"Ternyata kamu tidak lebih dari wanita sampah Kiana! Bagaimana bisa kamu hamil jika tidak berhubungan dengan laki-laki lain?! Kau tahu aku ini Mandul!
...
Kiana Mahira wanita 25 tahun yang terjebak malam panas bersama Pria 35 tahun bernama Ardan Arkatama. Malam itu Kiana terpengaruh obat yang di cekoki pacarnya, Dafa (28). Dafa berniat menjadikan Kiana tumbal pelunas hutang kepada seorang rentenir tua. Malam itu Kiana berhasil kabur dengan kondisi mabuk dan terpengaruh obat dosis tinggi. Namun justru dia jatuh ke pelukan Ardan Arkatama seorang CEO dingin yang sedang frustasi berat karena tuntutan ahli waris di tengah vonis kemandulannya.
Satu malam panas itu ternyata membuat Kiana mengandung anak kembar. Kiana yang sudah sepakat dengan Ardan untuk melupakan malam itu memilih diam karena takut Ardan pasti tidak akan mengakuinya karena pria itu sangat yakin dirinya mandul tanpa tahu semua ini hanyalah rekayasa dari pamannya yang haus kekuasaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 01 // MBKCM
"Happy Anniversary ke-3 Baby." Ucap Dafa dengan senyum manis. Kiana Mahira menyambutnya dengan pelukan hangat.
"Happy anniversary juga Baby. Jadi kapan kita menikah?" Tanya Kiana langsung ke intinya. Menurutnya tiga tahun menjalin hubungan dengan Dafa itu sudah cukup untuk mereka saling mengenal. Tanpa Kiana sadari kekasihnya yang tampan berwajah tenang itu sedang merencanakan sesuatu yang licik malam ini.
Dafa tersenyum manis menatap Kiana, mengusap lembut kepala Kiana seolah semua akan baik-baik saja. "Sabar dulu ya baby, tahun ini aku pasti menikahimu. Kalau bisnisku sudah lancar kita akan segera urus pernikahan."
"Emm, baiklah aku mengerti. Tapi beneran ya uang yang kamu pinjam dari tabunganku itu akan berkembang," Ujar Kiana masih ingin kepastian lebih.
"Iya Baby, sudah jangan bahas hal lain dulu. Aku membeli stroberi milkshake untukmu, minumlah." Ucap Dafa sembari menyodorkan minuman kesukaan Kiana itu. Tanpa ragu Kiana menerima dan meneguknya. Kiana tidak tahu di dalam minuman itu tercampur obat yang akan membuatnya kehilangan kesadaran.
Satu..dua..tiga..
Kiana ambruk satu menit setelah meminum itu. Dafa tersenyum licik, "Maaf Baby aku terpaksa melakukan ini, aku tidak mau mati."
Setelah memastikan Kiana terkapar tidak berdaya, Dafa menghubungi Adnan, pria tua rentenir yang meminta jaminan Kiana agar menganggap hutang Dafa sebesar 100 juta itu lunas.
1 Jam kemudian...
Malam di sudut ibu kota selalu menyisakan sisi kelam yang pekat. Di dalam sebuah ruangan VIP kelab malam yang remang-remang dan berbau alkohol bercampur asap rokok, Kiana Mahira terbangun dari pingsannya, merasa dunianya perlahan runtuh. Kepalanya berputar hebat, pandangannya mengabur, dan tubuhnya mendadak kehilangan semua energi.
"A-aku dimana?" Suara Kiana sangat lemah.
"Sudah bangun sayang, Minumlah ini gadis manis, malam ini kamu milikku." Ucap seorang pria tua yang menjadi bos rentenir kepada Kiana Mahira.
Pria bertubuh tambun dengan senyum menjijikkan itu mendekatkan gelas berisi cairan pekat ke bibir Kiana. Kiana, gadis muda berkulit putih, rambut panjang, memiliki mata yang indah itu terkulai lemas karena mulai terpengaruh alkohol yang terpaksa dia minum itu. Setiap tetes cairan itu terasa seperti racun yang membakar tenggorokannya, sekaligus mengikis kesadarannya secara perlahan.
Kiana yang setengah sadar itu tahu dia jebak. Dia masih ingat tadi Dafa memberinya minuman lalu dia pingsan dan berakhir bangun di tempat seperti ini. Kiana tidak pernah menyangka, hidupnya yang tenang akan hancur dalam satu malam karena pengkhianatan orang paling dia percaya. Tapi Kiana tidak akan menyerah semudah itu.
"Lepaskan... lepas..." gumam Kiana, suaranya parau dan hampir habis.
"Hahaha! Lepaskan? Kekasihmu sudah menjualmu padaku, Sayang. Jadi, nikmati saja malam ini. Singkirkan tanganmu yang gemetar itu," bisik pria tua itu, jemari kasarnya yang keriput mulai berani menyentuh pundak Kiana yang sedikit terbuka karena cardigan yang dia pakai sedikit terlepas memperlihatkan baju dalaman tali tipis yang dia kenakan.
Sentuhan menjijikkan itu seketika memicu adrenalin di dalam tubuh Kiana. Rasa jijik dan amarah yang meledak mengalahkan rasa lemasnya untuk sesaat. Kiana dengan kesadaran yang masih tersisa, mengumpulkan seluruh tenaga di kakinya, lalu menendang pria tua bangka itu tepat di selangkangannya dengan sekuat tenaga.
Brak!
"Akhhh! Keparat! Selangkanganku!" teriak bos rentenir itu histeris, langsung jatuh bertelut di lantai sambil memegangi bagian vitalnya yang kesakitan. Wajahnya memerah padam menahan nyeri luar biasa akibat tendangan maut Kiana.
Dua anak buah sang rentenir yang berjaga di sudut ruangan langsung panik melihat bos mereka tumbang.
"Bos! Anda tidak apa-apa?!"
"Kejar gadis itu! Cepat!" raung si bos dengan suara melengking menahan sakit.
Namun, anak buahnya tidak mengejar karena lebih mementingkan bos mereka yang kesakitan karena tendangan maut Kiana. Mereka sibuk memegangi dan membantu bos mereka yang berguling-guling di lantai, memberikan celah emas yang tidak disia-siakan oleh Kiana.
Dengan napas terengah-engah dan air mata yang mulai menetes, Kiana membenarkan letak cardigannya lalu berlari keluar dari ruangan laknat itu. Dia menerobos kerumunan orang yang sedang berdansa, keluar menuju jalanan malam yang dingin. Kiana berlari sekuat tenaga, mengabaikan rasa pusing yang semakin mencengkeram kepalanya. Rasa takut menjadi santapan pria tua itu jauh lebih besar daripada rasa sakit di tubuhnya.
Dia terus berlari tanpa arah, menjauh dari pusat keramaian, sampai akhirnya dia berhenti di jalan jembatan yang sepi. Napasnya memburu, paru-parunya terasa terbakar. Kiana bersandar pada pembatas besi jembatan, mencoba menghirup udara malam sebanyak-banyaknya. Namun, kondisinya yang mabuk berat membuatnya limbung. Efek alkohol yang tadi sempat tertahan oleh rasa takut, kini berbalik menyerangnya dengan berkali-kali lipat lebih parah. Kesadarannya benar-benar berada di ambang batas.
"Dafa... tega kamu..." isak Kiana lirih.
Pandangannya berputar 360 derajat. Bumi seolah berguncang hebat di bawah kakinya. Kiana kehilangan keseimbangan tubuhnya. Dia oleng ke belakang, menabrak pembatas yang rendah, dan hampir jatuh dari atas jembatan itu menuju sungai gelap di bawahnya. Kiana memejamkan mata, bersiap pasrah jika malam ini adalah akhir dari hidupnya yang malang.
Set!
Sebuah tangan menggenggamnya menahanya agar tidak terjatuh. Cengkeraman tangan itu begitu kuat, kokoh, dan hangat, langsung menarik tubuh Kiana kembali ke pijakan yang aman dalam satu sentakan.
Pemilik tangan itu adalah Ardan Arkatama. Pria tinggi, bertubuh tegap, berwajah tampan yang kebetulan sedang berada di sana untuk mencari ketenangan diri menikmati angin malam yang seakan bisa menyapu pikiran beratnya. Ardan sedang menghadapi tekanan batin yang luar biasa dari kakeknya yang terus menuntutnya untuk segera menikah dan memberikan pewaris bagi keluarga Arkatama, sementara dia harus merahasiakan rahasia besar tentang vonis kemandulannya dari dunia luar.
Saat sedang melamun menatap kegelapan malam, Ardan tiba-tiba dikagetkan oleh seorang gadis yang berjalan sempoyongan dan hampir terjun bebas dari jembatan. Refleksnya sebagai pria terlatih membuatnya bergerak cepat menyelamatkan gadis itu.
Namun, Kiana yang emosinya sedang tidak stabil langsung panik begitu merasakan sentuhan fisik.
"Lepaskan aku, namaku Kiana Mahira! Aku bukan Dafa! Aku bukan yang hutang padamu! Jangan sentuh aku!" Kiana meronta mengira Ardan orang jahat. Dia memukul-mukul dada bidang Ardan dengan tangannya yang lemas, mengira pria di hadapannya adalah anak buah rentenir yang berhasil mengejarnya.
Ardan mengernyitkan dahi tebalnya. Dia menangkap kedua pergelangan tangan Kiana dengan mudah. Dari jarak sedekat ini, Ardan mencium aroma alkohol dari Kiana. Bau yang cukup kuat tercium dari napas gadis itu.
"Hei! Diamlah! Aku bukan penagih utang," ujar Ardan dengan suara baritonnya yang berat dan dingin. Dia mencoba mengguncang tubuh Kiana sedikit, mencoba menyadarkan Kiana dari pengaruh zat memabukkan itu. "Lihat aku. Kamu aman. Berhenti meronta atau kita berdua akan jatuh."
Namun saat mereka berhadapan, Kiana membuka mata lebar-lebar. Efek alkohol membuat halusinasinya bekerja dengan liar. Di bawah temaram lampu jembatan, wajah tampan Ardan yang memiliki rahang tegas, hidung mancung sempurna, dan mata elang yang tajam terlihat begitu tidak nyata di mata Kiana. Rasa takutnya mendadak menguap, digantikan oleh binar kekaguman yang polos.
"Wah... kamu tampan sekali," bisik Kiana dengan suara mendayu, matanya berkedip lambat. "Aku sudah mati ya? Kamu mas Bidadari surga ya?"
Ardan terpaku. Dia sudah biasa dipuji oleh banyak wanita, tapi tidak pernah ada wanita yang menatapnya dengan pandangan sebersih dan selucu ini dalam kondisi mabuk berat.
Kiana yang sudah kehilangan kesadaran tertawa kecil sembari dengan tidak sopan membelai rahang Ardan. Jemari lentiknya yang dingin menyusuri kulit wajah Ardan, bergerak naik ke pipi hingga ke bibir pria itu.
"ehehmmm.. Kamu sangat tampan, bibirmu lembut sekali." Ucap Kiana tanpa rasa takut.
Ardan menghela napas kasar, memegang tangan lancang Kiana. "Singkirkan tanganmu, Nona. Kamu mabuk berat. Di mana rumahmu? Aku akan memanggilkan taksi." Ardan menggoyangkan bahu Kiana menyuruh wanita itu sadar.
Tapi Kiana semakin lancang. Alih-alih mendengarkan, dia justru menarik kerah kemeja Ardan agar menunduk, mengikis jarak di antara mereka hingga tidak ada ruang tersisa, lalu mencium bibir pria ini dengan berani.
Cup.
Mata Ardan membelalak kaget. Sentuhan bibir Kiana yang lembut, basah, dan manis secara instan mengirimkan sengatan listrik aneh yang menjalar ke seluruh saraf tubuhnya. Jantung Ardan bertalu keras.
"Emhh.." Ardan menggeram keras. Lalu refleks mendorong Kiana meski tidak melepaskannya karena kalau di lepas Kiana akan jatuh tersungkur. Dia memegang kedua pinggang Kiana dengan erat, menahan tubuh gadis itu agar tetap tegak sementara napasnya sendiri mulai memburu.
"Sialan... Sadarlah, kamu akan menyesal jika melakukan ini padaku," ancam Ardan, suaranya kini bergetar, tidak lagi sedingin tadi. Ada kilat gairah yang mulai tersulut di matanya. Pria mana yang tidak goyah jika tiba-tiba diserang dengan begitu intim oleh gadis secantik Kiana?
Tapi Kiana yang sudah gila tidak mundur. Pengaruh alkohol telah menghilangkan seluruh urat malunya. Yang dia tahu, pria di depannya ini terasa sangat hangat dan nyaman, berbanding terbalik dengan dunia luar yang baru saja mengkhianatinya. Dia justru memeluk Ardan dan mengusap-usapkan dirinya pada tubuh tegap pria itu. Kiana menenggelamkan wajahnya di leher Ardan, menghirup aroma maskulin khas pria itu yang entah kenapa terasa begitu menenangkan.
Pergesekan itu menjadi bumerang bagi Ardan. Melalui kemeja tipisnya, Ardan dapat merasakan dada kenyal milik Kiana yang membuatnya sebagai pria normal langsung on. Sentuhan lembut namun menuntut dari Kiana meruntuhkan benteng pertahanan Ardan yang terkenal kokoh.
Ardan yang sedang frustasi karena tuntutan pernikahan dari kakeknya, sementara dia merahasiakan kemandulannya itu, mendadak tidak bisa berpikir jernih. Pikirannya buntu. Tekanan mental yang dia pendam berhari-hari seolah menemukan jalan keluar lewat gairah yang membakar ini. Ardan egois malam ini. Dia hanya berpikir wanita ini yang memancingnya lebih dulu, jadi dia tidak perlu merasa bersalah untuk melayaninya.
"Kamu sendiri yang memulainya, Kiana Mahira. Jangan salahkan aku jika besok kamu menangis, merutuki kebodohanmu sendiri." bisik Ardan dengan suara rendah yang berbahaya.
Tanpa membuang waktu lagi, Ardan menarik Kiana menuju mobilnya yang terparkir tidak jauh di pinggir jembatan. Dia membuka pintu belakang, mendorong tubuh Kiana ke dalam jok kulit yang luas, dan ikut masuk sebelum mengunci pintu rapat-rapat. Di dalam sana tidak ada keraguan, mereka melakukannya. Kiana yang kehilangan akal sehat terus menuntut kehangatan, sementara Ardan yang dikuasai gairah dan frustrasi memimpin permainan dengan dominan. Pakaian mereka terlepas satu demi satu, menyisakan kulit yang saling bersentuhan di dalam kehangatan mobil yang kedap suara.
Namun, saat permainan bermula dan Ardan melakukan penetrasi pertamanya, dia menyadari sesuatu yang membuat gerakannya membeku sesaat. Ada hambatan yang nyata, sebuah robekan alami yang menandakan sebuah kesucian yang belum pernah tersentuh oleh pria mana pun. Gadis di bawahnya ini masih murni.
"Akhh.. mas bidadari... pelan-pelan.. sakit.." rintih Kiana perih, air mata mengalir dari sudut matanya yang terpejam, rasa sakit itu sempat menembus dinding mabuknya untuk sesaat. Dia mencengkeram erat bahu kokoh Ardan, menyalurkan rasa sakit yang baru pertama kali dia rasakan.
Ardan terpaku. Sial, dia salah menilai gadis ini. Dia mengira Kiana adalah wanita kelab malam biasa yang sengaja menggoda pria kaya. Namun, melihat bercak merah dan rintihan polos itu, ego kelaki-lakian Ardan bergetar hebat. Ada rasa bersalah yang menusuk nuraninya, tetapi gairah yang telanjur membakar di puncaknya membuat Ardan tidak bisa berhenti. Dia menunduk, mengecup air mata Kiana, turun ke bibir memberi sensasi kenyamanan, lalu melanjutkan gerakannya dengan lebih lembut namun tetap bertenaga.
"Akh.. Emmh.." Hanya suara desahan dan lenguhan yang memenuhi ruang sempit dalam kabin mobil mewah itu.
Di bawah rembulan yang bersinar terang malam itu, di dalam mobil mewah yang terparkir di jembatan sepi, mereka berdua melakukan sebuah dosa yang di dasari karena sebuah tekanan masalah masing-masing. Kiana dengan keputusasaan karena dikhianati, dan Ardan dengan rasa frustrasi atas takdir hidupnya.
"Arrkkhh.. Eemmh.." Ardan memacu gairah itu hingga mencapai puncaknya. Dan ketika ledakan kenikmatan itu tiba, Ardan tanpa ragu menumpahkan benihnya ke dalam rahim Kiana hingga tak tersisa. Mengapa dia harus ragu? Di dalam kepalanya yang egois, Ardan mengingat satu fakta medis yang selama ini menjadi kutukannya, dia mandul.