Dua putri kembar lahir, namun nasib memisahkan mereka.
Xiao Ning kecil diculik oleh beberapa orang Penjahat, berganti nama menjadi Luna, dan tumbuh keras di dunia kejahatan. Sementara kakaknya, Xiao Ling, dibesarkan dengan penuh cinta, sehingga menjadi gadis yang lembut, baik hati dan penyayang.
Wajah mereka sama, namun takdir diantara keduanya berbeda. Pada akhirnya takdir itu kembali mempertemukan si kembar, dan identitas pun mulai terungkap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Shalima, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB XXVII
Di Wilayah Perbatasan, tampak sosok pria berwajah tegas. Ia memiliki mata yang tajam, alis rapi, hidung mancung, dan bibir tipis, dengan kulit yang cerah. Ekspresinya selalu dingin dan tenang, ditambah ikat kepala yang ia kenakan, membuatnya memancarkan wibawa yang kuat. Ia sedang duduk di dahan pohon tua yang telah tumbang di tengah hutan yang sangat lebat itu. Di hadapannya, dua orang mata-mata telah diamankan oleh para pengawalnya.
Dengan tatapan tajam dan aura yang kuat, ia menatap kedua penjahat itu tanpa ekspresi. Tanpa ragu, ia mencabut pedangnya dan menebas leher keduanya hingga tewas. Dialah Putra Mahkota, Lin Hao Yu.
"Ayo kita pergi," ucap Hao Yu kepada rekannya.
Mereka pun pergi. Tak lama kemudian, di perkemahan mereka, Hao Yu melihat seorang wanita sedang merawat beberapa prajurit yang terluka. Ia mendekatinya dan menatap wajah wanita itu, wajahnya lonjong, kulitnya putih bersih, matanya besar, dan hidungnya mancung. Seketika Hao Yu tertegun dan terpesona melihatnya. Namun, ia segera membuang muka saat wanita itu menoleh menatapnya balik.
"Bisa tolong ambilkan kain itu?" pinta wanita itu.
Hao Yu pun segera mengambil kain tersebut dan memberikannya. Ia memperhatikan wanita itu yang dengan sigap merawat luka para prajurit. Setelah selesai, wanita itu berterima kasih sambil mengelap tangannya yang kotor. Ia lalu mengulurkan tangan dan memperkenalkan diri.
"Terima kasih untuk bantuannya. Namaku Xinxin," ucapnya ramah.
Hao Yu menyambut uluran tangan itu dan menjabatnya. "Namaku Hao Yu," jawabnya.
Setelah berkenalan, Xinxin berpamitan dan pergi meninggalkan tempat itu. Hao Yu hanya diam memandangi wanita itu yang pergi, tanpa sadar hatinya mulai tumbuh perasaan kagum dan tertarik.
Seiring berjalannya waktu, pertemuan demi pertemuan pun terus terjadi. Lama kelamaan, rasa di antara mereka pun digantikan dengan keakraban yang semakin dekat.
Hao Yu selalu berusaha menyembunyikan identitas aslinya sebagai Putra Mahkota Kerajaan Barat. Ia sengaja tidak pernah menceritakan siapa dirinya yang sebenarnya, agar hal itu tidak diketahui oleh Xinxin.
Suatu Sore, mereka sedang duduk bersama di bawah pohon rindang setelah hari yang melelahkan. Angin sepoi-sepoi berhembus pelan.
"Kau tampaknya tidak terbiasa hidup di daerah perbatasan ini," ucap Xinxin tiba-tiba, memecah keheningan. Ia menatap Hao Yu dengan pandangan ingin tahu. "Setiap kali aku melihat cara bicaramu, dan caramu melakukan sesuatu, rasanya kau berasal dari tempat yang jauh."
Hao Yu tersenyum tipis, lalu mengalihkan pandangannya ke arah pepohonan yang ada di kejauhan. "Memang benar aku berasal dari tempat yang jauh." ucap Hao Yu singkat.
Xinxin mengangguk paham, lalu tersenyum. "Kalau begitu, aku bersyukur kau bisa ada di sini, menemani ku."
Mendengar ucapan itu, jantung Hao Yu berdebar pelan. Ia menoleh kembali menatap wajah Xinxin, dan untuk pertama kalinya, tatapan dinginnya melembut.
"Begitu juga denganku," jawabnya dengan suara yang lebih pelan dan tulus. "Awalnya aku hanya datang untuk tugas, tapi sekarang... aku merasa ada hal lain yang membuatku ingin terus tinggal di sini."
Xinxin tersenyum bahagia mendengarnya, lalu menundukkan wajah sambil memainkan ujung bajunya.
Hao Yu mengulurkan tangannya perlahan, seolah ingin menyentuhnya, namun menahan diri sejenak sebelum akhirnya kembali berbicara. "Xinxin, aku tidak bisa berjanji banyak hal untukmu saat ini, tapi satu hal yang pasti... sejak pertama kali bertemu denganmu, hatiku terasa berbeda. Semakin lama kita bersama, semakin aku sadar bahwa aku tidak ingin berpisah darimu."
Xinxin mengangkat wajahnya kembali, matanya berkaca-kaca. Benih-benih cinta yang semula samar kini mulai tumbuh di hati keduanya. Tanpa perlu banyak kata lagi, keheningan yang menyelimuti mereka saat itu justru menjadi bukti bahwa perasaan yang sama telah tumbuh di dalam hati masing-masing.
Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Suatu hari, Hao Yu merasa gelisah karena sudah dua hari tidak melihat keberadaan Xinxin. Ia bertanya kepada para pengawal dan orang-orang di sekitar, namun tidak ada yang tahu ke mana wanita itu pergi. Setelah diselidiki dengan teliti oleh pengawal pribadinya, akhirnya ia mendapat kabar bahwa Xinxin telah kembali ke kampung halamannya, dan orang tuanya berniat menjodohkannya dengan pria pilihan mereka.
Mendengar kabar itu, hati Hao Yu berdebar kencang. Ia segera meminta alamat desa tempat tinggal Xinxin, lalu bergegas pergi menyusul. Lokasinya tidak terlalu jauh dari daerah perbatasan, sehingga ia tiba dengan cepat.
Sesampainya di desa itu, Hao Yu bertanya kepada warga yang ia temui apakah mereka mengenal wanita bernama Xinxin. Setelah bertanya kesana kemari, akhirnya seorang wanita bersedia menunjukkan arah rumahnya. Namun, saat hendak pergi, Hao Yu melihat ada bayi yang sedang menangis keras di gendongan seorang wanita. Ia pun mendekat.
"Permisi Nyonya, bolehkah aku meminjam anakmu ini sebentar?" tanya Hao Yu sopan. Lalu ia menyerahkan kantong berisi uang yang cukup banyak. "Ini sebagai ucapan terima kasihku. Nanti bayi ini akan aku kembalikan lagi padamu."
Wanita itu tampak ragu menerima tawaran itu. Melihat hal itu, Hao Yu melepas sebuah cincin berharga dari jarinya dan memberikannya.
"Ambil ini sebagai jaminan. Aku tidak akan membawa anak ini pergi selamanya. Aku pasti akan mengembalikannya nanti," ucapnya meyakinkan.
Akhirnya, wanita itu pun mempercayainya dan menyerahkan anaknya itu. Hao Yu segera melanjutkan perjalanannya menuju rumah Xinxin.
Sesampainya di sana, ia melihat Xinxin sedang ditarik paksa oleh orang tuanya menuju kereta kuda yang sudah siap. Di sana juga sudah berdiri calon suami yang dipilih oleh orang tuanya, lengkap dengan iringan pernikahannya.
Hao Yu tidak membuang waktu. Ia segera berjalan cepat mendekati, sambil menggendong anak bayi itu. Di hadapan orang tua Xinxin, ia membungkuk sedikit dan memberi salam.
"Salam, Ayah Mertua," ucap Hao Yu dengan nada tenang namun tegas.
Ayah Xinxin mengerutkan keningnya, merasa bingung sekaligus curiga. Ia menatap tajam pria asing itu.
"Siapa kau? Dan apa maksud kedatanganmu ke sini?" tanyanya.
Hao Yu menoleh sejenak, lalu menjawab sambil tersenyum, "Aku suaminya Xinxin, Ayah Mertua." Setelah itu, ia berjalan mendekat ke arah Xinxin yang masih ditahan oleh ibunya.
"Xinxin, Aku datang karena anak ini terus menangis. Sepertinya ia sangat merindukan ibunya," ucapnya sambil mengangkat sedikit anak itu, lalu memberikan kode mata kepada Xinxin agar mengerti apa yang ia maksud.
Xinxin tertegun, matanya membesar karena bingung. "Apa... maksudmu anak kita?" tanyanya pelan, namun ia menangkap isyarat dari Hao Yu.
Hao Yu tersenyum tipis dan menyerahkan gendongan itu ke tangan Xinxin. "Lihatlah, ia langsung tenang saat dekat denganmu."
Melihat kejadian itu, wajah Ibu Xinxin langsung memerah menahan marah. Ia mengira putrinya telah berbuat hal yang tidak pantas. Dengan tangan terangkat tinggi, ia hendak memukul Xinxin.
"Dasar anak tidak tahu malu! Berani-beraninya kau berbuat begini!" bentaknya.
Namun, sebelum tangan itu sempat mengenai Xinxin, Hao Yu dengan sigap melangkah maju dan membelakangi Xinxin, menahan pukulan itu dengan punggungnya sendiri, kemudian memeluk tubuh Xinxin untuk melindunginya.
Melihat pemandangan yang dianggap memalukan itu, calon pengantin pria merasa sangat kecewa dan malu. Ia segera melambaikan tangan dengan wajah kesal.
"Pernikahan ini saya batalkan! Saya tidak mau menikahi wanita yang sudah memiliki anak!" ucapnya, sambil berbalik dan pergi diikuti oleh seluruh rombongannya.
Ibu Xinxin berusaha menghentikan mereka, namun semuanya tetap pergi meninggalkan tempat itu. Suasana kembali menjadi hening dan tegang.
Hao Yu kemudian berdiri tegak dan memperkenalkan dirinya dengan jelas, "Sebenarnya, akulah suami Xinxin. Aku datang untuk membawanya pulang bersamaku."
Ibu Xinxin semakin marah. Ia kembali hendak menampar Xinxin. "Kau berani sekali menyembunyikan hal ini dari kami!"
Namun, Hao Yu dengan cepat menahan pergelangan tangan wanita itu dengan lembut namun kuat.
"Maafkan saya, Ibu Mertua, tetapi saya tidak akan membiarkan Anda menyakiti istri saya," ucapnya dengan tegas.
Ayah Xinxin yang melihat situasi mulai memanas itu segera melangkah maju untuk melerai. Ia melihat anak yang digendong Xinxin, lalu menghela napas panjang.
"Sudahlah... Biarkan saja. Sepertinya mereka memang sudah terikat. Lihatlah cucu kita ini, dia tampan sekali," ucapnya mencoba menenangkan, meski sebenarnya ia pun bingung dengan kejadian itu.
Xinxin ingin membuka mulutnya, dan ingin menjelaskan bahwa anak itu bukanlah anaknya. Namun, Hao Yu segera menarik tangannya itu pelan dan menggelengkan kepalanya, memberi isyarat agar ia diam saja.
Melihat sikap Hao Yu yang tegas dan situasi yang sudah terlanjur terjadi, Xinxin akhirnya menghela napas panjang dan pasrah. Ia hanya bisa memandangi Hao Yu dengan perasaan campur aduk antara kesal, heran, namun juga terselip rasa terima kasih karena pria itu datang menyelamatkannya dari pernikahan yang tidak diinginkannya itu.
Setelah suasana menjadi lebih tenang, Hao Yu meminta izin kepada orang tua Xinxin untuk membawa putri mereka beserta "anaknya" pulang bersamanya. Ibu Xinxin masih merasa kesal dan memilih pergi begitu saja tanpa banyak bicara. Sedangkan ayahnya sempat mengajak mereka untuk tinggal lebih lama, namun melihat betapa eratnya hubungan antara Putri dan Menantu nya itu, akhirnya ia pun luluh dan memberikan restu. Xinxin memeluk ayahnya dengan penuh rasa sayang, kemudian berpamitan untuk pergi bersama Hao Yu.
Setelah mereka berjalan cukup jauh dan rumah itu tak terlihat lagi, Xinxin akhirnya memberanikan diri bertanya.
"Hao Yu... sebenarnya siapa bayi yang kau bawa ini?" tanyanya dengan nada penasaran.
Hao Yu tersenyum tipis, lalu menjelaskan semuanya dengan jujur. "Dia bukan anakku, Xinxin. Aku meminjamnya dari seorang wanita tadi untuk membatalkan pernikahanmu itu. Nanti aku akan mengembalikan anak ini kepada ibunya."
Xinxin mengangguk mengerti, namun wajahnya tampak sedih. Ia hanya diam mematung sejenak, lalu berkata dengan suara pelan.
"Kalau begitu... sekarang nama baikku benar-benar sudah tercemar. Orang-orang pasti mengira aku sudah memiliki suami dan anak. Mungkin seumur hidup ini aku tidak akan pernah bisa menikah..."
Hao Yu menghentikan langkahnya, lalu menoleh dan menatapnya dengan tatapan lembut. Ia kemudian menggenggam tangan Xinxin erat.
"Kenapa kau berpikir begitu?" tanyanya lembut. "Siapa bilang kau tidak akan menikah? Bukankah aku ada di sini?"
Xinxin terdiam, matanya menatap heran pria yang ada di hadapannya itu.
Hao Yu tersenyum hangat, lalu melanjutkan dengan nada yang tulus dan meyakinkan, "Dengarkan aku, Xinxin. Aku berjanji, Aku akan segera menikahi mu, Aku akan membawamu pulang ke rumahku, dan tidak ada seorang pun yang berani meragukan apalagi menghinamu." ucap Hao Yu penuh keyakinan sambil kembali menggandeng tangan Xinxin. Xinxin pun hanya terus berjalan mengikutinya sambil menatap Hao Yu seakan tidak percaya ucapnya.