN DI TEH MAWAR

Sejak kejadian lipstik merah delima, suasana di istana perlahan berubah.

Para pelayan yang sebelumnya menganggapku permaisuri pembawa sial kini mulai memperhatikanku dengan rasa ingin tahu. Bahkan beberapa selir muda pernah berkunjung ke Paviliun Mawar dengan alasan menyampaikan salam, meskipun ujung-ujungnya mereka selalu menanyakan benda-benda aneh yang kumiliki.

Terutama lipstik.

“Gusti Permaisuri, apakah pewarna bibir itu benar-benar tidak luntur meski terkena air?”

“Apakah dibuat dari bunga langka?”

“Kalau kami ingin memilikinya, apakah keluarga Adiningrat bersedia menjualnya?”

Pertanyaan mereka terkadang membuatku ingin tertawa.

Aku sendiri bahkan tidak tahu bagaimana cara menjelaskan teknologi kosmetik abad ke-21 kepada orang-orang yang masih menggunakan cermin perunggu.

Seperti biasa, aku hanya memberikan jawaban andalan.

“Itu rahasia keluarga Adiningrat.”

Anehnya, semakin sering aku menggunakan alasan itu, semakin banyak orang yang mempercayainya.

Mungkin karena di istana ini, rahasia keluarga bangsawan dianggap sebagai sesuatu yang wajar.

Setidaknya, hidupku mulai terasa sedikit lebih tenang. Aku tidak lagi mendengar ancaman akan dibuang ke Sungai Serayu setiap kali berhadapan dengan Segara El-Bhumi.

Meskipun begitu, aku belum berani menganggap diriku aman.

Kaisar itu masih sulit ditebak.

Kadang-kadang ia melewati Paviliun Mawar pada sore hari dengan alasan hendak memberi makan ikan di kolam teratai. Padahal, dari kediaman utamanya, ia bisa mencapai kolam yang sama tanpa harus melewati koridor di depan kamarku.

Aku tidak tahu apakah itu kebetulan atau memang disengaja.

Namun, setiap kali melihat jubah birunya melintas di kejauhan, aku selalu teringat peringatannya.

Jangan berharap aku akan membiarkan sesuatu yang tidak kukenal beredar bebas di dalam istana.

Benar-benar pria yang menyenangkan.

Pagi itu, aku duduk di dekat jendela sambil membaca catatan kecil yang kutulis sejak tiba di Kerajaan Langit. Isinya sederhana: nama orang-orang yang pernah kutemui, kejadian yang kuingat, dan beberapa pertanyaan yang belum terjawab.

Nama Li Hua berada di bagian paling atas.

Aku masih belum menemukan kesempatan untuk mencari tahu lebih banyak tentang permaisuri pertama itu. Petinya masih terkunci, sementara Segara sudah memperingatkanku agar tidak menyentuhnya lagi.

Kalau ingin mengetahui kebenarannya, aku harus lebih sabar.

“Gusti Putri, teh mawarnya sudah siap.”

Suara Mbok membuatku mengangkat kepala.

Ia masuk membawa nampan berisi teko kecil dan sebuah cangkir porselen putih. Kondisinya jauh lebih baik dibandingkan beberapa hari lalu. Wajahnya tidak lagi sepucat sebelumnya, meskipun aku masih melarangnya bekerja terlalu keras.

“Terima kasih, Mbok. Letakkan saja di sini.”

Mbok meletakkan nampan di meja, lalu menuangkan teh berwarna merah muda pucat ke dalam cangkir.

“Bunga mawarnya dipetik langsung dari taman belakang, Gusti. Dayu yang membuatnya pagi ini.”

Aku mengangguk sambil menghirup aromanya.

Harum.

Lembut.

Aroma mawar yang menenangkan memenuhi udara di sekitarku.

Aku mengangkat cangkir, tetapi baru saja hendak mendekatkannya ke bibir ketika sebuah layar biru muncul di hadapanku.

Kali ini, warnanya bukan biru seperti biasa.

Merah menyala.

[PERINGATAN DARURAT!]

[INDIKASI ZAT BERBAHAYA TERDETEKSI.]

[LOKASI: CAIRAN DI DALAM CANGKIR YANG SEDANG DIPEGANG HOST.]

[STATUS: BELUM DIKETAHUI SECARA PASTI.]

[INSTRUKSI: JANGAN MINUM. JAUHKAN CAIRAN DARI MULUT DAN SEGERA MINTA PEMERIKSAAN TABIB.]

Tanganku berhenti di udara.

Untuk beberapa detik, aku bahkan lupa bernapas.

Racun?

Aku menatap cangkir di tanganku. Warnanya sama seperti biasanya. Aromanya juga tidak menunjukkan sesuatu yang mencurigakan.

Namun, aku sudah belajar bahwa di istana ini, bahaya tidak selalu datang dengan wajah menyeramkan.

Kadang-kadang, bahaya justru disajikan dalam cangkir porselen yang cantik.

Aku perlahan meletakkan cangkir itu kembali ke atas nampan.

“Mbok.”

“Ya, Gusti?”

“Siapa yang membuat teh ini?”

“Dayu dari dapur istana, Gusti. Seperti biasa.”

Aku mengingat wajah seorang pelayan muda yang beberapa hari lalu sempat datang ke Paviliun Mawar. Gadis itu ramah, bahkan bertanya tentang lipstik merah delima yang kupakai.

Namanya Dayu.

Aku tidak tahu apakah dia memiliki niat buruk atau hanya menjalankan pekerjaannya seperti biasa.

Karena itu, aku tidak boleh langsung menuduhnya.

“Mbok, tolong jangan sentuh teh ini dulu.”

Mbok mengerutkan kening.

“Apakah rasanya tidak sesuai, Gusti?”

“Aku belum tahu.” Aku berusaha menjaga suaraku tetap tenang. “Tolong panggil tabib istana. Katakan aku ingin meminta bantuan untuk memeriksa sesuatu.”

Wajah Mbok berubah serius ketika melihat ekspresiku.

“Apakah Gusti merasa tidak enak badan?”

“Tidak. Aku belum meminumnya.”

Aku menggeser nampan itu menjauh dari tempat dudukku.

“Dan jangan biarkan siapa pun meminumnya sampai tabib datang.”

Mbok tidak bertanya lagi. Ia segera memanggil salah satu pelayan untuk mencari tabib istana.

Aku kembali menatap cangkir teh tersebut.

Di dalam pikiranku, berbagai kemungkinan mulai bermunculan.

Bagaimana jika sistem salah mendeteksi zat di dalamnya? Bagaimana jika teh itu memang mengandung racun? Dan jika benar ada seseorang yang berniat mencelakaiku, bagaimana ia bisa melakukannya tanpa meninggalkan jejak?

Aku menggenggam ujung lengan bajuku.

Aku tidak pernah membayangkan bahwa pengetahuan sejarah yang kupelajari di universitas akan membawaku ke situasi seperti ini. Aku datang ke museum untuk mencari informasi tentang sebuah kerajaan kuno, lalu terbangun di dalam tubuh perempuan yang seharusnya sudah meninggal.

Sekarang, aku harus berhati-hati bahkan terhadap secangkir teh.

“Gusti Putri,” suara Mbok terdengar pelan setelah ia kembali. “Tabib sedang menuju kemari.”

Aku mengangguk.

“Bagus.”

Aku hendak mengatakan sesuatu lagi ketika sebuah pemberitahuan baru muncul.

[CATATAN: SISTEM TIDAK DAPAT MEMASTIKAN JENIS ZAT HANYA BERDASARKAN PENANDA AWAL.]

[DISARANKAN: PEMERIKSAAN LANJUTAN OLEH TENAGA MEDIS SETEMPAT.]

Aku mengembuskan napas.

Setidaknya, kali ini sistem tidak berpura-pura mengetahui segala sesuatu.

Tak lama kemudian, seorang tabib istana masuk membawa kotak kayu kecil. Ia membungkuk sebelum mendekati meja.

“Ampun, Gusti Permaisuri. Hamba menerima kabar bahwa Gusti ingin memeriksakan teh?”

“Benar. Sistem peringatanku menunjukkan kemungkinan adanya zat berbahaya.” Aku segera memperbaiki ucapanku sebelum terdengar terlalu aneh. “Maksudku, aku merasa ada sesuatu yang tidak beres. Aku belum meminumnya, jadi tolong periksa terlebih dahulu.”

Tabib itu memandang cangkir di atas nampan.

“Apakah Gusti melihat seseorang memasukkan sesuatu ke dalamnya?”

“Tidak.”

“Apakah ada perubahan warna atau aroma?”

“Tidak ada yang jelas terlihat.”

Ia mengangguk, lalu meminta agar cangkir dan teko dipisahkan. Ia memeriksa cairan tersebut menggunakan beberapa bahan pemeriksaan yang biasa dipakai di istana.

Aku memperhatikan setiap gerakannya dengan cemas.

Pemeriksaan itu tidak berlangsung cepat. Tabib beberapa kali mengernyit, meminta air bersih, kemudian mengulang pemeriksaannya.

Akhirnya, ia menoleh kepadaku.

“Gusti, hamba tidak berani memastikan jenis zatnya hanya dari pemeriksaan awal ini. Namun, ada sesuatu yang tidak semestinya terdapat di dalam teh.”

Dadaku terasa sesak.

“Jadi, teh itu berbahaya?”

“Untuk sementara, sebaiknya tidak diminum oleh siapa pun. Hamba akan membawa sampelnya untuk diperiksa lebih lanjut.”

Aku mengangguk.

“Lakukan apa yang diperlukan. Dan tolong jangan buang sisa teh itu.”

Tabib membungkuk.

“Baik, Gusti.”

Aku baru hendak mempersilakannya pergi ketika suara langkah terdengar dari luar.

Pintu terbuka.

Segara El-Bhumi memasuki ruangan dengan wajah yang tampak tidak sabar. Ia mengenakan jubah biru tua dan membawa beberapa gulungan laporan.

“Apa yang terjadi di sini?”

Semua orang segera membungkuk.

Aku berdiri dari kursi.

“Gusti Kaisar.”

Tatapan Segara bergerak dari tabib ke nampan di atas meja.

“Jelaskan.”

Aku menceritakan apa yang terjadi, termasuk peringatan yang kuterima sebelum meminum teh. Aku sengaja tidak menyebutkan nama Dayu sebagai orang yang patut dicurigai karena belum memiliki bukti.

Segara mendengarkan tanpa memotong perkataanku.

Ketika aku selesai, ia meletakkan laporan di tangannya.

“Bawa teh itu ke ruang pemeriksaan. Jangan ada seorang pun yang menyentuhnya tanpa izin.”

“Titah diterima, Gusti Kaisar,” jawab tabib.

“Panggil kepala dapur. Cari tahu siapa yang menyiapkan teh ini dan siapa saja yang memiliki akses ke bahan-bahannya.”

Pengawal di luar pintu segera menerima perintah tersebut.

Segara kemudian menatapku.

“Kau yakin belum meminumnya?”

“Yakin.”

“Bagaimana kau mengetahui ada sesuatu yang tidak beres?”

Aku terdiam.

Pertanyaan itu jauh lebih sulit dijawab daripada yang kuduga.

Aku tidak mungkin mengatakan bahwa sebuah sistem dari abad ke-21 memberiku peringatan melalui layar biru yang hanya bisa kulihat sendiri.

“Entahlah,” jawabku akhirnya. “Aku hanya merasa harus berhenti sebelum meminumnya.”

Segara tidak terlihat puas.

“Kau sering sekali memiliki firasat yang tepat sejak hari pernikahanmu.”

Aku menahan napas.

“Apakah itu sebuah kesalahan, Gusti Kaisar?”

“Belum tentu.”

Ia memandang cangkir yang kini berada di tangan tabib.

“Namun, aku tidak suka sesuatu yang tidak bisa kujelaskan.”

Aku hampir menjawab bahwa perasaan itu sama denganku. Sayangnya, menertawakan kecurigaan seorang kaisar bukanlah cara terbaik untuk memperpanjang umur.

Sebelum aku sempat berkata apa pun, seorang pengawal masuk dan melaporkan bahwa pelayan bernama Dayu telah dipanggil dari dapur.

Beberapa menit kemudian, gadis itu dibawa ke dalam paviliun.

Wajahnya pucat ketika melihat Segara berdiri di dekat meja. Ia langsung berlutut dengan kepala tertunduk.

“Dayu,” kata Segara. “Siapa yang menyiapkan teh mawar untuk permaisuri pagi ini?”

“Hamba, Gusti Kaisar.”

“Apakah ada orang lain yang menyentuh teko atau bahan-bahannya setelah kau selesai menyiapkannya?”

Dayu tampak ragu.

“Hamba tidak tahu, Gusti. Setelah selesai, hamba menyerahkannya kepada pelayan pengantar.”

“Siapa nama pelayan itu?”

“Laras, Gusti.”

Segara melirik pengawalnya.

“Cari Laras. Jangan biarkan siapa pun meninggalkan dapur sampai pemeriksaan selesai.”

Pengawal itu segera pergi.

Dayu masih berlutut. Kedua tangannya saling meremas di depan tubuhnya.

Aku memperhatikannya.

Gadis itu tampak ketakutan, tetapi ketakutan tidak selalu berarti seseorang bersalah. Bisa jadi ia mengetahui sesuatu. Bisa juga ia hanya takut karena dipanggil menghadap kaisar.

“Dayu,” panggilku.

Ia mengangkat kepala sedikit.

“Apakah kau melihat sesuatu yang tidak biasa ketika menyiapkan teh?”

Dayu menelan ludah.

“Tidak, Gusti Permaisuri.”

“Apakah ada yang memintamu mengganti bahan atau menambahkan sesuatu?”

“Tidak, Gusti.”

Jawabannya terdengar terlalu cepat.

Namun, sebelum aku bisa bertanya lagi, Segara mengangkat tangan.

“Cukup. Bawa dia ke ruang penjagaan sampai kita mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Jangan menyakitinya dan jangan menginterogasinya tanpa perintahku.”

Dayu langsung bersujud.

“Ampun, Gusti Kaisar! Hamba tidak melakukan apa-apa!”

“Kalau kau tidak bersalah, kebenaran akan membuktikannya,” jawab Segara dingin.

Dua pengawal membantunya berdiri, kemudian membawanya keluar.

Aku memperhatikan gadis itu sampai pintu tertutup.

Ada sesuatu yang menggangguku. Bukan karena aku yakin Dayu tidak bersalah, melainkan karena aku belum memiliki alasan untuk mempercayai bahwa ia memang pelakunya.

Segara mengambil cangkir kosong dari meja, lalu memeriksa bagian dalamnya.

“Di istana ini, orang tidak selalu menyerang secara langsung,” katanya tanpa menatapku. “Ada yang menggunakan makanan, minuman, bahkan orang yang tidak bersalah untuk mencapai tujuannya.”

Aku memandangnya.

“Apakah Gusti sudah sering menghadapi hal seperti ini?”

Ia meletakkan cangkir itu kembali.

“Cukup sering untuk mengetahui bahwa orang yang paling ramah belum tentu berniat baik.”

Kalimat itu membuatku teringat pada peti Li Hua.

Berapa banyak orang yang terlibat dalam kematian permaisuri pertama? Apakah Ibu Suri benar-benar memaksanya menelan racun, seperti yang dikatakan sistem? Dan apakah Segara mengetahui sesuatu yang belum bisa kubuktikan?

Aku tidak berani menanyakan semuanya sekarang.

Segara menoleh kepadaku.

“Mulai hari ini, jangan menerima makanan atau minuman yang belum diperiksa.”

Aku mengangkat alis.

“Apakah itu berlaku untuk semua orang di istana?”

“Untukmu.”

“Karena saya permaisuri?”

“Karena seseorang baru saja mencoba membuatmu meminum sesuatu yang berbahaya.”

Aku terdiam.

Jawabannya terdengar sederhana, tetapi aku tidak bisa mengabaikan nada suaranya yang lebih berat daripada biasanya.

“Terima kasih, Gusti Kaisar.”

Segara tidak menjawab. Ia hanya memberi isyarat kepada seorang pelayan untuk membawakan teh baru dari dapur lain.

Kali ini, ia sendiri yang memeriksa teko dan meminta tabib memastikan tidak ada masalah sebelum minuman itu disajikan.

Setelah semuanya selesai, ia mengambil satu cangkir dan meletakkannya di hadapanku.

“Minumlah jika kau mau.”

Aku memandang teh itu, kemudian menatapnya.

“Gusti tidak akan memeriksa sendiri?”

“Aku sudah memeriksanya bersama tabib.”

“Kalau begitu, saya percaya.”

Aku mengangkat cangkir dengan hati-hati dan menyesap sedikit.

Tehnya hangat, dengan aroma mawar yang lembut. Tidak ada rasa aneh yang bisa kurasakan.

Segara tetap berdiri di dekat meja, seolah-olah belum berniat pergi.

Aku meletakkan cangkir.

“Gusti Kaisar.”

“Apa?”

“Kalau orang yang mencoba meracuni saya belum tertangkap, bukankah itu berarti saya masih dalam bahaya?”

Tatapannya bertemu dengan tatapanku.

“Benar.”

“Lalu kenapa Gusti tidak memindahkan saya ke tempat yang lebih aman?”

“Karena aku ingin mengetahui siapa yang berani melakukan ini di dalam istanaku.”

Aku menghela napas pelan.

Tentu saja. Pada akhirnya, semuanya tetap berkaitan dengan istana dan kekuasaannya.

Namun, sebelum pergi, Segara menambahkan satu kalimat.

“Sampai orang itu ditemukan, pastikan kau tidak sendirian saat menerima sesuatu dari luar.”

Aku mengangguk.

“Baik, Gusti Kaisar.”

Ia berbalik menuju pintu. Kali ini, langkahnya tidak terburu-buru. Namun, tepat sebelum keluar, ia berhenti sebentar.

“Kahiyang.”

“Ya?”

“Lain kali, jika kau merasa ada sesuatu yang tidak beres, segera panggil pengawal. Jangan mencoba menghadapinya sendirian.”

Aku menatapnya, sedikit terkejut.

“Baik.”

Segara tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia meninggalkan Paviliun Mawar, membawa serta sebagian besar pertanyaan yang belum sempat kuajukan.

Begitu pintu tertutup, layar sistem muncul kembali.

[DING!]

[PERINGATAN AWAL BERHASIL DITINDAKLANJUTI.]

[HOST BERHASIL MENGHINDARI PAPARAN ZAT BERBAHAYA.]

[STATUS MISI: SELAMAT DARI ANCAMAN — BERHASIL.]

Aku mengembuskan napas lega.

Namun, pemberitahuan berikutnya membuatku kembali tegang.

[IDENTITAS PELAKU: BELUM DIKETAHUI.]

[PETUNJUK: JANGAN MENARIK KESIMPULAN SEBELUM BUKTI TERKUMPUL.]

Aku memejamkan mata sesaat.

Bahkan sistem pun mengingatkanku untuk tidak gegabah.

Aku kembali memandang cangkir teh mawar yang kini sudah dingin. Beberapa saat lalu, minuman itu terlihat begitu biasa. Tidak ada yang membuatku curiga sampai peringatan muncul.

Aku tidak tahu siapa yang ingin menyingkirkanku.

Aku juga belum tahu apakah Dayu terlibat, atau ada seseorang yang sengaja memanfaatkan gadis itu agar kesalahan jatuh kepadanya.

Yang kutahu, seseorang telah mencoba mencelakaiku.

Dan orang itu mungkin masih berada di dalam istana.

Aku merapikan lengan bajuku, lalu menatap ke arah taman yang terlihat dari jendela.

Mawar putih tumbuh berderet di sepanjang jalan setapak. Indah, tenang, dan tampak tidak berbahaya.

Namun, aku mulai memahami bahwa sesuatu yang terlihat indah belum tentu aman untuk didekati.

Termasuk istana ini.

Termasuk orang-orang yang tinggal di dalamnya.

Dan mungkin, termasuk Kaisar Segara El-Bhumi sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!