NovelToon NovelToon
Ternyata Bukan Aku Yang Mandul

Ternyata Bukan Aku Yang Mandul

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Menikah dengan Kerabat Mantan / Identitas Tersembunyi
Popularitas:423.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mama Mia

Selama tiga tahun menjadi istri Arga Pratama, Rania selalu merasa tertekan karena dianggap gagal memberikan keturunan.
Arga mencintainya, tapi tak sanggup menahan tekanan ibunya yang mengancam akan mengakhiri hidup jika Arga tidak mau menikah lagi dan bercerai dengan Rania.

Akhirnya, Rania meninggalkan rumah tangganya dengan hati yang hancur.

Di sisi lain, Alvino Pratama, saudara sepupu Arga yang jauh lebih kaya dan berkuasa, ternyata sudah lama menyimpan perasaan pada Rania.

Rania pun menerima lamaran dari Alvino karena orang tua Alvino mengatakan Alvino juga tidak bisa memiliki keturunan. Rania berharap setidaknya ia bisa mendapatkan ketenangan karena tak lagi dikejar masalah anak.

Namun baru tiga bulan menikah, Rania dinyatakan hamil. Rania bahagia, tapi juga cemas. Bagaimana kalau kehamilannya dicurigai? Karena itu Rania menyembunyikan kehamilannya. Namun, tanpa sengaja Alvino mengetahui kehamilan Rania.

Lalu, apakah Alvino bisa menerima kehamilan Rania?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

25

.

“Saya tidak mau menjadi wali nikahnya, karena saya bukan ayahnya," jawab pak Hasan enteng.

“Apa maksud Besan?” tanya Tuan Aksara dengan rahang mengeras. Matanya menyala dengan kebingungan dan sedikit kemarahan, mengingat posisi mereka yang sedang berada di atas panggung dengan disaksikan oleh para keluarga besar dan tamu yang akan menjadi saksi hari yang sakral.

Pak Hasan menarik napas panjang. Tatapannya menyapu seluruh tamu yang mulai memperhatikan ke arah mereka yang beberapa sudah berhenti berbincang, dan sedang menunggu penjelasan dengan rasa penasaran.

"Itulah yang sebenarnya,” ucapnya enteng sebelum menoleh ke arah Rania.

“Saya tidak bisa menjadi wali nikah Rania... karena memang dia bukan anak kandung saya.”

Ruangan yang semula sunyi kembali dipenuhi dengan bisik-bisik dan saling pandang antar para tamu.

“A... apa?” tanya Rania dengan suara bergetar. Wajahnya mendadak pucat pasi, bibirnya menggigil. “Apa maksud Ayah? Jangan bercanda, Yah...” Ia tersenyum kaku, berharap semua itu hanya lelucon yang sangat buruk. “Ayah cuma nge-prank Nia, kan?”

Namun tidak ada senyum di wajah Pak Hasan. Tidak ada penyesalan. Tidak ada sedikit pun rasa iba. Di sampingnya, Bu Siti justru melipat kedua tangannya di depan dada, wajahnya bahkan terlihat ketus.

“Semua itu memang benar, Rania,” ucap Bu Siti dengan nada dingin. “Ayah tidak sedang bercanda. Dulu kami sudah bertahun-tahun menikah tetapi tidak juga punya anak. Akhirnya kami mengadopsimu dari sebuah panti asuhan.”

Kalimat itu menghantam Rania jauh lebih keras daripada tamparan. Kakinya terasa lemah seperti tidak bisa menopang berat badan lagi.

“Tidak...” Rania menggeleng berkali-kali hingga Tiara di atas kepalanya terlepas. “Tidak mungkin.... Ayah sama Ibu pasti bohong...”

“Kami memang bukan orang tua kandungmu,” sahut Pak Hasan tanpa ekspresi. “Selama ini kami diam karena memang belum ada alasan untuk mengatakannya. Tapi sekarang...”

Pak Hasan diam sejenak sebelum kemudian melanjutkan, “... Tidak mungkin selamanya kami terus diam. Lagipula kami ingin hadir di pernikahan kamu, supaya orang-orang tahu kalau kami akan berbesan dengan keluarga Mahendra. Tapi aku juga tidak mungkin menjadi wali nikahmu.”

Rania mundur satu langkah. Lalu satu langkah lagi. Kedua lututnya kehilangan tenaga.

Bruk!

Tubuhnya nyaris jatuh terduduk di atas lantai marmer yang dingin jika saja tidak berhasil ditahan oleh Alvino. Air mata mengalir tanpa bisa dibendung, lalu berjatuhan membasahi lengan Alvino yang sedang memeluknya erat.

“Tidak... ini bohong....” bisiknya lirih. “Ayah... Ibu... tolong bilang kalau ini bohong....”

Dengan air mata berderai, Rania memandang Pak Hasan dan Bu Siti bergantian, mencari kebohongan di wajah mereka. Berharap mereka tertawa dan berkata semua itu hanya sandiwara.

Namun… Tak satupun dari harapan itu menjadi kenyataan. Pak Hasan hanya menundukkan wajahnya, sementara Bu Siti bahkan mulai melihat ke arah tamu dengan tatapan acuh.

Suasana ballroom berubah kacau. Para tamu saling berpandangan, bibir mereka terbuka lebar.

“Astaghfirullah....” bisik seorang nyonya tua dengan tangan di dada.

“Ya Allah.... Padahal hari ini hari bahagia mereka?”

“Kenapa rahasia sebesar itu baru dibuka saat akad nikah?”

“Kasihan sekali pengantin wanitanya....” ucap seorang wanita sambil menyeka air mata.

Beberapa tamu wanita menutup mulut mereka dengan tangan. Ada yang mengusap air mata. Ada pula yang memandang Pak Hasan dan Bu Siti dengan tatapan tidak habis pikir… Bagaimana bisa mereka melakukan hal seperti ini di hari yang paling penting bagi anak yang mereka besarkan?

Penghulu pun terdiam. Tangan nya yang sedang memegang kitab suci sedikit bergoyang. Selama bertahun-tahun menjadi penghulu, baru kali ini ia menyaksikan pengakuan sebesar itu tepat beberapa menit sebelum ijab kabul dimulai.

“Tuan... Nyonya… Apakah ijab kabul ini akan tetap dilanjutkan?” tanya penghulu dengan suara pelan.

Bu Soraya mendekat ke arah Rania dan Adrian lalu ikut memeluk Rania yang tubuhnya gemetar hebat. Tangan nya mengelus-elus punggung Rania dengan lembut.

“Sayang... tenang.... Semua akan baik-baik saja, ya?”

Namun, bagaimana mungkin Rania bisa tenang? Dunianya seakan runtuh dalam hitungan detik. Selama dua puluh tujuh tahun... Orang yang ia panggil Ayah dan Ibu ternyata bukanlah orang tua kandungnya.

Di sisi lain, kedua tangan Tuan Aksara mengepal begitu kuat hingga urat-urat di punggung tangannya menonjol. Ia menatap tajam ke arah Pak Hasan, matanya menyala api kemarahan.

“Apa Anda sadar dengan apa yang baru saja Anda katakan?” suaranya berat menahan amarah. “Kalian sedang menghancurkan hari paling bahagia dalam hidup anak kalian sendiri!”

Belum sempat Pak Hasan menjawab, Bu Siti lebih dulu menyela tanpa sedikit pun merasa bersalah.

“Mau bagaimana lagi? Memang seperti itulah kenyataannya.” suaranya terdengar acuh. “Rania memang bukan anak kami. Dia itu hanya anak dari panti asuhan. Seharusnya dia cukup berterima kasih karena kami sudah membesarkannya hingga bisa menikah dengan keluarga kaya seperti kalian.”

Kalimat itu kembali menusuk hati semua orang yang mendengarnya. Bu Soraya sampai memejamkan mata menahan sesak di dadanya. Bagaimana mungkin seorang ibu mengucapkan kalimat sekejam itu kepada anak yang telah dibesarkannya selama puluhan tahun?

Masih dalam pelukan Alvino, Rania mengangkat wajahnya yang sudah basah oleh air mata. Rambutnya terlihat berantakan dan sebagian menutupi wajahnya.

“Ja... jadi... apakah karena itu...”

Rania menggantung kalimatnya. Ingatannya berputar kembali seperti film yang diputar ulang.

Sejak kecil… Ia memang tidak pernah merasakan kasih sayang seperti anak-anak lain. Saat teman-temannya dibangunkan dengan pelukan hangat ibunya, Rania justru dibangunkan oleh suara bentakan Bu Siti.

“Nia! Bangun! Masak nasi dulu! Kalau tidak, Ayah tidak akan punya bekal kerja!”

Saat itu usianya baru delapan tahun. Namun ia sudah harus memasak, menyapu rumah, mengepel lantai, mencuci piring, bahkan mencuci pakaian Pak Hasan dan Bu Siti. Jika sedikit saja pekerjaannya terlambat...

“Dasar pemalas!” teriak Pak Hasan. “Kalau begini terus, tidak usah sekolah! Lebih baik membantu Ayah di toko!”

Ancaman itu selalu berhasil membuat Rania kecil menangis sambil kembali mengerjakan semua pekerjaan rumah. Saat teman-temannya bermain sepulang sekolah... Ia harus membantu menjaga toko kecil milik keluarganya, membantu melayani pembeli dengan jari kecilnya.

Ketika memasuki kelas tiga SMP, Pak Hasan dan Bu Siti mulai mengabaikan pendidikan Rania. Gadis kecil itu terpaksa mencari biaya sendiri karena tidak ingin putus sekolah

“Kita tidak punya uang untuk membayar uang sekolahmu lagi,” ucap Bu Siti kala itu sambil menatapnya dengan tatapan dingin. “Kalau kamu ingin sekolah, cari uang sendiri.”

Sepulang sekolah ia membantu bersih-bersih di rumah tetangga agar dia bisa membeli buku dan alat tulis. Terkadang ia juga memberi les membaca kepada anak-anak tetangga untuk menambah uang tabungan agar bisa membayar biaya sekolah dan membeli seragam.

Sedikit pun ia tidak pernah mengeluh. Karena selama ini ia percaya. Orang tuanya hanya keras. Orang tuanya hanya ingin mendidiknya menjadi perempuan yang mandiri. Namun hari ini… Semua keyakinan itu hancur berkeping-keping.

Rania menutup wajahnya dengan kedua tangan. Tangisnya pecah memenuhi ruangan

“Jadi... selama ini... bukan karena Ayah dan Ibu ingin mendidik Nia....”

Wanita itu kembali menggeleng berulang kali hingga rambutnya semakin acak-acakan. “Ternyata... karena... Nia memang bukan anak kandung kalian.... ?”

*

1
Rahma Inayah
Ratih..Ratih SDH miskin Mash saja sombong km BS apa tnp Surya di usia mu yg TDK muda lgi sedangkan Arga ank semata wayang mu aja GK mau ngajak km tinggl bersama Krn mulut mu pedas SPT bon cabe..🤭🤭 .slmt Vano dan Rania SDH menjdi orang tua
Ayuk Witanto
biar saja jadi gelandangan
Ayuk Witanto
senengnya 😍
Ayuk Witanto
ikutan ngejan🤭
Uba Muhammad Al-varo
akhirnya tuan Surya menyadari kesalahannya, belum terlambat kok, segeralah minta maaf sama keluarga besar mu terutama pada adik mu Soraya 💪💪💪
vj'z tri
pulangkan sajaaaa Ratih ke desa pada orang tuaaaa nyaaa ooooo/Facepalm//Slight//Slight/
vj'z tri
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/ kawus ora Kowe panas kan hati dan otak loh Mmmmm
vj'z tri
jangan gr dulu onah biasa nya ada udang di balik bakwan masakan pandang/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Henny Saraswati
nah ini nih si biang keroknya,, si trouble maker. kalo dah punya penyakit iri hati susah tuk berubah
Patrick Khan
arga kemana ya🤔🤔🤔
Henny Saraswati
jadi penasaran,gimana reaksi papa mamanya Alvino pas dengar panggilan unik di antara Alvino sama Rania 🤭🤭🤭
Muft Smoker
tinggalkan Ratih ,, lalu minta maaf ma seluruh keluarga mu ,, terutama dg Soraya ,,
maka hidup anda bisa lebih tenang pak Surya ,, mau berapa pun km kasih itu rejeki ,, gx kan pernah cukup tuk mengikuti gaya hidup si Ratih ,, 😒😒😒😒
Henny Saraswati
bisa lah,, buktinya Rania sama Alvino mau menikah🔥🔥🔥
Ilfa Yarni
ceraikan saja si Ratih itu dia bawa pengaruh buruk buatmu dia gila harta dan tahta mgkn dia tadinya orang miskin jadi ambisi jadi orang kaya yg tak tertandingi ceraikan dia dan kembali pd keluargamu adikmu soraya pasti memaafkan sikapmu
Nar Sih
lebih baik tinggal kan sja istri mu yg gk pernsh bersyukur pk surya dan cari sja putra mu
dewi rofiqoh
Lepaskan saja pak surya, klo emang bu ratih gk mau sadar diri
Aditya hp/ bunda Lia
dah misqueen baru sadar dan nyesel
Ummee
😢😢😢
jadi keinget pas lahiran dulu
Linda Ayu Tong-Tong
dah cerai aja dr ratih..ratih tidak akan prnah bs berubah krena sdh dr dlu sifatnya bgtu.sudah mndarah daging....
Lily
apa pak Surya belum tau,klau Bu Ratih GK suka ma Soraya krna Soraya mendapatkan aksara
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!