Ketika mahkota kekaisaran ternoda oleh keserakahan dan tirani seorang saudara kandung, seorang putri yang terbuang harus bangkit dari abu pembantaian.
Diasingkan sejak lahir di Desa Bunga Lotus, Zhao Lianhua tidak pernah tahu bahwa di dalam nadinya mengalir darah kekaisaran. Namun saat pedang istana membakar rumah dan menghancurkan kedamaiannya, ia terpaksa mengambil pedang demi keadilan rakyat jelata!
Bisakah seorang putri terbuang menumbangkan kerajaan yang dipimpin oleh saudara kandungnya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33: Rencana penyamaran
Fajar baru saja merekah di ufuk timur, mewarnai langit di atas tembok kokoh Kota Garnisun Barat dengan semburat jingga pucat. Di luar gerbang utama yang dijaga ketat oleh puluhan prajurit berzirah besi, antrean panjang para pedagang, petani, dan rakyat jelata mengular menunggu giliran untuk diperiksa satu per satu.
Di tengah kerumunan yang sesak itu, Zhao Lianhua berjalan tenang dengan jubah kain linen kusam berkerudung besar yang menutupi separuh wajahnya. Di pundaknya, ia memikul keranjang bambu berisi beberapa karung kecil rempah-rempah kering dan akar-akar herba hutan.
Namun, baru saja ia mendekati titik pemeriksaan gerbang, suasana mendadak berubah tegang.
Kring! Kring! Kring!
Suara lonceng perunggu berbunyi nyaring dari atas menara pengawas. Komandan penjaga gerbang mengangkat tombaknya tinggi-tinggi dan membentak keras ke arah para pengantri.
"Dengar titah Jenderal Ma! Hari ini ada laporan intelijen tentang penyusup gerilyawan Bunga Lotus! Periksa setiap gerobak, geledah setiap barang bawaan, dan buka semua kerudung penutup kepala!" teriak sang komandan keji berwajah parut.
Prajurit zirah besi langsung bergerak agresif, lalu menarik paksa kerudung para wanita dan membongkar muatan gerobak dagang secara kasar. Beberapa warga yang memprotes langsung diseret dan dipukul dengan gagang tombak tanpa ampun.
Lianhua menghentikan langkahnya tepat sepuluh langkah sebelum pos pemeriksaan. Matanya yang jernih menyipit di balik bayangan tudung jubahnya.
Ia membaca situasi dengan sangat cepat. Dengan penjagaan seketat itu dan penggeledahan total yang dilakukan tanpa pandang bulu, mencoba menyelinap masuk melewati gerbang utama dengan identitas samaran pedagang rempah biasa adalah tindakan yang terlalu berisiko dan bisa membongkar penyamarannya sejak awal.
Tanpa membuang waktu atau memancing kecurigaan, Lianhua perlahan-lahan memutar balik langkahnya, melebur ke dalam arus kerumunan orang yang mundur menjauhi gerbang, lalu berjalan cepat menyusuri lorong-lorong pemukiman kumuh di luar tembok kota.
Menjelang siang hari, di pos peristirahatan darurat di dalam bangunan Kuil Tua Naga Biru, sebuah situs suci yang terbengkalai di luar tembok barat kota, Feng dan Bao sedang mondar-mandir dengan cemas menanti kepulangan Lianhua.
Begitu mendengar suara langkah kaki di ambang pintu kuil, keduanya langsung meraba belati di pinggang. Namun, begitu melihat bayangan jubah kelabu yang muncul, mereka langsung menghela napas lega.
"Lianhua! Kau sudah kembali!" seru Feng yang bergegas menyambut. "Bagaimana situasi di gerbang? Apakah kau berhasil masuk?"
Lianhua membuka tudung jubahnya, dan meletakkan keranjang herba di atas lantai batu kuil, lalu menggeleng perlahan sambil menarik napas dalam-dalam.
"Penjagaan di gerbang utama diperketat sepuluh kali lipat," jelas Lianhua dengan suara tenang namun tegas. "Jenderal Ma mengerahkan pasukan tambahan karena mencurigai pergerakan aliansi kita. Setiap orang digeledah secara total. Jika aku memaksakan diri masuk tadi, penyamaranku pasti terbongkar dan kita akan kehilangan kesempatan untuk menyelamatkan Panglima Lu."
Bao mengepalkan tinjunya dengan kesal. "Sialan! Berarti kita tidak bisa masuk melalui jalur utama. Lalu bagaimana cara kita mencapai penjara bawah tanah Kota Garnisun, Lianhua?"
Lianhua tidak langsung menjawab. Ia melangkah mendekati jendela kuil yang menghadap langsung ke arah kota, menatap tembok batu tinggi dan menara-menara pengawas musuh dari kejauhan. Otak taktisnya bekerja merangkai kemungkinan lain.
"Kita tidak akan masuk sebagai penyusup yang bersembunyi," ucap Lianhua pelan, namun keputusannya mengandung daya tekan yang kuat. "Jika gerbang utama ditutup rapat untuk orang asing, maka kita harus masuk dengan cara yang membuat para penguasa kota itu sendiri yang membukakan pintu bagi kita."
Feng mengangkat sebelah alisnya. "Maksudmu...?"
__________
Selama dua hari berikutnya, Lianhua, Feng, dan Bao tidak tinggal diam. Mereka menjelajahi lorong-lorong labirin di distrik pinggiran Kota Garnisun, sebuah kawasan tempat tinggal para buruh kasar, keluarga miskin, dan rakyat jelata yang terabaikan oleh kemegahan istana.
Di distrik itu, prajurit istana jarang berpatroli kecuali untuk memungut pajak atau menyeret paksa pemuda menjadi buruh bangunan.
Sore itu, di ujung sebuah gang sempit yang diapit oleh dinding batu bata merah yang mulai runtuh, Lianhua menemukan apa yang ia cari.
Sebuah bangunan rumah tua berlantai satu dengan halaman kecil yang ditumbuhi rumput liar. Rumah itu sudah lama ditinggal pemiliknya, namun strukturnya masih kokoh, memiliki dua kamar tidur kecil, dan yang paling penting, letaknya hanya berjarak tiga blok dari pasar utama dan memiliki akses sumur air bersih di belakangnya.
"Tempat ini sangat cocok," kata Lianhua sambil menyapu debu di atas meja kayu usang di ruang depan rumah tersebut.
Feng meletakkan karung perbekalan di sudut ruangan, lalu mengerutkan kening. "Rumah ini cukup tersembunyi dari pandangan patroli utama. Tapi untuk apa kita menetap di sini, Lianhua? Bukankah tujuan kita adalah mendekati penjara tempat Panglima Lu ditahan?"
Lianhua menoleh menatap Feng dan Bao, lalu menyunggingkan senyum tipis yang penuh makna.
"Kita tidak akan bisa menyusup ke penjara jika kita tidak memiliki alasan yang sah untuk bergerak bebas di dalam kota ini," jelas Lianhua. "Mulai hari ini, rumah ini bukan hanya sekadar tempat persembunyian. Kita akan mengubahnya menjadi Rumah Berobat Sederhana."
Bao terperanjat. "Rumah berobat? Maksudmu... kau ingin menjadi tabib?"
"Tepat sekali," angguk Lianhua mantap. "Di distrik pinggiran ini, banyak rakyat miskin, buruh pabrik batu, dan orang-orang tua yang sakit-sakitan tetapi tidak mampu membayar biaya tabib resmi istana atau membeli obat mahal di pasar pusat. Dengan menyamar sebagai seorang tabib muda kelana yang membuka praktik pengobatan gratis dan bayar seikhlasnya menggunakan herba hutan, kita akan mendapatkan dua hal sekaligus."
Lianhua mengangkat dua jarinya, dan merinci strateginya dengan tajam.
"Kita akan menolong rakyat jelata. Melalui mereka, kita bisa membangun jaringan informasi terpercaya tentang pergerakan prajurit istana, jadwal pergantian sipir penjara, dan lorong-lorong rahasia di bawah kota. Seorang tabib yang meracik obat herbal bebas keluar-masuk pasar herba, mencari bahan ke pinggir hutan, dan merawat orang sakit tanpa pernah dicurigai oleh mata-mata Jenderal Ma sebagai sisa-sisa anggota Bunga Lotus."
Feng menatap Lianhua dengan rasa kagum yang mendalam. Ide cemerlang itu sangat cerdas. Alih-alih bersembunyi sebagai buronan di tempat gelap, mereka justru melebur langsung di tengah masyarakat dengan kedok kemanusiaan yang paling mulia.
"Rencana yang luar biasa..." puji Feng tersenyum lebar. "Dan kebetulan, selama kita di gua, aku sempat belajar meracik beberapa ramuan dasar penawar demam dan luka dari catatan Bibi Mei."
"Bagus," ujar Lianhua. "Bao, kau bertugas membersihkan halaman depan dan merapikan papan kayu di atas pintu masuk. Tuliskan tulisan: 'Pengobatan Herba Sederhana - Tabib Lian'."
Bersambung...