Di Alam Fana yang kejam, bakat adalah segalanya. Lin Ye, seorang pemuda dengan meridian cacat, ditakdirkan menjadi pelayan seumur hidupnya. Namun, nasibnya berubah ketika darahnya tak sengaja membangkitkan sebuah relik berkarat: Kuali Penelan Bintang.
Kuali kuno ini bukan sekadar alat pelebur pil, melainkan artefak primordial yang mampu melahap esensi langit dan bumi, bahkan menelan energi bintang-bintang. Dalam perjalanan kultivasi yang lambat, penuh perhitungan, dan berdarah, Lin Ye perlahan mengubah fisik fananya, menembus kemustahilan, dan melangkah ke jalan keabadian.
Ini bukan kisah pahlawan instan, melainkan seorang pemuda biasa yang merangkak dari debu, menentang takdir surga, dan pada akhirnya, melahap seluruh kosmos untuk melindungi apa yang ia hargai. Langit kesembilan pun akan gemetar di bawah kualinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Starlope, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Turnamen Besar
Genderang kulit naga bumi ditabuh tiga kali, suaranya bergema bagai guntur yang membelah lautan awan di atas Gunung Qingyun. Hari ini, Alun-Alun Awan Tembaga tidak lagi berfungsi sebagai tempat pembagian jatah atau titik kumpul ekspedisi. Tempat itu telah disulap menjadi arena pertarungan raksasa yang dikelilingi oleh pilar-pilar batu berukir formasi pelindung.
Turnamen Besar Sekte Luar telah dimulai.
Ribuan murid luar berkumpul dengan mata memancarkan ambisi yang menyala-nyala. Bagi mereka, ini bukan sekadar ajang unjuk kekuatan tahunan. Seratus posisi teratas akan mendapatkan hak istimewa memasuki Makam Pedang Awan Jatuh—sebuah Ranah Rahasia yang dipenuhi peluang, pusaka kuno, dan obat-obatan spiritual yang mampu mengubah nasib seekor ikan mas menjadi naga.
Di atas mimbar kehormatan yang terbuat dari batu giok putih, duduk lima orang Tetua sekte luar. Aura mereka sangat dalam dan menekan, masing-masing berada di Alam Pembentukan Fondasi tahap menengah hingga akhir. Tatapan mereka menyapu arena bagai dewa yang sedang menilai semut-semut yang bertarung di bawah sana.
Sementara itu, di pinggiran arena, di balik garis batas formasi pelindung, puluhan pelayan fana berlarian membawa handuk, air minum, dan ramuan penyembuh tingkat rendah. Di antara mereka, memanggul nampan kayu berisi teko teh spiritual yang berat, adalah Lin Ye.
Jubah abu-abunya masih terlihat lusuh, posturnya masih sedikit membungkuk. Namun, di balik penampilannya yang merendah, sepasang mata hitam pekat Lin Ye mengamati setiap pertarungan di atas arena dengan ketajaman seekor elang purba.
TRANG! BLAAAR!
Di arena nomor tiga, dua orang murid Tingkat Kelima sedang bertarung sengit. Pedang yang dialiri Qi elemen api berbenturan dengan perisai Qi elemen tanah, menciptakan gelombang kejut yang membuat debu beterbangan. Penonton bersorak kagum melihat cahaya spiritual yang menyilaukan mata tersebut.
Namun, di mata Lin Ye, pertarungan itu terasa sangat membosankan dan penuh dengan celah fatal.
Terlalu banyak gerakan yang tidak perlu, batin Lin Ye sambil menuangkan teh ke cangkir seorang Diaken. Murid berelemen api itu memusatkan seluruh Qi-nya ke bilah pedang untuk terlihat mengintimidasi, tapi membiarkan ketiak kirinya dan lutut kanannya sama sekali tidak terlindungi. Kuda-kudanya goyah. Jika aku berada di sana, aku tidak perlu menggunakan Qi. Satu sentilan kerikil ke tempurung lututnya saat dia melompat, dan lehernya akan patah saat mendarat.
Lin Ye menggelengkan kepalanya pelan. Sejak mencapai Puncak Tingkat Ketujuh Alam Bina Tubuh, persepsi fisik dan refleksnya telah melampaui pemahaman kultivator Pengumpulan Qi biasa. Kecepatan pedang terbang yang dielu-elukan oleh para murid luar kini terlihat selambat daun yang jatuh tertiup angin di matanya.
Perhatian alun-alun tiba-tiba tersedot ke arena utama. Suasana seketika menjadi hening sebelum meledak dalam sorakan riuh.
Su Yue melangkah naik ke atas panggung batu. Gaun putihnya berkibar ringan, dan pedang es kristalnya memancarkan hawa dingin yang membuat suhu di sekitar arena anjlok belasan derajat. Lawannya adalah seorang pemuda bertubuh kekar seperti beruang, memegang sepasang palu godam raksasa. Dia adalah Zhao Kuang, kultivator kuat di Puncak Tingkat Keenam yang terkenal dengan kekuatan fisik dan Qi elemen tanahnya yang keras.
"Saudari Junior Su, pedang esmu mungkin tajam, tapi tidak akan bisa menembus Perisai Inti Bumi milikku! Menyerahlah, aku tidak ingin merusak wajah cantikmu!" tawa Zhao Kuang menggelegar, memukul kedua palu godamnya hingga menciptakan percikan api.
Su Yue tidak menjawab. Wajahnya sedingin pualam. Ia hanya mengangkat pedangnya dengan elegan.
Zhao Kuang mengaum, melompat ke udara bagai gunung kecil yang runtuh, mengayunkan palu godamnya lurus ke arah kepala Su Yue. Tekanan angin dari serangannya bahkan membuat formasi pelindung arena beriak.
Saat palu itu hampir mengenainya, Su Yue bergerak. Bukan mundur, melainkan melangkah maju dengan kecepatan bayangan.
"Tebasan Es Pembelah Jiwa."
Suara bening Su Yue bergema ringan. Pedangnya melesat, bukan untuk menangkis palu, melainkan menyentuh pergelangan tangan Zhao Kuang.
Seketika, energi Yin murni meledak dari ujung pedang Su Yue. Sejak meridiannya dibersihkan dan energi liar di tubuhnya dihisap oleh Kuali Bintang milik Lin Ye di tambang es waktu itu, Qi es Su Yue kini tidak lagi memiliki hawa beracun yang merusak dirinya sendiri. Qi-nya kini sangat murni, stabil, dan seratus kali lipat lebih mematikan.
KRAAAK!
Lapisan es biru tua menjalar dengan kecepatan kilat, membekukan kedua palu raksasa Zhao Kuang, lalu merambat naik membekukan lengan pemuda kekar itu dalam sekejap mata. Zhao Kuang jatuh terjerembab, palu godamnya hancur menjadi serpihan es saat membentur lantai batu, dan ia mengerang kesakitan dengan lengan membeku kaku tak bisa digerakkan.
Pertarungan selesai hanya dalam satu tarikan napas.
Keheningan melanda seluruh alun-alun. Para Tetua di mimbar kehormatan mengangguk puas, bahkan beberapa saling berbisik mengagumi kemurnian elemen es gadis itu.
Su Yue menyarungkan pedangnya dan membungkuk hormat. Saat ia berjalan turun dari arena, matanya yang tajam menyapu area pinggiran secara diam-diam. Pandangannya terpaku sesaat pada sosok pelayan kurus berbaju lusuh yang sedang menunduk mengelap tumpahan teh di meja panitia.
Melihat "Senior" itu mengelap meja dengan postur pelayan yang begitu sempurna dan merendah, Su Yue merasakan hawa dingin merayap di punggungnya. Bermain di dunia fana dengan menyegel kultivasi ilahinya... ketangguhan mental Senior benar-benar melampaui batas langit.
Malam harinya, setelah Turnamen Besar hari pertama usai, Hutan Bambu Hitam kembali diselimuti kesunyian.
Di dalam gubuk kayunya, Lin Ye sedang mengunyah sisa roti keras. Tiba-tiba, sebuah ketukan pelan sebanyak tiga kali dengan ritme aneh terdengar dari pintunya.
Lin Ye menyipitkan mata. Ia dengan cepat menekan seluruh aura fisik Puncak Tingkat Ketujuh-nya kembali ke dalam Kuali Bintang, membiarkan kulit perunggunya kembali memucat dan napasnya terdengar lemah.
"Masuk," ucapnya parau.
Pintu terbuka tanpa suara. Su Yue, berbalut jubah hitam panjang yang menutupi gaun putihnya, menyelinap masuk layaknya bayangan dan segera berlutut dengan satu kaki di hadapan Lin Ye.
"Junior memberi salam pada Senior," bisik Su Yue hormat. "Turnamen telah selesai. Junior berhasil menempati peringkat ketiga dan secara resmi mendapatkan hak untuk memasuki Makam Pedang Awan Jatuh yang akan dibuka tiga hari lagi."
Lin Ye tidak menoleh, ia hanya menatap sisa roti di tangannya. "Dan rencana penyusupanku?" tanyanya datar, suaranya diubah menjadi berat dan penuh gema kuno.
Su Yue mengeluarkan sebuah lencana kayu hitam dari balik jubahnya dan mengangkatnya dengan kedua tangan.
"Melapor pada Senior. Sesuai instruksi yang Senior sampaikan sebelumnya, Junior telah menggunakan hak istimewa sebagai Sepuluh Terbaik turnamen. Peringkat sepuluh teratas diizinkan membawa satu orang pelayan fana ke dalam Makam Pedang untuk bertugas sebagai pengangkut bahan herbal dan penambang bijih spiritual, karena Cincin Penyimpanan terlalu langka untuk dimiliki oleh murid luar."
Lin Ye mengambil lencana kayu itu. Di permukaannya terukir kata 'Pelayan Su Yue'. Sebuah senyum tipis terukir di sudut bibirnya. Aturan sekte yang merendahkan manusia fana ini ternyata menjadi celah terbaiknya.
Namun, raut wajah Su Yue tampak ragu-ragu dan cemas. "Senior... ada satu hal yang sangat mengkhawatirkan. Lencana ini tidak bisa langsung membawa Senior masuk begitu saja. Formasi pintu masuk Makam Pedang dijaga oleh Cermin Tulang Penembus Roh yang dikendalikan langsung oleh Tetua Penegak Hukum."
"Cermin Tulang?" Lin Ye mengangkat alisnya pelan.
"Benar," Su Yue menelan ludah. "Itu adalah pusaka spiritual tingkat menengah. Setiap pelayan fana yang dibawa masuk harus melewati cahaya cermin itu. Cermin itu akan menelisik tubuh pelayan untuk memastikan mereka benar-benar fana, tidak memiliki Qi spiritual yang disembunyikan, dan meridian mereka tertutup. Sekte melakukan ini untuk mencegah kultivator ahli dari sekte musuh menyusup masuk menyamar sebagai pelayan."
Su Yue menundukkan kepalanya lebih dalam, suaranya bergetar. "Junior tahu kultivasi Senior melampaui langit, namun Cermin Tulang itu sangat peka terhadap riak Qi sekecil apa pun. Jika Senior tidak sengaja membocorkan sehelai saja aura ilahi Senior saat ditelisik, identitas penyamaran Senior akan langsung terbongkar, dan seluruh Tetua sekte akan mengepung kita!"
Lin Ye terdiam sejenak. Tangannya memutar lencana kayu hitam itu.
Cermin Tulang Penembus Roh. Pusaka pendeteksi Qi. Di mata kultivator normal, ini adalah alat pelacak yang mustahil dikelabui. Sekuat apa pun seseorang menyembunyikan Qi-nya, cermin itu akan melihat sisa energi di dalam meridian dan inti Dantian.
Namun, Lin Ye bukanlah kultivator normal. Dia adalah eksistensi yang menyalahi hukum alam yang diciptakan oleh Kuali Penelan Bintang.
Tubuhnya tidak memiliki Qi spiritual. Dia tidak pernah menyerap energi surga dan bumi ke dalam meridiannya, karena meridiannya memang cacat bawaan sejak lahir. Semua energi yang ia lahap dari racun api, sumsum es, dan darah binatang iblis, telah dilebur murni menjadi kepadatan otot dan kekuatan tulang oleh Kuali Bintang.
Selama ia tidak memicu kualinya dan membiarkannya diam tak bergerak di dalam Dantian-nya, pada hakikatnya, ia adalah manusia fana seutuhnya tanpa riak magis sedikit pun!
"Kau meragukan kemampuanku untuk menjadi manusia fana?" suara Lin Ye mendadak menjadi sangat dingin, menyebarkan aura intimidasi purba yang membuat Su Yue merasa seperti dicekik oleh tangan tak terlihat.
"T-tidak, Senior! Junior tidak berani!" Su Yue langsung bersujud hingga dahinya menyentuh lantai kayu. Keringat dingin membasahi punggungnya. Ia merutuki kebodohannya sendiri karena berani mempertanyakan batas kekuatan monster tua ini.
Aura itu langsung lenyap, seolah tidak pernah ada.
"Kembalilah dan persiapkan dirimu," perintah Lin Ye dengan nada datar, kembali menatap roti keras di tangannya. "Pada hari pembukaan Makam Pedang, panggil aku di pelataran seperti kau memanggil keledai pengangkut. Jika kau menunjukkan sedikit saja rasa hormat di depan para Tetua, aku akan menghancurkan Dantian-mu di tempat."
"Baik, Senior! Junior akan mengingatnya," Su Yue bangkit dengan susah payah, membungkuk sekali lagi, lalu menghilang ke dalam kegelapan malam, merasa lega karena masih dibiarkan hidup.
Setelah Su Yue pergi, Lin Ye tersenyum lebar. Matanya berkilat dengan kegembiraan yang buas.
"Makam Pedang Awan Jatuh... Ranah Rahasia yang dipenuhi binatang iblis kuno yang menyimpang dan ribuan tanaman herbal spiritual berusia ratusan tahun," bisik Lin Ye, tangannya mengepal erat hingga lencana kayu di tangannya berderit pelan.
Bagi para murid luar jenius seperti Su Yue, tempat itu adalah ladang ujian dan perburuan. Tapi bagi Lin Ye dan Kuali Penelan Bintangnya yang tengah kelaparan, Makam Pedang itu adalah gelaran pesta pora terbesar di seluruh wilayah sekte.
Tiga hari lagi, perburuan yang sesungguhnya akan dimulai.