NovelToon NovelToon
Sebelum Aku Pergi

Sebelum Aku Pergi

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Pernikahan Kilat
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Sanayaa Irany

Aku membencinya begitu aku tahu dia seorang janda! Tapi, seiring berjalannya waktu, dia mengubah kebencian itu jadi cinta yang luar biasa. Saat cinta hadir ditengah-tengah kami. Suami pertama nya yang kata nya hangus terbakar saat kecelakaan dulu, kembali dengan sehat walafiat. Yang paling membuat dada ku sakit, ternyata selama ini dia...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sanayaa Irany, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

5

Part 5

Gendis terbangun dari tidurnya yang tidak nyenyak. Badannya terasa remuk, seperti habis dipukuli bertubi-tubi. Padahal semalam ia hanya menghabiskan waktu di depan laptop lalu tidur.

Ia duduk di tepi kasur, mengucek mata. Lalu menggulung lengan piyama nya.

Bekas cengkeraman Arya kemarin terlihat jelas di lengannya. Bahkan pagi ini warnanya jadi biru kehitaman , dikelilingi warna merah kebiruan yang aneh.

Gendis menyentuhnya pelan.

"Sakit," batinnya. Tapi bukan luka itu yang membuatnya khawatir.

Ia menatap lengannya lebih lama. Biasanya, memar seperti ini akan memudar dalam sehari. Dan biasanya juga, tidak akan seperti ini parahnya, itu hanya cengkraman emosi biasa. Tapi tubuhnya akhir-akhir ini... berbeda. Penyembuhannya lambat. Jauh lebih lambat dari biasanya.

Belum lagi pusing yang sering menyerang setiap kali ia menatap laptop terlalu lama. Atau jantungnya yang tiba-tiba berdebar kencang tanpa sebab.

"Alex harus tahu," gumamnya.

Ia meraih ponsel di meja samping kasur. Menekan nomor yang sudah tidak asing lagi.

Tut... tut... tut...

"Halo, Kak?" suara Gendis lirih. "Aku mau ke sana ya."

Dua jam kemudian.

Sebuah mobil taksi berhenti di depan sebuah klinik swasta di kawasan elite. Bangunannya tidak terlalu besar, tapi terlihat eksklusif dengan kaca gelap dan taman kecil di depannya.

Gendis membayar sopir, lalu melangkah masuk. Resepsionis yang sudah mengenalnya langsung mengangguk ramah.

"Selamat pagi, Bu Gendis. Dokter Alex sudah menunggu."

Gendis tersenyum tipis. "Terima kasih."

Ia berjalan menyusuri koridor panjang dengan lantai marmer mengkilap. Ia penasaran dengan kondisi tubuhnya yang sedikit menurun akhir-akhir ini, Dadanya terasa ditekan batu jika menarik napas asal-asalan, apa karena dia terlalu berkabung dengan kematian Galang?

Begitu tiba di ruang praktik Dokter Alex.

Seorang pria berusia sekitar 36 tahun dengan jas putih dan rambut rapi menyambutnya. Wajahnya tampan, tapi ada kerutan khawatir di dahinya saat melihat Gendis masuk.

"Gendis," sapa Alex dengan nada hangat tapi penuh cemas. "Kamu kurusan."

Gendis duduk di kursi pasien, menghela napas. "Aku baik-baik saja, Kak."

"Kamu bilang baik-baik saja, tapi matamu bengkak. Kamu kurang tidur. Pasti karena Galang kan?"

Alex duduk di hadapannya, menatap Gendis dengan tatapan kakak yang khawatir pada adik sendiri.

"Kenapa? Kamu ada masalah?"

Gendis menggulung lengan gamisnya. Memperlihatkan memar biru kehitaman di lengannya.

"Lihat ini."

Alex menyentuh memar itu pelan. Matanya menyipit. "Ini bekas apa?"

"Cengkraman Semalam. Tapi yang membuatku khawatir... bukan cengkraman nya. Tapi warnanya."

Alex mengangguk. Ia sudah paham.

"Memar ini seharusnya tidak separah ini untuk cengkeraman biasa, kan?"

Gendis mengangguk. "Aku juga sering pusing akhir-akhir ini. Setiap kali menatap laptop terlalu lama, pandanganku terasa berputar. Jantungku juga sering berdebar kencang tanpa sebab. Padahal aku tidak sedang olahraga atau takut."

Alex menghela napas panjang. Ia membuka lemari, mengambil alat tensi dan stetoskop.

"Baju kamu naikkan sedikit. Aku periksa."

Gendis menurut. Alex memeriksa tensinya, mendengarkan detak jantungnya, lalu memeriksa memar di lengannya dengan saksama.

Beberapa menit berlalu dalam keheningan.

"Apa yang terjadi padaku, Kak?" tanya Gendis gelisah melihat ekspresi Alex yang berubah serius.

Alex melepas stetoskop dari telinganya. Ia menatap Gendis dengan mata yang sulit diartikan.

"Gendis... Aku sudah katakan dari dulu. Kamu harus rutin kontrol. Kamu tidak boleh stress. Aku tahu kematian Galang mendadak, tapi kita harus terima takdir."

"Aku tahu, Kak. Tapi akhir-akhir ini... banyak hal terjadi diluar kendaliku."

"Maksud mu? kamu sedang ada masalah?"

Gendis terdiam sejenak. Lalu ia menceritakan semuanya.

Tentang kematian Galang yang masih jadi tanda tanya. Lalu tentang pernikahan paksa antar diri nya dan Arya di kontrakan nya Siska. Juga tentang bagaimana perjanjian kontrak gila itu mengikatnya.

Alex mendengar tanpa memotong. Tapi semakin lama, rahangnya semakin mengeras.

"Jadi... pria itu memperlakukanmu seperti itu? Padahal kamu istrinya yang sah?"

"Kami menikah karena terpaksa, Kak. Bukan karena cinta."

"Cinta atau tidak, dia tetap suamimu. Dan dia tidak punya hak menyakiti fisikmu."

Gendis tersenyum pahit. "Aku tahu kak... Tapi saat ini aku tidak punya pilihan, aku ingin menepi sejenak dari riuhnya masalah Galang."

Alex menatap Gendis dengan desahan napas frustasi. Adiknya ini agak keras kepala.

"Kamu bilang laki-laki itu Arya Bratadikara?"

Gendis menghela napas. "Iya, Kak. Arya Bratadikara."

Alex membelalakkan matanya. Bibirnya bergetar, seperti baru mendengar sesuatu yang luar biasa.

"Gendis... bukannya dia itu—"

"Iya, Kak," potong Gendis cepat, suaranya terdengar lelah. "Dia pemilik BRTV. Bosku sendiri. Tapi lupakan soal itu. Aku sedang malas membahas orang sombong itu."

Ia menatap Alex dengan mata yang memohon.

"Katakan apa yang terjadi dengan tubuhku, Kak."

Alex terdiam beberapa saat. Matanya masih menatap Gendis dengan ekspresi campuran antara khawatir dan tidak percaya. Tapi ia mengalah.

Ia menghela napas panjang, lalu berbicara dengan nada dokter yang serius.

"Gendis, dari pemeriksaan tadi... tensimu rendah. Jauh di bawah normal. Detak jantungmu juga tidak stabil."

Gendis menelan saliva. "Itu... artinya?"

Bersambung...

1
Nar Sih
semoga gk berhasil niat jht mu gea🤣
Nar Sih
terkejutt kan kmu gea ,org yg kmu hina dgn sombong nya kmu ternyata dia lah yg berkuasa atas nasib mu
Nar Sih
wah...👍gendis kta,,mu buat arya
Nar Sih
nah lo arya kesindir ngk kmu dgn kta,,gendis
Nar Sih
sebaiknya kmu pergi aja gendis,dan bnr kta alex
Nar Sih
bnr yg dikatakan ibu mu arya kmu pasti nyeseell
Nar Sih
smoga sgra terungkap kasus kecelakaan alm suami mu ya gendis
Nar Sih
gendis sakit parah ,semoga sgra sembuh
Nar Sih
wah...kta,,gendis mantap bikin arya gk bisa ngomong
Nar Sih
kini kmu nyesell arya🤣
Nar Sih
seperti nya gendhis sedang sakit ya kak ,moga ngk parah
Nar Sih
semagat gendhis💪
Nar Sih
maaf kak bru bisa lanjut bca ,sibuk dunia nyata🙏
Nar Sih
lanjutt kak
Nar Sih
hadir kak ,udah lama menghilang kakak hadir lgi karya terbaru nya👍
Sanayaa Irany: hihihi iya kak, doain lancar lancar nulis yang ini ya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!