NovelToon NovelToon
Ola, Tuan Mafia!

Ola, Tuan Mafia!

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Action / Romansa Fantasi
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: Four

Pengantin Pengganti Untuk Mafia.

Laura dijebak saat dia berniat bekerja sebagai seorang Nanny di sebuah mansion besar McManaman, Irlandia. Ia justru dijadikan pengantin untuk menggantikan putri berharga sekaligus pewaris McManaman dan menikahkan Laura dengan seorang Killian Marcano demi keuntungan sekaligus menjadi jembatan perdamaian antara dua keluarga mafia Irlandia dan New York.

Tekanan, ancaman, darah dan nyawa menjadi taruhan bagi Laura sehingga dia terjebak dalam lingkaran Sindycat. Dan berniat meracuni Killian Marcano di malam pertama mereka.

°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°
Mohon Dukungannya ✧⁠◝⁠(⁠⁰⁠▿⁠⁰⁠)⁠◜⁠✧

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

OTM — BAB 25

MASA LALU

Melly berdiri menunduk, suaranya pelan namun jelas.

"Tuan Vincenzo berada di ruangan pribadinya, Nyonya. Ruangan yang tidak boleh dimasuki oleh siapa pun selain beliau sendiri."

Alis Sandra langsung bertaut rapat. "Ruangan paling dalam yang pintunya selalu terkunci rapat itu?"

"Benar, Nyonya."

Rasa ingin tahu mengalahkan segala keraguan di hatinya.

Sandra bergegas menyusuri lorong panjang yang sepi, menuju sayap bangunan yang jarang dikunjungi siapa pun. Sesampainya di depan pintu kayu besar yang tertutup rapat, langkahnya terhenti. Tangannya terangkat hendak mengetuk, namun akhirnya terhenti di udara — ia tahu, tak ada yang berani masuk tanpa izin, dan ia pun tak sanggup mengetuk.

Namun dari sisi jendela yang tertutup tirai tebal, terselip celah kecil. Sandra mendekat perlahan, menahan napas, dan mengintip dari balik tepian kain itu.

Di sana, berdiri sosok Vincenzo membelakangi pintu, menatap lurus ke arah dinding di hadapannya. Di sana tergantung sebuah lukisan besar berbingkai ukiran kayu tua yang megah — potret seorang wanita muda berwajah lembut namun berwibawa, rambut hitamnya terurai jatuh ke bahu, matanya menatap lurus seakan menembus masa lalu yang telah lama berlalu.

Sandra menatapnya lekat, dahinya semakin berkerut. Ia tak pernah melihat wanita itu sebelumnya. Siapakah dia? Mengapa lukisan itu disimpan di ruangan yang tertutup rapat? Dan mengapa Vincenzo menatapnya sedemikian rupa — seakan sedang berbicara dengan seseorang yang telah lama tiada?

-‘Siapa wanita itu? Aku tidak pernah tahu.’ batin Sandra.

Ia bergegas pergi dari sana. Sementara pria tua di dalam ruangan itu masih menatap lekat tanpa menyentuh bingkai lukisan itu.

"Aku tidak membalas mu, Jolie. Aku hanya membuat putramu berada di pihak ku, tapi ternyata dia hampir seperti mu. Berterima kasihlah karena aku mengambilnya dari pria bajingan itu.” kata Vincenzo lirih dan datar.

Di dalam ruangan, Vincenzo menegakkan punggungnya seketika. “Aku bisa menghabisinya kapan saja.”

Sandra yang sudah menjauh dari ruangan itu, kini dia mengernyit heran mengingat akan lukisan seorang wanita tadi. Sambil berdiri resah di ruang tengah, dia menyeringai kecil. “Sepertinya dia menyembunyikan sesuatu.” ucapnya pelan.

***

Sementara di sebuah pulau terpencil yang dikelilingi hutan lebat, bangunan tua itu berdiri sunyi dan suram.

Seorang gadis duduk dipojok ranjang sambil gemetar ketakutan menatap sekelilingnya dengan mental yang benar-benar kacau. Tentu, sudah berapa kali Lily mendapat suntikan cairan dari arah bajingan itu yang hampir membuat nya menjadi orang gila.

Saat suara pintu besi di buka, Lily langsung siap siaga ketakutan.

“Si-siapa?”

Lily tersentak, menarik diri perlahan ke sudut ranjang, menatap dengan mata membelalak. Seorang pria berdiri di sana, bertubuh tegap, mengenakan kemeja hitam rapi, rambutnya cokelat tertata rapi senada dengan matanya yang tajam namun tenang. Ia bukan dokter, bukan pula orang yang selama ini berjaga di koridor itu.

Lily gemetar, menekan punggungnya ke dinding. "Ja-jangan, aku mohon jangan suntik lagi, aku mohon.... jangan."

Pria itu melangkah maju perlahan, langkahnya tenang namun mantap.

"Tidak ada suntikan. Kau akan keluar dari sini.” kata Nico.

Mendengar itu Lily menatap tak percaya dan menggeleng ketakutan hingga rambutnya berantakan dan sekujur tubuhnya berkeringat. Tak sesekali dia menggigit jari-jarinya seperti orang ketakutan dan trauma.

“Ak-aku aku tidak mau. Aku tidak mau.”

“Nyonya Laura menunggumu.”

“Kakak.... Kakakku? Di-dia menunggu ku? Dia masih hidup?”

Pria itu mendekat mengulurkan tangannya dan menatap tegas. “Dia masih hidup.”

Lily menelan ludah, rasa takut bercampur harapan yang rapuh. Ia memeluk lututnya erat. "Mereka... mereka menyuntikku sesuatu... kepalaku seperti pecah... aku seperti orang gila..."

Nico berhenti di tepi ranjang, menatap gadis itu dengan tatapan yang melembut sedikit. "Aku tahu. Dan sekarang semuanya berakhir. Kau aman."

Ia mengulurkan tangannya sekali lagi. "Kita pergi dari sini."

Lily menatap tangan itu lama sekali, lalu menatap mata pria itu. Di sana tak ada kebohongan, hanya keteguhan yang menenangkan. Perlahan, dengan tangan yang masih gemetar, ia meraihnya. Nico menggenggam tangan kecil itu erat namun lembut, membantunya berdiri.

Salah satu anak buahnya segera maju, menyelimuti tubuh kurus Lily dengan selimut tebal. Nico sendiri yang membantu melilitkannya hingga menutupi bahu dan tubuh gadis itu.

Mereka melangkah keluar menuju lorong, dan seketika itu juga langkah Lily terhenti kaku. Matanya membelalak lebar, napasnya tertahan di kerongkongan.

Lantai di depannya basah, merah pekat — darah mengalir perlahan, membentuk genangan di antara tubuh-tubuh yang tergeletak tak bergerak. Para dokter yang selama ini menyuntiknya, serta beberapa anak buah McManaman, terbaring di sana, tak bernyawa lagi.

Lily gemetar hebat, mencoba menarik tangannya mundur. "Me-mereka semua..."

Nico menahan pelan genggamannya, tak membiarkan gadis itu lepas. Wajahnya tetap tenang namun tegas.

"Mereka orang-orang yang menyakitimu. Jangan takut."

Ia menoleh ke arah anak buahnya. "Bersihkan tempat ini. Pastikan tidak ada jejak yang tertinggal. Kita segera kembali ke kediaman."

"Kami mengerti.”

Lily menatap wajah pria itu — tegas, tak tergoyahkan, namun genggamannya tetap hangat di tangannya. Ia kembali menatap mayat-mayat itu, lalu menunduk, meremas selimut di dadanya. Ia tidak tahu harus merasa bagaimana, namun satu hal yang ia yakini — ia akan segera bertemu dengan kakaknya.

Sementara itu, di kamar di kediaman Marcano, Laura duduk sendirian di tepi ranjang.

Ia menarik perlahan perban di pahanya, membuka luka yang telah dijahit rapi namun masih terlihat merah dan membengkak. Luka itu panjang dan dalam, menyisakan rasa perih yang tajam setiap kali ia menggerakkan kakinya. Ia meringis pelan, menyentuh tepi luka itu dengan ujung jari.

Pikirannya kembali pada kata-kata Killian —

(“Kau mengenal Santiago Vattel?”)

Laura mengerutkan dahi, memejamkan mata sejenak. Mengapa nama itu terdengar asing namun sekaligus mengingatkannya pada sesuatu yang samar, sesuatu yang pernah didengarnya dulu, sebelum semuanya berubah menjadi kelam? Ia mencoba mengingat-ingat, namun bayangan itu terlalu kabur, hilang sebelum dapat ditangkap.

"Santiago Vattel..." bisiknya pelan, menguji bunyi nama itu di lidahnya.

Ia menghela napas panjang, melilitkan kembali perban itu dengan cekatan namun tetap rapi. Entah mengapa, nama itu terasa bukan sekadar nama orang — ia terasa seperti kunci, atau mungkin sebuah rahasia yang selama ini disembunyikan dari semua orang.

“Aku tidak mengenalnya....” ucapnya pelan menatap lurus dan kosong. “Aku tidak mengenal pria bajingan itu.”

1
Eci Rahmayati
🤣 cemburu mu menghemasakannnnn sekaliiii bikinnn laira merinding disko🤭
Mia Camelia
ceritaiin lebih detail thor tentang masa lalu Laura dan Santiago🤭kepoo nih
Kinara Widya
lanjut kak...
Tiara Bella
wow ternyata killian mw manas²in si Santiago ini klu Laura skrng miliknya
Tiara Bella
tuh kan killian tw klu Laura kenal sm Santiago vattel....tp lauranya kan dl menyangkal.....
Tiara Bella
pasti ada si vattel disitu.....
Four.: hmm masak iya
total 1 replies
vnablu
semangat thorrr up nyaa yaa
Four.: wokayyy
total 1 replies
vnablu
masih belummm tobat juga nihh orang 😓😓
Four.: belummm harus diberi pelajaran 😁
total 1 replies
Mia Camelia
Jolie siapa sih😂 jadi curiga klo dia ada hubungan nya sama Laura 🤭
Four.: gak kok, tapi hubungannya sama.... tu tuhh
total 1 replies
Tiara Bella
mungkin ada sebabnya killian gk makan dirmh itu.....
Four.: masakannya pelayan gak enak 😌
total 1 replies
vnablu
Cemunguut thorrr up nyaa😘
Four.: celalu uyyy/Scream/
total 1 replies
Yusry Ajay
semangat up Thor 💪🤗
Four.: wokayyyy/Determined//Determined/
total 1 replies
vnablu
Okeeee thorr akuu ngikut ajaaa🤭🤭🤭... Semangat terus buatt up nyaa yaa 😄
Four.: wokayyyy/Scream//Determined/
total 1 replies
Tiara Bella
jangan² yg marganya vettel mantannya Laura 🤭
Tiara Bella: waduh....
total 2 replies
Kinara Widya
siap kak...🥰🥰🥰
Four.: /Good//Good//Good/
total 1 replies
Mia Camelia
ehmm pasti ini ulah nya Muchus nyerang meraka😂
Four.: yakinnn
total 1 replies
Tiara Bella
cepat pergi dr sana Nico drpd nanti kena serangan....
Four.: ho, oh
total 1 replies
Eci Rahmayati
nahhh udah ada yg ngincer sebaiknyaa pindahh
Four.: cuman tukang tani kok
total 1 replies
Kinara Widya
Nico bawa pergi semuanya...tempat Lily sudah tidak aman.
Four.: harusnya yee
total 1 replies
Yusry Ajay
semangat up Thor 💪🤗
Four.: wokayyy
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!