Melisa Monaco memalsukan tahun lahirnya demi mendaftar pekerjaan dengan gaji lebih tinggi, tapi tidak sepenuhnya membaca kontrak. Ternyata isi kontrak adalah persetujuan pernikahan. Ia terpaksa tetap menjalaninya sebab jika mundur sepihak maka harus membayar denda yang jumlahnya sangat besar.
Sejak pernikahan digelar, hidupnya berubah tiga ratus enam puluh derajat. Ia yang muak direndahkan, nekat berusaha merebut hati Dharma Panjalu dan membuktikan pada seluruh keluarga bahwa ia bukan perempuan yang layak direndahkan.
Dalam perjalanan membuktikan diri, ia mengalami banyak kejadian buruk. Tanpa disangka kejadian buruk yang dialaminya justru membantu keluarga itu menguak penyebab kematian istri Dharma.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosella Nona, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelajaran Pertama
Di dalam ruangan Dharma, ia meminta Melisa duduk di tempatnya dan memilah berkas mana yang paling mudah untuk Melisa pelajari hari ini.
“Wah, kursinya empuk sekali, Pak Dharma. Pantas bos-bos itu betah duduk lama-lama di kantornya ya,” oceh Melisa sambil menikmati kursi empuk dan meraba-raba kagum pada permukaan meja yang tampak berkilau itu.
Dharma menyentil dahi Melisa. “Fokus!” perintahnya.
Lalu ia menyodorkan tiga berkas yang cukup tebal kepada Melisa utuk dibaca-baca dan dipelajari.
“Baca ini. Ukur sendiri kemampuanmu, kalau bisa bilang bisa. Kalau tidak bisa aku akan mengajarimu hari ini dan kita tidak akan pulang sebelum kamu berhasil membuat satu contoh laporan yang sama.”
Hah? Melisa pikir ia diselamatkan dari ruangan tadi. Rupanya Dharma memilih untuk tetap membantainya di ruangan tersembunyi ini secara khusus.
“Apa boleh minta bantuan AI dan semacamnya?” tanya Melisa polos.
“Itu nanti. Setelah kamu bisa jelaskan isi salah satu berkas itu padaku dengan benar, kamu bisa membuat satu berkas lain dengan bantuan ide dari AI. Hanya idenya saja, selebihnya harus hasil kerjamu sendiri.”
Ruangan itu mendadak jadi terasa panas dan sempit. Melisa seperti kesusahan bernapas. Namun, ia tetap menurut.
Halaman satu saja sudah banyak yang tidak ia mengerti. Ia tetap membacanya sampai beberapa halaman berikutnya sambil mengangguk-angguk pura-pura paham. Ia melirik Dharma sebentar, ternyata pria itu masih melihat ke arahnya dengan wajah sok tegas itu.
“Ngapain sih melotot ke sini terus, ih?” gumam Melisa dalam hati.
Ia coba meneruskan membaca.
“Kamu itu sungguhan membaca atau apa? Kenapa cepat sekali membolak-balik halamannya. Itu isinya data yang harus dibaca dengan teliti. Bukan komik yang sekali duduk bisa langsung tamat.”
“Iya iya. Aku tidak paham sama sekali. Aku bukan anak kuliahan yang setiap hari bawa-bawa laptop mengerjakan tugas tahu.”
“Kamu tidak kuliah sebelumnya?”
“Tidak. Aku Cuma lulusan SMA. Kan, aku miskin, Pak Dharma. Mana mungkin kuliah.” Melisa menyerah. Ia mendorong tumpukan berkas itu menjauh sampai ke tepian meja.
Dharma terlihat keheranan mendengar fakta itu. Menyedihkan sekali melihat Melisa.
Tiba-tiba ponsel Dharma berdering.
“Halo, Pak Dharma. Kami belum berhasil menemukan orang itu di sekitar desanya, jadi kami memutuskan untuk memperluas pencarian.”
Dharma menyimak sambil berpikir. Lalu satu hal terlintas dala benaknya.
“Cari di sekita tempat tinggal kita, kantor yang kebakaran kemarin, atau sekolah Dayu.”
“Baik, Pak.”
Telepon ditutup. Dharma menatap lurus ke arah jendela.
“Ada apa? Kalian mencari siapa?”
“Aku mengajakmu ke sini agar tetap dekat denganku dan pakdemu tidak bisa membawamu pergi bergitu saja seperti kemarin malam.”
Melisa meremas jari-jarinya, lalu menyilangkan lengan ke dada untuk memeluk dirinya sendiri. Ia panik dan takut mengingat malam itu.
“Jadi, pakde tidak ditemukan di desanya ya?”
Dharma mengiyakan.
“Berarti sejak muncul di kota ini, dia tidak pernah kembali pulang.” Tatapan Melisa menerawang jauh ke segala kemungkinan-kemungkinan yang terlintas dalam benaknya. Ia jadi semakin merasa takut. Kalau sudah nekat, orang itu akan melakukan apapun.
“Sudah, ayo kita lanjutkan belajarnya.”
Melisa memanyunkan bibirnya. Ia malas karena belum bisa.
“Pertama, kita coba lakukan ini dulu.” Dharma menyodorkan laptopnya di meja Melisa. Menunjukkan sesuatu dan membimbing Melisa agar mengikuti langkah-langkah yang ia tunjukkan.
Mereka larut dalam suasana serius itu sampai tidak menyadari jarum jam sudah cukup lama berputar. Melisa antusias karena ia belum pernah mendapatkan kesempatan belajar yang seperti ini.
...
“Hah, melelahkan sekali ya.” Akhirnya mereka sampai di rumah.
Mendengar keluhan Melisa itu Dharma hanya tersenyum tipis. Wajah Melisa yang terus merengek dan sampai hampir menangis saat menyerah soal pelajaran sepanjang hari tadi masih terbayang jelas dalam ingatannya, kasihan sekali.
Ia menuju dapur lalu menghidupkan kompor. Melisa yang keheranan, menoleh ke sana ke mari mencari keberadaan para pembantu yang biasanya berlalu lalang di seluruh bagian rumah.
Rumah tampak sepi.
“Apa hanya ada kita di rumah ini?” tanya Melisa penasaran.
Dharma menuang sedikit minyak lalu memasukkan bahan masakan ke dalam wajan. Ia tidak menjawab pertanyaan Melisa.
“Aku membuat telur dadar. Kamu mau juga atau pesan makanan dari luar saja?”
“Aku mau. Tapi ke mana semua orang? Jangan bilang Pak Dharma memecat mereka semua?” Melisa tetap kukuh dengan pertanyaannya.
“Tidak. Sementara, aku hanya menyimpan mereka di suatu tempat. Sudahlah, tidak perlu dibahas.”
Melisa mengangguk saja tanpa curiga. Melihat Dharma yang sepertinya sudah akrab dengan peralatan dapur, Melisa mendekat. Memperhatikan pria itu memasak.
“Hai, aku pulang.” Itu suara Dayu. Begitu muncul dari balik pintu dia segera bergabung dengan Dharma dan Melisa di dapur.
“Lagi masak-masakan apa nih? Dari pintu luar udah kecium loh.” Ia mendekatkan hidungnya ke piring berisi telur dadar yang baru Dharma angkat.
“Masak beneran ini, Yu. Bukan masak-masakan.”
“Abisnya papa tuh udah lama banget ga pernah ke dapur loh, Mbak. Apalagi masak begini.” Dayu mengambil sendok dan garpu lalu menyantap makanan di piring pertama.
“Enak banget yang baru datang udah makan duluan.” Dharma melirik Dayu sebentar lalu kembali sibuk dengan apinya.
Melisa baru melihat Dharma yang seperti ini, ia kira laki-laki itu hanya bisa memberi perintah ini itu pada para pembantu dan penjaga di rumahnya saja.
“Iya nih, Pa. Pulang sekolah kelaperan ga ada yang ngajakin ngedate, pada takut soalnya bawa-bawa bodyguard segala padahal cuma sekolah dan di sana udah banyak tuh satpam yang keliling-keliling,” sindir Dayu pada Dharma yang tetap mengirimkan orang untuk memantau Dayu di sekolahnya meskipun sudah ditolak mentah-mentah.
Dharma membawa dua piring yang sudah selesai ia plating. Satu untuk Melisa, satu untuknya sendiri.
Menunya hanya telur dadar dengan taburan bubuk rumput laut, ayam teriyaki saus pedas manis, dan nasi hangat. Namun, tampilannya seperti bukan di masak oleh orang yang beru belajar memegang alat dapur.
“Kamu bisa masak, Pak Dharma?” Melisa terkagum begitu mencicipi masakan yang dihidangkan di depannya. Menurutnya, rasanya sempurna. Ia sendiri jelas belum tentu bisa meracik rempah-rempah di sekitar dapur itu menjadi perpaduan rasa yang seperti ini, rasa yang tidak gagal memanjakan lidahnya.
Baru menyuap beberapa sendok, ponsel Dharma berdering. Pria itu terburu-buru menghabiskan makanannya, lalu berpamitan pergi sebentar.
Dayu dan Melisa saling bertatapan lalu sama-sama mengangkat bahu. Mereka sudah terbiasa dengan Dharma yang tiba-tiba pergi setelah menerima telepon.