Jingga membuka mata, kembali ke masa sebelum tragedi besar menimpa keluarga Amazon.
Kali ini, tidak ada lagi gadis lugu yang mudah dimanfaatkan, matanya penuh dendam dan kebencian.
Hanya ada satu hal, Balas Dendam!
Mari kila mulai permainannya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon To Raja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16. Trik lanjutan
"Tidak.. bukan begitu maksudku Kak, aku hanya terkejut jadi tidak sengaja menumpahkan airnya," ucap Tasya.
"Lalu kenapa kau kesakitan sambil berteriak panas?" Tanya Jingga.
"Aku..." Tasya menatap Bryan yang juga memperhatikannya, "aku,,, aku salah bicara. Tadi itu,,, aku,, aku hanya kaget saja," ucap Tasya.
"Apa yang membuatmu terkejut?" Tanya Bryan cemas.
"Iya, Dik, apa yang membuatmu begitu terkejut sampai menjatuhkan cangkirnya seperti itu?" Tanya Jingga benar-benar menikmati permainan kali ini.
"Tidak apa-apa, aku hanya teringat sesuatu, bukan hal yang penting," kata Tasya sambil menahan rasa kesalnya.
'Lihat saja Jingga, nanti aku pasti akan memberimu balasan yang setimpal!' ucap Tasya dalam hati.
Saat itu, ponsel Bryan tiba-tiba berdering, jadi pria itu memilih keluar dari ruangan untuk mengangkat panggilan teleponnya.
Begitu Bryan keluar, Jingga menatap Tasya, "bagaimana rasanya minum air panas?" Tanya Jingga.
"Kau!! Kau sengaja kan! Kau sengaja mempermainkanku!" Bentak Tasya.
"Bagaimana aku sengaja? Aku lihat kaulah yang sengaja memberiku air panas, tapi tak menyangka malah kau sendiri yang tertipu rencana licikmu itu," ucap Jingga.
"Kau.. kau!" Tasya menggertakkan giginya, "Kau pikir dengan begini kau bisa memenangkan hati Bryan? Kukatakan padamu sekali lagi ya, aku dan Bryan serta Arga memiliki hubungan yang khusus yang tidak bisa kau dapatkan! Mereka berdua itu setiap hari menghabiskan malam mereka di atas ranjangku, jadi jangan berpikir mereka berdua masih akan tertarik pada perempuan menjijikan sepertimu! Tunggu saja di hari upacara kedewasaanmu nanti, bukan kau yang akan dinobatkan sebagai pewaris tunggal keluarga Amazon, akulah yang akan menggantikan posisimu itu karena Arga dan Bryan tidak akan pernah mau menjadi tunanganmu!" Tegas Tasya.
"Oh," Jingga tersenyum senang, ini adalah pengakuan yang ia butuhkan untuk menghancurkan tiga orang tak tahu diri itu, kini sudah didapatkan, sekarang dia tidak perlu lagi peduli pada perempuan ini.
Jingga menutup matanya, berbalik memunggungi Jingga untuk lanjut beristirahat.
"Kau!!" Tasya benar-benar terkejut melihat Jingga yang bersikap acuh, tak tidak peduli dengan ucapannya.
"Kau tidak marah sama sekali?" Tanya Tasya.
"Kenapa aku harus marah, aku hanya senang bahwa kau akhirnya bisa memikat pria pujaanmu dan dua pria itu bisa menemukan perempuan yang mereka puja," kata Jingga dengan tenang.
Kening Tasya berkerut, dia tidak mengerti kenapa Jingga kini tidak peduli kalau dia memiliki hubungan dengan Arga dan Brian, padahal selama ini Jingga selalu cemburu padanya jika ia dekat dengan Arga.
Ketika Tasya sedang bingung pada Jingga, saat itu langkah kaki dari pintu terdengar jadi Tasya dengan cepat berjalan memutari ranjang dan berdiri di hadapan Jingga.
"Kau pikir kau bisa menang dariku? Tidak akan pernah!" Tegas Tasya kemudian dengan keras menampar pipinya sendiri.
Plak! Plak!
2 tamparan itu langsung membuat pipi Tasya bengkak dan darah keluar dari sudut bibirnya.
Jingga tercengang, dia tak menyangka Tasya bisa melakukan itu pada dirinya sendiri hanya demi memfitnahnya.
Clek!
Pintu terbuka dengan Tasya yang langsung menjatuhkan tubuhnya ke lantai dan menangis histeris.
"Hiks... Hiks... Aku minta maaf Kak, ini semua salahku. Tapi kau tidak perlu menamparku seperti ini, kan?" Isak Tasya.
"Tasya!" Bryan yang memasuki ruangan langsung panik berlari ke arah Tasya.
Betapa terkejutnya dia saat melihat keadaan Tasya yang sangat berantakan, rambutnya acak-acakan dan pipinya bengkak lebam, di sudut bibirnya ada darah.
Pria itu langsung membantu Tasya berdiri dan menariknya kepelukannya, "kau! Tunggu aku membuat perhitungan denganmu!" Tegas Bryan melototi Jingga.
"Ayo kita ke dokter untuk periksa dulu," segera merangkul Tasya untuk keluar dari ruangan.
Tetapi Tasya menarik baju Bryan dan menghentikan pria itu, "aku baik-baik saja, sungguh baik-baik saja. Ini hanya luka kecil, nanti dioles salep di rumah juga sudah baikan. Tapi Kak Jingga, aku harus minta maaf padanya baru pulang mengobati lukanya," kata Tasya lalu dengan cepat berlutut di hadapan Jingga.