Gu Chen hanyalah pemuda biasa yang keluarganya dihancurkan oleh kekuatan misterius. Namun, sebelum kematian menjemputnya, ia menemukan sebuah rahasia mengerikan: dunia tempatnya tinggal hanyalah papan permainan bagi makhluk-makhluk di luar pemahamannya.
Perang, kehancuran sekte, bahkan nasib para jenius ternyata telah diatur oleh tangan tersembunyi. Manusia hanyalah bidak, sementara para kultivator terkuat pun tidak lebih dari pion yang bisa dikorbankan kapan saja.
Gu Chen tidak memiliki bakat luar biasa ataupun kekuatan yang mampu mengguncang langit. Ia hanya memiliki kecerdasan, kesabaran, dan keberanian untuk menentang aturan permainan.
Namun, semakin jauh ia melangkah, semakin mengerikan kebenaran yang ditemukannya.
Jika dunia ini adalah papan permainan, maka Gu Chen akan menemukan para pemainnya—dan membunuh mereka satu per satu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bagas Hirmawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 — Makam Peradaban yang Dihapus
Pintu batu itu terbuka tanpa suara. Di baliknya terbentang lorong panjang yang dindingnya dipenuhi ukiran manusia tanpa wajah. Mereka berdiri mengelilingi sebuah papan persegi, sementara di atas kepala mereka terdapat sosok-sosok berjubah yang memegang tali tipis, seolah mengendalikan kehidupan manusia di bawahnya. Gu Chen berhenti beberapa langkah dari pintu. Ia pernah melihat gambar serupa dalam penglihatannya ketika hampir mati, tetapi melihatnya terukir di dunia nyata terasa jauh lebih mengerikan.
“Ini bukan makam biasa,” gumamnya.
Lin Yue berdiri di sampingnya sambil menggenggam liontin peraknya. “Menurut catatan keluargaku, peradaban yang dimakamkan di sini bernama Dinasti Wuming. Mereka menghilang sekitar tiga ribu tahun lalu. Tidak ada catatan tentang perang, bencana, atau keruntuhan. Suatu hari mereka masih ada, dan keesokan harinya seluruh kerajaan mereka seolah tidak pernah dilahirkan.”
“Lalu bagaimana keluargamu mengetahui tempat ini?”
“Aku menemukan catatan itu di ruang terlarang keluarga. Sebagian besar halamannya telah dibakar. Ayahku menangkapku saat aku membacanya dan melarangku menyelidiki lebih jauh.”
Gu Chen meliriknya. “Dan kau tentu saja tidak mendengarkan.”
“Kalau aku selalu mendengarkan ayahku, aku tidak akan berada di sini.”
“Setidaknya kita sepakat tentang satu hal. Orang tua memang suka menyembunyikan sesuatu.”
Ucapan itu membuat Gu Chen terdiam sesaat. Ia teringat ayahnya, Gu Yuan, dan kata-kata terakhir yang ditinggalkan lelaki itu. Apa pun yang terjadi, jangan pernah percaya pada takdir. Ia belum memahami sepenuhnya makna kalimat tersebut. Namun, semakin banyak rahasia yang ditemukannya, semakin kuat keyakinannya bahwa kematian ayahnya bukanlah peristiwa kebetulan.
Gu Chen melangkah masuk. Lin Yue mengikutinya, dan begitu keduanya melewati ambang pintu, batu besar di belakang mereka bergerak menutup. Suara gemuruh mengguncang lorong, membuat debu berjatuhan dari langit-langit.
Lin Yue segera berbalik. “Kita terkunci!”
Gu Chen memeriksa pintu batu, lalu mengetuknya beberapa kali. Tidak ada celah yang bisa digunakan untuk membukanya dari dalam.
“Tenang saja,” katanya.
“Kau punya cara keluar?”
“Tidak.”
“Lalu kenapa menyuruhku tenang?”
“Karena panik tidak akan membuat pintu ini terbuka.”
Lin Yue menatapnya dengan ekspresi ingin memukul seseorang, tetapi akhirnya menghela napas dan mengikuti Gu Chen menyusuri lorong. Mereka tidak punya pilihan selain mencari jalan keluar dari dalam.
Semakin jauh mereka berjalan, semakin aneh ukiran pada dinding. Pada awalnya, gambar-gambar itu memperlihatkan kehidupan sebuah kerajaan: pasar yang ramai, tentara yang berbaris, anak-anak yang bermain, dan para petani yang bekerja di ladang. Namun, pada bagian berikutnya, seluruh manusia dalam ukiran itu mulai berlutut. Di atas mereka muncul tangan raksasa yang menggenggam bidak-bidak kecil.
Pada ukiran terakhir, kerajaan itu hancur. Tidak ada perang yang digambarkan, tidak ada mayat, bahkan tidak ada api. Bangunan-bangunan menghilang begitu saja, sementara manusia di dalamnya berubah menjadi garis-garis kosong.
Gu Chen menyentuh ukiran tersebut. Mendadak, kepalanya terasa sakit.
Sebuah suara bergema di dalam pikirannya.
Jika namamu dihapus, apakah kau masih pernah hidup?
Gu Chen segera menarik tangannya. Ia terhuyung, lalu menyandarkan tubuh ke dinding.
Lin Yue menangkap lengannya. “Apa yang terjadi?”
“Tidak ada. Hanya pusing.”
“Kau pucat.”
“Aku memang tidak pernah memiliki wajah yang sehat.”
“Kalau kau mati di sini, aku tidak akan menggendongmu.”
“Bagus. Aku juga tidak ingin digendong oleh orang yang hampir membunuh dirinya sendiri demi menyelidiki rahasia keluarga.”
Lin Yue melepaskan tangannya dengan kesal. Namun, sebelum ia sempat membalas, cahaya merah muncul dari ujung lorong. Keduanya segera berhenti. Di hadapan mereka terdapat sebuah ruangan bundar dengan sembilan pilar hitam. Di tengah ruangan berdiri patung manusia tanpa wajah, mengenakan jubah panjang dan mengangkat satu tangan ke arah langit-langit.
Di bawah patung itu terdapat sebuah meja batu. Di atasnya terletak dua lubang berbentuk berbeda: satu menyerupai bidak catur, sedangkan yang lain berbentuk bulan sabit.
Gu Chen mengeluarkan bidak hitamnya. Lin Yue menatap liontin peraknya.
Mereka saling pandang.
“Sepertinya tempat ini memang menunggu kita,” ujar Lin Yue.
“Jangan terlalu percaya diri. Bisa saja tempat ini menunggu dua orang bodoh yang membawa benda mencurigakan.”
“Kalau begitu, kau cocok berada di sini.”
Gu Chen tidak menjawab. Ia mendekati meja batu dan mengamati lubang berbentuk bidak. Ada tulisan kuno di bagian tepinya. Kali ini, maknanya muncul dengan sendirinya di dalam pikirannya.
\[Dua saksi. Dua kunci. Satu kebenaran.\]
Di bawahnya terdapat kalimat lain.
\[Yang satu membawa jejak pemain. Yang satu membawa dosa keluarga.\]
Gu Chen membeku. Ia tidak tahu mengapa tulisan itu bisa dipahaminya, tetapi kalimat pertama membuatnya teringat pesan pada bidak hitam. Pemain Kedua telah memasuki wilayah pengamatan. Apakah Lin Yue benar-benar berhubungan dengan para pemain yang mengendalikan dunia ini?
Ia melirik gadis itu. Lin Yue sedang memperhatikan patung tanpa wajah dan tampaknya tidak menyadari perubahan ekspresi Gu Chen.
“Coba masukkan liontinmu,” kata Gu Chen.
Lin Yue menggeleng. “Bagaimana kalau itu jebakan?”
“Kalau kita tidak mencoba apa pun, kita akan tetap terjebak di sini.”
“Kalau kita mencoba dan mati, setidaknya kita tahu siapa yang salah.”
“Dan aku yakin kau akan menyalahkanku.”
“Tentu saja.”
Meskipun mengeluh, Lin Yue akhirnya meletakkan liontin peraknya pada lubang berbentuk bulan sabit. Benda itu langsung menempel pada meja batu. Cahaya merah menyebar ke seluruh permukaan ruangan, menyala pada delapan pilar sebelum berhenti di pilar kesembilan.
Gu Chen kemudian meletakkan bidak hitamnya pada lubang yang tersisa.
Begitu bidak itu menyentuh batu, seluruh ruangan bergetar hebat.
\[Kunci pertama teridentifikasi.\]
\[Kunci kedua teridentifikasi.\]
\[Memulai pemeriksaan terhadap penyimpangan.\]
Cahaya merah berubah menjadi putih. Patung tanpa wajah itu perlahan menurunkan tangannya. Dari bagian dadanya terdengar suara retakan, lalu sebuah celah terbuka di permukaannya. Di dalam celah tersebut terlihat gulungan tipis yang terbuat dari bahan menyerupai kulit manusia.
Lin Yue mundur selangkah.
“Apa benda itu?”
Gu Chen tidak menjawab. Perhatiannya tertuju pada pesan baru yang muncul di atas meja.
\[Nama: Gu Yuan.\]
Napasnya tertahan.
Nama ayahnya muncul di tempat yang seharusnya telah terkubur bersama rahasia sebuah peradaban yang hilang tiga ribu tahun lalu.
Tulisan berikutnya muncul perlahan.
\[Status: Pemain yang gugur.\]
Gu Chen merasakan darahnya seolah membeku.
Ayahnya bukan sekadar seseorang yang diburu oleh Sekte Pedang Awan. Bukan pula orang biasa yang kebetulan menyimpan benda misterius. Jika tulisan itu benar, Gu Yuan pernah menjadi salah satu pemain yang mengendalikan permainan tersebut.
Tetapi bagaimana mungkin?
Ayahnya hidup sederhana, bekerja dengan tangannya sendiri, dan bahkan tidak pernah mengajarinya teknik kultivasi tingkat tinggi. Lelaki itu mati ketika berusaha melindunginya, dibunuh oleh orang-orang yang mencari sesuatu dari masa lalunya.
Gu Chen menggenggam tepi meja batu hingga buku-buku jarinya memutih.
“Bohong,” bisiknya.
Satu kata itu terdengar kecil di dalam ruangan luas, tetapi ia mengulanginya dengan suara lebih keras.
“Ini bohong!”
Meja batu mendadak bergetar. Tulisan di permukaannya berubah.
\[Peringatan: Emosi bidak memengaruhi stabilitas ruang.\]
Gu Chen mengangkat kepalanya. “Kalau kau bisa membaca pikiranku, dengarkan baik-baik. Aku tidak peduli siapa ayahku dahulu. Aku tidak peduli apakah dia pemain, bidak, atau bahkan dewa. Aku hanya ingin tahu siapa yang membunuhnya dan siapa yang memberikan perintah itu.”
Ruangan mendadak sunyi.
Kemudian, sebuah suara terdengar dari dalam patung.
“Kalau begitu, kau harus bersiap membenci orang yang paling ingin kau selamatkan.”
Gu Chen membeku. Suara itu tidak terdengar seperti suara manusia. Suara tersebut seolah berasal dari berbagai arah sekaligus, seperti gema yang telah terperangkap selama ribuan tahun.
“Siapa kau?” tanyanya.
“Aku adalah sisa dari sesuatu yang pernah dihapus.”
“Apakah kau mengenal Gu Yuan?”
“Aku mengenal nama itu. Namun, nama yang kau kenal hanyalah salah satu dari banyak identitas yang pernah digunakannya.”
Lin Yue menatap Gu Chen dengan kebingungan. “Kau mendengar suara itu juga?”
Gu Chen mengangguk pelan.
Suara dari patung kembali terdengar.
“Anak Gu Yuan, kau datang membawa bidak yang seharusnya telah dihancurkan. Itu berarti salah satu pemain telah gagal menjalankan tugasnya. Dan kegagalan itu akan menimbulkan akibat yang tidak dapat dihentikan.”
“Siapa pemain yang membunuh ayahku?”
Patung itu terdiam cukup lama.
“Pertanyaan yang salah.”
“Lalu apa pertanyaan yang benar?”
“Siapa yang membuat ayahmu ingin mati?”
Gu Chen tidak mampu menjawab. Kata-kata itu terasa seperti pisau yang ditancapkan perlahan ke dalam dadanya. Ia ingin menolak, tetapi jauh di dalam pikirannya, sebuah kemungkinan yang mengerikan mulai terbentuk. Bagaimana jika kematian Gu Yuan bukan sekadar akibat dari perlawanan terhadap para pemain? Bagaimana jika ayahnya sendiri telah membuat keputusan yang mengarah pada kehancuran keluarganya?
Sebelum ia sempat bertanya lebih jauh, meja batu tiba-tiba memancarkan cahaya hitam. Bidak di atasnya terangkat, melayang beberapa jengkal dari permukaan, lalu berputar dengan cepat.
\[Peringatan: Pengamatan eksternal terdeteksi.\]
\[Seseorang sedang mencoba menghapus informasi yang tersimpan.\]
Suara retakan terdengar dari sembilan pilar. Ukiran di dinding mulai berubah, seolah ada tangan tak terlihat yang mengikis sejarah dari permukaan batu.
Patung tanpa wajah itu berbicara untuk terakhir kalinya.
“Jika ingin mengetahui kebenaran, temukan ruang kesepuluh.”
“Di mana ruang itu?” teriak Gu Chen.
Namun, jawabannya datang terlambat.
Seluruh cahaya padam. Sebuah ledakan mengguncang ruangan, melemparkan Gu Chen dan Lin Yue ke lantai. Ketika cahaya kembali muncul, gulungan di dalam patung telah menghilang. Tulisan tentang Gu Yuan lenyap dari meja batu, seolah tidak pernah ada.
Hanya satu kalimat yang tertinggal, terukir pada permukaan bidak hitam.
\[Peringatan: Ayah Anda telah terdaftar sebagai target penghapusan permanen.\]
Gu Chen menatap tulisan itu dengan mata merah. Ia tidak tahu apakah pesan tersebut merujuk pada masa lalu atau sesuatu yang masih berlangsung. Namun, satu hal kini menjadi jelas baginya: seseorang di luar sana takut ia mengetahui kebenaran tentang ayahnya.
Dan orang itu memiliki kekuatan untuk menghapus bukti dari sebuah peradaban yang telah mati.
Di sampingnya, Lin Yue bangkit perlahan. Wajahnya tampak pucat, sementara liontin peraknya telah kehilangan seluruh cahaya.
“Gu Chen,” katanya lirih.
“Apa?”
“Ada sesuatu yang harus kukatakan kepadamu.”
Gu Chen menoleh.
Lin Yue menggenggam liontin yang retak itu erat-erat. “Aku tidak datang ke sini hanya untuk mengetahui rahasia keluargaku. Ayahku memberiku perintah sebelum aku meninggalkan rumah.”
“Perintah apa?”
Gadis itu menundukkan kepala, lalu menjawab dengan suara nyaris tak terdengar.
“Jika aku menemukan seorang pemuda bernama Gu Chen di Pegunungan Tulang Kelabu, aku harus membawanya hidup-hidup kembali ke keluarga Lin.”
Gu Chen tidak bergerak.
“Kenapa kau baru mengatakannya sekarang?”
“Karena aku baru tahu bahwa orang yang dimaksud ayahku adalah kau.”
Untuk beberapa saat, keduanya hanya saling menatap. Gu Chen perlahan memasukkan bidak hitam ke sakunya, sementara tangannya yang lain bergerak mendekati gagang pisau.
Ia tidak langsung menyerang Lin Yue. Gadis itu telah membantunya bertahan hidup, dan ia tidak punya bukti bahwa Lin Yue berniat mengkhianatinya.
Namun, ia juga tidak lagi bisa mempercayainya.
Di luar reruntuhan, jauh di atas puncak Pegunungan Tulang Kelabu, sebuah bayangan berdiri di tengah kabut. Sosok itu memandang ke arah bangunan kuno yang kembali tertutup, lalu membuka telapak tangannya.
Di sana terletak sebuah bidak putih yang retak.
“Gu Yuan,” bisik sosok itu. “Kau benar-benar meninggalkan sesuatu yang merepotkan.”
Bidak putih tersebut hancur menjadi debu.
Dan pada saat yang sama, di dalam reruntuhan, Gu Chen mendengar suara yang hanya bisa didengarnya.
\[Pemain Pertama telah mengajukan permintaan.\]
\[Target: Lin Yue.\]
\[Perintah: Bunuh dia sebelum matahari terbenam.\]
Gu Chen menatap Lin Yue.
Gadis itu tidak menyadari pesan tersebut. Ia hanya berdiri di hadapannya, menunggu jawaban atas pengakuannya.
Untuk pertama kalinya, permainan itu tidak sekadar mencoba membunuh Gu Chen.
Permainan itu memaksanya memilih siapa yang harus mati.
Bersambung ke Bab 7.