Aria Utama, seorang arsitek bertangan dingin, mendadak terjebak dalam pusaran konflik dua pria paling dominan di kota. Di satu sisi ada Adrian Mahardika, CEO dingin dari Mahardika Group yang menawarkan perlindungan, kestabilan, dan cinta yang tenang. Di sisi lain ada Dante Vance, pemimpin sindikat kejahatan paling tak tersentuh yang siap menghancurkan dunia demi mendapatkan Aria. Saat rahasia masa lalu terkuak, Aria harus memilih antara kepastian yang aman atau gairah yang mematikan di tengah pertumpahan darah dan perebutan kekuasaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aletaia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Rahasia Masa Lalu
Cahaya fajar menyusup samar melalui dinding kaca raksasa di kamar utama mansion Dante Vance. Aria terbangun dari tidur gelisahnya, mendapati pintu kamar kayu tebal yang tadinya terkunci kini telah sedikit terbuka.
Aria melangkah pelan keluar kamar, menyusuri koridor megah berpenerangan temaram. Keheningan mansion terpecahkan oleh suara dentang halus yang berasal dari sebuah ruangan perpustakaan berinterior kayu mahogany di ujung lorong.
Aria mendorong pintu ruangan tersebut secara perlahan.
Di sana, Dante berdiri membelakangi pintu di depan perapian yang menyala redup. Pria itu mengenakan kemeja putih longgar dengan kancing atas terbuka, memegang segelas whisky. Di atas meja kaca di sebelahnya, tergelar dokumen-dokumen tua bernoda kekuningan dan arsip koran usang bertanggal puluhan tahun lalu.
Dante tidak berbalik, tetapi ia tahu siapa yang masuk. "Kau tidak bisa tidur, Aria?" suara baritonnya terdengar tenang, tanpa nada ancaman yang biasa ia perlihatkan.
Aria melangkah mendekat, matanya tertuju pada arsip-arsip tua di atas meja. "Apa semua ini, Dante?"
Dante terkekeh dingin, menyerahkan salah satu lembaran arsip koran utama yang sudah membatu kepada Aria. Headline koran tahun 1998 itu terpampang jelas: KEBANGKRUTAN VANCE ENTERPRISE DAN TRAGEDI KECELAKAAN MAUT DEREKTUR UTAMA.
"Setiap orang mengenalku sebagai Raja Mafia yang kejam, Aria," bisik Dante, matanya yang abu-abu menatap kobaran api perapian dengan kilatan emosi yang amat mendalam. "Tapi tidak ada yang ingat bahwa sepuluh tahun lalu, namaku adalah Dante Vance—pewaris sah dari perusahaan manufaktur terbesar di kota ini."
Aria membaca lembar demi lembar laporan medis dan kronologi peristiwa tersebut. Tangannya mulai gemetar saat nama ayah Adrian—Mahardika Senior—tertulis jelas sebagai pihak yang mengakuisisi seluruh aset Vance Enterprise hanya dalam waktu tiga hari setelah kecelakaan maut itu terjadi.
"Ayah Adrian bukan sekadar merebut bisnis keluargaku, Aria," lanjut Dante, suara beratnya bergetar oleh amarah yang tertahan puluhan tahun. "Dia memanipulasi saham, memotong jalur pasokan logistik kami, dan ketika ayahku menolak menyerahkan saham utamanya... mobil ayahku disabotase di jalan tol."
Aria menahan napas, teringat akan dokumen rahasia di lemari besi milik Adrian yang pernah ia baca. Potongan-potongan teka-teki itu kini menyatu secara sempurna.
"Dan Adrian..." Dante berbalik, menatap lurus ke dalam manik mata Aria dengan tatapan tajam yang menembus jiwa. "Adrian Mahardika bukan anak polos yang tidak tahu apa-apa. Saat tragedi itu terjadi, Adrian yang berusia dua belas tahun berada di dalam ruangan ketika ayahnya menandatangani surat penyitaan rumah milik keluargaku. Dia tumbuh dengan menyerap seluruh kelicikan ayahnya."
"Tidak... Adrian melindungiku, Dante," bisik Aria, berusaha mempertahankan sisa-sisa kepercayaannya pada sang CEO, meski keraguan mendalam kini menggerogoti dadanya.
Dante melangkah mendekat, mengikis jarak di antara mereka hingga Aria bisa merasakan kehangatan napas pria itu. Dante meraih tangan kiri Aria, mengusap bekas memar di pergelangan tangannya dengan kelembutan yang tak terduga.
"Dia melindungimu karena kau adalah trophy bagi moralitasnya yang cacat, Aria," desis Dante rapat di depan wajah Aria. "Dia ingin membuktikan pada dunianya bahwa dia adalah pahlawan berjas putih... sementara tangannya berdiri di atas fondasi tanah berdarah milik keluargaku."
Aria terdiam mematung. Tatapan mata abu-abu Dante yang dipenuhi kepedihan masa lalu dan kejujuran yang menelanjangi membuat dada Aria terasa sesak. Untuk pertama kalinya, Aria tidak lagi melihat Dante sebagai penjahat yang mengerikan, melainkan sebagai seorang pria yang terluka dan menuntut keadilan dengan caranya sendiri.
Tiba-tiba, suara sirene dan dentuman keras bergema dari gerbang luar mansion!
BAM!
Guncangan hebat terasa hingga ke dalam perpustakaan. Suara tembakan otomatis dan teriakan anak buah Black Viper bersahutan memecah ketenangan pagi.
Marco, tangan kanan Dante, mendobrak masuk ke dalam perpustakaan dengan senjata mengokang dan wajah bersimbah peluh.
"Tuan Dante! Pasukan khusus Mahardika Group mendobrak gerbang depan!" teriak Marco panik. "Adrian Mahardika memimpin sendiri penyerbuan ini... dia membawa pasukan bersenjata berat!"
Dante tidak terkejut. Sudut bibirnya justru terangkat membentuk senyuman miring yang dingin dan penuh kehausan akan pertumpahan darah. Pria itu meraih senjatanya dari balik pinggang, lalu menoleh menatap Aria yang berdiri pucat pasrah.
"Pahlawan berjas putihmu sudah datang untuk menjemputmu, Aria," bisik Dante seraya mengelus pipi wanita itu untuk terakhir kalinya. "Mari kita lihat... sejauh mana dia berani menumpahkan darah demi merebutmu kembali."