NovelToon NovelToon
Roses For The Cold Boss (Mawar Untuk Bos Dingin)

Roses For The Cold Boss (Mawar Untuk Bos Dingin)

Status: sedang berlangsung
Genre:Roman-Angst Mafia / CEO
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: DearlyBoa

Di dunia bawah tanah yang kejam, seorang bos mafia yang tampan namun terkenal bengis tidak pernah ragu untuk melenyapkan siapa saja yang menghalangi jalannya. Ketika salah satu anak buah level bawahnya terjerat utang besar yang tak mampu dibayar, nyawa pria tua itu berada di ujung tanduk. Demi menyelamatkan diri dari eksekusi mati, sang bapak nekat menawarkan putri cantiknya sebagai penebus utang. Meski awalnya enggan, sang bos mafia akhirnya menerima kesepakatan tersebut dan menikahi si gadis. Dimulailah kehidupan pernikahan yang dingin, penuh tekanan, dan agak kasar di dalam rumah megah sang mafia. Namun, di balik dinding es yang dibangun sang bos, sebuah dinamika baru perlahan mulai menguji batasan kekejamannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DearlyBoa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sup Ayam

​Rasa pening yang luar biasa menghantam pelipis Chloe saat kesadarannya perlahan-lahan kembali. Kelopak matanya terasa sangat berat, seolah direkatkan oleh lem. Aroma manis kloroform yang memuakkan masih tertinggal lamat-lamat di pangkal tenggorokannya, memicu rasa mual yang membuat dadanya sesak.

​Chloe melenguh pelan, menggerakkan jari-jemarinya yang terasa kaku sebelum akhirnya berhasil membuka mata sepenuhnya.

​Hal pertama yang tertangkap oleh sepasang mata rusanya bukanlah langit-langit kamar rumahnya yang retak dan berdebu, melainkan sebuah lampu gantung kristal megah yang berkilauan memantulkan cahaya. Chloe mengerjap beberapa kali, mengedarkan pandangannya ke sekeliling dengan jantung yang mendadak berpacu cepat.

​Dia tidak sedang berada di kamar kecilnya. Dia sedang berbaring di atas ranjang raksasa berselimut sutra abu-abu yang sangat lembut. Kamar itu begitu luas—mungkin setara dengan luas seluruh lantai bawah rumahnya. Dinding-dindingnya bercat gelap dengan perabotan mewah bergaya eropa klasik yang memancarkan kesan dingin dan angker.

​Bukannya merasa takjub atau bahagia melihat kemewahan di depan matanya, tubuh Chloe justru gemetar hebat. Rasa takut dan kebingungan yang luar biasa langsung menyergapnya bagai ombak besar. Ingatan terakhirnya berputar cepat: pagi hari, nasi goreng, dua pria berjas hitam, dan sapu tangan yang membekap mulutnya.

​"Aku... aku diculik?" bisik Chloe dengan suara parau yang hampir habis.

​Kepanikan melanda dirinya. Chloe langsung menyibak selimut sutra itu dan melompat turun dari ranjang. Kedua kakinya yang lemas sempat membuat tubuhnya limbung, namun dia memaksakan diri untuk berlari menuju satu-satunya pintu ganda besar yang ada di ujung ruangan.

​Cklek! Cklek! Cklek!

​Chloe memutar gagang pintu itu dengan panik, mendorongnya dengan seluruh berat tubuhnya, lalu menariknya sekuat tenaga. Nihil. Pintu itu mengunci rapat dari luar, kokoh tak bergerak seolah-olah terbuat dari besi tempa yang tertanam di dinding.

​"Tolong! Siapa pun di luar, tolong buka pintunya!" Chloe memukul-mukul permukaan pintu kayu ek yang tebal itu hingga telapak tangannya memerah kesakitan. "Ayah! Ayah, tolong aku!" air mata ketakutan mulai meleleh membasahi pipi pucatnya. Dia merasa terjebak di dalam sebuah sangkar emas yang mengerikan.

​Klik.

​Suara mekanisme kunci yang berputar dari luar seketika membuat Chloe terlonjak mundur tiga langkah. Dia memasang posisi waspada, bersiap jika dua pria berjas hitam yang menculiknya kembali masuk. Pintu besar itu perlahan terbuka, namun sosok yang muncul dari balik pintu sama sekali di luar ekspektasi Chloe.

​Seorang wanita paruh baya berusia sekitar awal lima puluh tahunan melangkah masuk dengan anggun. Wanita itu mengenakan seragam pelayan rapi berwarna hitam dengan celemek putih bersih di bagian depan. Rambutnya yang mulai diselingi uban disanggul rapi. Alih-alih wajah garang penuh luka, wanita itu justru memiliki wajah yang teduh dengan senyuman ramah yang sangat tulus terukir di bibirnya. Dia membawa selembar handuk putih bersih dan satu set pakaian di lengannya.

​"Selamat sore, Nona Muda. Syukurlah Anda sudah sadar," sapa wanita itu dengan nada suara yang lembut dan menenangkan.

​Chloe mengerutkan keningnya, melangkah mundur lagi hingga punggungnya membentur tiang ranjang. "S-Siapa Anda? Di mana ini? Kenapa saya dikurung di sini?" berondong Chloe dengan suara bergetar, matanya menatap tajam penuh selidik.

​Wanita paruh baya itu menutup pintu di belakangnya—namun Chloe mendengar suara kunci otomatis kembali berbunyi. Wanita itu berjalan mendekati meja kecil, meletakkan pakaian yang dibawanya ke sana.

​"Perkenalkan, nama saya Bi Mirna," ucap wanita itu sembari membungkuk hormat dengan sangat sopan. "Mulai hari ini, saya yang ditugaskan untuk melayani, merawat, dan membantu semua keperluan Nona Chloe di rumah ini. Anda tidak perlu takut, Nona."

​Chloe mengerjapkan mata. "Bi Mirna? Melayani?" Dia menunjuk dirinya sendiri dengan bingung. "Tunggu dulu, Bi. Saya tidak butuh dilayani. Saya ini diculik! Dua orang pria besar menyerang saya di rumah dan membawa saya ke tempat menyeramkan ini. Bibi orang baik, kan? Tolong bantu saya keluar dari sini, Bi! Tolong buka pintunya," mohon Chloe, berjalan mendekat dan memegang kedua tangan Bi Mirna dengan pandangan memelas.

​Bi Mirna menatap sepasang mata rusa Chloe yang berkaca-kaca dengan pandangan iba, namun senyum ramahnya tidak pudar. Dengan perlahan dan sangat tenang, dia melepaskan genggaman tangan Chloe.

​"Maafkan saya, Nona Chloe. Tapi saya tidak bisa melakukan itu," jawab Bi Mirna dengan suara yang teramat santai, seolah-olah dia baru saja menolak permintaan untuk membuatkan secangkir kopi, bukan menolak membantu korban penculikan. "Pintu-pintu di mansion ini hanya bisa dibuka dengan akses khusus. Lagi pula, jika saya membiarkan Anda keluar, besok pagi Anda mungkin harus melayat ke pemakaman saya."

​Chloe melongo mendengar jawaban yang luar biasa tenang itu. "Hah? Pemakaman? Maksud Bibi?"

​"Tuan besar di rumah ini tidak suka jika barang miliknya hilang, Nona. Dan percayalah, hukuman dari beliau jauh lebih menakutkan daripada hantu malam Jumat," lanjut Bi Mirna, masih dengan nada jenaka yang santai seolah sedang membicarakan cuaca.

​"Tuan besar? Siapa dia? Dan apa katanya tadi? Barang milik?" Chloe mendadak merasa tersinggung sekaligus merinding. "Aku ini manusia, bukan barang dagangan!"

​"Aduh, Nona cantik, jangan marah-marah dulu. Nanti aura cantiknya hilang," goda Bi Mirna sambil terkekeh pelan, membuat Chloe semakin mati kutu karena kebingungan menghadapi sifat pelayan paruh baya ini yang terlalu santai di tengah situasi darurat. "Sekarang, yang paling penting adalah membersihkan diri. Tubuh Nona bau obat bius dan keringat. Mari, saya sudah siapkan air hangat di dalam kamar mandi."

​"Tidak mau! Aku tidak mau mandi! Aku mau pulang!" protes Chloe, menyilangkan kedua tangannya di depan dada dan cemberut, mencoba mogok taktik.

​Namun, Bi Mirna ternyata bukan pelayan amatir. Tanpa banyak bicara, dia mendekati Chloe, memegang pundak gadis itu dengan kekuatan yang lumayan kokoh untuk ukuran wanita paruh baya, lalu menuntunnya—atau lebih tepatnya mendorongnya dengan halus—masuk ke dalam kamar mandi mewah yang terletak di sudut kamar.

​"Ayo Nona, jangan manja. Kalau tidak mau mandi sendiri, apa mau saya mandikan seperti anak bayi?" ancam Bi Mirna jenaka.

​"I-Iya! Eh, maksudnya tidak! Aku bisa mandi sendiri!" pekik Chloe panik, wajahnya memerah karena malu. Dia akhirnya pasrah dan masuk ke dalam kamar mandi, menutup pintunya dengan rapat.

​Di dalam kamar mandi yang dilapisi marmer putih dan memiliki bak berendam berukuran besar itu, Chloe membersihkan tubuhnya dengan cepat. Air hangat perlahan melunturkan rasa lelah dan pening di kepalanya, meskipun rasa cemasnya sama sekali tidak berkurang. Dia terus berpikir, siapa 'Tuan Besar' yang dimaksud oleh Bi Mirna? Dan di mana ayahnya sekarang?

​Setelah selesai, Chloe keluar dengan mengenakan jubah mandi putih tebal. Di atas ranjang, Bi Mirna sudah menyiapkan sebuah gaun terusan sederhana berwarna hijau sage berbahan katun lembut yang sangat nyaman, lengkap dengan pakaian dalam baru yang masih memiliki label merek ternama.

​"Nah, ini pakaiannya, Nona. Pas sekali di tubuh Nona yang mungil," kata Bi Mirna sembari membantu menyisir rambut cokelat gelap Chloe yang masih basah dengan penuh kelembutan, mengingatkan Chloe pada mendiang ibunya.

​Tepat setelah Chloe selesai berpakaian, dua pelayan muda lainnya masuk membawa sebuah troli perak besar. Di atasnya, tersaji berbagai macam hidangan mewah yang aromanya langsung menusuk hidung Chloe: sup ayam jamur yang mengepulkan asap hangat, steak daging sapi dengan saus lada hitam, buah-buahan segar, dan segelas susu hangat.

​Kruuuk...

​Suara nyaring dari perut Chloe seketika memecah kesunyian, bergema dengan sangat jelas. Wajah Chloe langsung memerah padam sampai ke leher, menahan malu yang teramat sangat di depan para pelayan. Dia baru ingat bahwa sejak pagi hari dia belum menyentuh makanan sama sekali karena diculik, dan sekarang perutnya sudah melakukan demonstrasi besar-besaran.

​Bi Mirna tersenyum geli, menata piring-piring itu di atas meja makan kecil di dalam kamar. "Silakan dimakan, Nona Chloe. Seharian ini Nona belum makan, kan? Tuan Besar berpesan agar Nona harus menghabiskan semuanya."

​Chloe mencoba memasang wajah angkuh, menegakkan dagunya. "Aku... aku tidak mau makan. Aku sedang melakukan aksi mogok makan sampai aku dibebaskan!" ujarnya dengan nada sok tegap, meskipun matanya terus melirik ke arah sup ayam jamur yang tampak sangat menggoda itu.

​Bi Mirna menghela napas panjang, berpura-pura sedih. "Wah, sayang sekali. Padahal koki di bawah sudah memasak sup ini selama tiga jam penuh. Dagingnya sangat empuk sampai meleleh di mulut. Tapi ya sudah, kalau Nona tidak mau, terpaksa saya buang semua ke tempat sampah..." Bi Mirna bergerak hendak mengangkat mangkuk sup tersebut.

​"E-Eh! Tunggu! Jangan dibuang!" cegat Chloe refleks, memegang lengan Bi Mirna.

​Bi Mirna menahan senyum kemenangannya. "Kenapa, Nona?"

​Chloe menelan ludahnya, matanya menatap nanar ke arah makanan. "Mubazir... ibuku dulu bilang, membuang-buang makanan itu dosa besar. Jadi... jadi aku terpaksa memakannya demi menghargai koki, bukan karena aku menyerah pada penculik ini, ya!" alasan Chloe dengan bibir mengerucut, mencoba membela harga dirinya yang sudah runtuh.

​"Tentu saja, Nona Muda yang bijaksana. Silakan dinikmati," ucap Bi Mirna penuh sopan santun sembari menggeser kursi untuk Chloe.

​Begitu sendok pertama sup ayam itu masuk ke dalam mulutnya, mata rusa Chloe langsung berbinar. Rasanya luar biasa lezat, hangat, dan langsung menyebar memberikan energi ke seluruh tubuhnya yang lemas. Tanpa memedulikan gengsi lagi, Chloe mulai makan dengan lahap, menyuap nasi dan lauk-pauk itu bergantian sampai pipinya menggembung menggemaskan seperti seekor tupai.

​Bi Mirna berdiri di sudut ruangan, memperhatikan cara makan Chloe yang masih menunjukkan kepolosan seorang gadis muda dengan senyuman hangat. Di dalam hatinya, Bi Mirna merasa kasihan sekaligus khawatir. Dia tahu betul seberapa kejam dan dinginnya Tuan Besar mereka, Asher Sterling. Mansion ini biasanya hanya dipenuhi oleh aroma darah, asap cerutu, dan ketakutan. Kehadiran gadis murni seperti Chloe di tempat ini bagaikan selembar kertas putih bersih yang dilemparkan ke dalam kubangan tinta hitam.

​Bi Mirna hanya bisa berharap dalam hati, semoga kepolosan dan kehangatan yang dimiliki gadis bermata rusa ini tidak dihancurkan sepenuhnya oleh kekejaman sang mafia yang mengurungnya di dalam sangkar emas ini.

1
Idah Faridah
dtunggu thor lanjutanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!