Wang Chan hanyalah pemuda biasa dari Desa Hitam. Berkali-kali ditolak oleh sekte karena bakat rendah dan kekuatan lemah.
Namun saat desa mereka dihancurkan oleh monster iblis, ia tak punya pilihan selain melarikan diri sambil membawa seorang teman wanitanya.
Di tengah dunia kultivasi yang kejam, Wang Chan harus bertahan hidup dengan kekuatan yang nyaris tak berarti. Dari pelarian putus asa itulah, takdirnya mulai berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chizella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Hanya dalam sebulan, begitu banyak yang berubah
Sebulan berlalu sejak malam itu.
Dalam sebulan, Wang Chan dan Qing Yi mengambil misi perburuan iblis demi mengumpulkan batu sumber.
Hari demi hari, mereka semakin lincah dalam pekerjaan itu. Hampir tanpa kesulitan, selalu menyelesaikan banyak misi dengan efisien.
Qing Yi juga telah mencapai Ranah Nascent Soul. Kini kekuatan mereka berdua dalam pertarungan semakin padu. Kompak. Saling menutupi kelemahan masing-masing.
Kali ini, sebuah misi membawa mereka ke Hutan Changseng.
Katanya, hutan itu dipenuhi kekuatan spiritual yang aneh.
Aura di sana terasa berbeda dari tempat lain, lebih berat, lebih dingin, seperti ada sesuatu yang mengawasi dari balik pepohonan.
Maka tak banyak orang berani mendekatinya. Tapi bagi Wang Chan dan Qing Yi, itu hanya berarti bayaran lebih besar.
Saat ini, keduanya bersembunyi di balik batang pohon tua yang akarnya menjulur ke mana-mana seperti tangan-tangan keriput dari dalam tanah.
Daun-daun lebat menaungi mereka dari pandangan. Dari sela-sela dahan, Wang Chan dan Qing Yi memperhatikan beberapa iblis yang tengah berkeliaran di sebuah lapangan terbuka tak jauh dari sana.
Bentuk iblis-iblis itu mirip manusia.
Tapi tubuh mereka hitam legam seperti arang yang terbakar sempurna, tanduk menjulang tinggi dari dahi, dan mata mereka menyala merah di kegelapan hutan.
Dari mulut mereka yang tersenyum menyeringai, keluar uap putih setiap kali bernapas.
"Qing Yi," bisik Wang Chan, suaranya nyaris tak terdengar, hanya getaran pelan di telinga Qing Yi. "Ikuti aba-abaku."
Cincin penyimpanan di jari manis Qing Yi berkedip samar. Sekejap kemudian, pedang panjang berkilau muncul di genggamannya.
Bilahnya tipis, ringan, dengan ukiran bunga teratai biru di pangkalnya, pemberian dari seseorang yang sangat berjasa bagi mereka akhir-akhir ini.
"Siap," jawabnya dengan bisikan yang sama pelannya.
Wang Chan memejamkan mata sejenak. Lalu membukanya.
"Mata Immortal... buka!"
Pandangannya berubah.
Dunia yang semula hijau kelam Hutan Changseng berganti menjadi hamparan bening dengan aliran-aliran Qi berwarna-warni.
Pepohonan tampak seperti jaring-jaring cahaya, dan di balik rimbunnya dedaunan, ia bisa melihat lebih banyak iblis yang tersembunyi, beberapa sedang berjongkok di balik semak, satu lagi berdiri di dahan pohon, matanya merah mengintai ke arah yang berlawanan.
Selama sebulan terakhir, Wang Chan telah mempelajari kekuatan matanya.
Awalnya ia hanya bisa merasakan panas aneh di bola mata kiri.
Kini, setelah berlatih, ia berhasil menguasainya.
Bukan sekadar menguasai, ia memanfaatkan sepenuhnya kekuatan yang tidak ia ketahui asal-usulnya itu.
Seperti pisau yang ditemukan di jalan, ia asah, ia pakai, ia jadikan senjata.
"Delapan iblis di utara. Tiga di timur. Satu besar di barat daya," hitungnya dalam hati.
"Serang."
Satu kata. Pelan. Tapi cukup.
Para iblis berbalik.
Pendengaran mereka lebih tajam daripada manusia biasa.
Bisikan sekecil apa pun di hutan yang sunyi ini bagaikan genderang perang di telinga mereka.
Tapi Qing Yi sudah lebih dulu melesat.
Dari samping Wang Chan, tubuh mungil itu melesat tanpa suara. Kakinya yang lentur menapak tanah.
Hanya jejak kekuatan spiritual samar yang tertinggal di belakangnya, seperti kabut tipis yang langsung sirna ditiup angin.
Slash!
Satu tebasan. Dua iblis langsung terbelah dari bahu ke pinggang.
Tubuh hitam mereka jatuh ke tanah dengan bunyi yang berat, lalu perlahan menghilang menjadi abu hitam yang tertiup angin.
Yang tersisa hanya inti jiwa kecil berwarna merah gelap, berdenyut pelan seperti jantung yang masih hidup.
Wang Chan tidak tinggal diam.
Ia berlari ke arah lain, memisahkan diri dari Qing Yi.
Kaki-kakinya yang terlatih membawanya melesat di antara pepohonan dengan kecepatan yang membuat bayangannya tercerai-berai.
Tepat saat itu, iblis bertubuh lebih besar muncul dari balik pohon beringin tua.
Tingginya dua kali lipat iblis biasa, cakarnya panjang seperti sabit, dan matanya menyala lebih terang dari yang lain.
Ia mengarahkan serangan ke Qing Yi dari belakang.
Cakar raksasa itu melesat cepat, cukup untuk merobek tubuh seorang kultivator Nascent Soul menjadi beberapa potongan.
Tapi Qing Yi lebih cepat.
Ia tidak perlu menoleh.
Instingnya, yang diasah selama sebulan penuh berburu iblis setiap hari, telah merasakan perubahan tekanan udara di belakang punggungnya.
"Teratai Biru, Gerakan Pertama: Tebasan Cahaya Ilahi!"
Pedangnya berputar di tangannya.
Cahaya biru menyala di sepanjang bilah, lalu melebar membentuk busur tipis yang melesat ke belakang tanpa ia menengok.
Sliing!
Tangan kanan iblis besar itu terpenggal di siku. Potongan lengan itu masih sempat terbang di udara sebelum berubah menjadi debu hitam.
Iblis itu meraung, suara yang memekakkan telinga, membuat dedaunan di atas mereka bergetar.
Wang Chan melompat tinggi.
Cincin penyimpanannya berkedip samar. Sesaat kemudian, sebilah pisau kecil muncul di sela jari-jarinya, bukan senjata magis, hanya pisau biasa yang ia beli di pasar dengan harga murah.
Tapi di tangan Wang Chan, pisau itu cukup.
"Hagh!"
Ia menusuk tepat ke mata sang iblis.
Crack!
Seperti telur pecah. Cairan hitam menyembur dari rongga mata iblis itu, baunya menusuk hidung, tajam dan busuk.
Iblis itu terhuyung, kedua tangannya meraba-raba udara dalam kegelapan.
Qing Yi tidak menyia-nyiakan kesempatan.
"Teratai Biru, Gerakan Kedua: Mawar Berduri!"
Ia membanting ujung pedangnya ke tanah.
Crack! Crack! Crack!
Dari dalam tanah, duri-duri spiritual bermunculan, puluhan, ratusan, tajam seperti jarum dan sekeras baja.
Mereka menembus tubuh iblis besar itu dari bawah, menembus telapak kaki, betis, perut, hingga mencuat dari pundaknya.
Iblis itu tergantung di udara untuk sesaat, ditusuk dari segala arah, sebelum tubuhnya yang hitam perlahan hancur menjadi debu.
Wang Chan melompat turun. Kaki mendarat dengan lembut di tanah berlumuran abu hitam.
"Fyuhh..." Ia mengusap dahinya dengan punggung tangan.
Keringat tipis membasahi pelipisnya, tapi napasnya sudah teratur.
Qing Yi mendekat. Pedangnya sudah kembali ke dalam cincin penyimpanan dengan satu kedipan cahaya.
Wajahnya sedikit merah karena pergerakan tadi, rambut hitam panjangnya yang diikat kuda kini mulai terurai di beberapa bagian.
"Kau baik-baik saja, Wang Chan?" tanyanya.
Wang Chan tersenyum lembut. Senyum yang sama. Hangat. Tenang. Membuat Qing Yi merasa semuanya akan baik-baik saja.
"Aku baik." Wang Chan menyilangkan tangannya di dada, memandang Qing Yi dengan tatapan bangga. "Ngomong-ngomong, Qing Yi, akhir-akhir ini kau semakin hebat saja. Bahkan jauh melampauiku."
Qing Yi menggaruk-garuk kepalanya. Wajahnya yang masih sedikit merona karena usai bertarung kini bertambah merah.
Bukan karena malu mendengar pujian, tapi karena ia tahu siapa yang pantas menerima pujian itu.
"Ehehe... ini semua berkat ajaran Kak Liu Chiyang," ucapnya, matanya berbinar setiap kali menyebut nama itu.
Wang Chan mengangguk. "Kak Liu benar-benar mengajarimu teknik yang hebat. Aku takut diriku tidak akan bisa menyamaimu tanpa Mata Immortal."
Bukan basa-basi. Wang Chan sungguh mengagumi perkembangan Qing Yi.
Dalam sebulan, wanita itu berubah dari seorang kultivator Golden Core tahap akhir yang malas berlatih menjadi Nascent Soul yang lincah mematikan.
Liu Chiyang memang berbakat mengajar.
Sejak mulai mengambil misi perburuan iblis, Wang Chan dan Qing Yi juga mulai mengenal banyak orang di Kota Jiang.
Kultivator lain dengan latar belakang berbeda, pedagang yang jujur dan yang curang, penjaga kota yang ramah dan yang sombong.
Salah satu yang paling berkesan tentu saja Liu Chiyang.
Seorang kultivator wanita Ranah Transformasi Roh yang suatu hari melihat Qing Yi berlatih sendiri di pinggir hutan.
Liu Chiyang terkesan dengan kegigihan Qing Yi, atau mungkin lebih tepatnya, terkesan dengan potensi yang terpendam di balik tubuh mungil itu.
Tanpa banyak tanya, ia menawarkan diri mengajari Qing Yi.
Dan Qing Yi, yang biasanya malas berlatih, ternyata sangat rajin saat diajar oleh Liu Chiyang.
Wang Chan tidak heran.
Liu Chiyang, meskipun usianya sudah tidak muda lagi, tetap terlihat seperti wanita muda. Wajahnya halus tanpa kerutan sedikit pun.
Kulitnya putih bersih seperti porselen, dengan rambut hitam panjang yang selalu ia ikat dengan gaya sederhana namun elegan.
Matanya jernih, penuh wibawa, tapi lembut saat menatap Qing Yi.
Tubuhnya juga ideal. Tidak setegak Qing Yi, tapi justru proporsional dengan caranya yang kalem dan berwibawa.
Saat berjalan, jubah putihnya yang sederhana berkibar pelan, memberikan kesan anggun yang sulit ditemukan pada wanita seusianya.
Banyak kultivator pria di Kota Jiang yang menoleh saat Liu Chiyang lewat, meskipun mereka tahu wanita itu berada di ranah yang jauh di atas mereka.
Namun yang paling membuat Wang Chan segan, Liu Chiyang tidak pernah sombong. Ia memperlakukan Wang Chan dan Qing Yi seperti adik sendiri.
Memberi mereka tempat tinggal di rumahnya yang sederhana tapi hangat, di pinggiran timur Kota Jiang.
Kini, mereka tidak perlu lagi menginap di penginapan. Mereka punya kamar sendiri, Wang Chan di lantai bawah, Qing Yi di sebelah kamar Liu Chiyang di lantai atas.
Rumah itu tidak besar, tapi cukup.
Wang Chan mengibaskan tangannya ke arah tubuh-tubuh iblis yang telah hancur.
Beberapa inti jiwa, benda kecil berdenyut merah gelap, terangkat dari tanah dan melayang masuk ke dalam cincin penyimpanannya.
Satu, dua, tiga... sebelas semuanya. Lumayan untuk satu kali perburuan.
"Aiyaa, ayo kita kembali," ujar Qing Yi sambil memegang pergelangan tangan Wang Chan, kemudian menariknya dengan sedikit gerakan mengejutkan. "Kurasa Kak Liu akan khawatir kalau kita terlalu lama."
Wang Chan tersenyum kecil.
Ia membiarkan Qing Yi menariknya, tidak melepaskan, tapi juga tidak berbalik menarik.
"Baik. Ayo pulang."
Mereka berdua melangkah meninggalkan Hutan Changseng, meninggalkan abu hitam dan bau busuk iblis di belakang mereka.
Sinar matahari mulai menembus celah-celah dedaunan, membentuk pilar-pilar cahaya yang menerangi jalan setapak di depan.
Angin berembus pelan, menggoyangkan rambut panjang Qing Yi yang mulai terurai.
Wang Chan meliriknya sekilas.
"Banyak yang berubah dalam sebulan," pikirnya.
Tapi tidak semuanya buruk.
...---...
...[ Ilustrasi: Qing Yi ]...