NovelToon NovelToon
Aku Pergi Setelah Kau Mendua

Aku Pergi Setelah Kau Mendua

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:432.4k
Nilai: 5
Nama Author: kikoaiko

Naya selalu diabaikan Aslan, suaminya. Hingga suatu hari Aslan pergi dinas dan tak pulang selama tiga bulan.

Naya yang khawatir memutuskan untuk menyusulnya, Namun dia justru mendapati Aslan telah menikah siri dengan wanita lain secara diam-diam.

Tanpa marah dan tanpa meminta penjelasan, Naya memilih pergi dari kehidupan suaminya.
Namun, ketika Naya benar-benar menghilang, Aslan justru mulai menyadari bahwa kehilangan istrinya adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2

Pagi itu matahari belum sepenuhnya naik. Cahaya keemasan yang tipis baru saja merembes masuk lewat sela-sela gorden ruang makan, menyentuh lantai kayu yang dingin. Seperti biasa, Naya sudah bangun sejak pukul lima pagi.

Ia bergerak pelan di dapur yang masih sunyi. Suara air mengalir dari keran, bunyi pisau yang memotong bawang, lalu desisan minyak panas di wajan. Aroma telur dadar dan sup bening perlahan memenuhi ruangan. 

Naya tidak memakai celemek. Rambutnya masih berantakan, digulung asal dengan jepit, dan kaos oblong tipis yang dikenakannya sedikit longgar di bahu. Tidak ada pembantu di rumah itu. Aslan tidak pernah mengizinkan, dengan alasan sederhana yang selalu sama, “Tidak perlu. Kau saja yang kerjakan.”

Akhirnya Naya mengerjakan semuanya. Mencuci, memasak, menyetrika, membersihkan lantai, bahkan memperbaiki keran yang bocor sekalipun. Ia sudah terbiasa. Atau setidaknya, ia memaksa dirinya untuk terbiasa.

Di atas meja makan, ia menata dua piring. Nasi putih yang masih mengepul, telur dadar yang kuning keemasan, tumis kacang panjang, dan semangkuk kecil sup ayam. Ia menambahkan irisan cabai merah di pinggir piring Aslan, karena ia tahu suaminya suka. Lalu ia menuang air hangat ke dalam gelas kaca, meletakkannya tepat di sisi kanan tempat duduk Aslan.

Baru saja ia menutup tutup panci, bunyi langkah kaki terdengar dari tangga.

Tap

Tap

Tap

Naya menoleh. Aslan turun dengan langkah yang terburu-buru. Di tangannya ada koper hitam yang lumayan besar, roda-rodanya berbunyi pelan saat menyentuh lantai. Jasnya sudah rapi, dasi terpasang, dan wajahnya masih sama datarnya seperti malam sebelumnya.

Naya segera keluar dari dapur, mengelap tangannya di kain yang terselip di pinggang. “Mas Aslan… kamu mau ke mana? Kenapa membawa koper?” tanyanya, suara masih serak karena baru bangun.

Aslan tidak berhenti berjalan. Ia hanya meletakkan koper di dekat pintu utama, lalu mengambil jaket yang tergantung di gantungan. “Saya ada perjalanan dinas ke luar kota,” jawabnya singkat, tanpa menoleh.

Naya mengerutkan kening. “Perjalanan dinas? Bukannya kemarin Mas baru pulang, ya?" Suaranya terdengar heran, hampir tidak percaya. 

Biasanya perjalanan dinas Aslan hanya sebulan sekali, paling lama dua minggu. Tapi belakangan ini frekuensinya meningkat tajam. Hampir setiap dua minggu sekali, kadang lebih sering.

Aslan akhirnya menoleh. Tatapannya tajam, dingin, dan penuh tekanan. “Kau mencurigaiku?” tanyanya dengan nada yang pelan tapi menusuk.

Naya membeku sejenak. Bibirnya terbuka, lalu tertutup lagi. Jantungnya berdetak lebih cepat. “B-bukan begitu, Mas” katanya, suara bergetar. “Aku hanya…aku belum mandi. Aku tidak bisa mengantarmu ke bandara.” Ia menunduk, jari-jarinya saling meremas di depan perut. Bibirnya bergetar tipis, menahan sesuatu yang ingin keluar tapi tidak berani.

Aslan menghela napas pendek, seolah kesal. “Tidak perlu,” ucapnya tegas. Ia sudah memasang sepatu, tali sepatu ditarik kencang tanpa banyak bicara.

Naya melangkah mendekat, hampir tersandung kakinya sendiri. “Tapi setidaknya… Mas sarapan dulu. Aku sudah masak. Nasi dan telur dadar masih hangat. Supnya juga—”

Aslan berhenti di ambang pintu. Ia menoleh sekali lagi, kali ini dengan ekspresi yang lebih datar, hampir menjengkelkan. “Aku tidak pernah menyuruhmu masak. Jadi makan saja sendiri.” ucapnya pelan.

Kalimat itu jatuh di antara mereka seperti batu.

Naya berdiri diam. Tangannya yang tadi terjulur sedikit untuk menawarkan makanan kini turun perlahan. Ia menatap punggung Aslan yang sudah membuka pintu. Udara pagi yang dingin masuk ke dalam rumah, membawa aroma tanah basah dari luar.

Aslan menarik koper itu keluar tanpa menoleh lagi. Bunyi roda koper di teras terdengar beberapa detik, lalu diikuti suara mobil yang dinyalakan. Tidak ada pesan apapun, atau sekedar pelukan singkat, bahkan tatapan terakhir. Hanya pintu yang tertutup, dan keheningan yang langsung memenuhi rumah.

Naya masih berdiri di tempat yang sama. Matanya menatap pintu yang baru saja dilalui suaminya. Di belakangnya, di atas meja makan, dua piring masih tertata rapi. Asap tipis masih mengepul dari nasi. Telur dadar yang digorengnya dengan hati-hati kini mulai mengempis perlahan.

Ia berjalan pelan menuju meja. Duduk di kursi yang biasanya ditempati Aslan. Tangannya meraih sendok, tapi tidak langsung menyentuh makanan. Ia hanya menatap piring itu lama sekali.

Ucapan Aslan bergema di kepalanya. Berkali-kali. Seolah sedang mengingatkannya pada sesuatu yang sudah lama ia coba abaikan, bahwa kehadirannya di rumah ini, semua usahanya, semua masakan yang ia buat pagi-pagi buta, semua kebersihan yang ia jaga, semua kesabaran yang ia kumpulkan, tidak pernah benar-benar diminta. Dan yang lebih menyakitkan, tidak pernah benar-benar dibutuhkan.

Naya menghela napas panjang. Ia mengambil sepotong kecil telur dadar, memasukkannya ke mulut, lalu mengunyah pelan. Rasanya hambar. Bukan karena bumbunya kurang, tapi karena meja makan itu terlalu besar untuk satu orang.

Di luar, mobil Aslan sudah jauh. Sementara di dalam rumah yang sepi, Naya duduk sendirian di depan sarapan yang ia buat dengan tangan yang masih sedikit gemetar. Ia tidak menangis.

Tapi ia bertanya dalam hati, dengan suara yang sangat pelan, hampir tidak terdengar bahkan oleh dirinya sendiri.

"Sampai kapan aku harus terus memasak untuk seseorang yang tidak pernah meminta, dan tidak pernah tinggal cukup lama untuk memakannya?"

*****

Naya menelan suapan terakhir dengan susah payah. Rasanya bukan hanya hambar, tapi juga pahit di tenggorokan. Ia membersihkan meja, mencuci piring, mengelap kompor yang masih sedikit berminyak. Setiap gerakan terasa berat, seolah tubuhnya sedang menahan beban yang tidak terlihat.

Setelah dapur kembali rapi, ia naik ke kamar.

Ceklek.....

 Pintu kamar utama terbuka. Bau parfum Aslan masih tersisa di udara, bercampur dengan aroma deterjen dari jas yang digantung rapi di balik pintu. Naya berdiri di ambang pintu cukup lama. Matanya menyapu ranjang yang sudah dirapikan sejak tadi malam, lemari yang setengah terbuka, dan meja rias. Jam tangan milik suaminya itu tidak ada.

Naya berjalan mendekat. Di atas meja, hanya tersisa sebuah amplop kecil berwarna krem yang belum sempat ia lihat pagi tadi. Ia meraihnya pelan. Tidak ada nama pengirim. Hanya tulisan Naya di bagian depan dengan tinta hitam yang tegas.

Ponselnya bergetar di saku celana. Sebuah notifikasi masuk dari bank. Transfer rutin bulanan baru saja masuk ke rekeningnya. Jumlahnya sama seperti biasa. Cukup untuk belanja, listrik, dan kebutuhan rumah. Tidak lebih.

Naya menatap layar itu lama, lalu mengunci ponsel. Uang itu terasa seperti gaji untuk seorang pembantu yang tidak pernah diperbolehkan libur.

Ia berbaring di sisi ranjang yang biasanya kosong. Bau Aslan masih menempel di bantal. Naya memejamkan mata, tapi air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya menetes pelan, membasahi kain sarung bantal.

Di luar jendela, matahari semakin tinggi. Suara kendaraan di jalan raya terdengar samar. Rumah itu tetap sunyi. Dan untuk pertama kalinya, Naya tidak langsung bangun untuk membereskan sesuatu. Ia hanya terbaring diam, membiarkan pagi itu berlalu tanpa satu pun usaha untuk terlihat baik-baik saja.

1
Rini Maryani
lanjut thoor semangat
Cicih Sophiana
semoga bahagia Naya lupakan masa lalu mu bersama si Aslan... sosong masa depan mu bersama Erlan..
Cicih Sophiana
masih kurang tuh penderitaan Aslan dan si Liza seharus nya anak nya tdk selamat... kan kasian sama anak nya krn dia jd anak haram...
Cicih Sophiana
hak kamu apa Liza? nikah pun nikah siri yg gak punya hak... anak nya pun gak ada hak krn tdk terdaftar di negara... kamu mau nuntut siapa ? gak akan bisa biar kepengadilan pun
Cicih Sophiana
semoga yg jahat mendapat balasan yg setimpal... yg baik kedepan nya bahagia
Cicih Sophiana
yah awasin aja terus....
Cicih Sophiana
nih Aslan Liza..🤛🤛
Sholawat Nariyah
AUTHOR GUOBLOK membiarkan tokohu utamanya tdk tegas, dan tenggelam dlm kebodohan yg berlarut 👎
Cicih Sophiana
knp selamat... dulu Naya di larang punya anak... seharus nya keguguran dong si pelakor nya jgn di kasih bahagia mereka
Cicih Sophiana
terus lah begitu semakin hancur, rumah tdk terbayar, si Liza keguguran 😂 si Aslan bangkrut
Cicih Sophiana
sukur lah akhir nya rumah itu terjual... wah si Liza klo tau langsung stres dan langsung keguguran
Cicih Sophiana
untuk si Aslan cobalah sadar diri... itu emang sdh hak nya Naya... dia bukan merehut tp menganmbi hak nya Aslan..
Cicih Sophiana
hancur kan mereka... mereka yg serakah dan mereka yg zolim sama istri sah tapi mereka sll menyalah kan Naya...
Cicih Sophiana
perempuan yg aneh dia yg merebut kok di tuduhkan Naya yg merebut 😂😂😂😂😂
pake so kuasa pula... Naya bertahun tahun pernikahan nya yg hanya di jadikan pembantu gratisan... dia yg tinggal enak nya doang menikmati... nikah pun hanya nikah siri sekarang so kuasa
Cicih Sophiana
eh pelakor kamu tuh cuma nikah sirih jd gak ada tuh undang undang nya mendapat kan harta gono gini... anak kamu pun gak akan bisa mendapat kan apa apa... sekarang gigit jari aja yah sampe putus 😂😂😂
Cicih Sophiana
wah ternyata aset nya si Aslan banyak... pantesan dia ngamuk gak rela Naya ngambil...
Cicih Sophiana
ayo bahagialah kalian... karena kalian pantas untuk mendapat kan nya...
Cicih Sophiana
susah Nay cari mertua yg langsung baik seperti mama Erlan... mulai sekarang jgn menyia nyiakan nya...
Cicih Sophiana
wah ini sih langsung di terima jadi menantu kesayangan mama...😊😍😍
Cicih Sophiana
aneh banget si pelakor... ya wajar lah Naya dapat 50 % wong yg mendampingi si Arlan selama ini kan Naya... klo kamu siapa? kamu cuma pelakor yg di pungut setelah si Arlan...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!