Nabila tidak pernah menyangka jika putri yang selama enam tahun ia besarkan dengan kemewahan ternyata adalah anak palsu. Darah dagingnya yang asli, Luna Wegan, diam-diam ditukar saat lahir oleh keluarga suaminya sendiri dan terpaksa hidup menderita sebagai pengemis jalanan. Takdir akhirnya mempertemukan Nabila dengan seorang gadis kecil penuh luka memar di depan mall, di mana sebuah tahi lalat di balik telinga membongkar pengkhianatan keji masa lalu. Bersama suaminya, sang CEO kejam Leon Wegan, Nabila kini siap menghancurkan siapa pun yang telah berani menyiksa putri kandung mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Suasana kediaman utama Wegan malam ini benar-benar berbeda dari biasanya.
Ratusan lampu kristal dinyalakan terang benderang menerangi seluruh area rumah dan taman yang luas.
Puluhan mobil mewah dari berbagai merek terkenal terparkir rapi di halaman depan rumah yang menyerupai istana tersebut.
"Pelayan! Bawa nampan minuman itu ke arah meja keluarga besar di sudut sana!" perintah kepala pelayan memberi instruksi.
"Siap laksanakan, Pak," jawab pelayan wanita langsung bergegas membawa nampan berisi sampanye mahal.
Malam ini adalah malam yang sangat penting bagi keluarga konglomerat ini.
Leon Wegan mengadakan pesta makan malam super mewah yang mengundang seluruh kerabat keluarga besar Wegan.
Bukan hanya keluarga, puluhan rekan bisnis papan atas ibu kota juga hadir memenuhi undangan mendadak ini.
"Kudengar Tuan Leon ingin mengumumkan sesuatu yang sangat penting malam ini," bisik seorang pria berjas rapi pada rekannya.
"Iya, dan anehnya Tante Rosalina yang biasanya paling cerewet malah tidak kelihatan batang hidungnya," balas rekan kerjanya berbisik kembali.
Di lantai atas, jauh dari keramaian pesta, Luna sedang duduk manis di depan meja riasnya.
Beberapa penata rias profesional sedang menata rambut panjangnya dengan sangat hati-hati.
Nabila berdiri di belakang Luna sambil tersenyum melihat pantulan putrinya di cermin.
"Mama, kenapa rambut Luna ditusuk-tusuk pakai jepitan keras begini? Rasanya agak sakit," keluh Luna menyentuh kepalanya.
"Ini namanya jepit rambut sayang, biar rambutmu rapi dan mahkota kecil ini tidak jatuh," jelas Nabila lembut sambil membetulkan letak tiara berlian di kepala Luna.
Malam ini Luna memakai gaun berwarna putih mutiara yang sangat megar dan dipenuhi dengan taburan kristal asli.
Sepatu kacanya juga berkilauan saat terkena pantulan cahaya lampu kamar.
"Tapi Luna tidak suka pakai baju yang berat begini Mama, Luna susah kalau mau lari," protes Luna mengerucutkan bibirnya.
Nabila tertawa pelan dan memeluk bahu putrinya dari belakang.
"Hanya untuk malam ini saja ya sayang. Malam ini kamu harus tampil sangat cantik seperti putri sungguhan," bujuk ibunya dengan sabar.
"Memangnya ada apa di bawah Mama? Kenapa banyak sekali orang berisik dari tadi siang?" tanya Luna polos.
"Mereka semua adalah tamu Papa. Malam ini Papa mau mengenalkanmu pada seluruh keluarga besar kita," jawab Nabila tersenyum.
Mendengar kata banyak orang dan tamu, wajah Luna mendadak berubah menjadi cemas.
Gadis kecil itu menundukkan kepalanya dan memainkan jari-jarinya dengan gelisah.
"Luna takut Mama... kalau ada banyak orang kaya, nanti mereka pasti memukul dan mengusir Luna lagi," cicit Luna mengingat trauma masa lalunya di jalanan.
Nabila merasa hatinya kembali tertusuk mendengar ketakutan yang sangat mendalam dari putrinya itu.
"Tidak ada satu orang pun yang berani menyentuhmu di rumah ini, Nak," ucap Nabila berjongkok dan menatap mata Luna.
"Papa dan Mama akan selalu memegang tanganmu. Kalau ada yang berani melirikmu dengan jahat, Papa pasti akan langsung menghajarnya," tambah Nabila tersenyum meyakinkan.
Klek.
Pintu kamar terbuka dan Leon masuk dengan mengenakan setelan jas tuksedo berwarna hitam pekat.
Aura dominasi dari pria itu terasa sangat kuat hingga membuat para penata rias langsung menunduk hormat.
"Tuan putri Papa sudah siap turun ke bawah?" sapa Leon dengan suara berat yang menenangkan.
"Papa!" seru Luna turun dari kursi dan berlari memeluk kaki Leon, mengabaikan gaunnya yang berat.
Leon langsung mengangkat tubuh putrinya dan mencium pipinya dengan gemas.
"Aduh, anak Papa cantik sekali malam ini. Bidadari dari mana ini turun ke rumah Papa?" canda Leon membuat Luna terkikik geli.
"Bidadari dari perut Mama!" jawab Luna dengan sangat polos meniru ucapan ibunya kemarin.
Leon tertawa lepas mendengar jawaban lucu itu dan menatap Nabila yang juga sedang tersenyum.
"Ayo kita turun sekarang, sayang. Semua tamu sudah tidak sabar melihat pewaris Wegan yang sesungguhnya," ucap Leon menawarkan lengan kanannya pada Nabila.
Nabila mengangguk dan mengapit lengan suaminya dengan anggun.
Keluarga kecil yang sangat sempurna itu berjalan keluar dari kamar menuju tangga utama.
Di ruang perjamuan lantai satu, ratusan tamu undangan sedang sibuk mengobrol dan menikmati hidangan mahal.
Ting ting ting.
Suara dentingan sendok pada gelas sampanye terdengar menggema ke seluruh penjuru ruangan.
Leon memukul gelasnya pelan untuk meminta perhatian dari seluruh tamunya yang hadir.
Suasana ruang perjamuan langsung berubah menjadi sangat hening dalam hitungan detik.
Semua pasang mata langsung tertuju ke arah tangga utama tempat Leon, Nabila, dan Luna berdiri berdampingan.
Beberapa kerabat keluarga Wegan mulai berbisik-bisik saat melihat anak kecil yang digendong oleh Leon.
"Itu siapa? Di mana Bianca?" bisik sepupu perempuan Leon dengan dahi berkerut.
"Entahlah, tapi anak yang digendong itu wajahnya sangat mirip dengan Leon waktu kecil," balas pamannya dengan wajah curiga.
Leon melangkah turun dari tangga dengan sangat tenang dan berwibawa, diikuti istrinya di sampingnya.
Setelah sampai di panggung kecil yang sudah disiapkan, Leon mengambil mikrofon dari Asisten Budi.
"Selamat malam semua kerabat dan rekan bisnis yang hadir malam ini," sapa Leon dengan suara baritonnya yang tegas.
"Terima kasih sudah memenuhi undangan mendadak ini," lanjutnya menyapu pandangannya ke seluruh ruangan.
"Aku mengadakan pesta ini untuk mengumumkan sebuah fakta penting tentang masa depan Wegan Group," ucap Leon membuat semua tamu menahan napas penasaran.
Leon menatap mata Luna yang sedang berpegangan erat pada ujung jasnya karena ketakutan melihat keramaian.
"Selama enam tahun ini, kalian semua mengenal seorang anak bernama Bianca sebagai putriku," kata Leon menyebut nama anak palsu itu.
"Malam ini aku mengumumkan secara resmi bahwa anak bernama Bianca itu bukanlah anak kandungku," tegas Leon membuat seluruh tamu terkesiap kaget.
Suara gumaman kaget langsung terdengar mendengung di seluruh penjuru ruang perjamuan mewah tersebut.
"Apa maksudnya bukan anak kandung? Lalu anak siapa dia?" bisik tamu-tamu dengan wajah kebingungan.
Leon mengangkat tangannya sedikit, dan ruangan kembali hening seketika.
"Bianca adalah anak dari seorang penipu yang ditukar saat istriku melahirkan enam tahun lalu di rumah sakit," jelas Leon membongkar konspirasi itu di depan umum.
Mendengar fakta penukaran bayi itu, beberapa anggota keluarga Wegan langsung menutup mulut mereka saking syoknya.
"Dan malam ini," Leon menarik pelan bahu Luna agar gadis kecil itu maju satu langkah ke depan.
"Aku ingin memperkenalkan putri kandungku yang asli, pewaris tunggal dari seluruh kekayaan Wegan Group," ucap Leon menepuk bahu putrinya dengan bangga.
"Namanya adalah Luna Wegan."
Semua mata langsung menatap ke arah gadis kecil bergaun putih mutiara tersebut.
baru mulai baca
Cerita nya bagus banget