Satu bulan menikah, IPTU Milka harus menelan kenyataan pahit. Kesetiaannya dibalas pengkhianatan keji oleh sang suami, Vando, yang diam-diam bermain gila dengan sahabatnya sendiri.
Hancur dan menangis di trotoar dengan seragam dinasnya, Milka tak tahu bahwa air matanya disaksikan oleh Theo, pria dari masa lalu yang kini menjadi Dokter Bedah genius sekaligus penguasa sindikat bawah tanah.
Pria yang dulu mundur demi kebahagiaan Milka, kini murka melihat wanita impiannya disia-siakan. Lewat jaringan gelapnya, Theo bergerak cepat menguliti kebusukan Vando dan Irana.
Bagi Theo, menyerahkan suami pengkhianat ke jalur hukum saja tidak cukup. Pria yang telah membuat Milka menangis ... harus merasakan kekejaman pisau bedahnya!
"Biar hukum bekerja lewat tanganmu, Milka. Tapi untuk pria yang menyakitimu ... izinkan aku yang membereskannya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31. Talak, Aku!
Ruangan itu kembali sunyi. Vando masih tidak mampu menemukan satu pun kata untuk membalas tembakan bertubi-tubi diluncurkan oleh Milka.
Milka mengamatinya beberapa detik. Kemudian, ia menarik napas panjang.
Ada sesuatu yang sudah berubah dalam dirinya. Ia tak lagi butuh penjelasan. Tak mengharapkan permintaan maaf dari Vando.
Milka hanya ingin mengakhiri semua.
"Kalau begitu ..." suara Milka terdengar tenang. Vando pun mengangkat wajah menatap ketenangan sang istri yang tak mampu ia pahami.
Milka menatap lurus ke netra pria itu. "Kenapa kita masih mempertahankan pernikahan ini?"
Kening Vando berkerut. "Apa maksudmu?"
Milka tersenyum tipis. "Katamu aku tidak pernah cukup baik untuk menjadi istrimu."
Ucapan itu membuat wajah Vando semakin bingung menggeleng dengan cepat.
"Dan sekarang kamu pun sudah memiliki perempuan yang kamu cinta. Tapi, wanita itu bukan aku, yang kamu ikrarkan janji suci beberapa minggu yang lalu."
Milka mengangkat bahu kecil. "Jadi apa masalahnya?"
Vando menatap Milka tak berkedip. Ia masih menunggu ujung ucapan istrinya ini.
Milka melangkah mendekat. "Kalau kamu memang sudah tidak menginginkanku ..."
Ia berhenti tepat beberapa langkah di hadapan Vando.
"... talak aku."
Wajah Vando seketika berubah. "Apa?"
Milka tak mengalihkan tatapannya sama sekali. Bola mata Vando bergetar.
"Talak aku!"
Kali ini Milka mengucapkannya dengan lebih jelas. "Kalau memang tak bisa bersama, lepaskan aku. Aku tak akan marah jika kamu memang lebih memilih sahabatku."
Vando membuka mulut. Namun tak ada suara yang keluar.
Milka justru semakin yakin melihat reaksinya. "Kenapa diam?"
Beberapa waktu Milka menunggu, tetapi Vando tak mampu berkata-kata.
"Atau ..." Milka memiringkan kepala.
"... karena kamu sebenarnya tidak seberani itu?"
"Milka!" bentak Vando yang akhirnya meledak.
Milka sama sekali tidak bergeming. "Kenapa kamu marah? Padahal aku hanya meminta sesuatu yang kamu inginkan."
"Aku tidak pernah bilang ingin menceraikanmu!" sanggah Vando.
Milka terkekeh kecil. "Lucu. Padahal, beberapa menit lalu kamu datang ke rumah ini berteriak dan menuduhku berselingkuh."
"Padahal kamu sendiri yang tidur dengan perempuan lain."
"Kamu menghina aku."
"Kamu membandingkan aku dengan Irana."
"Dan di saat aku menawarkan jalan keluar ..."
Milka menunjuk pintu rumah mereka. "... kamu malah menolak?"
Vando mengepalkan kedua tangannya. "Karena aku tahu apa yang kamu inginkan setelah ini!"
Milka mengernyit. "Apa?"
Tatapan Vando berubah tajam. "Kamu mau bersama selingkuhanmu itu kan? Jadi kamu merasa di atas awan, mendapat pria yang lebih hebat dari aku?"
Satu nama itu membuat Milka terdiam sesaat. Vando menangkap perubahan kecil tersebut. "Kamu pikir aku bodoh?"
Milka menatapnya tanpa ekspresi. "Jangan bawa-bawa nama Kak Theo!"
"Kenapa?" Suara Vando semakin meninggi. "Kamu tak bisa mengelak lagi?"
Milka mengembuskan napas panjang. "Mas ... Jangan membawa orang luar yang tak ada hubungan dengan kita!"
"Foto itu sudah cukup membuktikan semuanya!" tantang Vando, mulai merasa di atas angin.
"Foto?" Milka kembali teringat pada foto yang disodorkan Vando tadi.
Vando langsung meraih ponselnya kembali. Ia membuka foto tadi dan mengangkat layar itu tepat di depan wajah Milka.
"Ini!"
Milka melirik sekilas dan terdiam. Bukan karena merasa tertangkap. Melainkan karena baru sadar betapa konyolnya pria ini.
"Oh, jadi gara-gara ini?" gumam Milka, tertawa sinis.
"Jangan berpura-pura lagi!" bentak Vando lagi.
“Aku bertemu Kak Theo karena masalah kamu!”
Nada suara Milka akhirnya berubah.
“Aku bertemu dengannya karena kamu terlibat dalam dugaan pencucian uang perusahaan.”
Milka menunjuk dada Vando.
“Dan aku yang diutus untuk menyelidiki suamiku sendiri.”
Wajah Vando pun seketika menegang. "Ke-ke ...."
*bersambung*
dulu bapaknya Theo nyusahin Bapaknya Milka, sekarang Milka nyusahin Theo, tapi gpp, Theo suka direpotin Milka 🤣🤣🤣