NovelToon NovelToon
Goblin Emperor

Goblin Emperor

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Fantasi Isekai / Sistem
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: PrinceArslan

Di dunia fantasi yang kejam, di mana hierarki ditentukan oleh kekuatan dan kemurnian garis keturunan, terlahir sebagai seekor Goblin adalah sebuah kutukan. Mereka adalah ras terendah-lemah, kotor, diburu sebagai ajang latihan para petualang amatir, dan dibantai tanpa ampun oleh umat manusia.

Namun, dari kedalaman keputusasaan ras yang nyaris punah di Hutan Misti, lahirlah sebuah anomali.

Bukan dengan kulit hijau menjijikkan atau tubuh bungkuk yang menyedihkan, melainkan dengan paras rupawan bagai seorang High Elf yang agung. Berambut pirang keemasan, bertelinga runcing yang elegan, dan dianugerahi ingatan serta kecerdasan dari dunia modern, ia adalah Altair-Sang Goblin Emperor pertama.

menyadari ras nya di ambang kepunahan altair pun bertekad membangkitkan kembali ras goblin yang hina, menjadi penguasa dunia dengan bantuan sistem manipulasi genetik dan kekuatan reproduksi nya sebagai sang kaisar goblin. bisakah dia menghadapi segala rintangan di depan nya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PrinceArslan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14: Penyatuan di Balik Bayang-Bayang Hutan Misti

Selama beberapa hari terakhir, pinggiran Hutan Misti menjadi saksi bisu dari sebuah pergerakan senyap namun mematikan. Pasukan elit yang dipimpin langsung oleh Altair telah menyisir wilayah barat laut, menundukkan tiga kelompok kecil goblin liar yang masing-masing hanya berisi belasan individu kurus dan kelaparan. Mereka yang menolak berlutut langsung diremukkan, sementara yang tunduk digiring kembali ke sarang utama untuk memakan akar beracun dan berevolusi.

Kini, target keempat mereka berada di depan mata.

Tiga bayangan hijau berkelebat lincah di antara dahan-dahan pohon raksasa yang tertutup lumut tebal. Tanpa memicu suara ranting patah sedikit pun, para pengintai Goblin Hijau melompat turun dan bersujud di atas tanah basah di hadapan sang Kaisar.

"Yang Mulia," bisik salah satu pengintai. "Di ceruk lembah di depan kita, terdapat suku liar terbesar yang tersisa di sektor ini. Jumlah mereka sekitar empat puluh ekor. Mereka dipimpin oleh seorang White Goblin tua yang buta sebelah matanya."

Altair berdiri diam di bawah bayang-bayang kanopi raksasa. Di belakangnya, pasukannya berdiri dalam formasi militer yang sangat mustahil dilakukan oleh monster liar. Dua puluh Hobgoblin berotot padat memegang tombak besi, sementara di sayap kiri dan kanan, dua ekor White Goblin milik Altair berdiri menjulang setinggi tiga meter—raksasa bodoh yang kini telah dilatih untuk menahan insting buas mereka. Di sisi Altair, Anrus sang Purple Goblin bersandar pada tongkat kayunya, memancarkan sisa-sisa mana yang membuat udara terasa berat.

"Empat puluh ekor," gumam Altair dingin. Untuk ras yang berada di ambang kepunahan, kelompok sebesar ini adalah sumber daya berharga. "Sempurna. Ayo bergerak."

Dengan satu isyarat tangan, pasukan elit itu berderap maju membelah kabut.

Semakin jauh mereka melangkah, bau busuk yang menyengat tercium di udara—kombinasi anyir darah basi, kotoran, dan daging membusuk. Di dasar sebuah lembah berbatu, pemandangan menyedihkan dari sisa-sisa ras goblin terhampar jelas. Puluhan goblin hijau yang kurus kering dan dipenuhi luka kudis saling menggeram, memperebutkan sisa-sisa tulang berjamur.

Melihat pemandangan itu dari atas tebing lembah, mata merah rubi Altair menyipit jijik.

Inilah wujud kaumnya tanpa bimbingan genetik sang Kaisar. Hina, membusuk, dan memangsa sesamanya hanya untuk bertahan hidup sehari lebih lama.

Altair melangkah turun dari tebing berbatu secara terang-terangan. Suara derap langkah kaki pasukannya yang teratur berpadu dengan ketukan tongkat Anrus, seketika menghentikan seluruh aktivitas kanibal di kamp tersebut.

Puluhan pasang mata kuning yang keruh menoleh ke arah tebing. Kepanikan mulai menyebar saat mereka melihat dua White Goblin berzirah kulit rapi dan puluhan prajurit berotot mengelilingi mereka. Namun, fokus utama suku liar itu tertuju pada sosok yang berjalan paling depan.

Rambut keemasan, kulit pucat yang sempurna, dan telinga yang runcing.

"E-Elf!" pekik seekor goblin tua dengan suara serak, mencengkeram sebongkah batu tajam. "Elf masuk ke hutan! Bunuh!"

Kebencian rasial yang tertanam selama ribuan tahun segera meledak. Mereka tidak bisa merasakan aura kekaisaran yang sengaja ditekan Altair; di mata mereka yang rabun dan primitif, sosok Altair hanyalah perwakilan dari ras Elf—musuh abadi yang telah memusnahkan mereka.

Geraman buas bersahutan. Empat puluh goblin yang kelaparan itu memungut batu runcing dan tombak kayu lapuk, bersiap menerjang.

BUM!

Sebuah pijakan keras yang menggetarkan tanah menghentikan pergerakan mereka. Dari dalam lubang lumpur terbesar di ujung lembah, sesosok raksasa melangkah keluar. Kulitnya pucat seperti mayat, dipenuhi bekas luka cakar dan gigitan membusuk. Mata kirinya hancur menyisakan rongga kosong, namun otot-ototnya membesar secara tidak wajar. Ia membawa sebuah gada raksasa yang terbuat dari batang pohon berlilitkan duri.

Di sudut pandang Altair, antarmuka sistem langsung memindai sang pemimpin suku:

[ [ Grush : Ras Goblin (Goblin Putih Liar)

Umur : 45 tahun (Batas Usia: 60 Tahun)

Jenis kelamin : Laki-laki / Jantan

Peringkat Kekuatan : Rank D Hunter (Mutasi Fisik)

Serangan: 28 (+5)

Vitality: 35 (+8)

Mana: 2 (Mati)

Kecerdasan: 5 (Rendah)

Ketahanan benturan: 30 (+10)

Ketahanan magic: 5 (Rendah)

Attribute: Netral (Fisik Brute)

Pekerjaan : Kepala Suku Liar

Genetic Talent: Ketahanan Sakit Tingkat Tinggi ] ]

Melihat status itu, Altair mendengus pelan. Kecerdasan 5. Ia tahu Anrus pun yang renta masih memiliki kecerdasan jauh di atas angka menyedihkan ini.

"Elf kotor!" raung Grush sang White Goblin liar, suaranya menggelegar memekakkan telinga. Ia menunjuk Altair dengan gadanya. "Kau berani datang ke tempat Grush! Grush akan hancurkan kepalamu! Makan dagingmu!"

Altair berhenti melangkah, berdiri tenang dengan kedua tangan di balik jubah hitamnya. Ia menoleh sekilas ke arah dua White Goblin miliknya yang sudah menggeram marah, bersiap merobek Grush karena berani mengancam Kaisar mereka. Anrus pun mulai menggumamkan mantra api di ujung tongkatnya.

"Tahan," perintah Altair pelan, cukup untuk membuat seluruh pasukannya kembali membeku dalam kepatuhan mutlak.

Altair kembali menatap Grush. Ia membiarkan aura Rank A+ yang sejak tadi ia tekan kini meledak keluar layaknya badai tak kasat mata.

Gelombang tekanan itu menyapu lembah. Puluhan goblin liar yang tadinya bersiap menyerang seketika tercekik. Lutut mereka gemetar dan sebagian besar langsung jatuh telungkup ke dalam lumpur. Insting binatang mereka yang tajam langsung mengenali jurang perbedaan kasta yang terlalu mengerikan.

"Aku bukan Elf, makhluk cacat," suara Altair mengalun pelan namun memantul ke seluruh penjuru lembah, penuh dengan dominasi absolut. "Aku adalah darah dan dagingmu yang telah disempurnakan. Aku adalah Kaisarmu."

Grush terhuyung mundur satu langkah, merasakan tekanan yang membuat paru-parunya sesak. Namun, otaknya yang terlampau primitif menolak untuk memahami situasi. Dominasi saja tidak cukup bagi makhluk dengan kecerdasan binatang.

"Tidak ada Kaisar!" raung Grush, mengayunkan gada besarnya ke udara, memaksa otot-ototnya menolak tunduk. "Grush yang terkuat! Suku ini milik Grush! Bunuh Elf itu!"

Seringai dingin dan mematikan menghiasi wajah rupawan Altair. Penaklukan ini membutuhkan bahasa yang paling mudah dimengerti oleh ras rendahan: kekerasan murni yang menghancurkan mental.

"Bagus," bisik Altair, matanya yang merah rubi menyala saat monster putih raksasa itu berlari menerjang ke arahnya layaknya buldoser berdaging. "Aku sendiri yang akan mematahkan kakimu dan mengajarimu cara untuk berlutut."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!