NovelToon NovelToon
Legenda Arka Yudistira

Legenda Arka Yudistira

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Fantasi
Popularitas:11.3k
Nilai: 5
Nama Author: Sastra Aksara

Turnamen Peringkat Langit baru saja dimulai. Di hadapan para penguasa Alam Tiran, Arka Yudhistira melangkah ke arena bukan sebagai pecundang, melainkan sebagai naga yang tengah terjaga.
​Di antara bayang-bayang Ratna, Citra, dan kesetiaan Larasati, Arka siap mengguncang tatanan dunia. Panggung telah siap, pedang telah terhunus, dan sejarah baru akan segera ditulis.
​Inilah awal dari...
​LEGENDA ARKA YUDHISTIRA
​Biarkan dunia bersujud pada sang naga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

​​Ratna — 17 tahun — tingkat delapan Alam Bumi.

​Keheningan menyelimuti arena selama tiga detik penuh, sebelum akhirnya ledakan kehebohan meletus. Bahkan Luhur Pangestu dari Perguruan Pedang Surgawi pun berdiri terkejut.

​Tingkat delapan Alam Roh di usia tujuh belas tahun! Bakat gadis ini nyaris menyamai sang jenius nomor satu, Yoga.

​“Siapa gadis ini? Namanya tidak pernah terdengar!” gumam Jatmika dengan dahi berkerut.

​Arka menarik napas dalam. Bahkan ia pun terkejut melihat seberapa cepat Ratna berkembang. Sementara di sisi lain, Banu berteriak kegirangan, “Waaah! Kakak ternyata... sudah sehebat itu!”

​Akhirnya, nama tuan rumah, Perguruan Pedang Surgawi, dipanggil.

​“Perguruan Pedang Surgawi — Yoga, Umar, Yogi!”

​Arena kembali hening saat Yoga maju dan meletakkan tangannya di atas Batu Penilai.

​Yoga — 20 tahun — tingkat tiga Alam Jiwa.

​Batu itu memancarkan cahaya yang menyilaukan mata. Penonton seolah terkena ledakan granat di dalam hati mereka. Inilah praktisi Alam Jiwa pertama dan satu-satunya dalam sejarah turnamen ini. Lompatan dari Alam Bumi ke Alam Jiwa adalah lompatan dimensi, dan Yoga telah mencapai tingkat ketiga.

​“Tingkat tiga Alam Jiwa...” gumam Arka. “Menyebutnya jenius saja rasanya tidak cukup.”

​Umar — 19 tahun — tingkat sembilan Alam Bumi.

Yogi — 16 tahun — tingkat enam Alam Bumi.

​Arena kembali bergetar. Yogi, sang adik, menjadi peserta termuda sekaligus sangat berbakat. Berbeda dengan Yoga yang tenang seperti awan, Yogi tampak penuh semangat dan gairah bertarung.

​Tak lama kemudian, nama yang paling ditunggu—sekaligus paling diremehkan—akhirnya dipanggil.

​“Dari Akademi Pusat Surya Kencana...”

​Penatua Wayan tiba-tiba berhenti sejenak, menatap daftar nama di tangannya dengan dahi berkerut. Lalu dengan nada bicara yang terdengar aneh, ia melanjutkan:

​“Arka Yudistira.”

​Meskipun peringkat Kerajaan Surya Kencana dalam Turnamen Peringkat Langit tidak pernah terlalu gemilang, bagaimanapun juga mereka tetaplah Keluarga Kerajaan! Mereka memegang otoritas politik tertinggi di seluruh negeri. Karena itu, ketika nama "Kerajaan Surya Kencana" disebutkan, perhatian seluruh penonton langsung tertuju ke panggung.

​Namun setelah nama "Arka Yudistira" diumumkan, tatapan Penatua Wayan terangkat dari daftar nama—dan ia tidak menyebutkan nama berikutnya.

​Hanya satu nama tunggal.

​“Giliranku,” ujar Arka ringan. Ia berdiri dan berjalan tenang menuju Batu Penilai.

​Bisik-bisik langsung merebak di seluruh arena yang luas itu.

​“Eh? Kenapa cuma dia sendirian?”

​“Serius? Kerajaan hanya mengirim satu orang tahun ini? Apa karena istana sedang kacau?”

​“Ssst, jangan asal bicara. Siapa tahu kekuatannya begitu tinggi sampai satu orang saja cukup. Lagi pula, peringkat sekte ditentukan oleh murid dengan peringkat tertinggi.”

​Di bawah tatapan ribuan pasang mata, Arka melangkah turun dari tribun dan berjalan menuju pusat arena.

​Di area Padepokan Awan Beku, Ratna yang selama ini tenang dan tanpa ekspresi, tiba-tiba membelalakkan matanya di balik cadar. Ada getaran halus dalam suaranya saat ia berbisik lirih, “Dia... bagaimana mungkin... dia...”

​Pada saat yang sama, aura dingin yang menyelimuti Citra si Peri Es mendadak bergejolak hebat. Sorot matanya kosong sesaat, seolah jiwanya ditarik paksa oleh kenangan lama. Namun dalam sekejap, semuanya kembali tenang. Ia memalingkan wajahnya, tak lagi menatap Arka. Tak seorang pun tahu badai apa yang tengah berkecamuk dalam hatinya.

​“Eh?” Dewi menatap Arka dengan kening berkerut. “Ratna, tidakkah menurutmu pemuda itu mirip seseorang?”

​“Arka... Arka Yudistira...” gumam Ratna pelan, lalu menggeleng lembut. “Mereka memang sangat mirip, tapi tidak mungkin itu dia. Jalur energinya dulu telah lumpuh total. Lebih mustahil lagi ia punya hubungan dengan Keluarga Kerajaan...”

​Dewi mengamati Arka beberapa saat lagi. “Benar, mustahil itu dia. Tapi aneh sekali... ada dua orang di dunia ini yang begitu mirip.”

​“Kau pernah melihat orang ini sebelumnya?” tanya Citra tiba-tiba, alisnya terangkat tajam.

​“Tidak secara langsung. Tapi ia sangat mirip pemuda yang dulu bersikeras dinikahi Ratna di kampung halamannya. Namanya mirip, wajahnya pun serupa. Kebetulan yang mencengangkan,” jawab Dewi.

​Citra: “!!!!!”

​“Kak Citra, ada apa?” Dewi terkejut melihat aura kakaknya mendadak kacau balau.

​“Tidak ada,” jawab Citra pendek. Suaranya sedingin es yang membeku selama ribuan tahun. Namun sesaat kemudian terdengar suara krak! Sandaran kursi kayu jati di sisi kanannya hancur menjadi serbuk halus di bawah tekanan auranya.

​“Kak...?”

​“Jangan bertanya lagi. Aku baik-baik saja,” tegur Citra dingin. Sebagai salah satu dewi di Padepy Awan Beku, ia sangat dihormati. Meski curiga, Dewi tak berani bertanya lebih jauh.

​Hasil penilaian pun muncul di permukaan batu:

​Arka Yudistira — 17 tahun — tingkat sepuluh Alam Sejati.

​Sesaat, arena menjadi hening. Lalu, terdengar suara desis meremehkan dari segala arah. Disusul tawa tertahan, dan akhirnya ledakan tawa lepas tanpa kendali.

​“Pfft... Alam Sejati? Ada peserta Alam Sejati di turnamen tahun ini? Hahaha!”

​“Kerajaan mengirim murid seperti ini? Kupikir bakal ada kejutan... ternyata benar-benar 'kejutan'! Apa mereka datang untuk melawak di depan para pendekar?”

​“Hahaha! Sepertinya kita tak perlu takut jadi juru kunci lagi!”

​“Melihat Alam Sejati muncul di sini saja sudah menurunkan kelas turnamen ini. Tapi bocah itu berani berdiri di sana... kulit mukanya tebal sekali.”

​Bakat seorang pemuda tujuh belas tahun di puncak Alam Sejati sebenarnya tidak buruk. Namun yang ditertawakan bukan bakatnya, melainkan keberaniannya datang ke tempat di mana Alam Bumi adalah standar minimal peserta. Dalam sejarah Turnamen Peringkat Langit, belum pernah ada peserta dari Alam Sejati. Ini dianggap sebagai penghinaan terhadap gengsi turnamen.

​“Dia benar-benar datang...” gumam Yoga, wajahnya menampakkan ketertarikan.

​“Wah! Sudah tingkat sepuluh Alam Sejati! Hebat!” Yogi justru berseru kagum.

​Reaksi keduanya membuat sang ayah, Luhur Pangestu, mengangkat alis. “Kalian mengenalnya?”

​Yoga mengangguk tipis. “Dia orang yang pernah kuceritakan pada Ayah. Setengah tahun lalu kekuatannya baru tingkat tiga Alam Sejati, tapi ia mampu menahan serangan Yogi. Kini sudah di puncak. Kecepatan peningkatannya... melampaui diriku dulu.”

​“Apa?” kilat keheranan melintas di mata Luhur. Ia mulai memandang Arka dengan tatapan berbeda. Meski begitu, ia tetap menggeleng. “Tingkat energi bukan segalanya, tapi tetap indikator utama. Sayangnya... ia datang terlalu cepat. Di hadapan para jenius Alam Bumi, dia tetaplah mangsa empuk.”

​Di tengah cemoohan, Arka tetap tenang. Setelah mengambil nomor undian, ia turun tanpa perubahan ekspresi sedikit pun.

​“Hahaha! Kerajaan benar-benar mengirim sampah! Mau mempermalukan diri?” tawa Fikri pecah. Namun ia menyadari wajah Juan Surya tampak kaku dan sangat suram.

​“Kak Juan? Ada apa?”

1
Jojo Shua
🥛✅️✅️
Jojo Shua
☕️☕️☕️
Jojo Shua
👍👍
Jojo Shua
👍
Jojo Shua
😄🔥
Jojo Shua
🥛👍🫰
Jojo Shua
🫰🫰
Jojo Shua
🫰
Jojo Shua
🇨🇵🇨🇵🇨🇵
Jojo Shua
😄🫰🔥✅️
Jojo Shua
🫰🫰
Jojo Shua
🫰
Jojo Shua
😄😄
Jojo Shua
🇨🇵
Jojo Shua
yu
Jojo Shua
c
Jojo Shua
👍👍
Jojo Shua
👍
Jojo Shua
🇨🇵
Jojo Shua
🫰🫰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!