NovelToon NovelToon
Suami Rahasia Pilihan Kakek

Suami Rahasia Pilihan Kakek

Status: tamat
Genre:Romantis / Perjodohan / Pengantin Pengganti / Pernikahan Kilat / Pengantin Pengganti Konglomerat / Identitas Tersembunyi / Tamat
Popularitas:630.4k
Nilai: 4.5
Nama Author: Sri Wahyuni

"""Kalau kakak tidak mau, aku saja yang nikah!""

Safira nekad menawarkan diri sebagai pengganti kakaknya untuk menikahi Arga. Bukan karena cinta, tapi demi bebas dari neraka berkedok rumah.

Seumur hidup, Safira diperlakukan seperti budak oleh keluarganya sehingga ketika Arga datang dengan mobil tua dan pakaian sederhana untuk melamar kakaknya yang matre, Safira tahu ini kesempatannya. Tidak peduli bila keluarganya dan orang-orang menghinanya menikahi pria miskin, yang penting ia bebas!

Tapi, adakah yang bisa menjelaskan mengapa tiba-tiba suaminya dipanggil bos dan mertuanya trending di sosial media?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 14

Bab 14 - Cucu Menantu Di Story Nenek

Arga pulang hampir tengah malam.

Safira masih duduk di ruang tamu. Lampu utama sudah dimatikan, hanya lampu sudut yang menyala. Di meja ada nasi, ayam kecap, tumis buncis, dan dua piring kosong.

Arga berhenti di ambang pintu.

Jasnya sudah dilepas, tergantung di lengan. Kemejanya masih rapi, tetapi wajahnya lelah.

"Kamu belum tidur?"

Safira menatapnya. "Kamu bilang kita bicara."

Arga menutup pintu pelan.

Ia tahu malam ini akan tiba. Ia hanya tidak menyangka secepat ini.

"Maaf."

"Untuk rapat atau untuk yang lain?"

Arga meletakkan jas di sandaran kursi. "Dua-duanya."

Safira berdiri. "Makan dulu. Setelah itu bicara."

"Safa..."

"Aku tidak mau bicara saat kamu lapar. Nanti kamu punya alasan untuk menghindar."

Arga tidak tahu harus tersenyum atau takut.

Ia mencuci tangan, lalu duduk di meja makan. Safira memanaskan lauk tanpa banyak bicara. Mereka makan dalam sunyi. Bukan sunyi nyaman seperti malam-malam sebelumnya. Sunyi ini punya mata, menunggu.

Setelah makan, Safira membawa piring ke dapur. Arga ikut berdiri, tetapi ia berkata, "Duduk."

Arga duduk.

Ia, Arga Kusuma, lelaki yang biasanya membuat puluhan manajer menunggu perintah, duduk karena istrinya berkata duduk.

Kalau Bima melihat, ia pasti tidak akan berhenti tertawa seminggu.

Safira kembali membawa dua gelas air.

"Sekarang," katanya. "Kantor proyek apa yang rapatnya ditunggu orang Singapura dan direksi?"

Arga menatap gelasnya.

"Saya memang bekerja di perusahaan keluarga."

"Itu aku tahu."

"Posisi saya tidak serendah yang kamu kira."

Safira tertawa pelan, tanpa humor. "Definisikan tidak serendah."

Arga membuka mulut.

Ponselnya berdering.

Nama `Nenek` muncul.

Safira melihat layar itu.

"Angkat."

"Nanti saja."

"Angkat, Mas Arga."

Arga menghela napas dan menerima panggilan video.

Wajah seorang perempuan tua muncul di layar. Berhijab rapi, berkacamata, matanya tajam tetapi hangat.

"Arga! Kamu ini susah sekali ditelepon. Nenek mau lihat cucu menantu Nenek."

Safira membeku.

Arga menutup mata sesaat. "Nek, ini sudah malam."

"Justru malam, kamu pasti sudah pulang. Mana Safira?"

Safira tidak bisa bersembunyi karena ia duduk tepat di depan Arga.

Arga akhirnya memutar layar sedikit.

"Assalamualaikum, Nek," kata Safira canggung.

Wajah Nenek langsung cerah. "Waalaikumsalam, ya Allah, cantiknya. Arga, kamu kenapa sembunyikan dia dari Nenek?"

Safira melirik Arga.

Sembunyikan?

"Nenek," Arga memperingatkan.

"Apa? Nenek cuma bilang benar. Safira, panggil Nenek saja, ya. Jangan sungkan. Arga ini memang kaku. Kalau dia bikin kamu kesal, telepon Nenek."

Safira tanpa sadar tersenyum. "Iya, Nek."

"Kamu sudah makan? Arga bisa masak? Jangan mau kalau dia cuma menyuruh kamu melayani. Di keluarga Kusuma, laki-laki harus bisa mengurus rumah."

Safira menatap Arga lagi.

Keluarga Kusuma.

Nenek melanjutkan, "Besok Nenek kirim sesuatu. Jangan ditolak. Ini dari nenek untuk cucu menantu."

"Tidak usah repot, Nek."

"Repot itu kalau Arga tidak kasih Nenek cicit. Kirim hadiah bukan repot."

Safira tersedak air.

Arga langsung mematikan kamera sebentar, memberikan tisu.

Nenek tertawa di layar. "Malu ya? Bagus. Masih lucu."

"Nenek, sudah malam," kata Arga.

"Iya, iya. Tapi besok Nenek upload story boleh? Nenek sudah punya foto akad kalian dari Bima."

"Tidak."

"Boleh."

"Nenek."

"Nenek tanya Safira saja. Boleh, Nak?"

Safira tidak tahu harus berkata apa. Ia melihat Arga yang tampak benar-benar kewalahan untuk pertama kalinya.

Lucu juga.

"Kalau fotonya sopan, boleh, Nek."

"Nah! Istrimu saja bilang boleh. Arga, kamu kalah."

Arga memijat pelipis.

Panggilan berakhir setelah Nenek mendoakan mereka panjang lebar.

Begitu layar gelap, suasana ruang makan berubah lagi. Hangat dari Nenek tidak cukup untuk menghapus pertanyaan Safira.

"Nenekmu menyenangkan," kata Safira.

"Dia memang begitu."

"Dia bilang keluarga Kusuma."

"Itu nama keluarga saya."

"Kusuma yang mana, Mas?"

Arga diam.

Safira menatapnya. "Kusuma Group?"

Arga menarik napas. "Iya."

"Kamu kerja di sana?"

"Iya."

"Sebagai apa?"

Arga menatapnya.

Ia bisa mengatakan terlalu banyak. Ia juga bisa mengatakan terlalu sedikit. Dua-duanya sama-sama berbahaya.

Sebelum ia menjawab, ponsel Safira bergetar.

Notifikasi Instagram.

Nenek benar-benar mengunggah story.

Foto akad mereka muncul di layar. Safira dalam kebaya putih, Arga duduk di depannya, tangan mereka bersentuhan saat cincin dipasang. Caption-nya:

`Alhamdulillah, cucu menantu Nenek. Semoga sakinah, mawaddah, warahmah.`

Tidak ada tag nama Arga lengkap. Tidak ada keterangan jabatan. Tapi akun Nenek punya banyak pengikut dari kalangan sosialita dan keluarga bisnis.

Dalam hitungan menit, pesan masuk mulai berdatangan ke ponsel Arga.

Lalu ponsel Safira.

Pesan dari Ratna:

`Kamu kenal Bu Suryani Kusuma? Kenapa dia upload fotomu?`

Pesan dari Rania:

`Safa, apa maksudnya ini?`

Safira menatap Arga.

"Mas Arga."

"Saya bisa jelaskan."

"Kamu cucu Bu Suryani Kusuma?"

"Iya."

"Bu Suryani yang punya yayasan besar itu?"

Arga sedikit heran. "Kamu tahu?"

"Aku bukan hidup di gua. Nama itu beberapa kali muncul di majalah dan acara sosial Bandung-Jakarta."

Arga tidak bisa membantah.

Safira berdiri. "Jadi selama ini keluargamu tidak sesederhana yang kamu tunjukkan."

"Saya memang menangani proyek."

"Tapi bukan pekerja lapangan biasa."

"Tidak sepenuhnya."

"Apa maksudnya tidak sepenuhnya?"

"Saya membantu beberapa urusan keluarga yang lebih besar dari yang saya ceritakan."

"Itu jawaban atau kabut?"

"Safa."

"Aku pernah bertanya."

"Saya tahu."

"Kamu memilih tidak menjawab."

"Saya salah."

"Kenapa?"

Arga berdiri, tetapi tidak mendekat.

"Awalnya saya datang ke rumahmu untuk membuat keluargamu menolak. Saya tidak ingin menikah karena janji Kakek. Saya sengaja tampil sederhana."

Safira mengangguk pelan. "Dan setelah aku yang menerima?"

Arga terdiam.

"Kamu tetap diam."

"Saya takut kamu melihat semuanya berubah."

"Atau kamu takut permainanmu selesai?"

Wajah Arga menegang. "Ini bukan permainan."

"Buatku terlihat seperti itu."

Safira mengambil ponselnya. Pesan dari Ratna dan Rania terus masuk.

"Malam ini aku capek."

"Safa."

"Aku tidak pergi. Ini rumahku juga, kan?" Suaranya sedikit bergetar di akhir. "Tapi aku perlu tidur."

Ia masuk kamar dan menutup pintu.

Tidak dikunci.

Justru itu membuat Arga lebih sakit.

Karena Safira masih percaya ia tidak akan masuk sembarangan.

Tapi kecurigaan yang selama ini ia tunda akhirnya berdiri jelas di antara mereka.

Arga belum kehilangan semuanya malam itu.

Namun ia tahu, kalau ia terus menunda kejujuran, suatu hari Safira tidak hanya akan menutup pintu.

Ia akan mengunci hatinya.

Di dalam kamar, Safira duduk di tepi ranjang dan membuka story Nenek Suryani sekali lagi. Foto akad itu sebenarnya indah. Ia terlihat menunduk malu, Arga terlihat tenang, dan di belakang mereka Kakek Hadi tersenyum samar.

Masalahnya bukan foto itu.

Masalahnya adalah komentar yang terus masuk.

`Arga sudah menikah?`

`Cucu Bu Suryani yang mana?`

`Kok tidak ada kabar dari keluarga besar?`

Beberapa akun memakai nama yang Safira kenal dari berita bisnis. Beberapa lainnya adalah sosialita Jakarta yang sering muncul di acara amal. Mereka semua bicara seolah Arga bagian dari dunia yang pintunya tidak pernah terbuka untuknya.

Safira mematikan ponsel.

Ia tidak takut miskin.

Ia takut dibodohi.

Ia takut suatu hari bangun dan menyadari semua orang tahu tempatnya kecuali dirinya sendiri.

Di luar kamar, langkah Arga terdengar berhenti di depan pintu. Tidak mengetuk. Tidak memanggil. Hanya berhenti, lalu menjauh lagi.

Safira menarik selimut sampai dada.

Itu yang membuatnya makin sulit marah.

Arga menghormati batasnya bahkan ketika ia sendiri yang membuat batas itu diperlukan.

Dan justru karena itu, Safira ingin sekali percaya bahwa rahasia suaminya tidak akan menghancurkan dirinya.

Ia berbaring, tetapi matanya tetap terbuka.

Di meja rias, cincin `A & S` memantulkan cahaya lampu tidur. Safira mengangkat tangannya, melihat cincin yang ia pilih sendiri. Sederhana, nyaman, tidak mencolok.

Arga bisa saja membelikannya cincin mahal tanpa bertanya.

Tapi ia tidak melakukannya.

Pikiran itu membuat Safira makin bingung.

Orang yang ingin mempermainkan biasanya tidak repot-repot menghormati pilihan kecil.

Namun orang yang menghormati pilihan kecil pun tetap bisa menyimpan rahasia besar.

Safira memejamkan mata.

Besok, ia harus memutuskan bagian mana dari Arga yang akan ia percaya sambil menunggu bagian lain dijelaskan.

1
Maria Tri Rahayu
kemungkinan maya bukan anan dimas dong
Maria Tri Rahayu
berarti safira anaknya ratih
Mimin Rosmini
mulai sekarang jadilah dirimu sendiri ya safa
Mimin Rosmini
arga berasal dari keluarga baik.tidak seperti keluarga safira yg toxic
Maria Tri Rahayu
sebaiknya Arga jujur soal dirinya pada safira
Mimin Rosmini
safira sayang ..berdoa dan berusaha itu tugas seorang muslim.. hasilnya Allah yg menentukan..sabar ya safa sayang
Mimin Rosmini
ini keluarga toxic banget ya
Mimin Rosmini
sebetulnya .safira anak kandung atau siapa?ko bisa diperlakukan seperti ke anak tiri?
Mimin Rosmini
yah ..belum apa apa sudah menilai orang hanya tampilan luarnya saja
Maria Tri Rahayu
menikah 3 bulan blm ketemu keluarga suaminya
Maria Tri Rahayu
suami istri apa- apa harus bayar patungan, safira sikapnya kaku pada suaminya.
Rosdianah Rosi
kok tiba2 hamil 😄pegang tangan sj TDK 💪
Rosdianah Rosi
kembali ke Bambang outhor🙏
Komang Indrayani
kok jadi kakak ya? bukannya rayhan pamannya? kakak ibunya. rafi adik ibunya?
Tismar Khadijah
nama ayahnya kok jd nama mantan🤭
Tismar Khadijah
tinggal dikontrakan apa apart y🤭
Tismar Khadijah
autohor kurang konsisten, bentar safa berhijab eh besoknya rambut diiket🤭
Shaa Erahh
kenapa bapa nya dimas jadinya.kan dimas tu mantan safira calon rania sekarang..bapa nya bambang sentoso...
Adinda Rahmadinah
keren
wahida nurusshobah
/Shy/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!