Kalau kamu butuh novel yang ceritanya manis, menggemaskan, dan ringan, untuk menemani waktu istirahat dan mengusir penat, kisah tentang Anaya dan Bos narsisnya adalah pilihan terbaik.
Setelah lima tahun bertahan menghadapi Bima—CEO muda genius, tajir melintir, dan narsisnya selangit—Anaya sang sekretaris kompeten memutuskan resign demi mengejar mimpi membuka toko kue dan toko buku kecil.
Beban finansialnya tuntas sejak adiknya sukses menjadi atlet nasional.
Namun, rencana resign itu buyar saat Mama Bima justru menjebaknya untuk menjadi menantu. Bagaimana kelanjutan nasib Anaya?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina Sani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20: TAMU TAK DIUNDANG DI LOBI
"Satu, dua, tiga... tarik napas, Anaya. Jangan sampai kamu mati muda cuma gara-gara kekurangan pasokan oksigen di depan ruangan CEO," bisik Anaya pada dirinya sendiri. Dia merapikan kulot kremnya yang untungnya longgar, lalu buru-buru berjalan setengah berlari menuju kubikel kerjanya. Pipi wanita itu masih terasa panas, seolah jempol besar Pak Bima masih menempel di sudut bibirnya.
Sisa jam kerja hari itu berjalan seperti simulasi ujian akhir semester—penuh tekanan dan membuat asam lambung naik. Untungnya, Pak Bima mendadak sibuk dengan rapat maraton bersama para investor dari luar kota, sehingga Anaya bisa bernapas lega tanpa harus bertatap muka langsung dengan pria yang otaknya sudah mulai terkontaminasi stroberi itu.
Begitu jam digital di komputer menunjukkan pukul lima sore lewat semenit, Anaya langsung melakukan ritual shutdown komputer tercepat sepanjang sejarah kariernya. Dia mengemas tasnya, menyemprotkan ulang parfum Black Opium andalannya—kali ini dengan perasaan sedikit menantang—dan segera melangkah menuju lift. Sesuai janjinya di grup WhatsApp tadi siang, dia akan menyusul acara kumpul-kumpul malam ini. Dan yang paling penting, seseorang sudah berjanji untuk menjemputnya di lobi kantor.
"Pokoknya malam ini saya harus bebas dari bayang-bayang bos purba itu," gumam Anaya penuh kemenangan saat pintu lift berdenting terbuka di lantai dasar.
Namun, begitu kakinya melangkah keluar dari lorong lift menuju area lobi utama gedung Bimantara Tower, Anaya mendadak menghentikan langkahnya. Suasana lobi yang biasanya formal dan sunyi sore ini berubah agak gaduh. Kerumunan karyawan wanita—mulai dari staf divisi akuntansi, resepsionis, sampai mbak-mbak magang—tampak berkumpul di dekat pintu kaca besar, saling berbisik heboh sambil mencuri-curi pandang ke arah halaman depan.
"Gila, itu siapa sih? Ganteng banget, badannya tegap, keliatnya dalemnya kotak-kota kayak roti sobek!"
"Anak magang baru ya? Tapi kok bawa motor gede? Speknya kayak aktor film laga!"
Anaya mengernyit bingung. Karena penasaran, dia ikut melongokkan kepalanya melewati kerumunan. Di seberang pintu kaca, terparkir sebuah motor gede cruiser hitam legam yang mesinnya baru saja dimatikan. Di atas motor itu, duduk seorang pria muda dengan postur tubuh yang atletis.
Pria itu mengenakan jaket kulit hitam yang pas di badan, membungkus dada bidang dan lengan berototnya dengan sempurna. Begitu pria itu melepas helm full-face-nya, rambut hitamnya yang sedikit berantakan terkena angin langsung jatuh dengan pas di dahinya. Dia adalah Arden—adik kandung Anaya.
Arden mengedarkan pandangannya ke dalam lobi, dan begitu matanya menangkap sosok Anaya, sebuah senyuman lebar langsung terbit di wajah tampannya, memamerkan deretan gigi putih yang rapi dan lesung pipi yang sukses membuat beberapa staf wanita di dekat Anaya memekik tertahan.
"Mbak Nay!" seru Arden setengah berteriak sambil melambaikan tangan kirinya, sementara tangan kanannya mengangkat sebuah helm cadangan berwarna merah muda. "Ayo! Keburu macet jalannya!"
Anaya langsung menepuk jidatnya sendiri. "Aduh, Arden... kenapa harus pake motor gede segala sih? Mana pake teriak-teriak lagi," cicit Anaya, menahan malu karena sekarang seluruh mata di lobi mendadak tertuju padanya dengan pandangan penuh selidik dan rasa iri yang membara.
Sementara itu, di lantai atas, tepatnya di koridor kaca yang menghadap langsung ke arah halaman lobi, Bima baru saja keluar dari ruang rapat bersama beberapa direktur. Langkah kaki Bima yang lebar mendadak melambat saat matanya yang super jeli menangkap kerumunan tidak biasa di lantai bawah melalui dinding kaca transparan.
Bima mendekat ke pinggiran pagar kaca, menumpu kedua tangannya di atas pembatas sambil melayangkan pandangan tajamnya ke bawah. Detik berikutnya, rahang tegas sang CEO langsung mengeras sempurna. Sorot matanya yang tadi siang sempat melunak setelah memakan stroberi, kini berubah menjadi sedingin es kutub utara.
Dari ketinggian itu, Bima bisa melihat dengan sangat jelas bagaimana Anaya berjalan keluar menemui pria berjaket kulit di atas motor gede tersebut. Pria itu tampak jauh lebih muda, punya potongan tubuh tegap yang harus Bima akui —dengan sangat terpaksa dan penuh rasa benci— cukup atletis, dan yang paling membuat darah Bima mendidih adalah senyuman lebar pria itu saat menyambut Anaya.
Bima memperhatikan bagaimana pria asing itu dengan santainya memakaikan helm merah muda ke kepala Anaya, bahkan sempat merapikan anak rambut Anaya yang keluar dari helm dengan gerakan yang teramat perhatian. Anaya sendiri tidak menolak, wanita itu justru tertawa lepas—sebuah tawa renyah yang hampir tidak pernah dia berikan pada Bima selama lima tahun bekerja, kecuali kalau sedang menertawakan kesialan Bima—.
Sialan, umpat Bima dalam hati. Tangan besarnya yang mencengkeram pembatas kaca mengetat hingga urat-uratnya menonjol putih. Rasa posesif yang liar kembali mencuat dari dalam dadanya, kali ini berkali-kali lipat lebih panas dan membakar.
Jadi ini alasan kamu buru-buru pulang, Anaya? Demi berondong bermotor gede yang pamer otot di halaman kantor saya? batin Bima bergemuruh penuh amarah yang tertahan.
Pikiran Bima langsung traveling ke arah yang salah. Dia langsung mengira pria muda itu adalah gebetan baru, atau lebih buruk lagi: alasan kenapa Anaya bersikeras memberikan suratresignminggu lalu.
Seorang direktur di samping Bima menyadari perubahan aura bosnya yang mendadak mencekam. "Pak Bima? Ada yang salah dengan laporan investasinya?"
"Rapatnya selesai. Kalian boleh pulang," jawab Bima pendek dengan suara yang teramat dingin dan tajam, membuat sang direktur langsung bungkam dan buru-buru pamit undur diri sebelum menjadi korban amukan sang CEO.
Di bawah, Anaya baru saja naik ke atas boncengan motor gede Arden. Karena jok belakang motor itu cukup tinggi dan menanjak, Anaya terpaksa memegang kedua bahu Arden agar tidak terjungkal ke belakang.
"Mbak Nay, pegangan yang kenceng ya! Motorku agak nyentak kalo digas," teriak Arden di balik helmnya.
"Iya, Arden! Gak usah ngebut-ngebut, yang penting sampai!" balas Anaya.
Tepat sebelum Arden menarik tuas gasnya, Anaya entah kenapa merasa ada sebuah tatapan mata yang sangat berat dan tajam sedang menusuk punggungnya dari atas. Refleks, Anaya mendongakkan kepalanya ke arah gedung kaca Bimantara Tower.
Di lantai atas, di balik dinding kaca, berdiri sosok tegap Bima yang sedang menatapnya lurus-lurus tanpa berkedip. Jarak mereka memang jauh, tapi Anaya bisa merasakan dengan sangat jelas aura kegelapan dan kemarahan yang dipancarkan oleh bos narsisnya itu. Wajah Bima terlihat begitu dingin, sekaku patung marmer, seolah-olah siap turun ke bawah dan menendang motor Arden kapan saja.
Glek.
Anaya menelan ludahnya dengan susah payah di dalam helm. "Aduh mampus... Pak Bima ngelihat lagi. Besok Senin mukaku bakal ditaruh di mana ya?" gumam Anaya panik.
"Kenapa, Mbak?" tanya Arden yang mendengar gumaman tidak jelas dari belakang.
"Gak apa-apa, Arden! Ayo jalan sekarang, buruan!" seru Anaya panik.
Motor gede Arden akhirnya melesat membelah jalanan Jakarta yang mulai padat, meninggalkan kepulan asap tipis di halaman lobi, serta meninggalkan seorang CEO narsis yang sedang menyusun rencana darurat di atas gedung untuk memastikan bahwa sekretarisnya tidak akan pernah bisa menikmati malam minggunya dengan tenang.
Tunggu kelanjutannya ya kakak, bakal rilis 2 bab tiap harinya jam 08.00 dan 11.00. Stay tune ya kakak, boleh juga kasih hadiah dan dukungannya juga kalau berkenan. Thank uuu
ternyata pada masih
malu" kucing...
lanjut Thor ceritanya
di tunggu updatenya
cerita kelanjutannya, Thor
mungkin Anya belum merasakan benih" cinta pak...
pak Bima juga seperti itu
kerjaan melulu yg di fikirkan...