Di dunia kultivasi yang kejam dan tak berbelas kasih, takdir mengikat dua jiwa dari dunia yang sepenuhnya berbeda: Zeng Niu, seorang pemuda berdarah dingin dari kelas bawah yang mewarisi Dao Bencana dan Petir Hukuman Langit, serta Zhao Ying, putri dari Tiran Ketiadaan Surga Atas yang jatuh ke dunia fana dengan kultivasi yang tersegel.
Terdampar di Benua Selatan yang dipenuhi kabut dan kutukan, keduanya harus bertahan hidup dari buruan ahli Nascent Soul dari Suku Li Kuno. Perjalanan berdarah melintasi Hutan Seratus Ribu Gunung Siluman hingga ke gelapnya Kota Reruntuhan Tanpa Tuan memaksa Zeng Niu untuk terus mendobrak batas fisiknya demi menjadi perisai bagi sang dewi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1: Hujan Musim Gugur di Desa Ujung
(JALAN FANA DAN BUNGA GUGUR DI SUNGAI KELUPAAN)
Suara rintik hujan menghantam atap jerami yang bocor, menciptakan irama yang memenuhi ruangan sempit itu. Bau tanah basah bercampur dengan aroma herbal pahit yang direbus di atas tungku tanah liat.
Tidak ada guntur yang membelah langit. Tidak ada tekanan aura dari kultivator Nascent Soul. Hanya ada hawa dingin musim gugur yang merayap perlahan melalui celah dinding bambu.
Zeng Niu membuka matanya.
Penglihatannya kabur untuk beberapa saat. Ia mencoba menggerakkan tangan kanannya, namun rasa sakit yang tumpul dan mendalam seketika menyengat dari ujung jari hingga ke pangkal lehernya. Ototnya terasa seperti kapas yang direndam air, dan tulangnya... Tulang Besi Berkarat yang pernah menahan pukulan ahli Inti Emas itu, kini terasa rapuh layaknya porselen retak.
Zeng Niu menunduk, menatap dadanya yang dibalut kain perban kasar. Ia mencoba merasakan Lautan Kesadarannya, mencoba memanggil Lei Ling atau memutar Qi Bencana.
Kosong.
Dantiannya yang dulu merupakan panggung Foundation Establishment Puncak kini hanyalah gurun tandus yang hancur berantakan. Tidak ada pusaran Qi, tidak ada petir ungu. Ia tidak bisa merasakan energi alam di sekitarnya.
Untuk pertama kalinya sejak ia keluar dari desa lumpurnya bertahun-tahun lalu, Sang Pemakan Bencana telah kembali menjadi manusia fana seutuhnya. Hukuman spasial dari retakan dimensi dan ledakan Dantiannya sendiri telah merenggut seluruh kekuatannya. Harga dari menentang langit ternyata sangat sepi.
"Kau sudah bangun."
Sebuah suara lembut memecah lamunan Zeng Niu.
Dari balik tirai kain usang, Zhao Ying melangkah masuk. Penampilannya sangat berbeda dari Sang Bintang Putih yang angkuh dan tak tersentuh. Rambut peraknya yang panjang kini diikat rapi ke atas menggunakan jepit kayu sederhana. Ia mengenakan pakaian kain rami kasar milik wanita desa, dan ujung lengan bajunya basah oleh air hujan. Tangannya yang putih, tangan yang dulunya hanya memegang artefak surgawi kini memegang mangkuk tanah liat berisi ramuan hitam yang mengepul.
Zeng Niu menatapnya dalam diam. Ingatan terakhirnya adalah jatuh ke dalam lubang hitam dimensi sambil memeluk gadis ini.
"Di mana kita?" suara Zeng Niu terdengar sangat serak, seperti dua batu kering yang digesekkan.
"Sebuah desa fana yang terisolasi. Penduduk lokal menyebutnya Desa Ujung Sungai," jawab Zhao Ying pelan, duduk di kursi kayu di samping ranjang bambu Zeng Niu. Ia meniup pelan ramuan pahit itu, lalu menyendoknya. "Buka mulutmu. Tabib tua di desa ini bilang kau tidak akan selamat dari demam lukamu jika tidak meminum akar pahit ini."
Zeng Niu membuang muka, menatap atap jerami. "Dantianku hancur. Meridianku putus di tujuh belas titik. Akar fana tidak akan menyembuhkan kultivator yang cacat."
Tangan Zhao Ying terhenti. Suasana hening sejenak, hanya diselingi suara hujan.
"Kau bukan kultivator sekarang. Kau manusia," ucap Zhao Ying tenang, namun ada ketegasan di matanya. "Dan manusia butuh obat untuk sembuh. Minum."
Merasakan keras kepalanya sang gadis, Zeng Niu akhirnya menuruti. Cairan pahit itu mengalir di kerongkongannya, tidak memberikan kehangatan magis seperti pil spiritual, hanya rasa pahit yang menempel di lidah.
"Sudah berapa lama aku tertidur?" tanya Zeng Niu setelah menghabiskan setengah mangkuk.
"Tiga bulan," jawab Zhao Ying.
Mata Zeng Niu sedikit melebar. Tiga bulan dalam kondisi tidak sadar tanpa Qi pelindung. Bagi manusia fana, bertahan hidup selama itu dengan luka robek di dada adalah keajaiban. Ia menatap Zhao Ying lebih saksama. Ada lingkaran hitam tipis di bawah mata jernih gadis itu. Tangannya memiliki beberapa goresan kecil akibat memotong kayu bakar dan merawatnya siang malam.
Sebuah rasa sesak yang asing menekan dada Zeng Niu. Bukan rasa sakit fisik, melainkan sesuatu yang jauh lebih berat.
"Bagaimana denganmu?" tanya Zeng Niu. "Teratai Es Neraka..."
"Ramuan Penyelaras Langit itu bekerja setengah jalan," Zhao Ying meletakkan mangkuk ke atas meja. "Karena kau memaksaku menelan teratai itu mentah-mentah saat di kawah, energi esnya menekan penolakan hukum dunia ini. Aku bisa menggunakan sebagian kecil energi fanaku tanpa memicu luka dalam. Tapi kultivasiku masih tersegel. Kita... kita benar-benar hanya manusia biasa sekarang, Zeng Niu."
Sang dewi yang jatuh telah sepenuhnya beradaptasi dengan lumpur bumi. Tidak ada keluhan di suaranya, hanya penerimaan yang tenang.
Zeng Niu menatap ke arah jendela kayu yang terbuka separuh, melihat rintik hujan yang jatuh membasahi daun-daun kuning yang berguguran di halaman berlumpur.
Dao Bencana.
Selama ini, ia selalu berpikir bahwa Bencana adalah kehancuran, ledakan petir yang meratakan gunung, dan pertumpahan darah yang memisahkan jiwa dari raga. Namun, saat ia berbaring di sana, tanpa daya, menatap daun yang perlahan membusuk di tanah, sebuah pemahaman aneh mulai menyusup ke dalam jiwanya yang kosong.
Gugurnya daun di musim gugur... bukankah itu juga sebuah bencana bagi sang pohon? Hujan yang perlahan mengikis batu sungai... bukankah itu kehancuran yang tak terlihat? Bencana tidak selalu datang dengan suara guntur, kadang ia datang dalam wujud waktu, kesepian, dan kehilangan perlahan.
Sebuah benih pemahaman Dao baru mulai tertanam di dasar Dantiannya yang mati. Pemahaman yang lahir dari kelemahan, bukan kekuatan.
"Istirahatlah," ucap Zhao Ying lembut, menarik selimut tipis menutupi dada Zeng Niu. "Aku harus menukar kulit serigala yang kudapat dari perangkap kemarin dengan beras di pasar desa. Sore nanti aku kembali."
Saat Zhao Ying berbalik, Zeng Niu menahan ujung lengan bajunya.
"Zhao Ying," panggil Zeng Niu pelan.
Gadis itu menoleh.
"Kita tidak akan kembali ke dunia kultivasi dalam waktu dekat," ucap Zeng Niu, tatapannya jauh dan dalam. "Bersembunyilah bersamaku di dunia fana ini. Hingga tiba saatnya, langit yang akan memohon agar kita kembali."
Zhao Ying tersenyum. Senyum yang sangat tulus, murni tanpa arogansi, seindah teratai yang mekar di tengah hujan.
"Aku tahu," bisik gadis itu. "Aku akan menemanimu menunggu musim semi."
Sore harinya, saat hujan mereda menyisakan kabut tipis yang merayap dari arah sungai, ketenangan desa fana itu sedikit terusik.
Zeng Niu, yang sedang bersandar di bingkai jendela sambil melihat jalanan tanah yang sedikit basah, menajamkan pandangannya. Meskipun ia tidak memiliki Persepsi Roh, insting tempur nya yang telah melalui ribuan pertarungan berdarah mendeteksi kejanggalan.
Jalanan desa yang biasanya dilewati para petani yang pulang dari ladang, kini sangat sepi. Anjing-anjing desa merengek ketakutan dan bersembunyi di bawah kolong rumah.
Dari arah ujung sungai, kabut putih yang luar biasa tebal bergulung-gulung mendekati perbatasan desa. Kabut itu tidak menyebar seperti kabut alami, melainkan bergerak seolah memiliki kehendak sendiri.
Seorang kakek tua yang merupakan tetangga sebelah pondok mereka berlari tertatih-tatih sambil mengunci rapat-rapat pintu dan jendelanya.
"Kabut Hantu! Kabut Hantu datang lebih awal bulan ini!" jerit kakek itu dengan wajah pucat pasi sebelum menutup jendela terakhirnya.
Zeng Niu mengerutkan kening. Tanpa Qi, ia tidak bisa mendeteksi apakah itu sihir atau sekadar buatan alam. Namun, matanya menangkap siluet Zhao Ying yang baru saja muncul dari ujung jalan, membawa keranjang anyaman berisi beras dan sayuran.
Gadis itu berjalan cepat, namun kabut aneh dari arah sungai bergerak jauh lebih cepat, perlahan mulai menyelimuti ujung jalan di belakangnya. Di dalam kabut tersebut, sayup-sayup terdengar suara lonceng perunggu yang bergemerincing dengan ritme pelan dan menyayat hati, serta bayangan tinggi kurus yang berjalan menyeret kakinya.