NovelToon NovelToon
SIAPA TAKUT Jadi BEDA?

SIAPA TAKUT Jadi BEDA?

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:548
Nilai: 5
Nama Author: Danisa Danish

Di saat fisiknya yang sawo matang selalu dihina oleh geng Ivanka, Alisha membuktikan bahwa kecerdasan dan rasa percaya diri jauh lebih memikat daripada standar kecantikan dunia. Namun, ketangguhannya diuji oleh Reyshaka, rival abadi berotak encer yang hobinya berdebat, tapi diam-diam selalu pasang badan paling depan saat Alisha direndahkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danisa Danish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Strategi Gangguan Berkedok Fisika

Seharusnya hari Sabtu adalah hari tenang internasional bagi Alisha. Hari di mana ia bisa terbebas dari segala macam rumus mekanika kuantum, hukum termodinamika, dan yang paling penting: terbebas dari makhluk menyebalkan bernama Reyshaka.

Namun, semua ekspektasi damai itu hancur berantakan ketika sebuah motor besar berwarna hitam legam berhenti dengan suara menderu tepat di depan pagar rumahnya pada jam dua siang.

Alisha yang saat itu sedang menyiram tanaman bunga Vinca kesayangannya di teras, langsung melongo. Di atas motor itu, Shaka membuka kaca helm full-face-nya, menampilkan cengiran lebar tak berdosa yang belum pernah Alisha lihat sebelumnya di sekolah. Cowok itu memakai kaus putih polos santai dan celana jins hitam, membuat aura "kakak kelas idaman" yang biasa melekat di sekolah mendadak luntur menjadi mode "cowok komplek sebelah yang hobi kelayapan".

"Sore, partner!" seru Shaka tanpa beban, menurunkan standar motornya. "Kebetulan lewat, terus ngeliat ada singa betina lagi melihara tanaman. Lagi ngasih makan rumput ya?"

Alisha meletakkan selang airnya dengan hentakan kesal. "Ini bunga Vinca, Reyshaka! Bukan rumput! Lagian ngapain lo ke rumah gue siang-siang bolong gini? Gak sopan banget gak bilang-bilang!"

Shaka melangkah masuk ke pekarangan rumah Alisha dengan santai, mengabaikan wajah judes sang tuan rumah. "Gue kan mentor yang bertanggung jawab. Sengaja ke sini mau mastiin kalau partner gue gak amnesia sama tugas bikin bank soal buat hari Senin nanti."

"Kan bisa lewat WhatsApp, Shak!" ketus Alisha, melipat tangan di dada.

"Gak seru. Kalau lewat chat, gue gak bisa ngeliat muka lo yang berkerut kayak baju belum disetrika pas lagi mikir," balas Shaka lempeng, lalu tanpa permisi langsung duduk di kursi kayu teras rumah Alisha. "Tuan rumahnya pelit ya, tamunya gak ditawarin minum?"

Alisha menarik napas dalam-dalam, mencoba menyabarkan dadanya yang mulai kembang kempis menahan gemas. "Tunggu di sini. Jangan pegang-pegang tanaman gue!" ancam Alisha sebelum masuk ke dalam rumah untuk mengambilkan minum.

Ternyata, itu baru permulaan dari hari paling melelahkan bagi kesehatan mental Alisha.

Setelah Alisha kembali membawa nampan berisi dua gelas es teh manis, Shaka sudah membuka buku catatan besar di atas meja. Namun bukannya mulai menyusun soal, cowok itu malah menatap Alisha dengan binar mata jail yang sangat mencurigakan.

"Sha, lo tahu gak kenapa es teh manis ini mirip sama lo?" tanya Shaka tiba-tiba sambil mengetuk-ngetuk pinggiran gelas dengan pulpen.

Alisha yang baru saja mau duduk, langsung memasang wajah waspada. "Gak tahu dan gak minat tahu."

"Dih, dengerin dulu. Ini namanya ilmu pendekatan berbasis sains," Shaka terkekeh, memajukan badannya sedikit. "Es teh ini manis, tapi dingin karena ada es batu. Sama kayak lo. Judes, dingin, tapi... kalau dilihat-lihat makin manis juga."

"Shaka!!" Alisha melempar kotak pensil kainnya tepat ke arah dada Shaka, yang dengan sigap langsung ditangkap oleh cowok itu sambil tertawa renyah. Suara tawa Shaka yang lepas terdengar sangat renyah, jauh sekali dari kesan cowok kulkas sepuluh pintu yang ada di SMA Pelita Bangsa.

"Oke, oke, serius," ucap Shaka, mencoba meredakan tawanya walau matanya masih berkedip jail. Ia menggeser buku catatannya ke tengah. "Ayo kita mulai bikin soalnya. Lo yang bikin soal bab optik geometri, gue bagian gelombang elektromagnetik."

Awalnya sesi pengerjaan draf soal berjalan lancar selama lima belas menit. Alisha mulai fokus menghitung angka-angka agar menghasilkan jawaban jenuh yang pas. Tapi, dasarnya Reyshaka memang sedang dalam mode ingin menguji batas kesabaran Alisha, gangguan berikutnya pun dimulai.

Saat Alisha sedang serius mencoret-coret kertas buram, Shaka tiba-tiba menaruh ujung pulpennya di atas dahi Alisha, menahan poni rambut panjang gadis itu yang agak menjuntai.

"Gila, dahi lo kalau lagi mikir keras kerasnya mengalahkan gaya gesek statis maksimun, Sha. Tegang banget. Santai dikit napa," goda Shaka, sengaja mencolek pelan ujung hidung sawo matang Alisha menggunakan ujung jari telunjuknya.

"Reyshaka, tangan lo bisa diem gak?! Gue lagi nyari ralat dari pembiasan cahaya ini!" Alisha menepis tangan Shaka dengan wajah memerah—campuran antara kesal dan gugup yang luar biasa karena jarak mereka yang terlalu dekat.

"Ya habisnya lo serius banget. Nih, biar lo dapet inspirasi," Shaka tiba-tiba merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah benda kecil. Sebuah jepit rambut plastik berbentuk kepala beruang berwarna cokelat yang sangat kekanak-kanakan.

Sebelum Alisha sempat menghindar, Shaka dengan gerakan cepat menjepitkan benda itu di poni rambut panjang Alisha yang terurai.

Klik.

"Nah, kalau gini kan poni lo gak ngehalangin mata. Plus, tingkat keimutan lo nambah sepuluh persen, mengimbangi tingkat kejudesan lo yang udah seratus persen," ujar Shaka puas, menatap hasil karyanya di kepala Alisha sambil menopang dagu dengan kedua tangan.

Alisha reflek memegang jepit rambut itu, matanya melotot. "Ini apa-apaan, Shak?! Jelek banget! Sejak kapan lo punya jepit ginian?!"

"Punya adek sepupu gue, tadi ketinggalan di jok motor. Cocok ternyata di lo, ambil aja. Anggap aja bonus karena udah jadi partner mentor yang sabar," jawab Shaka tanpa dosa, wajah lempengnya benar-benar minta ditabok pakai penggaris besi panjang.

Alisha sudah siap melepaskan jepit itu, tapi Shaka langsung menahan pergelangan tangannya. "Jangan dilepas. Kalau dilepas, draf soal bagian gue gak bakal gue kerjain, dan hari Senin lo harus ngajar satu kelas sendirian."

Ancaman itu sukses membuat Alisha mati kutu. Ia akhirnya pasrah duduk dengan jepit beruang cokelat di kepalanya, menahan malu yang luar biasa, sementara Shaka kembali bersenandung pelan sambil melanjutkan tulisan rumusnya dengan wajah penuh kemenangan yang super menyebalkan.

Kehebohan di teras rumah itu ternyata menarik perhatian Aleta yang sejak tadi diam-diam mengintip dari balik tirai jendela ruang tamu. Melihat kakaknya yang biasanya kaku dan galak kini pasrah dikerjai oleh cowok jangkung berwajah tampan itu, Aleta langsung menyeringai lebar.

Aleta sengaja membuka pintu rumah dengan hentakan keras, membuat Alisha dan Shaka otomatis menoleh.

"Wah, wah, wah! Mbak Alisha! Itu jepit rambutnya estetik banget ya, cocok sama muka Mbak yang lagi ralat rumus!" seru Aleta sengaja memanaskan suasana. Ia melangkah keluar sambil membawa setoples keripik singkong. "Sore, Kak Shaka! Sering-sering aja ya main ke sini, biar Mbak Alisha gak cemberut terus di rumah!"

"Aleta! Masuk gak lo!" ancam Alisha dengan suara tertahan, wajahnya sudah merah padam sampai ke telinga.

Shaka justru tertawa lebar, melambaikan tangannya pada Aleta. "Sore, Teta. Santai aja, Mbak lo lagi saya kasih terapi fisika biar gak gampang darah tinggi."

Hari Sabtu yang melelahkan itu akhirnya ditutup dengan suara tawa riuh Aleta dan Shaka yang kompak menjahili Alisha, sementara Alisha hanya bisa menenggelamkan wajahnya di atas buku catatan fisika dengan jantung yang berdegup ugal-ugalan. Cara Shaka mengganggunya memang sangat menyebalkan dan jauh dari kata romantis formal, tapi anehnya, cara kocak dan kasual inilah yang justru berhasil membuat Alisha merasa benar-benar hidup dan melupakan seluruh beban pikirannya.

1
S3C
semangat author 👍👍👍👍
Anisa Nurlatifah: siap,Makasihhhh😍😍😍😍👍💪
total 1 replies
Anisa Nurlatifah
😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!