NovelToon NovelToon
Kehidupan Kedua Ivy

Kehidupan Kedua Ivy

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nitaastri

Cinta kadang dapat membutakan mata seseorang, itu juga yang terjadi pada Ivy. Cinta membuatnya buta hingga tega merebut tunangan saudara kembarnya sendiri.

Ivy memang berhasil, pertunangan Mateo dan Evelyn dibatalkan dan dia berhasil menikahi Mateo. Tapi sayangnya pria itu tidak pernah mencintai Ivy. Mateo melakukan banyak hal untuk menyakit hati Ivy bahkan dia juga berselingkuh hanya agar Ivy lebih terluka. Tapi Ivy selalu memaafkan Mateo.

Hingga hari itu Ivy benar-benar berhenti mencintai Mateo. Sejak Mateo lebih memilih menemani selingkuhannya dibandingkan mengantarkan putri mereka ke rumah sakit. Hingga akhirnya Ivy harus kehilangan putrinya untuk selamanya. Sejak saat itu, cinta Ivy lenyap dan dia akhirnya memilih bercerai dan meninggalkan Mateo.

Saat Ivy berpikir dia sendirian dan tak punya tempat untuk pulang, Edgar datang memberikan cahaya untuknya. Awalnya Ivy berpikir jika Edgar hanyalah pria biasa. Tapi ternyata identitas Edgar tidak sesederhana itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nitaastri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1. Malam Ketika Ivy Kehilangan Segalanya

Hujan turun begitu deras malam itu.

Petir berkali-kali menyambar langit, sementara suara air hujan menghantam jendela rumah keluarga Agler tanpa henti.

Di lantai dua rumah itu, seorang wanita muda berlari keluar dari kamar sambil menggendong seorang anak kecil. Wajah anak itu pucat, tubuh mungilnya menggigil hebat.

"Mommy..."

Suara kecil itu hampir tidak terdengar. Ivy memeluk putrinya semakin erat.

"Mommy di sini, sayang." Lirih Ivy sambil mengecup kening putrinya.

"Izel, yang kuat ya sayang."

Ivy mengusap rambut Grizella dengan tangan gemetar.

Air mata mengalir di pipinya. Putrinya yang baru berusia tiga tahun terlihat sangat lemah. Napasnya tidak teratur, tubuhnya panas, dan sejak beberapa jam terakhir kondisinya terus memburuk.

"Mommy sakit..." Lirih Grizella dengan suara serak.

"Mommy tahu." Ivy kembali mencium kening putrinya.

"Mommy akan membawa Izel ke rumah sakit, Izel yang sabar ya nak." Lirih Ivy.

Grizella membuka matanya perlahan.

"Papa...?"

Ivy terdiam, matanya beralih ke lantai bawah. Suaminya Mateo ada di sana, pria itu sepertinya sedang menelpon seseorang dan Ivy tau siapa yang di telpon oleh suaminya malam-malam begini. Hati Ivy sakit saat memikirkan hal itu, ternyata cintanya selama bertahun-tahun ini belum mampu meluluhkan hati suaminya dan membuat pria itu juga mencintai dirinya.

Namun malam itu Ivy tidak peduli lagi, jika biasanya dia akan tantrum saat pria yang berstatus sebagai suaminya itu menghubungi wanita selingkuhannya. Khusus malam ini, Ivy tidak peduli apakah Mateo mencintainya atau tidak karena yang dia inginkan hanya satu. Putri kecilnya selamat, putri kecilnya dapat sembuh seperti sebelumnya.

"Mateo!" Teriak Ivy sambil berlari menuruni anak tangga satu demi satu. Mateo menoleh saat mendengar namanya di panggil, dia melihat Ivy istrinya berlari menghampiri dirinya sambil menggendong Grizella putri mereka.

"Mateo!" Lirih Ivy sambil menatap suaminya.

"Ada apa." Jawab Mateo dingin.

"Grizella sakit." Lirih Ivy.

"Lalu apa hubungannya denganku." Ujar Mateo, lalu kembali sibuk dengan ponselnya. Bahkan di saat putri mereka sedang sakit sekalipun, Mateo tetap tenang. Ivy sama sekali tidak melihat sedikit pun kekhawatiran di mata Mateo.

"Mateo! Aku mohon, tolong antar kami ke rumah sakit." Pinta Ivy.

""Aku sibuk." Kata Mateo.

"Mateo, tapi Grizella sedang sakit. Malam ini saja, aku mohon." Ivy terus memohon, tapi Mateo masih saja fokus pada ponselnya.

"Aku bilang aku sibuk." Jawab Mateo, Suaranya terdengar sangat dingin.

Ivy menggigit bibirnya, hatinya sangat hancur.

"Aku mohon, putri kita demam tinggi sejak sore. Dia semakin lemah, aku takut terjadi sesuatu padanya." Ujar Ivy dengan suara bergetar.

Mateo akhirnya menatap anak kecil dalam pelukan Ivy, namun tatapannya tetap dingin.

"Mateo, ku mohon. Grizella sakit parah."

Tapi Mateo tetap tidak menjawab, dia justru melangkah ke arah jendela dan kembali fokus pada ponselnya.

"Mateo, lihat putri kita dia demam tinggi. Tubuhnya gemetar. Tolong antar kami ke rumah sakit." Ujar Ivy, dia kembali menghampiri Mateo dengan harapan pria itu mau berbaik hati sedikit saja pada putri mereka. Namun tatapan Mateo tetap dingin.

"Kau punya mobil kan? kenapa masih ngerepotin aku." Ujar Mateo.

"Tapi hujan sangat deras, jalanan juga licin." Ujar Ivy.

"Itu bukan masalahku." Kata Mateo.

"Tapi dia putrimu." Lirih Ivy.

"Jangan gunakan kata 'putriku' untuk membuatku merasa bersalah." Kata Mateo sambil menatap Ivy dengan tatapan penuh kebencian. Air mata Ivy langsung terjatuh.

"Mateo..."

"Aku punya urusan yang lebih penting." Ujar Mateo dan kembali fokus pada ponselnya.

Ivy menatap suaminya itu dengan hati yang hancur. Dia tidak peduli jika Mateo marah padanya atau bahkan membenci dirinya. Tapi Ivy sangat berharap, suaminya itu bisa sedikit saja peduli pada putri mereka.

"Lebih penting daripada putrimu sendiri?" Tanya Ivy.

"Ya." Jawab Mateo.

Tiba-tiba ponsel Mateo berdering, Ivy dapat melihat nama yang tertera di layar ponsel Mateo.

Selena, ternyata wanita itulah yang menghubungi Mateo. Wanita yang selalu menjadi sumber pertengkaran mereka beberapa bulan ini.

Selena adalah wanita yang selama beberapa bulan terakhir menjadi orang ketiga dalam rumah tangga mereka.

Tanpa memperdulikan Ivy, Mateo mengangkat teleponnya. Ivy dapat mendengar suara wanita dari seberang sana, walaupun terdengar samar.

Ekspresi Mateo yang sejak tadi dingin tiba-tiba berubah lembut.

"Aku akan ke sana."

Ivy membeku.

"Kau mau pergi?"

Mateo mengambil jasnya.

"Ya."

"Mateo..."

Ivy berdiri di hadapannya.

"Tolong."

Untuk pertama kalinya malam itu, suara Ivy terdengar benar-benar putus asa.

"Antarkan Grizella ke rumah sakit, sebentar saja. Setelah itu kau mau pergi menemui wanita itu, aku tidak akan melarangmu. Tapi ku mohon, demi grizella." Ujar Ivy sambil memegang tangan Mateo. Mateo hanya menatapnya, kemudian tatapannya beralih kepada Grizella.

"Dia anakmu, bukan anakku." Ujar Mateo.

Kalimat itu benar-benar menghancurkan sesuatu dalam diri Ivy.

"Dia bukan hanya anakku." Ujar Ivy dengan air mata yang terus mengalir di pipinya.

"Kalau kau begitu mengkhawatirkannya, urus saja sendiri. Jangan merepotkan aku." Ujar Mateo lalu beranjak pergi. Tapi Ivy kembali menggenggam lengan suaminya itu.

"Mateo, kumohon." Lirih Ivy tapi Mateo langsung menepis tangannya.

"Aku tidak punya kewajiban untuk terus membantu keluarga yang sudah menghancurkan hidupku. Seandainya kau tidak melakukan hal menjijikkan itu padaku, saat ini aku sudah bahagia bersama Evelyn dan hidupku tidak akan menjadi seperti ini." Ujar Mateo dingin, mendengar hal itu ivy hanya mampu terdiam.

Nama itu kembali muncul, Evelyn. Saudara kembar Ivy, wanita yang pernah menjadi tunangan Mateo. Wanita yang sangat dicintai Mateo. Wanita yang selalu menjadi pusat kehidupan mateo dan Wanita yang seharusnya menjadi istrinya. Namun wanita itu pergi meninggalkan Mateo setelah Ivy berhasil merebut Mateo darinya. Mungkin inilah yang dinamakan hukum karma, dia memang berhasil memiliki tubuh Mateo tapi tidak dengan hati pria itu.

"Aku tahu kau membenciku, tapi Grizella tidak bersalah." Bisik Ivy.

Mateo semakin mengepalkan tangannya.

"Jangan ganggu aku." Ujar Mateo dingin.

"Mateo, kumohon." Ivy kembali memohon belas kasihan suaminya itu.

"Aku sudah bilang tidak!" Bentak Mateo, lalu pergi meninggalkan Ivy. Dia bahkan pergi tanpa menoleh sedikitpun pada Ivy ataupun Grizella.

Melihat itu, Ivy menundukkan kepalanya.

"Tidak apa-apa, Sayang." Kata Ivy pada putrinya.

Tangisnya Ivy pecah

"Mommy akan membawamu ke rumah sakit."

Ivy lalu berlari ke mobilnya sambil menggendong putri kecilnya.

Hatinya hancur.

Tetapi ketika dia mengingat putrinya, Ivy menghapus air matanya.

Malam itu, Ivy membawa Grizella pergi ke rumah sakit sendirian. Namun jalanan terlalu licin, pandangan Ivy juga mulai kabur karena air mata.

Hingga di tengah perjalanan, Ivy tidak melihat jika ada sebuah truk yang kehilangan kendali karena jalan yang licin.

Suara rem terdengar keras.

Dan beberapa menit kemudian—

BRAK!

Suara benturan keras mengguncang malam. Mobil Ivy tergelincir dan membuat tubuh Ivy terlempar. Suara kaca pecah memenuhi udara. Dan setelah itu semuanya menjadi gelap.

Ketika Ivy membuka mata, hal pertama yang dilihatnya adalah langit-langit rumah sakit. Namun bukannya merasa lega, dadanya justru terasa sesak. karena Ivy tidak melihat keberadaan putri kecilnya di sisinya. Ivy juga tidak mendengar suara putrinya atau bahkan senyum kecilnya.

Ivy akhirnya mencoba bangkit dan nama yang pertama di ucapannya adalah...

"Grizella..."

Namun tidak ada jawaban.

"Grizella!" Ivy kembali berteriak, hingga seorang dokter segera menghampirinya.

"Nyonya, tolong tetap tenang."

"Anak saya..." Kata Ivy dengan jantung yang berdebar. Ivy merasakan sesuatu yang buruk.

"Di mana anak saya?" Tanya Ivy kembali, tapi sang dokter diam. Dia hanya manatap Ivy dengan tatapan iba dan prihatin dan tatapan itu sudah cukup menjadi jawaban bagi Ivy.

Ivy menggeleng, dia tidak percaya jika putri kecilnya meninggalkan dirinya.

"Tidak." Ujar Ivy

"Nyonya..."

"Tidak!"

Ivy turun dari tempat tidur.

"Di mana Grizella?!"

Seorang perawat menangis di sudut ruangan dan dokter yang tadi hanya menundukkan kepalanya.

"Kami sudah berusaha."

Ivy berhenti bergerak.

"Berusaha...?" Cicit Ivy

"Berusaha apa?" Ivy bertanya dengan suara bergetar.

Dokter itu menarik napas panjang.

"Putri Anda tidak berhasil diselamatkan nyonya." Ujar sang dokter. Mendengar hal itu, hati ivy sangat hancur. Dunia Ivy seolah berhenti. Hingga dia bahkan tidak mampu menjawab kalimat sang dokter. Ivy hanya diam, memandang sang dokter dengan tatapan kosong.

"Tidak."

Ivy menggeleng perlahan.

"Dia tadi masih memanggilku." Lirih Ivy.

Dokter itu tidak menjawab, dia membiarkan Ivy meluapkan semua isi hatinya hari itu.

"Dia bilang sakit."

Air mata mulai mengalir.

"Dia bilang ingin pulang."

Tangannya menutupi mulut.

"Jadi... bagaimana mungkin dia meninggal?"

Tubuh Ivy jatuh ke lantai. Tangisannya memenuhi ruangan. Tidak ada yang lebih menyakitkan dibanding ditinggal oleh anak. Satu-satunya keluarga yang dia miliki saat ini. Dia tidak memiliki siapapun lagi selain Grizella. Satu-satunya alasan Ivy tetap mempertahankan pernikahannya walaupun pernikahan itu selalu menyakiti dirinya. Tapi sekarang yang menjadi satu-satunya alasan Ivy masih bertahan dalam pernikahannya sudah pergi meninggalkan dirinya. Ivy merasa dirinya gagal sebagai ibu Grizella, gagal membahagiakan putrinya, gagal menyelamatkan putrinya dan gagal memberikan putrinya keluarga yang utuh seperti anak-anak lain dan itu semua dikarenakan keegoisannya yang ingin memiliki Mateo. Seandainya dia tidak menikahi Mateo, bukankah Grizella tidak akan se menderita ini. Mungkin anak itu akan mendapatkan ayah yang jauh lebih mencintai dirinya. Dan yang paling menyakitkan bagi Ivy adalah ketika Mateo menolak mengantarkan Grizella ke rumah sakit. Andai saja malam itu Mateo mau mengantarkan mereka ke rumah aakit, mungkin Grizella masih ada saat ini. Grizella mungkin sudah bisa memanggilnya ibu saat ini. Tapi sayangnya, semua itu hanya harapan semu Ivy saja. Karena semua itu tidak akan pernah terjadi, Grizella putrinya sudah pergi dan dia sama sekali tidak diberi kesempatan untuk melihat putrinya untuk terakhir kalinya. Karena setelah dia terbangun, putrinya telah di makamkan. Tentu saja, dia tidak sadarkan diri hampir 1 minggu lamanya dan suaminya Mateo sama sekali tidak pernah datang.

Keesokan paginya, Mateo datang ke rumah sakit.

Namun bukan karena khawatir kepada Ivy. Ia datang setelah mendapat kabar mengenai kecelakaan itu.

Ketika melihat Ivy duduk sendirian di lorong rumah sakit dengan tatapan kosong, langkah Mateo berhenti.

"Ivy."

Wanita itu mengangkat wajahnya, mata mereka bertemu.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Mateo melihat sesuatu yang berbeda di mata Ivy.

Tidak ada lagi cinta dimata itu, yang terlihat di mata itu hanyalah kehancuran.

"Di mana Grizella?"

Ivy menatapnya lama.

"Sudah meninggal."

Mateo membeku.

"Apa?"

"Putriku telah meninggal." Suara Ivy begitu pelan. Mateo menatap Ivy cukup lama, wajahnya perlahan berubah.

"Ivy..."

"Kalau malam itu kau mau mengantarnya..." Ivy tersenyum pahit.

"...dia mungkin masih hidup." Lanjut Ivy.

Kali ini Mateo tidak mampu menjawab. Untuk pertama kalinya, rasa bersalah menusuk dadanya.

Namun Ivy sudah berdiri, Ia berjalan melewati Mateo tanpa menoleh.

"Mulai hari ini..."

Langkahnya berhenti.

"Aku tidak akan mencintaimu lagi."

Mateo menatap punggung wanita itu.

"Ivy."

Wanita itu tidak berhenti.

"Aku juga tidak akan membencimu."

Ia menarik napas panjang.

"Karena untuk membencimu, aku masih harus memiliki perasaan kepadamu."

Ivy berjalan pergi.

Dan malam itu menjadi akhir dari semuanya.

Cinta.

Pernikahan.

Harapan.

Dan keluarga yang selama ini mati-matian ia pertahankan.

Hari itu Ivy memutuskan untuk pergi.

Ia tidak membawa banyak hal, hanya mengambil beberapa pakaian, dan foto-foto Grizella.

Kemudian Ivy meninggalkan rumah yang selama ini menjadi saksi penderitaan dirinya juga putri kecilnya. Meninggalkan Mateo, meninggalkan orang-orang yang selalu membencinya dan meninggalkan kehidupan yang pernah ia anggap sebagai rumah. Ivy pergi tanpa tahu ke mana harus melangkah.

Namun satu hal telah diputuskan Ivy.

Ia tidak akan pernah kembali.

Bersambung

1
Putry Chan
aku mendukung kalian dan semoga kalian bahagia
Putry Chan
langka yang bagus untuk membagikan hubungan baik
Misa
Bagus
Mundri Astuti
aamiin ...aku dukung Edgar 🤭
Dinda Putri
semangat yo thor 🔥🔥🔥
Dinda Putri
lanjut up thor
Putry Chan
wah sepertinya lvy di terima baik
Putry Chan
bagus lah akhirnya MC kita nikah juga
Putry Chan
bagus lah semoga cepat ya ke hubungan yang lebih serius
Putry Chan
ya tapi hati mu tidak berubah
Putry Chan
untung lah ada Edgar yang mulai sekarang nemenin lvy
Putry Chan
dia teman masa kecil lvy dia juga baik lvy sepertinya dia orang yang tepat untuk mu
Putry Chan
apakah ada harapan untuk lvy membangun keluarga lagi ntah lah
Putry Chan
benar lvy seharusnya kau dari dulu melakukan hal ini
Putry Chan
hahahahaha ternyata mereka di kelabui oleh lvy 😄
Putry Chan
ya dia pergi meninggalkan kalian smua termaksud kmu
Putry Chan
mereka ini gak peka atau emg gak punya malu ya lvy itu udah gak mau ketemu sama kalian smua , biarkan dia pergi dan hidup bebas , klo kalian muncul lagi itu malah bikin dia sakit lagi
Putry Chan
lvy ada di Paris dan dia ingin menghilang bagus lvy
Putry Chan
mau menebus dosa klo gitu mati lah
Putry Chan
gak ada kata maaf
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!