Demi melunasi hutang ayahnya, Naura Aulia Zafira terpaksa menikah dengan Dewa Angkasa Buwana, penguasa mafia yang kejam dan berkuasa. Pernikahan ini bukan atas dasar cinta, melainkan balas dendam masa lalu yang dipendam Dewa pada keluarga Naura.
Di balik kemewahan dan kekuasaan, Naura harus bertahan hidup di tengah kebencian, bahaya, dan sikap dingin suaminya. Namun, ketegaran dan kelembutan Naura perlahan mengguncang hati Dewa, membuatnya terjebak antara dendam kesumat atau cinta yang tumbuh diam-diam.
Saat kebencian mulai memudar dan cinta bersemi, masa lalu kelam kembali mengancam nyawa mereka. Akankah dendam mengakhiri segalanya, atau cinta mampu mengubah takdir dan membawa mereka pada kebahagiaan abadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana L., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Topeng yang Mulai Terbuka
Keheningan yang tebal dan mencekam tiba-tiba menyelimuti ruang kerja yang luas itu. Tatapan Dewa yang tajam dan penuh selidik seolah menembus hingga ke dalam jiwa Sera, membuat wanita itu merasa tidak nyaman, seolah rahasia terbesarnya sudah terungkap di permukaan. Senyum manis yang biasa ia gantungkan di bibirnya kini terasa kaku dan dipaksakan.
Dewa tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun. Ia masih menggenggam lembaran kertas tua yang agak kusam itu di tangan kirinya, sementara tangan kanannya mengetuk-ngetuk pelan di atas meja kayu, menciptakan irama yang membuat jantung Sera berdebar kencang karena cemas.
"Dokumen sampah, katamu?" ulang Dewa pelan, suaranya rendah namun berisi tekanan yang berat, seolah setiap kata yang keluar dari mulutnya memiliki bobot yang bisa menindih siapa saja. "Dokumen yang berisi catatan masa lalu keluargaku, bukti dari segala kehancuran yang aku rasakan selama sepuluh tahun ini... kau sebut itu sampah, Sera?"
Sera menelan ludah dengan susah payah. Otak cerdasnya bekerja cepat mencari alasan yang paling masuk akal untuk menutupi kekeliruan yang baru saja ia ucapkan. Ia mendekatkan diri lagi, berusaha menggunakan senjata utamanya: pesona dan keakraban yang sudah terbangun lama. Wanita itu kembali duduk di lengan kursi Dewa, meletakkan satu tangan lembutnya di bahu pria itu, berusaha menatap mata hitam itu dengan pandangan yang terlihat tulus dan prihatin.
"Angkasa, sayang... kau tahu apa maksudku," ucap Sera dengan nada yang terdengar lembut dan menenangkan, meski di baliknya tersembunyi rasa panik yang membara. "Maksudku, itu semua sudah berlalu. Masa lalu yang menyakitkan, kenangan buruk yang seharusnya sudah kita kubur dalam-dalam. Kenapa kau harus mengungkitnya lagi? Bukankah kita sudah sepakat untuk membangun masa depan yang lebih baik, melupakan siapa yang benar dan siapa yang salah, dan hanya fokus pada kesuksesan kita berdua? Kehadiran wanita bernama Naura itu hanya gangguan, hanya alat, dan tidak seharusnya membuat kau kembali memikirkan hal-hal yang sudah selesai."
Dewa menepis tangan Sera dari bahunya, gerakannya tidak kasar namun tegas dan jelas, memberikan batasan yang belum pernah ia berikan sebelumnya. Ia berdiri tegak, meninggalkan kursi kebesarannya, lalu berjalan perlahan menuju jendela besar yang menghadap ke halaman belakang yang gelap. Punggungnya yang lebar dan kokoh kini terlihat begitu jauh dan dingin bagi Sera.
"Hal yang sudah selesai..." gumam Dewa pelan, seolah berbicara pada dirinya sendiri namun cukup keras untuk didengar wanita di belakangnya. "Aku juga berpikir begitu selama sepuluh tahun. Aku berpikir semuanya sudah jelas, semuanya sudah terang benderang. Ayah Naura yang bersalah, dia yang merampas segalanya, dan aku berhak membalas dendam apa pun caranya. Tapi malam ini... saat aku melihat kertas ini, saat aku membaca surat penjelasan dari wanita yang kini menjadi istriku... aku mulai bertanya-tanya, Sera. Apakah benar semuanya sudah selesai? Atau justru aku baru menyadari bahwa selama ini aku hanya melihat satu sisi saja dari cerita panjang ini?"
Dewa berbalik badan, menatap Sera tepat di mata, membuat wanita itu mundur selangkah karena terkejut dengan perubahan sikap yang drastis itu.
"Kau bilang Naura itu gangguan. Kau bilang dia wanita yang tidak tahu diri, ceroboh, dan berniat buruk. Tapi setiap kali ada masalah, setiap kali ada kesalahpahaman, kau selalu ada di sana. Kau selalu menjadi orang pertama yang menuduhnya, yang menyalahkannya, dan yang meyakinkanku bahwa dia jahat sama seperti ayahnya. Kenapa kau begitu membencinya, Sera? Padahal kau baru saja bertemu dengannya beberapa hari yang lalu," tanya Dewa bertubi-tubi, setiap pertanyaan seolah menjadi pisau yang semakin tajam mengiris pertahanan Sera.
Wajah Sera berubah pucat lalu menjadi merah padam karena marah yang tertahan. Topeng manisnya mulai retak. Ia tidak menyangka bahwa Dewa yang selama ini begitu mudah ia pengaruhi, begitu buta oleh dendamnya, kini mulai membuka matanya lebar-lebar.
"Karena aku mencintaimu, Angkasa!" seru Sera, suaranya meninggi namun segera ia kendalikan kembali agar tidak terdengar terlalu histeris. Ia mengangkat wajahnya, berusaha terlihat terluka dan tersakiti. "Aku membencinya karena dia merampas tempat yang seharusnya milikku! Aku ada di sini bersamamu selama sepuluh tahun ini, menemanimu bangkit dari keterpurukan, membantumu membangun kembali kerajaan bisnismu, berkorban apa saja demi kamu... lalu tiba-tiba datang wanita asing itu, anak dari musuh besarmu, dan dia menjadi nyonya di rumah ini, menjadi istrimu secara sah! Siapa yang tidak akan cemburu? Siapa yang tidak akan benci melihatnya hidup enak di sini sementara kau menderita dulu? Aku hanya ingin melindungimu, Angkasa. Aku hanya ingin memastikan dia tidak menyakitimu seperti ayahnya dulu!"
Penjelasan itu terdengar masuk akal, penuh dengan alasan cinta dan pengorbanan. Dewa terdiam. Di satu sisi, kata-kata Sera seolah benar. Namun di sisi lain, nalurinya sebagai seorang pemimpin yang tajam berbisik bahwa ada sesuatu yang disembunyikan, ada kepingan yang hilang.
"Melindungiku..." ulang Dewa pelan, matanya tidak lepas dari wajah Sera. "Kau bilang kau melindungiku. Tapi kenapa rasanya kau justru berusaha memisahkan aku dari kebenaran? Kenapa kau begitu panik saat aku bertanya soal dokumen ini?"
Sera tahu ia tidak bisa memenangkan perdebatan ini malam ini. Semakin ia membela diri, semakin Dewa curiga. Ia harus mundur, menenangkan situasi, dan menyusun rencana baru yang lebih berbahaya dan lebih matang. Wanita itu menghela napas panjang, lalu mengusap sudut matanya seolah sedang menahan air mata kesedihan.
"Baiklah, Angkasa. Jika kehadiranku mengganggumu malam ini, jika aku dianggap sebagai orang yang menyembunyikan sesuatu... aku akan pergi," ucap Sera dengan nada yang terdengar kecewa dan sedih. Ia berjalan perlahan menuju pintu, namun sebelum keluar, ia berhenti sejenak dan menoleh ke belakang.
"Hanya satu hal yang perlu kau ingat. Darah tidak akan pernah berubah menjadi air. Anak pencuri tetaplah pencuri. Seperti ayahnya, begitu juga anaknya. Suatu hari nanti, kau akan melihat sendiri kebenaran itu, dan kau akan sadar bahwa aku satu-satunya orang yang tulus di sisimu."
Pintu tertutup pelan, meninggalkan Dewa kembali sendirian di ruangan yang kini terasa semakin penuh teka-teki. Dewa kembali duduk, mengambil surat Naura yang masih tergeletak di atas meja. Ia membacanya sekali lagi, kali ini dengan perasaan yang jauh lebih jernih dan tidak lagi terhalang oleh kabut kebencian.
"Aku punya hati yang bisa terluka, dan aku punya harga diri yang ingin aku jaga."
Kalimat itu kembali berputar di kepalanya. Selama ini ia hanya melihat Naura sebagai perpanjangan tangan ayahnya, sebagai objek pelampiasan dendam. Ia lupa bahwa wanita di balik surat ini adalah manusia biasa, yang memiliki perasaan, yang tidak tahu apa-apa tentang dosa masa lalu, dan yang terjebak dalam situasi yang kejam karena kesalahan orang lain.
Rasa bersalah yang asing mulai merayap masuk ke dalam relung hatinya. Ingatannya kembali ke kejadian pagi tadi, bagaimana ia membentak Naura, bagaimana ia menuduhnya dengan kata-kata yang sangat menyakitkan, dan bagaimana ia memerintahkannya dikurung seperti penjahat besar.
"Aku terlalu cepat menghakiminya," batin Dewa mengakui dengan berat hati. "Dan aku terlalu mudah dipengaruhi oleh kata-kata orang lain."
Malam semakin larut, namun Dewa sama sekali tidak mengantuk. Ia bangkit berdiri, mengambil kunci cadangan yang ada di laci meja kerjanya, lalu berjalan keluar ruangan dengan langkah yang mantap namun penuh keraguan di dalam hatinya. Tujuannya hanya satu: kamar Naura.
Di lantai atas, di kamar yang luas namun dingin itu, Naura masih duduk di tepi jendela, memeluk lututnya sendiri. Matanya bengkak dan merah, namun air matanya sudah kering. Ia sudah menangis seharian, dan kini rasa sakit itu berubah menjadi rasa lelah yang luar biasa, baik fisik maupun batin. Ia tidak tahu apakah suratnya sampai, tidak tahu apakah Dewa membacanya, atau mungkin surat itu sudah dibuang ke tempat sampah begitu saja.
Suara kunci pintu yang diputar dari luar terdengar jelas, membuat jantung Naura berdegup kencang. Ia menegakkan tubuhnya, menatap pintu yang perlahan terbuka.
Di ambang pintu, berdiri sosok pria yang selama ini menjadi sumber ketakutan sekaligus satu-satunya harapannya. Dewa Angkasa Buwana.
Pria itu berdiri diam di sana, di bawah cahaya lampu lorong yang redup, menatap lurus ke arah wanita yang menjadi istrinya itu. Wajah Dewa tidak lagi terlihat penuh amarah atau penghinaan seperti biasanya. Malam ini, ekspresinya sulit sekali diartikan: campuran antara rasa bersalah, keraguan, dan sesuatu yang lain yang belum bisa dijelaskan.
Naura tidak bergerak. Ia hanya menatap balik, matanya yang lelah namun tetap berani menatap manik mata hitam itu. Ia tidak lagi mau menunduk takut. Ia sudah mengatakan apa yang harus ia katakan dalam suratnya. Sekarang, apa pun yang terjadi, ia siap menerimanya.
Dewa melangkah masuk perlahan, menutup pintu di belakangnya, membiarkan mereka berdua berada dalam keheningan yang hanya milik mereka berdua. Udara di kamar itu terasa tebal, penuh dengan ketegangan yang terpendam sejak hari pertama mereka bertemu.
"Kau belum tidur?" tanya Dewa pelan, memecah keheningan itu. Suaranya tidak keras, tidak dingin, namun terdengar berat dan dalam.
Naura menggeleng pelan. "Bagaimana saya bisa tidur, Tuan Buwana... saat saya dikurung di sini dengan tuduhan yang tidak pernah saya lakukan?"
Jawaban itu lugas, tenang, namun penuh dengan rasa sakit yang mendalam. Dewa berjalan mendekat, berhenti beberapa langkah di depan Naura. Ia melihat wajah wanita itu yang pucat, melihat lingkaran hitam di bawah matanya, dan melihat betapa kurusnya pipi wanita itu hanya dalam beberapa hari ini. Ada rasa sakit yang aneh menyengat dadanya saat melihat keadaan istrinya yang begitu menyedihkan namun tetap berusaha berdiri tegak.
"Aku sudah membacanya," ucap Dewa pelan, mengeluarkan surat yang ditulis Naura tadi sore dari saku kemejanya. "Semua yang kau tulis... soal kejadian tadi pagi, soal perasaanmu, soal ketidakadilan ini."
Naura menahan napasnya, menunggu. Menunggu teriakan, menunggu makian, atau menunggu hukuman baru. Namun tidak ada yang datang.
Dewa menghela napas panjang, lalu melangkah satu langkah lagi mendekat, hingga jarak mereka sangat dekat. Aroma tubuhnya yang khas kembali menguar, namun kali ini tidak lagi terasa mengancam, melainkan terasa menenangkan dengan cara yang aneh.
"Dan aku juga sudah melihat dokumen lama itu... dokumen yang terselip di antara berkas-berkas milik Sera," tambah Dewa pelan, matanya menatap lekat-lekat wajah Naura mencari kebohongan, namun yang ia temukan hanyalah kebingungan yang tulus. "Kau tidak tahu apa-apa soal itu, kan? Kau tidak tahu bahwa ada kemungkinan besar bukti yang selama ini aku pegang sebagai alasan kebencianku... bisa jadi palsu atau dimanipulasi?"
Naura mengerutkan keningnya dalam kebingungan yang nyata. Ia menggeleng lagi, lebih kuat kali ini.
"Saya tidak tahu apa yang kau maksud, Tuan Buwana. Saya tidak pernah melihat dokumen apa pun. Ayah saya tidak pernah membicarakan masa lalu. Saya hanya tahu... bahwa saya ada di sini karena saya harus menebus sesuatu yang saya bahkan tidak yakin benar atau salah. Tapi satu hal yang pasti... saya tidak pernah berniat merusak apa pun atau menyakiti siapa pun, termasuk kau."
Keheningan kembali menyelimuti mereka, namun kali ini rasanya berbeda. Dinding kebencian yang tinggi dan tebal itu mulai terlihat retak-retak kecil. Dewa menyadari satu hal yang paling menyakitkan bahwa selama ini ia mungkin telah menyiksa wanita yang tidak bersalah sama sekali, dan mungkin saja ia telah menjadi boneka yang dipermainkan oleh orang yang ia percaya selama ini.
"Pagi ini..." ucap Dewa pelan, suaranya sedikit bergetar karena emosi yang bergolak. "Aku menuduhmu, aku menghukummu, aku mempermalukanmu... padahal aku tahu dalam hati kecilku bahwa itu kecelakaan. Tapi aku membiarkan rasa benciku dan kata-kata Sera mengalahkan akal sehatku. Aku... aku salah, Naura."
Pengakuan itu keluar begitu saja, tanpa ia rencanakan sebelumnya. Kata-kata itu terdengar asing di mulutnya, namun terasa begitu melegakan di hatinya.
Naura tertegun, matanya membelalak tak percaya. Ia tidak pernah membayangkan akan mendengar kata "salah" atau permintaan maaf keluar dari mulut Dewa Angkasa Buwana, pria yang begitu angkuh dan membenci dirinya itu.
Namun, momen itu terputus tiba-tiba. Dari luar kamar, terdengar suara langkah kaki tergesa-gesa dan suara teriakan Bi Inah yang panik.
"Tuan Buwana! Nyonya! Tolong! Ada kebakaran! Di lantai bawah! Di ruang tengah!"
Dewa dan Naura sama-sama menoleh kaget. Bau asap mulai samar-samar tercium masuk ke dalam kamar, dan cahaya merah yang tidak wajar mulai terlihat menyelinap dari celah bawah pintu.
Wajah Dewa berubah tegang. Ia segera berlari ke pintu, membukanya lebar-lebar. Asap tebal dan panas langsung menyambar masuk. Di ujung lorong, api sudah mulai menjilat-jilat langit-langit.
Namun, di balik kegemparan itu, di balik kepanikan semua orang, di sudut gelap halaman luar, sosok wanita bergaun merah berdiri diam mematung. Sera tersenyum dingin sambil menatap kobaran api yang mulai membesar itu. Di tangannya, ia masih memegang kaleng bekas berisi sisa minyak tanah.
"Kau ingin mencari kebenaran, Angkasa? Kau mulai tertarik pada gadis itu? Kalau begitu... biarkan saja kebenaran itu habis terbakar bersama dia dan semua bukti masa lalu itu," bisik Sera dengan penuh kebencian. "Hanya abu yang tersisa, dan abu tidak akan pernah bisa bicara."