Adam Lorenzo Maxnore, bos mafia paling kejam di Asia Tenggara, kehilangan calon istrinya tepat pada hari pernikahan mereka akibat kecelakaan tragis. Giana Bianca Conti, wanita yang berada di mobil penabrak, dituduh sebagai pelaku, padahal kakak angkatnya, Amerda, adalah orang yang sebenarnya mengemudi dan melarikan diri.
Terjebak dalam amarah Adam, Gia harus menanggung kebencian pria yang menganggapnya sebagai pembunuh calon istrinya. Sementara itu, Amerda justru mengambil kesempatan untuk menggantikan Gia menikah dengan Ricardo Dominic demi menyelamatkan kehormatan keluarga.
Mampukah Gia membuktikan dirinya tidak bersalah? Dan apa yang akan terjadi ketika Adam mengetahui bahwa wanita yang dibencinya ternyata hanyalah korban pengkhianatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11
Di kamar pribadi Veronika, Gia duduk bersandar pada kepala ranjang dengan pandangan kosong. Tubuhnya masih terbalut selimut tebal yang menutupi hingga ke bahu. Sejak kejadian sebelumnya, ia belum memiliki pakaian ganti yang layak. Beberapa kali ia meminta bantuan pelayan, tetapi tidak ada yang berani mengambil keputusan tanpa izin Adam.
Rambut panjangnya terurai berantakan. Wajahnya pucat, matanya sembap, dan bibirnya tampak kering. Ia bahkan tidak lagi memiliki keinginan untuk menangis. Tatapannya tertuju pada jendela besar di seberang ranjang. Cahaya matahari siang menerobos masuk melalui celah tirai, tetapi tidak sedikit pun menghangatkan hatinya. Pikirannya melayang kepada sang ibu, pada ayahnya dan pada calon suaminya. Serta pada Amerda yang telah mengkhianatinya.
Gia bahkan tidak tahu apakah keluarganya sedang mencarinya atau justru sudah mempercayai kebohongan bahwa ia melarikan diri bersama pria lain.
Tiba-tiba, suara pintu terbuka membuatnya menoleh.
Seorang pelayan masuk dengan membawa beberapa pakaian yang terlipat rapi di lengannya. Di belakangnya, seorang pelayan lain membawa nampan berisi makanan yang belum sempat disentuh Gia sejak pagi.
"Nona Gia," panggil pelayan itu dengan suara hati-hati.
Gia menatapnya sebentar, lalu kembali mengalihkan pandangan ke jendela.
"Ini pakaian untuk Nona. Tuan Adam memerintahkan kami mengantarkannya."
Gia tidak memberikan tanggapan. Pelayan itu meletakkan pakaian di atas kursi dekat lemari, kemudian melirik perempuan yang duduk diam di ranjang.
"Nona, apakah Anda ingin saya membantu?"
"Tidak perlu!" Suara Gia terdengar tegas. Pelayan itu terdiam, dia memperhatikan Gia yang masih membungkus tubuhnya dengan selimut, seolah-olah benda itu menjadi satu-satunya pelindung yang tersisa baginya.
"Nona sebaiknya berganti pakaian. Jika terus seperti ini, Anda bisa jatuh sakit."
Gia tersenyum tipis, tetapi tidak ada kebahagiaan dalam senyum itu.
"Sakit atau tidak, apa bedanya?"
Pelayan itu membeku. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Selama bekerja di kediaman Maxnore, ia sudah terbiasa melihat kemarahan Adam dan sikap dinginnya terhadap orang lain. Namun, melihat Gia yang bahkan tidak lagi berusaha membela dirinya sendiri terasa jauh lebih menyedihkan.
"Nona..."
"Bisakah Anda meninggalkan saya sendiri sebentar?" pinta Gia lirih.
Pelayan itu mengangguk. Sebelum keluar, ia meletakkan segelas air di meja samping ranjang.
"Kalau Nona membutuhkan sesuatu, panggil saja saya."
Gia tidak menjawab.
Pintu kembali tertutup, menyisakan kesunyian yang terasa semakin menyesakkan. Gia menunduk, memandangi jemarinya sendiri. Ia mencoba menggerakkan tangannya, tetapi tubuhnya masih terasa lemah, dengan susah payah, ia meraih segelas air dan meneguknya sedikit.
Setelah itu, ia meletakkan gelas kembali. Matanya tanpa sengaja tertuju pada pakaian yang terlipat di atas kursi. Pakaian itu mungkin sengaja disiapkan agar ia bisa keluar dari selimut dan kembali menjalani hari seperti biasa.
Namun, bagaimana mungkin ia bisa berpura-pura biasa saja ketika hidupnya telah berubah menjadi sesuatu yang bahkan tidak pernah berani ia bayangkan, dia telah kehilangan kebebasannya sejak hari dia masuk ke kediaman Maxnore.
Gia menarik napas panjang, kemudian menyandarkan kepala pada ranjang.
"Tuhan..." bisiknya dengan mata berkaca-kaca. "Kalau memang aku harus melewati semua ini, tolong beri aku kekuatan."
Air mata akhirnya jatuh juga. Bukan tangisan keras seperti sebelumnya, melainkan air mata yang mengalir perlahan tanpa suara. Gia mengusap pipinya dengan punggung tangan, tetapi air mata berikutnya kembali menyusul.
Beberapa saat kemudian, langkah kaki terdengar dari balik pintu. Kali ini, Gia tidak langsung menoleh. Pintu terbuka, disusul suara langkah sepatu yang begitu dikenalnya.
Adam Lorenzo Maxnore memasuki kamar dengan ekspresi dingin. Ia baru saja menyelesaikan pembicaraan dengan Marco di ruang kerja, tetapi pikirannya masih terusik oleh beberapa informasi yang disampaikan bawahannya itu. Tatapan Adam langsung tertuju kepada Gia.
Perempuan itu masih duduk di tempat yang sama, dengan selimut membungkus tubuhnya dan pandangan kosong mengarah ke lantai.
Adam mengerutkan kening, "Kenapa kau belum berganti pakaian?"
Gia perlahan mengangkat wajah. Ia menatap Adam selama beberapa detik, kemudian kembali menunduk.
"Aku tidak bisa."
Jawaban singkat itu membuat Adam terdiam sesaat.
"Kenapa? Apa yang salah?"
Gia tidak segera menjawab. Ia merapatkan selimutnya, seolah tidak ingin memperlihatkan betapa rapuh dirinya saat ini.
"Tubuh ku masih sakit, Tuan."
Adam memandangnya tanpa ekspresi.
"Jadi sekarang kau bahkan tidak bisa berganti pakaian sendiri?" Adam mengembuskan napas kasar.
"Kau sengaja membuat dirimu terlihat menyedihkan agar aku merasa bersalah?"
Gia mengangkat wajahnya sekali lagi. Kali ini, ia menatap Adam tepat di mata.
"Tuan tidak perlu merasa bersalah." Jawaban itu membuat Adam terdiam.
"Aku tidak pernah meminta Tuan mengasihani diriku," lanjut Gia pelan. "Aku juga tidak akan memaksa Tuan memercayai perkataan ku lagi."
Ia berhenti sebentar, menelan rasa sakit yang memenuhi tenggorokannya.
"Aku hanya ingin Tuan membiarkan ku beristirahat."
Adam menatap perempuan di hadapannya. Ada sesuatu yang berbeda dari Gia hari ini. Tidak ada lagi permohonan agar ia diizinkan pulang, tidak ada lagi sumpah bahwa dirinya tidak bersalah, bahkan tidak ada lagi kemarahan ketika Adam menuduhnya. Wajah pucat Gia tak ada lagi warna kehidupan di sana, yang ada hanya sisa kesakitan yang masih tertinggal di punggung Gia, oleh luka yang Adam berikan padanya.
Adam yang terbiasa menghadapi Gia yang menangis dan membantah. Setidaknya, saat itu perempuan tersebut masih berusaha melawan perlakuannya. Sekarang, Gia bahkan tampak tidak peduli apakah ia akan mempercayainya atau tidak. Adam mengalihkan pandangan, berusaha mengabaikan perasaan tidak nyaman yang muncul di dadanya.
"Kalau kau membutuhkan bantuan, panggil pelayan."
Gia mengangguk kecil, "Baik, Tuan."
Adam menatapnya sekali lagi sebelum berbalik menuju pintu.
"Aku tidak membunuhmu saja kau harusnya bersyukur," katanya tanpa menoleh lagi.
"Mati atau tidak, apa bedanya? Aku hanyalah orang yang menanggung kesalahan yang tak pernah ku buat," sahut Gia, dengan sisa harapan yang telah habis.
Namun, tepat ketika tangannya menyentuh gagang pintu, suara Gia kembali terdengar.
"Tuan Adam."
Ia berhenti tanpa menoleh, "Apa?"
Gia menatap punggungnya dengan mata yang kembali berkaca-kaca.
"Apakah aku boleh menelepon ibuku?"
Keheningan menyelimuti kamar. Adam tidak langsung menjawab.
"Untuk apa?" tanyanya dingin.
"Untuk mendengar suaranya saja." Gia menunduk. "Aku tidak akan meminta bantuan. Aku hanya ingin tau bagaimana keadaannya."
Adam memejamkan mata sesaat. Ia bisa saja menolak lagi. Satu kalimat darinya cukup untuk membuat Gia kembali terdiam di kamar tersebut. Namun, sebelum sempat menjawab, suara Marco terdengar dari luar pintu.
"Tuan Adam, maaf mengganggu. Ada informasi penting yang perlu saya sampaikan."
Adam menoleh ke arah pintu, "Masuk."
Pintu terbuka dan Marco muncul. Tatapannya sempat beralih kepada Gia sebelum kembali menghadap majikannya.
"Saya sudah mendapatkan perkembangan mengenai kecelakaan itu, Tuan."
Raut wajah Adam langsung berubah serius.
"Apa yang kau temukan?"
Marco terdiam sejenak, lalu menjawab dengan hati-hati.
"Ada sesuatu yang tidak sesuai dengan laporan awal. Saya rasa Tuan perlu mendengarnya langsung."
Adam menatap Marco tajam.
"Hubungi ibumu, aku memberimu waktu sepuluh menit," Adam melemparkan ponsel milik Gia di atas ranjang, ponsel yang selama ini di simpan olehnya yang diambil oleh bawahannya. Setelah mengatakan itu, Adam dan Marco meninggalkan kamar tersebut.
Gia, buru-buru meraih ponsel itu dan mencari nomor yang bisa di hubunginya. Namun, tak banyak nomor yang tertinggal hanya ada nomor ibunya dan ayahnya. Ketika Gia menghubungi ibunya, panggilannya tak terjawab, lalu Gia menghubungi ayahnya panggilan langsung terhubung.
"Ayah..." lirih Gia, saat mengetahui panggilannya terhubung, air matanya mengalir deras, dia menangis dalam diamnya.
[Masih berani kau menghubungi ku?! Kau membuat ayah dan ibumu malu! Kau tau, berapa kerugian yang ku hadapi gara-gara ulahmu! Gia, ayah benar-benar kecewa padamu. Lebih baik kau mati dan lenyap dari hidup ayah! Kalau Amerda tidak menikah dengan Ricardo, ayah harus menanggung malu seumur hidup karena ulahmu,]
"Ayah..." suaranya tertahan oleh rasa sakit di punggungnya tetapi ucapan ayahnya membuat dada Gia sesak.
[Berhenti memanggil aku ayah! Karena aku tak punya anak sepertimu, lebih baik kau mati!] bentakkan Tuan Sadam membuat jantung Gia berdebar, panggilan itu terputus begitu saja, dalam Isak tangis tanpa suara Gia menangis, akhirnya dia mengerti orang tuanya bukan tak mencarinya tetapi mereka telah membencinya atas kesalahan yang tak dirinya perbuat.
ap Dy punya rencana sendri???