NovelToon NovelToon
Mari Bercerai, Mas!

Mari Bercerai, Mas!

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Identitas Tersembunyi / Penyesalan Keluarga / Tamat
Popularitas:3.2M
Nilai: 4.9
Nama Author: Senja

“Mari bercerai, Mas!”

Rania menatap lurus ke mata suaminya tanpa gentar, meski hatinya terasa hancur perlahan.

Harsa membeku. Kata cerai tak pernah ada dalam hidupnya. Baginya, Rania adalah miliknya selamanya, takdir yang tak bisa diubah siapa pun.

“Apa katamu?!”

Rania menggigit bibir, menahan sesak di dada sebelum akhirnya berkata pelan namun tegas, “Aku ingin bercerai. Aku sudah lelah menjadi istrimu!”

Selama tiga tahun pernikahan mereka, semuanya baik-baik saja. Harsa mencintainya dengan cara yang hangat. Sampai kematian sang adik mengubah segalanya.

Sejak saat itu, Harsa seolah perlahan menjauh darinya. Semua waktunya habis untuk menjaga janda adiknya dan keponakan kecil mereka. Sedangkan Rania, hanya menjadi bayangan di rumahnya sendiri.

Tak ada yang tahu, di balik senyum tenangnya, Rania sedang berjuang melawan penyakit yang mematikan.

Akankah Harsa setuju dengan perceraian itu? Ataukah Rania memilih pergi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 14

“Kamu mengusirku dari kamar ini? Apa kamu lupa siapa pemilik rumah ini? Aku yang membelinya, Rania! Aku—”

“Kamu membelinya dengan uang hasil kerja kerasku, Mas! Jangan pernah lupa siapa yang berada di belakangmu selama ini!” potong Rania.

Suaranya tidak lagi melengking, melainkan bergetar rendah, sarat akan tekanan emosi yang begitu pekat hingga membuat atmosfer kamar seketika membeku.

Kalimat yang selama tiga tahun ini ia kunci rapat-rapat di dasar sanubarinya agar tidak menyinggung harga diri sang suami, akhirnya terlontar begitu saja.

Rania menatap Harsa dengan dada yang naik-turun memburu, menantang langsung sepasang manik mata yang kini membelalak tidak percaya.

Harsa tersentak, mulutnya yang semula terbuka untuk membalas makian Rania mendadak terkunci rapat.

Kata-kata istrinya barusan laksana sebuah gada besi yang menghantam telak kesadarannya, meremukkan ego dan kesombongan yang selama ini ia agungkan di depan wanita itu.

Ya, Harsa bukanlah apa-apa tanpa Rania dan keluarganya.

Ingatan masa lalu yang pahit namun nyata mendadak berputar di kepala Harsa. Mereka menikah saat Harsa masih menjadi karyawan biasa dengan gaji pas-pasan, bahkan sering kali kesulitan untuk sekadar membayar sewa kontrakan.

Ayah Rania-lah, seorang pengusaha mapan yang disegani, yang melihat potensi dalam diri Harsa. Beliau yang memberikan modal, menyuntikkan dana ke proyek-proyek pertamanya, dan membuka jaringan bisnis kelas atas hingga Harsa bisa merangkak naik menjadi seorang manajer sukses dengan finansial yang melimpah seperti sekarang. Rumah mewah yang mereka tinggali saat ini, sebagian besar uang mukanya berasal dari tabungan Rania dan hadiah pernikahan dari sang mertua.

Harsa terpaku di tempatnya duduk. Kamar tidur yang luas itu mendadak terasa begitu sempit dan menyesakkan.

Ia menatap Rania, mencoba mencari sisa-sisa binar kepatuhan yang biasanya selalu ada di mata wanita itu, namun yang ia temukan hanyalah hamparan abu yang dingin.

“Rania...” Harsa memanggil nama istrinya dengan suara yang mendadak parau, kehilangan seluruh keangkuhannya.

“Kenapa kamu mengungkit hal itu, sayang? Aku tahu aku berutang banyak pada keluargamu, tapi bukan berarti kamu bisa—”

“Bukan berarti aku bisa merendahkanmu? Begitu, Mas?” Rania memotong dengan tawa getir yang terdengar sangat menyakitkan.

“Lalu bagaimana denganmu? Apa karena kamu merasa sudah sukses, kamu dan ibumu merasa berhak menginjak-injak harga diriku? Ibumu memaki rahimku kering, dan kamu... pikiranmu hanya tertuju pada Wulan!”

Harsa menelan ludah dengan susah payah. Rasa bersalah yang sempat menguap karena amarah, kini kembali datang berlipat ganda, merayap naik dan mencekik tenggorokannya.

“Rania, dengarkan aku dulu. Demi Tuhan, aku minta maaf," ucap Harsa, mencoba meraih jemari Rania yang terasa sedingin es.

“Aku mengaku salah. Aku terikat emosi karena lelah dengan urusan kantor. Soal Wulan... tolong jangan salah paham. Aku bersumpah tidak ada perasaan apa pun padanya. Aku hanya menganggap Wulan sebagai adik, tidak lebih. Suaminya sudah menyelamatkan nyawaku dulu. Menjaga Wulan dan Gavin adalah tanggung jawab moral yang harus kupenuhi, Rania. Hanya sebatas itu.”

Rania menarik tangannya dengan sentakan kasar, menolak mentah-mentah sentuhan Harsa yang kini terasa begitu asing dan hambar.

“Tanggung jawab moral, katamu?” tanya Rania, air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya luruh satu tetes, melewati pipinya yang pucat pasi.

“Lalu di mana tanggung jawab moralmu sebagai suamiku, Mas Harsa? Pernikahan ini bukan tentang kamu dan janji masa lalumu pada adikmu. Pernikahan ini tentang aku dan kamu! Tapi selama satu tahun ini, aku selalu menjadi yang nomor dua. Aku mengalah untuk pekerjaanmu, aku mengalah untuk ibumu, dan aku harus mengalah untuk masa lalu adikmu!”

“Aku tahu aku bersalah, Rania! Aku berjanji akan memperbaiki semuanya,” sela Harsa panik.

Melihat Rania yang sekaku ini membuat ketakutan aneh mulai menjalar di dadanya.

“Besok, aku bersumpah akan membawamu ke dokter terbaik. Kita periksa kesehatanmu. Aku akan meminta ibu untuk pulang ke kampung jika kehadirannya di sini hanya membuatmu tertekan. Tolong, jangan seperti ini...”

Rania menatap wajah panik Harsa. Untuk pertama kalinya, ia melihat suaminya yang selalu tenang dan berwibawa itu memohon di hadapannya.

Namun, segala bentuk kepedulian yang ditunjukkan Harsa saat ini tidak lagi mampu menyembuhkan luka yang terlanjur membusuk di dalam hatinya.

Semuanya sudah terlambat. Kesadarannya telah pulih bersamaan dengan rasa sakit yang menggerogoti fisiknya.

Rania mengembus napas panjang, membiarkan seluruh beban yang mengikat pundaknya selama satu tahun ini terlepas. Tatapannya melurus, menatap manik mata Harsa dengan kemantapan yang tak tergoyahkan.

“Tidak perlu ada yang diperbaiki lagi, Mas. Bagiku semuanya sudah selesai,” ucap Rania terdengar begitu tenang, namun ketenangan itulah yang justru paling mengerikan bagi Harsa.

“Apa maksudmu, Rania? Jangan bicara sembarangan!” Harsa mencengkeram kedua bahu Rania, matanya membelalak panik.

Rania tersenyum tipis, sebuah senyuman perpisahan yang teramat menyesakkan dada.

“Mari bercerai, Mas!”

Deg.

Harsa seketika tercengang. Tubuhnya membeku bagai batu, dan cengkeramannya di bahu Rania terlepas begitu saja.

Kalimat pendek itu terasa seperti hantaman petir di siang bolong, memutus seluruh urat nadi pertahanannya.

“C–cerai? Apa kamu sudah gila, Rania?!” Harsa menggelengkan kepalanya kuat-kuat, mencoba menepis kenyataan yang baru saja ia dengar.

“Hanya karena masalah sepele ini kamu meminta cerai? Pernikahan bukan mainan!”

Sepele katanya? Dasar suami tidak peka!

“Aku tidak sedang bermain-main, Mas. Aku lelah menjadi istrimu,” jawab Rania datar, ia merebahkan kembali tubuhnya ke atas kasur dan menarik selimut hingga ke dada, memunggungi Harsa yang masih mematung dengan wajah pucat pasi.

“Besok, setelah aku pulang dari rumah sakit, aku akan meminta pengacaraku untuk mengirimkan suratnya ke kantormu. Sekarang, keluarlah. Aku ingin istirahat.”

Harsa menatap punggung rapuh istrinya dengan dada yang terasa dihantam godam besar. Rasa sesak yang teramat sangat menyergapnya, menyadarkannya bahwa ia baru saja kehilangan mutiara paling berharga dalam hidupnya demi sesuatu yang fana.

“Sampai kapanpun, aku nggak akan menceraikan kamu!”

“Terserah.” hanya itu jawaban Rania.

1
Sri Yekti
😄😄😄🤣🤣🤣 ngebayangin avas mkn makanan asin dan gosong, mulutku ikut nyengir
Sri Yekti
mana ada laki² yg minta diajari istri.
Biasanya dia yg langsung nyosor.🤣🤣🤣🤣😁😁😁
Sri Yekti
Bahagianya pengantin baru....
Bagaimana dgn Harsa?
Sri Yekti
Kasihan kau Harsa.....semua salahmu sendiri
Sri Yekti
Gak usah sedih Harsa....Rania mmg bkn jodohmu.
Biarkan dia bahagia tanpa mu
Sri Yekti
😁😁😁😄😄😄 kok kedua tebakanku salah semua sih thor.....
Lakok dr Bagas yg dijodohin Tasya.
𝓢𝓮𝓷𝓲 𝓢𝓮𝓿𝓲𝔂𝓸𝓻𝓾𝓶: hehehe maapkna bunda🤭
total 1 replies
Sri Yekti
o....yg dijodohin tasya kukira Panji.
Tebakanku salah ya Thor...??
mungkin Jonathan ya thor....wadhuh..kl jadi mereka berdua ibarat anjing dan kucing dong......
😁😁😁 akan ribut setiap hsri
Sri Yekti
jangan²yg dijodohkan tasya adalah Panji.
Benar kan thor?
Sri Yekti
Sesal kemufian tiada guna Harsa
......
Sri Yekti
waduh....kok ada dr di RS memukul org. Padahal disitu jelas² yg dipukul sedang memangku org pingsan.
Harusnya kan menolong yg pingszn ya.
Ini di RS lo thor.....
Apa g mencoreng nama baik RS sendiri.😁😁😁
Sri Yekti
nah.....ketahuan kan belangnya si Wulan.....
Rasain kau Harsa dan Ratna.
kalian ditipu mentah² perempuan kuntilanak itu.
Sri Yekti
🤣🤣🤣😄😄😄 asyiiik....makin ramai ni...
Sri Yekti
lo...gimana sih thor....???
Katanya sidang msh minggu dpn?,
kok hr ini dah ketok palu.
Aku jd bingung deh....
Sri Yekti
jabgan mimpi Harsa....Rania g bakalan sudi lihat mukamu.
Apa lagi kembali padamu
Sri Yekti
😄😄😄🤣🤣🤣 Kena batunya kau Wula....😍
Ita Istiningrum
rasain kamu sekarang gigit jari 🤣😄🤭🤣😄
Sri Yekti
😄😄😄🤣🤣🤣 emang Rania msh peduli padamu So harso...pakai nelfon segala
Sri Yekti
mampus kamu Harsa....jadi orang sombong amat.
uang perusahaan kau hambur²kan.
Emang uang nenekmu...
???
Ita Istiningrum
wah jelaz si Harsa g mau lepas rania takut jadi kere dia🤭🤣🤭😄🤣
Ita Istiningrum
dasar jin dasim ada aja akal bulusnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!