💗🤗 Assalamualaikum semua! Ayo mampir baca pelan-pelan aja ya! jika suka jangan lupa tinggalkan jejak kalian!👇🤗😍
Di balik wajah cantiknya, Alana menyimpan identitas mematikan: seorang hacker genius sekaligus penembak jitu bayaran yang tak pernah meleset. Namun, ia terpaksa menggantung senapannya demi satu tujuan baru yang tak pernah ia rencanakan—menjadi ibu pengganti bagi keponakannya yang mendadak yatim piatu.
Di sisi lain kota, Sang Bos Mafia penguasa dunia bawah tanah sedang murka. Pembantaian brutal baru saja menewaskan tangan kanan kepercayaannya, dan sepasang anak kembar sang tangan kanan menghilang tanpa jejak.
Dalam perburuannya mencari anak-anak itu dan menuntut balas, sang Mafia juga memburu seorang hacker misterius yang terus-menerus meretas sistem keamanan kartelnya.
Takdir mempertemukan mereka dalam kejar-kejaran yang mematikan. Sang Bos Mafia tidak tahu bahwa wanita cantik yang mati-matian melindungi sepasang anak kembar di dekapannya adalah penembak jitu yang
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
"Kunci seluruh perimeter! Protokol Hitam, sekarang!" Suara bariton Elvano menggelegar, meruntuhkan sisa-sisa udara di ruang server yang mendadak terasa mencekik.
Dalam hitungan detik, lampu neon di lorong Mansion Adhitama berkedip mati, digantikan oleh pendar merah darurat yang menyapu dinding. Terdengar derak kasar baja titanium yang turun otomatis memblokir seluruh akses keluar-masuk. Sirene berfrekuensi rendah mendengung di latar belakang—mansion itu kini telah berubah menjadi peti mati baja yang tak bisa ditembus, atau ditinggalkan.
Tidak ada jeritan histeris atau air mata yang jatuh dari pelupuk mata Alana. Kepanikan murni yang sempat membekukan darahnya hanya singgah seperseribu detik, sebelum insting bertahan hidupnya mengambil alih.
Rahangnya mengeras. Ia memutar kursi kembali menghadap monitor, jemarinya langsung menghantam tuts keyboard dengan kecepatan brutal.
"Jace! Laporan visual!" perintah Elvano. Pria itu mencabut Glock dari balik jasnya dan mengokangnya dalam satu gerakan mulus.
"Sistem CCTV lorong sayap barat—arah kamar si kembar—mengalami titik buta, Tuan!" lapor Jace dengan urat leher menegang. "Ada yang memanipulasi—"
"Bukan mati," sela Alana cepat, memotong laporan itu. Matanya memindai rentetan kode yang bergulir layaknya air terjun hijau di layar hitam.
"Diputar ulang. Seseorang me-looping rekaman lorong selama tiga menit terakhir untuk menipu mata penjaga."
Bastian mencondongkan tubuhnya ke layar, wajah jenakanya lenyap tak berbekas.
"Sindikat Bayangan berhasil membobol masuk?"
"Bukan," desis Alana. Ia menggertakkan giginya menahan gejolak di dada.
"Sindikat Bayangan biasa menggunakan algoritma Rusia. Tapi kode ini... ini menggunakan backdoor khusus yang aku ajarkan sendiri pada seseorang bulan lalu."
Elvano menoleh cepat, memangkas jaraknya dengan Alana. "Maksudmu?"
"Ini ulah Kael," jawab Alana, menghantamkan kepalan tangannya ke atas meja dengan frustrasi.
"Mereka tidak diculik, Elvano! Mereka keluar dari kamar atas kemauan sendiri, dan Kael meretas sistem keamananmu biar tidak ada alarm yang berbunyi!"
Mendengar itu, otot rahang Elvano berkedut keras. "Untuk apa dua anak usia enam tahun menyelinap keluar kamar di tengah malam dan meretas sistem pertahanan klan mafia?!"
"Karena mereka mendeteksi sesuatu yang terlewat dari jutaan perangkat canggihmu!"
sahut Alana tajam, tangannya tidak berhenti mengetik. "Kael sengaja meninggalkan breadcrumb (jejak digital) untukku. Dia tidak pernah bertindak tanpa kalkulasi. Sebentar... dapat!"
Sebuah peta tiga dimensi dari arsitektur Mansion Adhitama terpampang di layar utama. Sebuah titik merah berkedip cepat di area paling dasar bangunan.
"Ruang panel listrik dan generator utama di basemen," sebut Elvano dengan nada mematikan. Jantungnya memompa adrenalin dengan liar. Jika ruang itu dikuasai, EMP atau pemadaman paksa bisa melumpuhkan seluruh pertahanan otomatis rumah ini dalam sedetik.
"Ada tanda kehidupan di sana. Tiga suhu tubuh terpindai. Dua kecil, satu dewasa," lapor Bastian, wajahnya berubah pias.
"Ada penyusup di dalam, El."
"Tikus got," geram Elvano. Pria itu memutar tubuh, menatap Alana lekat.
"Kau tetap di sini bersama Bastian. Jace, bawa unit serbu ke bawah. Kita ratakan penyusup itu."
"Jangan konyol." Alana menyambar belati polimer dan Glock miliknya dari atas meja, menatap Elvano dengan nyalang.
"Mereka keponakanku. Aku ikut, dan kau tidak punya otoritas untuk melarangku."
Elvano menatap kilat perlawanan di mata wanita itu. Dalam situasi hidup dan mati, ego harus ditelan mentah-mentah. Tanpa berbantahan, Elvano meraih pergelangan tangan Alana, menarik wanita itu ke belakang punggung lebarnya—sebuah gestur perlindungan yang sangat mutlak.
"Tetap di belakangku," perintah Elvano rendah, suaranya tidak menerima bantahan.
Hawa dingin dan bau pelumas mesin menyengat penciuman saat mereka menuruni tangga beton menuju basemen. Di ujung lorong yang temaram, pintu baja ruang panel tampak sedikit terbuka.
Dari celah itu, terdengar makian panik seorang pria.
"Sialan! Kenapa sistem manualnya terkunci?! Di mana override-nya?!"
Elvano memberi isyarat tangan. Jace bersiaga di sisi kanan pintu. Elvano dan Alana di sisi kiri. Hitungan ketiga, Elvano menendang pintu baja itu hingga terpentok dinding dengan suara memekakkan telinga. Moncong senjata mereka langsung mengunci target di tengah ruangan.
Namun, pemandangan di dalam sana membuat langkah Elvano dan Alana terhenti seketika.
Seorang pria berseragam penjaga Adhitama, sedang berlutut panik di depan panel utama, berusaha memasang sebuah kotak jammer (pengacak sinyal).
Tetapi, bukan itu yang membuat napas mereka tertahan.
Di atas rak pipa besi setinggi dua meter, tepat di atas si pengkhianat, Kai berjongkok layaknya seekor gargoyle mematikan. Di tangannya, tiga pisau lipat kecil siap meluncur.
Sementara itu, di sudut ruangan yang gelap, Kael berdiri dengan wajah datar, menahan sebuah tablet yang terhubung ke kotak panel melalui kabel jumper rakitan.
"Aku sudah mengubah algoritma bypass generator ini lima menit lalu, paman," timpal Kael dengan nada yang terlampau tenang untuk anak seusianya sambil melangkah keluar dari tempat persembunyiannya. "Kamu tak akan bisa mematikannya, Paman."
Penjaga itu seketika memutarkan tubuhnya, matanya terbelalak ngeri, menatap bocah berkacamata itu seolah melihat jelmaan iblis.
Sadar bahwa misinya hancur total dan ia telah terkepung, pria itu mencabut pisau komando dari pinggangnya. Dengan raungan putus asa, ia menerjang ke arah Kael.
"Kael!" teriak Alana, langsung mengangkat senjatanya.
Namun, sebelum pelatuk ditarik, sebuah bayangan kecil telah lebih dulu melompat dari atas pipa. Kai menjatuhkan diri tepat ke pundak si penjaga. Kaki kecilnya mengunci leher pria itu, merusak keseimbangannya secara instan, sementara pisau kecil di tangan Kai menggores dalam bahu sang pengkhianat.
Pria itu berteriak kesakitan, tubuhnya oleng dan membanting diri ke belakang untuk meremukkan Kai.
DOR!
Sebuah tembakan tunggal memecah udara ruang bawah tanah.
Membuat sang pengkhianat meraung keras saat peluru kaliber besar menghancurkan tempurung lutut kirinya. Ia jatuh terkapar di lantai baja, menggeliat dalam genangan darahnya sendiri.
Di ambang pintu, Elvano berdiri tegak. Moncong Glock-nya masih mengepulkan asap tipis. Tatapan mata elangnya menyorotkan kematian, tidak ada tempat bagi pengkhianat.
Alana langsung menerobos masuk. Ia menarik Kai yang baru saja terguling, lalu merengkuh Kael ke dalam pelukannya. Tubuh wanita itu bergetar hebat karena campuran rasa takut dan sisa adrenalin yang meledak-ledak.
"Apa yang ada di kepala kalian?!" Suara Alana pecah, tangannya meraba panik setiap inci wajah dan lengan kedua keponakannya, memastikan tidak ada luka. "Kalian bisa terluka! Kenapa nggak panggil Bunda?!"
"Dia masuk lewat ventilasi saluran udara dapur waktu semua orang sibuk mengurus jebakan server di sayap timur, Bunda," jawab Kael tenang, membetulkan letak kacamatanya yang sedikit miring.
"Dia mau memutus daya biar gerbang terbuka otomatis. Kael harus menghentikannya, sebelum musuh mendobrak masuk Bunda!"
"Dan dia juga mengambil jatah permen cokelat Kai di meja dapur," tambah Kai dengan wajah datar tanpa dosa, menunjuk pria yang mengerang di lantai.
"Jadi dia harus dihentikan."
Jace menelan ludah kasar di ambang pintu, merinding melihat logika dua monster balita tersebut.
Elvano menurunkan senjatanya. Ia melangkah perlahan mendekati ketiganya. Matanya menatap Kael dan Kai dengan kekaguman yang membuncah. Darah Raka benar-benar mengalir terlalu pekat di nadi dua bocah ini—keberanian tanpa cacat dan insting membunuh yang lahir secara alamiah.
Bos mafia itu kemudian berlutut, menyejajarkan tingginya dengan mereka. Dengan gerakan yang sangat berhati-hati, tangan besar Elvano mengusap puncak kepala Kael dan Kai.
"Kalian menyelamatkan mansion ini, Jagoan," bisik Elvano, suaranya sarat akan kebanggaan.
Lalu mendongak, menatap wajah Alana yang pucat. Perlahan, ujung ibu jari Elvano terangkat, menyentuh pipi wanita itu dan menghapus noda debu serta sisa ketegangan di sana. Aroma mesiu yang menempel di jari pria itu berpadu dengan kehangatan kulitnya.
"Mereka aman, Alana. Kau membesarkan dua iblis kecil yang luar biasa hebat," bisik Elvano dalam dan serak, matanya mengunci tatapan Alana.
"Tapi lain kali... biarkan aku yang pasang badan lebih dulu untuk kalian."
Alana menelan ludah. Rentetan kata-kata dan sentuhan itu melumpuhkan pertahanan terakhirnya. Kali ini, ia tidak menepis tangan Elvano. Di tengah dinginnya ruang bawah tanah, diapit bau darah dan pekatnya asap mesiu, untuk pertama kalinya sejak kakaknya tiada... Alana merasa aman.
Bersambung....