NovelToon NovelToon
Air Mata Di Atas Mahkota

Air Mata Di Atas Mahkota

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Penyesalan Suami / Balas Dendam
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Frenzy hrp

Saat hamil tujuh bulan, Kayla baru sadar bahwa pernikahannya hanyalah kebohongan.
Suaminya berselingkuh.

Mertuanya membencinya.
Dan rumah mewah yang dulu ia sebut rumah perlahan berubah menjadi neraka.
Padahal tanpa Kayla, Adrian Wijaya bukan siapa-siapa.

Dikhianati saat mengandung, dibuang ketika paling rapuh, Kayla memilih bangkit. Perlahan, wanita yang dulu diremehkan itu berubah menjadi sosok yang tak lagi bisa disentuh.

Kini saat semua pria mulai berlutut memperebutkan hatinya...
mantan suaminya justru kehilangan segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Frenzy hrp, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Bawah Badai

Brakk!

Dorongan Adrian tidak tanggung-tanggung. Bahu kurus Kayla membentur pilar teras sebelum akhirnya tubuh ringkihnya jatuh terduduk di atas lantai tegel yang licin karena tampias air. Rasa ngilu yang teramat sangat langsung menjalar dari tulang ekor, naik menyiksa panggul dan pinggang belakangnya.

Map cokelat tebal itu melayang, mendarat tepat di atas paving blok yang mulai digenangi air. Kertas-kertas putih berisi dokumen gugatan cerai di dalamnya langsung mengisap air hujan dengan cepat, membuat lembarannya mengerut, sementara tinta tanda tangan Adrian di atasnya perlahan kabur dan luntur bersama aliran air kotor.

"Pergi dari sini! Jangan pernah berani menginjakkan kakimu lagi di tanah milikku!"

Kalimat Adrian melesat tajam, memotong deru angin malam yang bising. Pria itu berdiri di ambang pintu dengan dada naik-turun menahan sisa amarah. Di belakangnya, Valerie melirik dari balik bahu Adrian, merapikan tatanan rambutnya yang sedikit berantakan dengan senyuman tipis yang teramat dingin.

Brakk!

Pintu jati besar itu ditutup dengan hentakan kasar yang memekakkan telinga. Detik berikutnya, terdengar suara gerendel dan kunci yang berputar berkali-kali dari dalam, mengunci rapat seluruh akses kehidupan yang pernah Kayla miliki di rumah itu.

Tidak berselang lama, pendar lampu teras depan mendadak padam. Tiara sengaja mematikan sakelarnya dari dalam. Seketika itu pula, kegelapan total langsung menyergap Kayla, menguburnya dalam dinginnya malam yang sedang diamuk badai.

Hujan beralih dari rintik-rintik menjadi curahan air yang luar biasa lebat, seolah langit malam itu sengaja tumpah untuk ikut menghakimi keberadaan Kayla. Daster batik biru pudarnya dalam hitungan detik sudah basah kuyup, melekat ketat di tubuhnya yang kian kurus kering, mempertegas bentuk perutnya yang membuncit sangat besar di usia kehamilan delapan bulan.

Kayla menatap pintu yang tertutup rapat itu dengan pandangan kosong. Air mata yang keluar dari pelupuk matanya langsung tersapu oleh hantaman air hujan yang perih mengenai wajahnya. Dia tidak berteriak. Dia tidak mengetuk pintu itu lagi. Kesadarannya seolah dipaksa menerima kenyataan bahwa dia baru saja dibuang seperti barang rongsokan yang tidak lagi memiliki nilai.

Dengan telapak tangan yang memerah dan lecet karena bergesekan dengan lantai teras yang kasar, Kayla memaksakan tubuhnya untuk bangkit. Lututnya gemetar hebat, bergetar menahan beban tubuhnya sendiri yang terasa berlipat-lipat lebih berat. Tanpa alas kaki, Kayla mulai melangkah tertatih-tatih meninggalkan pelataran mansion mewah keluarga Wijaya.

Kompleks perumahan elit itu sunyi senyap. Rumah-rumah megah berpagar tinggi di kanan dan kirinya tampak tertutup rapat, tidak ada satu pun manusia yang berada di luar dalam kondisi cuaca seburuk ini. Hanya ada Kayla. Seorang wanita hamil tua yang berjalan terseok-seok di bawah guyuran badai.

Setiap kali telapak kaki telanjangnya menginjak aspal jalanan yang dingin, kerikil-kerikil tajam langsung menusuk kulitnya, meninggalkan rasa perih yang tipis. Namun, rasa sakit di kakinya sama sekali tidak sebanding dengan cengkeraman hebat yang kembali melilit rahimnya. Perut Kayla mengeras seperti batu, menciptakan rasa kram yang begitu intens hingga membuat jalannya kian membungkuk.

Kedua tangan kurusnya didekapkan di atas perut besarnya, mencoba memberikan perlindungan paling minimal yang dia bisa untuk janin di dalam rahimnya. Gigi Kayla mulai beratuk, tubuhnya menggigil hebat karena serangan hipotermia yang mulai merayap naik ke dadanya.

“Sabar ya, Nak... Ibu mohon, bertahanlah... Kita cari tempat berteduh,” bisik Kayla dalam hati. Suaranya tercekat di tenggorokan, tersedak oleh air hujan yang terus menerpa bibirnya yang mulai membiru.

Baru berjalan sekitar tiga ratus meter keluar dari gerbang utama kompleks, kekuatan fisik Kayla benar-benar mencapai titik batasnya. Rasa pening yang luar biasa hebat mendadak menyerang kepalanya, membuat pandangannya mulai berputar miring.

Tiba-tiba, sebuah sensasi hangat yang asing merembes keluar di antara kedua belah paha Kayla. Cairan hangat itu mengalir deras, melewati betisnya, dan langsung luntur menyatu dengan air hujan di aspal.

Langkah kaki Kayla langsung terkunci. Kesadarannya tersentak oleh rasa panik yang luar biasa besar.

Air ketuban... air ketubanku pecah?

Belum sempat dia mencerna kepanikan itu, sebuah gelombang rasa nyeri yang luar biasa tajam—jauh lebih menyiksa daripada kontraksi-kontraksi sebelumnya—meledak di perut bagian bawahnya. Rasa sakit itu begitu hebat hingga membuat seluruh persendian di tubuh Kayla lumpuh seketika.

"Akhh!"

Jeritan Kayla tenggelam bersamaan dengan suara petir yang menyambar menggelegar di langit. Kedua lutut Kayla kehilangan dayanya sepenuhnya. Tubuh ringkihnya ambruk, terjerembap di atas jalan aspal yang dingin dan basah.

Kayla meringkuk miring di tepi jalan, memeluk perut buncitnya dengan posisi protektif. Napasnya memburu cepat, tersengal-sengal menahan rasa sakit yang luar biasa dari rahimnya yang mulai memaksa bayinya untuk lahir prematur. Air ketuban bercampur dengan bercak darah tipis perlahan mengalir di atas aspal kotor, tersapu oleh derasnya arus air hujan.

Kesadaran Kayla mulai menipis. Pandangan matanya yang sayu menatap hamparan aspal gelap di depannya. Di tengah rasa sakit fisik yang tak tertahankan dan dinginnya malam yang membekukan darahnya, Kayla mulai merasa ajalnya sudah dekat. Dia pasrah jika malam ini harus menjadi malam terakhirnya di dunia. Namun, di sisa-sisa kesadarannya yang kian meredup, dia hanya memikirkan satu hal: keselamatan anaknya.

"Tuhan... tolong anakku... selamatkan anakku..." batin Kayla meratap, sebelum akhirnya kelopak matanya yang terasa seberat timah perlahan mulai terpejam rapat.

Di tengah kegelapan yang mulai merenggut kesadaran Kayla, sepasang lampu depan mobil berjenis xenon putih yang sangat terang mendadak membelah tirai hujan dari arah depan. Cahaya benderang itu menyorot langsung ke arah tubuh Kayla yang terkapar tak berdaya di tepi jalan.

Ckiiiiiit!

Suara gesekan ban yang sangat nyaring memecah keheningan malam yang badai. Sebuah mobil mewah berukuran besar dan kokoh—Rolls-Royce Phantom berwarna hitam pekat—mengerem mendadak dengan posisi berbelok tajam, berhenti tepat hanya beberapa jengkal dari kepala Kayla.

Pintu bagian belakang mobil mewah itu terbuka dengan cepat, memotong keheningan. Sepasang sepatu pantofel kulit mahal yang mengilat menginjak genangan air aspal tanpa ragu sedikit pun.

Seorang pria bertubuh jangkung dan tegap turun menembus lebatnya hujan. Seorang asisten dengan pakaian serba hitam buru-buru berlari dari pintu depan, memegangkan sebuah payung besar untuk melindungi pria itu dari guyuran air.

Pria itu adalah Devan Xavier. Setelan jas formal hitam kustom yang membalut tubuh tegapnya seketika terkena guyuran air hujan. Wajahnya yang tampan dengan rahang tegas dan sepasang mata tajam yang biasanya selalu menampilkan ekspresi sedingin es, datar, dan tak tersentuh.

tatapan matanya jatuh pada sosok wanita yang terkapar di bawah sorot lampu mobilnya. Seorang wanita hamil tua, bertubuh kurus kering, dengan pakaian basah kuyup yang ternoda oleh cairan ketuban dan darah tipis yang perlahan luntur oleh air hujan.

Dia melepaskan diri dari payung yang dipegang asistennya, lalu berlutut langsung di atas aspal jalanan yang basah tepat di samping tubuh Kayla.

Jemari tangan Devan yang besar dan hangat terulur, menyentuh urat nadi di leher Kayla yang sedingin es. Masih ada denyut tipis di sana.

"Siapkan mobil. Kita ke rumah sakit sekarang!" perintah Devan.

Sebelum asistennya sempat menjawab, Devan menyelusupkan kedua lengannya yang kokoh di bawah tengkuk dan di bawah lipatan lutut Kayla. Dengan satu gerakan Devan mengangkat tubuh ringkih Kayla ke dalam dekapannya, membawa wanita yang tengah sekarat itu masuk ke dalam mobilnya.

1
Mundri Astuti
bukannya Kayla dpt bonus ma dp byran tenaganya yak, knapa ga ambil kosan yg bersihan minimal, kan anakmu masih merah kayla
marwah: abis biaya rumah sakit kak Kayla disana 2 minggu devan bayar nya cuman seminggu
total 1 replies
Hari Saktiawan
cerita yang bagus lanjut
Mundri Astuti
next thor
Mundri Astuti
masih kurang thor 😄
Mundri Astuti
tegang juga euy
Mundri Astuti
kereennn kamu Kayla
Mundri Astuti
jangan lupa gugat cerai si bunglon Kayla, tapi sebelumnya kamu harus kuat dulu secara finansial biar bisa melindungi arsen
Yusria Mumba
ya nangung cerita ny pendek, nda seru ahh
marwah: terimakasih kakak cantik udah mampir dan dukung ceritaku mohon sabar ya author lagi bingung bikin jalan Kayla kedepannya, kan dia gak punya apa-apa sekarang kalo langsung ngemis ke devan jadinya gak seru😇😇
total 1 replies
Yusria Mumba
laki2 kurang ajar,
Yusria Mumba
nayla kenapa mesti berhan,pergi aja
rumah poke
mau nyimak dl
𝚔𝚞𝚌𝚒𝚗𝚐 ამოყჹ
🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!