GADIS MALANG dengan takdirnya (ceo)
"Hayu siapa yang penasaran sama kisah Aruna, gadis malang yang terpaksa menyerahkan hidupnya jadi milik seorang pria yang sangat tampan, kaya raya, tapi dikenal sangat kejam dan berhati dingin? 😯💔
Dipaksa menikah cuma demi bertahan hidup, dihina, diremehkan, dan dianggap cuma barang milik semata. Namun Aruna berjanji dalam hatinya, dia bakal buktikan kalau dia juga punya harga diri yang tak boleh diinjak. Apakah dia sanggup hadapi sifat angkuh dan kejam Aris Baskara? Bagaimana nasibnya hidup di antara kemewahan yang ternyata penuh dengan penghinaan dan rasa sakit? 🤔
Baca yuk ceritanya! Kisah cinta penuh luka, amarah, air mata, dan takdir yang bikin hati campur aduk. Dijamin bikin penasaran dari bab pertama sampai akhir 📖🔥
📖 Judul: GADIS MALANG dengan takdirnya (ceo)
(Penulis: Lestari Visa)"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lestari visa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Harapan di Ujung Perjuangan
Matahari pagi baru saja mengintip malu-malu dari balik gedung-gedung tinggi kota, menyebarkan cahaya keemasan yang hangat dan lembut. Udara pagi itu terasa sangat segar, membawa aroma debu jalanan bercampur wangi bunga yang tumbuh liar di pinggir selokan. Bagi kebanyakan orang, pagi hari mungkin cuma waktu biasa buat mulai aktivitas, tapi bagi Luna, pagi ini rasanya beda banget. Ada semangat luar biasa yang membara di dadanya, ada kebahagiaan yang meluap-luap sampai-sampai dia rasanya mau teriak kegirangan sendirian.
Pagi ini, tepat hari di mana dia menerima gajian bulanan dari Bu Yati. Dan seperti yang dia duga, setelah uang gajian itu masuk ditambah sama tabungan-tabungan kecil yang dia kumpulin mati-matian selama satu setengah tahun terakhir... jumlahnya pas! Pas banget sama target yang dia tulis ulang berkali-kali di selembar kertas lusuh simpanannya.
Saat itu, Luna sedang duduk bersila di atas kasur tipisnya yang sudah agak tipis
pegasnya, di dalam kamar kontrakan sempitnya yang sederhana. Di hadapannya, terbentang kain bekas yang sudah dijahit rapat dan kini dibuka lebar-lebar, menampakkan tumpukan uang kertas beraneka warna, ada yang masih baru tapi banyak juga yang sudah lecek, kusam, dan terlipat berkali-kali. Uang itu bukan sekadar alat tukar buat Luna. Tiap lembarnya ada cerita, ada keringat, ada rasa pegal di tulang, ada air mata yang ditahan, dan ada doa-doa panjang buat masa depan.
Dengan jari-jarinya yang kasar dan penuh kapalan tapi bergerak sangat hati-hati dan lembut, Luna menghitungnya pelan-pelan, berkali-kali biar nggak salah hitung. Bibirnya komat-kamit, matanya berbinar cerah banget sampai kelihatan berkilau kena sinar matahari pagi yang masuk dari celah jendela kayu.
"Satu... dua... tiga... seratus... dua ratus..." gumamnya pelan. "Cukup... Alhamdulillah... cukup!"
Luna langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan, bahunya bergoyang pelan. Kali ini dia nangis, tapi bukan tangisan sedih kayak biasanya. Ini tangisan bahagia, tangisan lega, tangisan kemenangan. Dia berhasil! Dia akhirnya berhasil mengumpulkan modal yang dia impikan dari dulu. Semua rasa sakit, rasa capek, rasa sepi, rasa diremehkan orang... semuanya terbayar lunas detik ini juga.
Dia langsung merangkak ke sisi ranjang, mengambil foto kecil Ayah Haris dan Ibu Sumi yang selalu dia simpan di bawah bantal, lalu mendekapkannya ke dadanya erat banget. Matanya menatap langit-langit kamar yang agak hitam kena asap, tapi pandangannya jauh menembus dinding, seolah bicara langsung sama mereka yang udah tiada.
"Ayah... Ibu... denger nggak? Luna berhasil ya? Tabungan Luna udah cukup semua! Akhirnya, sebentar lagi Luna bakal punya usaha sendiri, bakal punya tempat dagang sendiri, nggak bakal jadi karyawan orang lagi selamanya. Kalian tenang ya di sana... doa kalian terkabul. Luna nggak nyerah, Luna nggak mengecewakan kalian," bisiknya parau di sela isak tangis bahagianya.
Setelah puas meluapkan rasa harunya, Luna buru-buru mengelap air matanya sampai kering, lalu menata kembali uang-uang itu dengan rapi. Dia melipatnya satu per satu, menyusunnya berurutan, memasukkan kembali ke dalam kain pembungkusnya, dan mengikatnya kuat-kuat. Hari ini dia berencana mau keliling cari tempat lapak atau kios kecil yang pas, yang harganya masuk akal, yang posisinya lumayan ramai pembeli. Dia udah punya rencana matang banget. Dia bakal jual kue-kue basah, jajanan pasar, sama nasi bungkus. Dia pinter banget masak, diajarin langsung sama Ibu Sumi dulu, dan rasanya udah sering dipuji sama Bu Yati sama pembeli-pembeli di warung. Luna yakin banget, kalau dia jualan sendiri pasti laris manis.
Setelah beres-beres kamar dan mandi, Luna memakai baju terbaik yang dia punya. Tetap sederhana, baju kurung katun berwarna biru muda yang bersih dan rapi, rambut hitam panjangnya disisir halus dan dikuncir kuda ke belakang biar kelihatan rapi dan segar. Dia nggak mau kelihatan kumuh pas nanya-nanya sewa tempat, dia mau kelihatan sopan dan meyakinkan.
Saat dia berjalan keluar dari gang sempit tempat dia tinggal, langkah kakinya rasanya enteng banget, seolah melayang di udara. Pagi itu indah banget rasanya. Burung-burung berkicau di atas kabel listrik, orang-orang lewat senyum-senyum, dan kota besar yang biasanya bising dan bikin pusing itu sekarang kelihatan ramah banget di mata Luna.
Dia berjalan menuju ke daerah pasar baru yang letaknya agak ke tengah kota, tempat yang menurut orang-orang banyak dikunjungi pembeli tapi sewanya masih terjangkau. Sepanjang jalan, mata Luna berkeliling cerah, melihat-lihat kios-kios dagangan, membayangkan sebentar lagi ada namanya di salah satu tempat itu, membayangkan dia sibuk melayani pembeli dengan senyum, membayangkan uangnya makin numpuk, sampai nanti dia bisa buka cabang di mana-mana, sampai jadi pengusaha sukses besar.
Di tempat lain, di gedung tinggi nan megah beralaskan kaca bening yang berkilauan kena sinar matahari, tepatnya di lantai paling atas tempat ruang kerja eksekutif berada, suasana terasa sangat berbeda. Dingin, hening, ber-AC sedingin kutub utara, dan penuh ketegangan yang nyaris bisa diraba.
Di balik meja kerja raksasa dari kayu mahoni berwarna gelap yang sangat mahal harganya, duduklah Aditya Pratama. Dia sedang bersandar malas di kursi kerjanya yang berputar dan empuk, satu tangannya menopang dagu, matanya menatap keluar jendela kaca besar yang menampakkan pemandangan seluruh kota di bawah sana. Wajahnya tetap datar, dingin, dan tanpa ekspresi apa pun, persis kayak patung pualam yang tampan tapi kaku. Di hadapannya, beberapa staf manajer dan sekretaris berdiri membungkuk gugup, tangan mereka berkeringat dingin menunggu respon dari bos besar mereka itu.
"Jadi, itu saja laporan minggu ini, Tuan. Semua proyek berjalan lancar, keuntungan naik dua puluh persen dari bulan lalu, dan tidak ada kendala berarti," ucap seorang manajer keuangan dengan suara bergetar pelan, takut salah bicara dikit aja.
Aditya cuma bergumam pelan, nggak menoleh sedikit pun. "Bagus. Teruskan kerjaannya. Jangan sampai ada kesalahan sekecil apa pun. Kalau sampai ada yang ngacang, kalian tau sendiri akibatnya apa."
Suaranya rendah, berat, tapi nadanya tajam banget, bikin rambut kuduk semua orang yang ada di ruangan itu meremang ngeri.
"Ba... baik, Tuan! Kami mengerti!" jawab mereka serempak, lalu mundur perlahan keluar dari ruangan itu secepat mungkin seolah baru aja selamat dari mulut singa.
Setelah pintu tertutup rapat dan dia sendirian lagi, Aditya memejamkan matanya sebentar, menarik napas panjang lalu menghembuskannya kasar. Dia bosan. Sangat bosan. Semuanya berjalan mulus, semuanya dapet untung, semuanya sesuai rencana, tapi rasanya hampa aja. Nggak ada tantangan, nggak ada hal baru, semuanya datar aja.
Dan lagi... ada satu hal yang terus aja mengganggu pikirannya dari kemarin sampai sekarang, hal yang bikin dia sendiri bingung dan kesel kenapa dia mikirin itu. Wajah cewek itu. Wajah pembantu warung yang dia lihat di pinggir jalan kemarin sore.
Gara-gara cewek itu, dia jadi sering melamun, sering nggak fokus dikit, sering teringat senyum tulus itu, teringat mata bening itu. Padahal dia yakin banget, cewek itu cuma rakyat biasa, anak kampung, miskin, jauh banget beda dunia sama dia. Tapi entah kenapa, ada daya tarik magnet yang bikin dia nggak bisa ngelupain. Ada sesuatu di mata cewek itu yang persis sama dengan sosok yang dia cari bertahun-tahun tapi hilang tanpa kabar.
"Sialan... ngapain sih aku mikirin dia? Banyak cewek cantik, cerdas, kaya, berpendidikan antre depan pintu aku, malah aku kepikiran cewek kumuh pinggir jalan," batin Aditya kesel sendiri, dia bangun berdiri, berjalan mondar-mandir di ruangannya yang luas itu. Dia nggak tau nama cewek itu, dia nggak tau alamatnya, dia bahkan lupa tepatnya di mana lokasi warung itu. Dia pikir, mungkin kalau dia nggak sengaja lewat sana lagi, dia bakal lupa pelan-pelan.
Tapi takdir punya rencana lain. Semakin dia berusaha lupa, semakin benang itu ditarik makin kencang buat nyatukan mereka berdua.
Siang itu, matahari makin terik menyengat kulit. Luna masih keliling dari satu pasar ke pasar lain, dari satu ruko ke ruko lain, bertanya soal sewa tempat. Ada yang sewanya terlalu mahal sampai dua kali lipat uangnya, ada yang tempatnya kotor banget dan sempit banget, ada yang posisinya terpencil banget sepi pembeli. Luna nggak mau asal ambil, dia mau cari yang paling pas, yang paling potensial biar modalnya nggak sia-sia.
Dia istirahat sebentar di pinggir trotoar yang agak teduh di depan sebuah kompleks pertokoan besar. Dia minum air dari botol bekas yang dia bawa dari rumah, mengipas-ngipas wajahnya yang berkeringat. Dari tempat dia duduk, dia bisa lihat jalan raya besar yang di sana-sini ada mobil-mobil mewah lewat. Salah satunya mobil hitam besar yang sangat dia kenal bentuknya, mobil yang sering lewat bikin orang minggir. Mobil milik Tuan Aditya Pratama.
Luna langsung menunduk dan membuang muka, bergidik ngeri. "Aduh... ada dia lagi. Mending aku minggir aja deh, nggak enak kalau ketemu. Orang itu serem banget katanya, nggak usah nyari masalah."
Dia menunggu sampai mobil itu lewat dan hilang di tikungan jalan baru dia berani bangkit berdiri lagi. Luna sama sekali nggak nyangka, kalau di dalam mobil itu, Aditya sempat menoleh ke kaca jendela, dan sempat melihat sekilas bayangan baju biru muda yang dia kenal banget warnanya, tapi mobilnya terlalu cepat lewat jadi dia nggak sempat melihat jelas wajahnya.
Hari itu berakhir tanpa hasil, tapi Luna nggak patah semangat sedikit pun. Dia tau nyari tempat itu nggak gampang. Dia bakal terus nyari besok, lusa, sampai dapet yang pas. Dia yakin rezeki nggak bakal ke mana.
Sore itu, pas dia mau pulang lewat jalan raya agak sepi buat memotong jalan biar lebih cepat sampai kontrakan, matanya menangkap papan tulisan di depan sebuah bangunan kecil sederhana tapi bersih dan strategis banget posisinya. Tulisannya: DISEWAKAN KIOS, HARGA MURAH, LANGSUNG HUNI.
Jantung Luna langsung berdegup kencang banget karena kaget sekaligus senang. Dia langsung lari kecil mendekat, membaca tulisan di kertas itu teliti banget. Harga sewanya... pas banget sama uang yang dia punya! Posisi kiosnya juga enak banget, dekat perumahan warga, dekat jalan raya, bersih, aman.
"Akhirnya... dapet juga!" seru Luna pelan sambil tepuk tangan kecil senang.
Dia langsung catat nomor telepon dan alamat pemiliknya yang tertulis di situ, lalu berjalan pulang dengan langkah melompat-lompat kecil karena senang banget. Besok pagi-pagi sekali dia bakal datang ke sini, ketemu pemiliknya, langsung bayar uang sewanya, langsung mulai bersihin tempatnya. Mimpinya tinggal selangkah lagi bakal jadi nyata.
Tapi... Luna lupa satu hal. Jalan kecil yang dia ambil buat memotong jalan itu, jalan yang dia kira sepi dan aman itu, ternyata sering banget dilewati mobil-mobil kencang. Dan besok pagi, pas dia mau berangkat ke kios itu dengan hati penuh harap dan bawa uang tabungan seluruh nyawanya... di situlah semuanya bakal berubah. Di situlah dia bakal bikin kesalahan fatal. Di situlah pertemuan yang ditakdirkan Tuhan itu bakal terjadi, persis kayak rencana takdir.
Malam itu, Luna tidur dengan senyum merekah di bibir, mimpi indah, dan hati yang damai banget. Dia nggak tau kalau matahari terbit besok bakal bawa dua hal sekaligus: kebahagiaan yang dia cari, dan bencana besar yang bakal bikin dia terjebak dalam perjanjian gila antara penjara atau jadi pelayan pribadi laki-laki paling dingin sedunia.
(BERSAMBUNG)
📖 SAMPAI JUMPA DI BAB SELANJUTNYA! 🤗🩷
Terima kasih banyak sudah meluangkan waktu untuk membaca cerita ini! Semoga kalian menikmati setiap halaman dan setiap momen kebahagiaan, tawa, bahkan emosi yang terasa dalam setiap babnya ya. 🥰
Jangan lupa tinggalkan komentar dan berikan suka pada setiap bab yang kalian baca, ya! Jika kalian menyukai ceritaku, silakan tuliskan pendapat kalian — misalnya "Lanjutkan dong, ceritanya keren banget!" atau "Ceritanya bagus dan menyentuh hati!" — karena setiap kata dukungan dari kalian akan menjadi semangat terbesarku untuk terus menulis dengan lebih baik lagi. 🩷
Sekali lagi terima kasih banyak atas perhatian dan dukungannya. Sampai jumpa lagi di bab selanjutnya ya! Selamat membaca dan sampai bertemu kembali! 👋👋🤗🌷