NovelToon NovelToon
Talak Tiga Di Malam Pertama

Talak Tiga Di Malam Pertama

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Re _ ara

Salwa Azzahra, gadis berusia 22 tahun, menikah dengan orang yang sangat dia cintai , dan berharap Salwa bisa keluar dari rumah yang membuathya terluka . namun harapannya hancur seketika di malam pertama pernikahan .

Baru saja akad dilaksanakan, Yogie, suaminya, langsung menjatuhkan talak tiga tepat di malam itu juga, tanpa penjelasan yang masuk akal. Ia mengembalikan Salwa ke rumah orang tuanya seolah gadis itu barang yang tidak berguna. Salwa hancur, merasa harga dirinya diinjak-injak, dan kini harus menanggung malu serta fitnah masyarakat yang menuduhnya bersalah hingga diceraikan secepat itu.

Di balik sikap dingin Yogie, ternyata ada rahasia besar dan alasan tersembunyi yang membuatnya terpaksa melakukan hal menyakitkan itu, meski sebenarnya ia menyimpan rasa peduli. Takdir mempertemukan mereka kembali bertahun-tahun kemudian, saat luka keduanya belum sembuh , apakah Salwa akan kembali pada Yogie?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Re _ ara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

Hari-hari berlalu dengan sangat cepat di kediaman megah itu. Bagi Salwa, setiap detik yang berlalu terasa seperti petualangan baru sekaligus proses kelahiran kembali dirinya. Seperti yang dijanjikan, Bunga wanita anggun yang kini dipanggil Salwa dengan sebutan Tante Bunga mulai membimbingnya dengan penuh kesabaran dan ketelatenan.

Setiap pagi hingga sore, di ruang belajar khusus yang lengkap dengan berkas-berkas penting, buku-buku tebal, dan layar komputer canggih, Salwa duduk tekun di samping Tante Bunga. Ia mulai diperkenalkan pada seluk-beluk dunia bisnis dan perusahaan milik ayahnya.

Awalnya, semua itu terasa asing, rumit, dan membingungkan bagi gadis yang dulu hanya tahu pekerjaan rumah tangga ini. Istilah-istilah ekonomi, strategi pemasaran, manajemen keuangan, hingga cara berkomunikasi dengan rekan bisnis adalah hal-hal yang sama sekali baru baginya.

Namun, Tante Bunga tidak pernah sekalipun terlihat kesal atau menganggap Salwa lambat mengerti. Wanita itu mengajari langkah demi langkah, menjelaskan dengan bahasa yang mudah dipahami, dan selalu mengulangi materi jika Salwa belum paham benar.

"Ingat, Nak," ucap Tante Bunga lembut sambil menunjuk sebuah grafik di atas meja. "Kekayaan ini bukan hanya soal uang. Ini adalah kekuasaan, tanggung jawab, dan senjata terbesar yang kita miliki. Ayahmu membangun ini semua dari nol, dengan keringat dan air mata, agar suatu hari nanti bisa melindungi hak miliknya, dan melindungimu. Kau harus menguasai ini semua, karena suatu saat, semua ini akan menjadi milikmu sepenuhnya."

Salwa selalu mendengarkan dengan saksama, menyerap setiap kata yang keluar dari mulut Tante Bunga. Ia belajar bukan hanya karena disuruh, tapi karena ia sadar, pengetahuan inilah yang akan membuatnya setara dengan mereka yang dulu meremehkannya. Ia ingin menjadi pintar, cerdas, dan berkuasa, agar saat ia berhadapan kembali dengan Yogie, Sania, atau bahkan ibunya sendiri, ia tidak lagi terlihat lemah atau bodoh.

Suatu sore, setelah berjam-jam menekuri berkas dan angka-angka yang membuat kepala sedikit pening, Tante Bunga menutup buku catatannya dengan senyum ramah.

"Sudah cukup untuk hari ini, Salwa. Otakmu butuh istirahat agar pengetahuan yang kau dapatkan bisa tersimpan rapi. Ayo, kita ke ruang tengah saja. Minum teh dan santai sebentar."

Salwa mengangguk lega namun masih tersenyum semangat. Mereka pun berjalan berdampingan menuju ruang tengah yang luas dan nyaman, di mana udara segar dari taman luar bisa masuk melewati jendela-jendela besar. Rini sudah menyiapkan dua cangkir teh hangat beserta kue-kue kecil di atas meja rendah.

Mereka duduk bersebelahan di sofa empuk itu. Suasana tenang dan damai. Salwa menyeruput tehnya perlahan, matanya sesekali melirik ke arah Tante Bunga yang sedang menatap pemandangan luar dengan pandangan yang teduh namun penuh arti.

Selama beberapa minggu ini, Salwa melihat betapa dekatnya hubungan ayahnya dengan wanita ini. Ardiansyah selalu terlihat tersenyum dan sangat menghargai kehadiran Tante Bunga. Setiap kali ada masalah, ayahnya selalu berdiskusi dengannya. Setiap kali ayahnya terlihat lelah atau murung, hanya Tante Bunga yang bisa membuatnya kembali tenang. Kehadiran Tante Bunga di rumah ini begitu besar, begitu penting, dan begitu istimewa.

Rasa penasaran perlahan tumbuh di hati Salwa. Ia teringat kata-kata ayahnya dulu, bahwa Tante Bunga adalah sahabat dekat dan orang yang paling dipercaya. Namun, melihat kedekatan, kenyamanan, dan cara mereka saling memandang satu sama lain, rasanya ada sesuatu yang lebih dari sekadar persahabatan biasa.

Salwa meletakkan cangkir tehnya perlahan. Ia memberanikan diri, menatap wajah cantik Tante Bunga yang masih terlihat muda dan bersahaja itu.

"Tante..." panggil Salwa pelan.

Bunga menoleh, tersenyum lembut. "Ya, Nak? Ada yang ingin ditanyakan? Masih belum paham dengan materi tadi?"

Salwa menggeleng pelan. "Bukan soal pelajaran, Tante. Tapi... tentang hubungan Tante dengan Ayah."

Ucapan itu membuat senyum di bibir Bunga sedikit melebar, namun matanya berkedip seolah teringat sesuatu yang jauh di masa lalu. Ia menyesap tehnya sebentar, lalu menatap Salwa dengan pandangan yang lembut namun sedikit menyiratkan kepahitan dan keikhlasan.

"Apa yang ingin kau tanyakan, Nak?"

Salwa menarik napas panjang, lalu melanjutkan dengan jujur. "Saya melihat betapa dekatnya Tante dan Ayah. Ayah sangat menghargai Tante, sangat percaya pada Tante, dan seolah... hidup Ayah akan sangat sulit tanpa kehadiran Tante. Ayah bilang Tante adalah sahabat, tapi bagi saya... rasanya hubungan kalian lebih dari itu. Apakah... apakah Tante dan Ayah...?" Salwa menggantung kalimatnya, ragu untuk melanjutkan.

Tante Bunga tertawa kecil, suara tawanya terdengar renyah namun ada nada sedih di dalamnya. Ia mengusap lembut rambut Salwa.

"Kau penasaran kenapa kami begitu dekat? Kenapa aku begitu mengerti Ayahmu? Dan kenapa aku belum menikah, tapi hidup dan bekerja selalu ada di samping Ayahmu, ya?"

Salwa mengangguk mantap. "Iya, Tante. Saya ingin tahu. Saya ingin memahami orang-orang terdekat Ayah, dan saya sangat berterima kasih karena Tante sudah menemani Ayah selama saya tidak ada di sisinya. Tapi saya ingin tahu, apa sebenarnya hubungan kalian berdua?"

Bunga menatap ke luar jendela sejenak, menatap dedaunan yang bergoyang terkena angin sore, seolah sedang menelusuri kembali kenangan-kenangan lama yang tersimpan rapi di ingatannya.

"Hubungan kami..." ucapnya pelan, mulai bercerita dengan nada suara yang lembut dan dalam. "Kami sudah saling kenal sejak kami masih sangat muda, Salwa. Waktu itu, saat Ayahmu harus pergi jauh, saat dia diusir, difitnah, dan harus memulai hidupnya dari nol di negeri orang sendirian... di saat itulah aku bertemu dengannya."

Bunga berhenti sejenak, menelan ludah.

"Ayahmu saat itu hancur, terluka, dan sangat kecewa pada dunia. Dia sakit hati karena dikhianati oleh orang yang dia cintai ibumu dan dikhianati oleh saudaranya sendiri Joko. Dia tidak percaya pada siapa pun lagi, dia menutup hatinya rapat-rapat. Tapi aku... aku melihat kebaikan hatinya. Aku melihat betapa hebatnya dia di balik rasa sakit itu. Aku ada di sana saat dia kelaparan, saat dia lelah bekerja keras, saat dia menangis merindukanmu dan masa lalunya."

"Kami tumbuh bersama dalam perjuangan," lanjut Bunga sambil menatap kembali ke arah Salwa. "Aku mencintainya, Salwa. Sejak dulu hingga sekarang, aku mencintai Ayahmu. Bukan sekadar sebagai sahabat, tapi sebagai laki-laki yang aku hormati dan aku kagumi seumur hidupku."

Salwa tertegun sedikit, namun ia diam saja, mendengarkan dengan seksama.

"Tapi..." Bunga tersenyum pahit namun ikhlas. "Hati Ayahmu hanya punya satu ruang besar, dan ruang itu sudah terisi penuh oleh ibumu, oleh masa lalunya, dan oleh dirimu putri kandungnya. Meskipun dia dikhianati, meskipun dia disakiti, cintanya pada Ratna dan rasa tanggung jawabnya padamu tidak pernah hilang sedikit pun dari hatinya. Dia tidak pernah bisa membuka hatinya untuk wanita lain sepenuhnya, Nak. Dia bersikeras hidup sendiri, berjuang sendirian demi kalian berdua."

"Dan aku..." Bunga mengusap pipi Salwa dengan lembut. "Aku memilih untuk tetap tinggal di sisinya. Aku sadar, aku tidak akan pernah menjadi satu-satunya di hatinya. Tapi aku juga sadar, Ayahku butuh seseorang yang tulus, seseorang yang tidak menginginkan hartanya, seseorang yang tidak akan mengkhianatinya. Aku memutuskan untuk mencintainya dengan cara mendampinginya, menjadi sahabat terbaiknya, menjadi penasihatnya, menjadi orang kepercayaannya, dan menjaga segala sesuatu yang dia miliki sampai saat dia bisa bertemu kembali denganmu."

Bunga menggenggam tangan Salwa dengan hangat.

"Jadi, hubungan kami? Kami lebih dari sekadar sahabat, lebih dari sekadar rekan kerja. Kami adalah satu jiwa dalam dua raga yang berbeda, yang terikat oleh pengorbanan dan perjuangan panjang. Aku adalah orang yang dia percaya untuk menjaganya saat dia jauh dari anaknya. Dan sekarang... tugas besarku sudah selesai. Aku sudah mengantarkan Ayahmu kembali ke pelukanmu. Dan sekarang, tugasku yang baru adalah menjagamu, mendidikmu, dan memastikan kalian berdua bahagia dan aman."

Air mata haru menggenang di mata Salwa. Ia tidak merasa cemburu atau tersaingi. Justru, ia merasa sangat beruntung dan berterima kasih pada wanita di hadapannya ini. Tanpa Bunga, mungkin ayahnya akan lebih kesepian, lebih sulit, dan mungkin tidak akan sekuat ini saat kembali menjemputnya.

"Tante Bunga..." ucap Salwa lirih, matanya berkaca-kaca penuh rasa hormat. "Terima kasih... Terima kasih sudah menemani Ayah saat saya tidak bisa. Terima kasih sudah menyayangi Ayah dengan tulus. Dan terima kasih sudah mau menerima saya, dan mengajari saya banyak hal. Bagi saya, Tante bukan sekadar teman Ayah. Mulai sekarang, Tante adalah keluarga saya. Bagian paling penting dari hidup kami."

Bunga tersenyum bahagia, lalu memeluk tubuh muda itu dengan penuh kasih sayang.

"Terima kasih, Nak. Mendengar kau bicara begitu saja sudah cukup menjadi bayaran terindah bagiku. Tenang saja, Salwa. Selama kita saling menjaga dan bersatu, tidak ada musuh yang bisa mengalahkan kita. Dan sebentar lagi... saat kau sudah menguasai segalanya... saat kau sudah siap... kita akan mulai melangkah keluar. Kita akan tunjukkan pada mereka, siapa sebenarnya Salwa Azzahra sekarang."

Di ruang tengah itu, di tengah kehangatan sore hari, ikatan persaudaraan dan kasih sayang itu semakin kuat. Salwa kini tidak hanya memiliki ayah, tapi juga memiliki sosok wanita hebat yang akan menjadi pelindung dan pembimbingnya. Dan persiapan menuju pembalasan dendam itu pun semakin mendekati waktunya .

Bersambung,,,

1
Alit Liet
ceritanya bagus tidak berbelit2
Alit Liet
bab 23 nya mana
Jetva
Yogie..kamu sayang tp kamu talak 3...jelas kamu tak bisa lagi kembali padanya...lelaki koq otaknya kecil..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!