"Ini rumah, bukan sekolah. Tugas lo sekarang sebagai istri, bukan sekretaris lagi." Galvin menyudutkan Khaira di balik pintu kamar mereka.
"Aku juga udah ngelakuin tugas aku sebagai istri, kan? Kecuali—"
"Kecuali apa, hm?"
Khaira langsung menunduk, menggigit bibir bawahnya di balik cadar. Dia juga meremas sebuah proposal yang sejak tadi dia pegang. Jantungnya berdebar, saat Galvin semakin mendekat dan mengikis jarak di antara mereka.
✧✧✧
Khaira Mafaza Lavsha—Sekretaris Glory High School, tiba-tiba dijodohkan dengan Galvin Shaka Athariz—Ketua Osis yang terkenal tampan, dingin dan penuh kharisma.
Perjodohan itu membuat mereka harus menjalani pernikahan rahasia di masa SMA.
Bagaimanakah kehidupan mereka yang semula hanya sebatas Sekretaris dan Ketua Osis, kini berubah menjadi sepasang suami istri? Mampukah mereka menjalaniinya?
*** WARNING ! STOP PLAGIAT !!! ***
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliya sofya Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5
♦♦
"Sejak kapan kamu di sini?"
Dia dikejutkan oleh kehadiran Galvin yang entah sejak kapan berada di sampingnya.
"Kenapa nangis?" tanya Galvin.
Dia menatap kedua bola mata Khaira yang masih berlinang air mata, hingga membasahi cadarnya.
Khaira yang tidak menyadari hal itu sebelumnya, langsung saja menghapus air matanya dengan cepat.
Dia sengaja menangis sendirian
di sudut ruang perpustakaan itu supaya tidak ada satu orang pun yang mengetahui.
Namun ternyata, seseorang tetap bisa mengetahui itu, dan orang itu tidak lain adalah Galvin—suaminya sendiri.
"Gue kira, perempuan kaya lo ga suka nangis," ejek Galvin sambil tersenyum samar.
"Siapa yang nangis? Aku ga nangis."
Khaira segera membuang pandangannya ke sembarang arah.
Dia tidak mau memperlihatkan air matanya di hadapan siapa pun, termasuk Galvin.
"Masih bisa ngelak, walaupun
mata lo udah sembab kaya gitu?" Galvin berbicara kepada Khaira yang masih enggan menghadap padanya.
Khaira tidak menanggapi. Dia masih membelakangi Galvin.
Beberapa saat dia menangkan diri, menarik dan menghembuskan napasnya dengan pelan, sampai air matanya tidak mampu lagi menetes.
"Masih mau nangis di sini atau pulang sekarang?" tanya Galvin kembali.
Dalam waktu yang cukup lama, Galvin membiarkan Khaira membelakanginya untuk menenangkan diri.
Dia tahu, Khaira butuh waktu sendiri untuk itu.
Namun, di rasa waktu sudah semakin malam, maka Galvin memutuskan untuk mengajak Khaira pulang.
"Sekarang jam berapa?" tanya Khaira, kembali menghadap ke arah Galvin.
Hatinya sudah kembali tenang, sehingga air matanya sudah berhenti mengalir.
Namun, meskipun begitu, matanya yang sebab tidak bisa dia sembunyikan. Sehingga dia pasrah saat Galvin mengetahui bahwa dirinya menangis.
Selain itu, tepi cadarnya juga
basah karena terkena aliran air mata, untung saja kain cadar itu tidak menerawang walaupun basah.
"Lo nangis sampe ga sadar waktu?" Galvin malah berbalik memberikan pertanyaan.
Khaira melirik jam tangan di pergelangan tangan kirinya, dan benar yang dikatakan Galvin, bahwa dia tidak sadar akan waktu.
Entah sudah berapa lama dia menangis di sudut perpustakaan itu. Dia tidak bisa menghitungnya. Dia merasa baru sebentar dirinya berada di sana.
"Seharusnya perpustakaan ini sudah tutup," ucap Khaira, sambil
menatap Galvin dengan khawatir.
Itu berarti, mereka berdua terjebak di dalam perpustakaan itu. Namun, kenapa tidak ada pegawai lain yang menegurnya dan mengatakan bahwa perpustakaan sudah tutup?
Kenapa mereka malah membairkan dirinya dan Galvin berada di sana? Apakah rekan-rekan kerjanya tidak melihat dirinya dan Galvin, karena mereka berdua berada di sudut ruangan?
Itulah yang ada di pikirannya saat ini.
Namun, beberapa detik kemudian, pertanyaan itu terjawab.
"Gue pegang kuncinya," ucap
Galvin, sambil menunjukkan kunci perpustakaan itu kepada Khaira.
"Alhamdulillah." Khaira bernapas lega, karena malam ini mereka tidak terjebak di dalam perpustakaan.
Dia lupa bahwa perpustakaan itu milik suaminya, yang tentu saja memiliki akses untuk masuk dan keluar kapan saja dari dalam perpustakaan itu.
"Makanya jangan terlalu larut dalam kesedihan," ucap Galvin, memberikan nasihat.
"Maaf," lirih Khaira, menunduk.
Dia mengakui dirinya terlalu berlebihan dalam bersedih. Namun
tentu saja hal itu sangat wajar, karena dia baru saja kehilangan orang yang sangat berarti dalam hidupnya.
"Ga mau cerita?" tanya Galvin.
Awalnya dia tidak ingin ikut campur akan masalah Khaira. Namun, karena saat ini Khaira adalah istrinya, maka dia berhak tau apa yang terjadi.
Mereka sudah menikah, berarti mereka harus siap untuk berbagai masalah. Walaupun pernikahan itu terjadi karena perjodohan.
"Oke, kalau gue ga berhak tau. Lo ga perlu cerita," ucap Galvin kembali, karena Khaira tidak kunjung bersuara.
Khaira sempat diam beberapa saat, sampai akhirnya dia berani mengatakan apa yang dia pikirkan hingga membuatnya menangis seperti tadi.
"Aku rindu ibu," lirih Khaira, menunduk.
"Harusnya lo doa'in, bukan nangis." Galvin menenangkan, mencoba menghibur Khaira dengan caranya.
Khaira kembali mendongkak wajahnya, menatap Galvin dengan tatapan sendu. "Udah pasti aku doa'in, tapi sambil nangis," jawab Khaira, jujur.
Hal itu membuat Galvin ingin tersenyum sekaligus merasa
kasihan terhadap Khaira.
"Mau pulang sekarang?" tanya Galvin, kembali.
Khaira langsung mengangguk. "Hm."
Galvin memilih untuk mengajak Khaira pulang, karena dia tidak ingin sekretaris sekaligus istrinya itu terlalu larut dalam kesedihan.
"Ngapain?" tanya Galvin, menahan Khaira yang hendak melepaskan jaket yang dia pakaikan kepada Khaira sebelumnya.
"Jaket kamu, aku kembalikan. Kamu juga pasti kedinginan, kan?" jawab Khaira.
Dia hendak kembali melepas jaket itu dari tubuhnya, tetapi lagi
dan lagi Galvin mencegahnya.
"Pake aja. Lo lebih perlu," ucap
Galvin, datar.
Khaira tersenyum tenang di
balik cadar. "Makasih, Galvin."
Mereka tidak lagi
memperdebatkan perihal jaket itu,
mereka memutuskan untuk
langsung pulang.
"Assalamu'alaikum," ucap
salam dari Khaira dan Galvin,
begitu mereka memasuki rumah
mereka.
Setelah beberapa puluh menit
di perjalanan, akhirnya mereka
sampai.
Untung saja jalanan tidak
terlalu padat seperti biasanya,
sehingga mereka bisa tiba di rumah
dalam waktu yang lebih cepat dari
perkiraan.
"Wa'alaikumsalam, Sayang.
Akhirnya kalian sampai juga,"
jawab Diana, menyambut anak dan
menantunya itu dengan ramah.
Galvin dan Khaira langsung
berjalan ke arah meja makan, di
mana di sana sudah terdapat Diana
dan Hadi yang hendak menyantap
makan malam.
"Ayo sini, kita makan malam
sama-sama," ajak Hadi, yang ikut
menyambut kedatangan mereka
berdua.
Galvin dan Khaira langsung
mencium tangan orang tua mereka,
sebelum akhirnya mereka berdua
ikut duduk bersama di meja makan.
Sementara Diana dan Hadi
sudah pulang lebih dulu dari kantor
mereka, sehingga mereka sudah
lebih dulu berada di meja makan
itu.
"Bunda sama ayah nungguin
kita?" tanya Khaira, merasa tidak
enak kepada ayah dan ibu
mertuanya itu, karena mereka
sudah berada di meja makan lebih
dulu.
"Pastinya. Bunda dan Ayah
khawatir kalau kalian belum
pulang," jawab Diana, dan langsung
mendapat anggukkan dari Hadi.
"Kenapa kamu ga bilang dari
awal?" tanya Khaira, menatap
Galvin.
Padahal Galvin bisa langsung
memintanya untuk pulang,
sehingga ayah dan ibu mertuanya
tidak akan menunggu seperti itu.
"Buat apa bilang?" tanya Galvin,
santai.
Khaira langsung
menggelengkan kepalanya, begitu
melihat tanggapan Galvin yang
masih bisa bersikap santai seperti
itu.
"Ayah, Bunda, maaf sudah buat
kalian menunggu." Khaira benar-
benar merasa bersalah.
"Tidak papa, Nak. Ayah sama
bunda juga baru turun dari kamar.
Sebelumnya, kami sama-sama
membersihkan diri," jawab Hadi,
mencoba menghilangkan
kegelisahan Khaira karena rasa
bersalahnya.
Khaira langsung menghembus
napasnya dengan pelan. "Syukurlah
kalau begitu," ucapnya, merasa
lega.
Mereka mulai mengambil menu
makan malam yang tersedia di atas
meja, yang sudah disiapkan bibi
sebelumnya.
Khaira menunggu ayah dan ibu
mertuanya untuk mengambil
makanan lebih dulu, sebagai tanda
bahwa dia menghormati
mertuanya.
Setelah itu, barulah dia
mengambil sebuah piring yang
masih menangkup di sana.
"Kamu mau makan apa?"
tanyanya kepada Galvin, yang
duduk tepat di sampingnya.
"Biar gue ambil sendiri," ucap
Galvin.
Dia hendak meraih piring yang
ada di genggaman Khaira, tetapi
Khaira segera menjauhkannya.
"Aku aja," ucap Khaira, lembut.
Galvin tidak ingin berdebat, dia
akhirnya mengangguk dan
mengizinkan Khaira
mengambilkan nasi untuknya.
Padahal awalnya dia ingin
melakukan sendiri, karena tidak
ingin merepotkan Khaira.
"Lauknya mau apa?" tanya
Khaira kembali.
"Apa aja."
Galvin memanglah tipikal
orang yang pemilih dalam
makanan. Namun, semua makanan
yang sudah terhidang di atas meja
makannya, sudah pasti dia suka.
Hal itu dikarenakan kepala
pelayanan dan juru masak di
rumahnya sudah tau makanan apa
yang dia suka dan makanan apa
yang tidak dia suka.
"Suka pedes?" tanya Khaira,
sebelum menambahkan sambel
pada piring makan Galvin.
"Ngga," jawab Galvin singkat.
"Di rumah ini cuma bunda yang
suka pedes, jadi bunda selalu minta
bibi buatin sambel."
"Kebetulan Khaira juga suka
pedes, Bunda." Khaira
memberitahu, karena dia cukup
ecaitid begitu tahu ibu mertuanya
menyukai hal yang sama
dengannya.
"Wah, bagus. Bunda jadi punya
temen," respon Diana yang tidak
kalah ecaitid-nya dari Khaira.
"Jangan keseringan makan
pedes apalagi pedes banget. Ga baik
buat kesehatan," ucap Hadi,
memperingati.
"Mereka berdua memang selalu
larang bunda makan pedes," cibir
Diana, sambil melirik ke arah Hadi
dan Galvin secara bergantian, lewat
sudut matanya.
Khaira tertawa pelan melihat
tingkah ibu mertuanya yang
mengadukan hal itu padanya.
"Ini cukup?" tanya Khaira
kembali beralih kepada Galvin,
sambil menunjukkan makanan di
piring itu.
Galvin langsung mengangguk.
"Hm, cukup."
Mereka mulai menyantap
makan malam itu dengan khidmat.
Tidak terlalu banyak berbicara dan
mengobrol.
Waktu mereka difokuskan
untuk makan, hingga makan
malam mereka selesai.
"Kalian mau langsung istirahat
atau ngobrol dulu di sini?" tanya
Diana, kepada Khaira dan Galvin.
Mereka sudah berada di ruang
keluarga, yang jaraknya cukup
dekat dengan ruang makan mereka.
"Langsung istirahat, Bun."
Galvin menjawab, tanpa berdiskusi
lebih dulu dengan Khaira.
Khaira merasa tidak enak
dengan mertuanya, tetapi dia juga
tidak mungkin menentang
keinginan Galvin yang ingin
langsung beristirahat.
"Ayo, Khaira." Galvin mengajak
Khaira.
Khaira terkejut, karena Galvin mengajaknya, padahal dia berpikir
jika Galvin akan beristirahat lebih
dulu, tanpa mempedulikannya.
Ditambah lagi kamar tidur
mereka yang terpisah, sehingga
tidak berpengaruh, jika mereka
istirahat bersama atau tidak.
Galvin kembali menatap
Khaira, karena Khaira masih setia
duduk di sofa itu bersama kedua
orang tuanya.
Khaira yang paham akan
tatapan itu, langsung saja menatap
ayah dan ibu mertuanya untuk
berpamitan.
"Kita ke atas duluan, Ayah,
Bunda." Khaira bangkit dari sofa
itu.
"Silahkan, Nak." Hadi
mengizinkan, begitu juga Diana.
Khaira menundukkan sedikit
kepalanya kepada mereka, sebelum
akhirnya dia menyusul Galvin yang
sudah lebih dulu menaiki anak
tangga.
"Lucu sekali mereka. Masih
malu-malu dan canggung," ucap
Diana, sambil tersenyum melihat
tingkah anak dan menantunya itu.
"Kenapa mereka saling
canggung gitu ya, Bun? Bukannya
mereka teman satu kelas dan
Khaira juga sekretaris Galvin di
sekolahan, kan?" tanya Hadi.
"Jelas canggung, Ayah. Mereka
belum terbiasa dengan status baru
mereka." Diana menjawab, dan
kembali tertawa pelan.
"Benar juga." Hadi setuju.
Mereka melanjutkan kembali
menonton televisi di ruang
keluarga. Sementara Khaira dan
Galvin sudah hilang dari
pandangan mereka.
…
"Langsung tidur," ucap Galvin,
saat mereka berdua sudah berada di
depan pintu masing-masing.
Khaira langsung mengangguk.
Dia juga akan langsung beristirahat
setelah nanti membersihkan diri
terlebih dahulu, karena dia sungguh
merasakan lelah dengan
aktivitasnya di hari ini.
"Kamu udah shalat isya?" tanya
Khaira, begitu Galvin hendak
membuka pintu kamarnya.
Galvin mengangguk pelan.
Pertanda bahwa dia sudah
melakukan salah satu kewajiban
itu.
Khaira langsung tersenyum
sambil mengangguk.
"Ada lagi?" tanya Galvin, sambil
menaikkan salah satu alisnya.
Khaira langsung
menggelengkan kepalanya, sambil
tersenyum di balik cadar.
"Assalamu'alaikum," salam
Khaira, sebelum mereka benar-
benar berpisah di pintu kamar itu.
"Wa'alaikumsalam," jawab
Galvin.
Mereka kemudian masuk ke
dalam kamar mereka masing-
masing yang saling bersampingan.
…
Derztt… Derztt… Derztt…
Deringan ponsel itu
mengganggu ketenangan.
Galvin yang baru saja berbaring
dan hendak memejamkan mata
untuk tidur, tiba-tiba dikejutkan
oleh suara deringan ponselnya yang
dia letakkan di atas nakas, samping
tempat tidurnya.
Awalnya Galvin enggan
menerima panggilan itu, tetapi
semakin lama suara panggilan itu
semakin menganggunya.
Hingga akhirnya di
memutuskan untuk meraih
ponselnya, kemudian memeriksa
siapa yang berani mengganggunya
malam-malam seperti itu.
— Fardan —
Setelah melihat nama kontak
itu di layar ponselnya, tanpa lama
lagi Galvin langsung mengangkat
panggilannya.
Jika Fardan sudah
meneleponnya hingga berkali-kali
seperti itu, sudah dapat dipastikan
ada hal penting yang terjadi.
"Kenapa?" tanya Galvin, lewat
panggilan telepon.
"Ezar dikeroyok dan sekarang
dia ga sadar. Lo buruan ke rumah
sakit. Gue sharelok sekarang,"
jawab Fardan, dari seberang telepon
sana.
"Gue ke sana sekarang." Galvin
langsung menjawab, tanpa
berpikir.
Tutt!
Panggilan itu langsung
terputus.
Galvin yang mematikan
panggilan itu, tanpa menanggapi
lagi tentang apa yang Fardan
katakan.
Dengan cepat, dia bangkit dari
tempat tidurnya kemudian meraih
dan mengenakkan jaketnya
hitamnya.
Setelah itu, dia langsung
mengambil kunci motornya yang
dia simpan di dalam nakas.
Ceklek!
Pintu kamar Galvin terbuka
bersamaan dengan pintu kamar
Khaira yang ikut terbuka.
"Kamu mau ke mana?" tanya
Khaira, yang hendak pergi ke dapur
untuk membawa air minum.
"Ke luar sebentar ada urusan,"
jawab Galvin, sambil menatap
pesan yang baru saja masuk ke
ponselnya.
Pesan itu berasal dari Fardan
yang mengirimkan alamat rumah
sakit di mana Ezar berada.
"Izin sama ayah dan bunda
juga?" tanya Khaira kembali.
Galvin langsung memasukkan
ponselnya ke dalam saku jaket.
"Mereka pasti udah tidur,"
jawabnya, atas pertanyaan Khaira.
Dia masih bisa menjawab
dengan tenang, supaya Khaira tidak
terlalu banyak mempertanyakan ke
mana dia akan pergi.
"Kamu pulangnya jam berapa?"
tanya Khaira kembali.
"Jangan nunggu gue pulang. Lo
langsung tidur aja," jawab Galvin.
"Terus siapa nanti yang buka
pintu?" Khaira terus bertanya
seperti itu, karena dia khawatir
kepada Galvin.
Masalahnya, hari sudah sangat
malam, di mana sudah masuk
waktunya untuk orang-orang
beristirahat.
"Gue punya kunci cadangan,"
jawab Galvin, simpel.
"Yaudah, hati-hati," lirih Khaira
pelan, tampak tidak rela.
Ingin sekali dia melarang
Galvin pergi, tetapi dia tidak berani
untuk mengatakan itu, karena
mereka sudah sepakat untuk tidak
saling mengganggu dan tidak saling
menuntut dalam hal apa pun.
"Gue pergi," ucap Galvin.
Khaira langsung mengangguk
tanpa bertanya lagi.
Setelah mendapat anggukkan
dari Khaira, Galvin langsung pergi
begitu saja memasuki pintu lift yang ada di rumah mereka.
Melihat sikap Galvin yang tampak terburu-buru seperti itu, membuat Khaira beranggapan bahwa ada sesuatu yang penting terjadi, sehingga Galvin pergi melewati pintu lift dan Galvin pergi tanpa mengucapkan salam terlebih dulu.
'Semoga kamu baik-baik saja,' batin Khaira, dengan segala rasa khawatirnya.