NovelToon NovelToon
After Love

After Love

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikahmuda / Ketos
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Aliya sofya Putri

"Ini rumah, bukan sekolah. Tugas lo sekarang sebagai istri, bukan sekretaris lagi." Galvin menyudutkan Khaira di balik pintu kamar mereka.

"Aku juga udah ngelakuin tugas aku sebagai istri, kan? Kecuali—"

"Kecuali apa, hm?"

Khaira langsung menunduk, menggigit bibir bawahnya di balik cadar. Dia juga meremas sebuah proposal yang sejak tadi dia pegang. Jantungnya berdebar, saat Galvin semakin mendekat dan mengikis jarak di antara mereka.

✧✧✧

Khaira Mafaza Lavsha—Sekretaris Glory High School, tiba-tiba dijodohkan dengan Galvin Shaka Athariz—Ketua Osis yang terkenal tampan, dingin dan penuh kharisma.

Perjodohan itu membuat mereka harus menjalani pernikahan rahasia di masa SMA.

Bagaimanakah kehidupan mereka yang semula hanya sebatas Sekretaris dan Ketua Osis, kini berubah menjadi sepasang suami istri? Mampukah mereka menjalaniinya?

*** WARNING ! STOP PLAGIAT !!! ***

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliya sofya Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5

♦♦

"Sejak kapan kamu di sini?"

Dia dikejutkan oleh kehadiran Galvin yang entah sejak kapan berada di sampingnya.

"Kenapa nangis?" tanya Galvin.

Dia menatap kedua bola mata Khaira yang masih berlinang air mata, hingga membasahi cadarnya.

Khaira yang tidak menyadari hal itu sebelumnya, langsung saja menghapus air matanya dengan cepat.

Dia sengaja menangis sendirian

 

di sudut ruang perpustakaan itu supaya tidak ada satu orang pun yang mengetahui.

Namun ternyata, seseorang tetap bisa mengetahui itu, dan orang itu tidak lain adalah Galvin—suaminya sendiri.

"Gue kira, perempuan kaya lo ga suka nangis," ejek Galvin sambil tersenyum samar.

"Siapa yang nangis? Aku ga nangis."

Khaira segera membuang pandangannya ke sembarang arah.

Dia tidak mau memperlihatkan air matanya di hadapan siapa pun, termasuk Galvin.

"Masih bisa ngelak, walaupun

 

mata lo udah sembab kaya gitu?" Galvin berbicara kepada Khaira yang masih enggan menghadap padanya.

Khaira tidak menanggapi. Dia masih membelakangi Galvin.

Beberapa saat dia menangkan diri, menarik dan menghembuskan napasnya dengan pelan, sampai air matanya tidak mampu lagi menetes.

"Masih mau nangis di sini atau pulang sekarang?" tanya Galvin kembali.

Dalam waktu yang cukup lama, Galvin membiarkan Khaira membelakanginya untuk menenangkan diri.

 

Dia tahu, Khaira butuh waktu sendiri untuk itu.

Namun, di rasa waktu sudah semakin malam, maka Galvin memutuskan untuk mengajak Khaira pulang.

"Sekarang jam berapa?" tanya Khaira, kembali menghadap ke arah Galvin.

Hatinya sudah kembali tenang, sehingga air matanya sudah berhenti mengalir.

Namun, meskipun begitu, matanya yang sebab tidak bisa dia sembunyikan. Sehingga dia pasrah saat Galvin mengetahui bahwa dirinya menangis.

Selain itu, tepi cadarnya juga

 

basah karena terkena aliran air mata, untung saja kain cadar itu tidak menerawang walaupun basah.

"Lo nangis sampe ga sadar waktu?" Galvin malah berbalik memberikan pertanyaan.

Khaira melirik jam tangan di pergelangan tangan kirinya, dan benar yang dikatakan Galvin, bahwa dia tidak sadar akan waktu.

Entah sudah berapa lama dia menangis di sudut perpustakaan itu. Dia tidak bisa menghitungnya. Dia merasa baru sebentar dirinya berada di sana.

"Seharusnya perpustakaan ini sudah tutup," ucap Khaira, sambil

 

menatap Galvin dengan khawatir.

Itu berarti, mereka berdua terjebak di dalam perpustakaan itu. Namun, kenapa tidak ada pegawai lain yang menegurnya dan mengatakan bahwa perpustakaan sudah tutup?

Kenapa mereka malah membairkan dirinya dan Galvin berada di sana? Apakah rekan-rekan kerjanya tidak melihat dirinya dan Galvin, karena mereka berdua berada di sudut ruangan?

Itulah yang ada di pikirannya saat ini.

Namun, beberapa detik kemudian, pertanyaan itu terjawab.

"Gue pegang kuncinya," ucap

 

Galvin, sambil menunjukkan kunci perpustakaan itu kepada Khaira.

"Alhamdulillah." Khaira bernapas lega, karena malam ini mereka tidak terjebak di dalam perpustakaan.

Dia lupa bahwa perpustakaan itu milik suaminya, yang tentu saja memiliki akses untuk masuk dan keluar kapan saja dari dalam perpustakaan itu.

"Makanya jangan terlalu larut dalam kesedihan," ucap Galvin, memberikan nasihat.

"Maaf," lirih Khaira, menunduk.

Dia mengakui dirinya terlalu berlebihan dalam bersedih. Namun

 

tentu saja hal itu sangat wajar, karena dia baru saja kehilangan orang yang sangat berarti dalam hidupnya.

"Ga mau cerita?" tanya Galvin.

Awalnya dia tidak ingin ikut campur akan masalah Khaira. Namun, karena saat ini Khaira adalah istrinya, maka dia berhak tau apa yang terjadi.

Mereka sudah menikah, berarti mereka harus siap untuk berbagai masalah. Walaupun pernikahan itu terjadi karena perjodohan.

"Oke, kalau gue ga berhak tau. Lo ga perlu cerita," ucap Galvin kembali, karena Khaira tidak kunjung bersuara.

 

Khaira sempat diam beberapa saat, sampai akhirnya dia berani mengatakan apa yang dia pikirkan hingga membuatnya menangis seperti tadi.

"Aku rindu ibu," lirih Khaira, menunduk.

"Harusnya lo doa'in, bukan nangis." Galvin menenangkan, mencoba menghibur Khaira dengan caranya.

Khaira kembali mendongkak wajahnya, menatap Galvin dengan tatapan sendu. "Udah pasti aku doa'in, tapi sambil nangis," jawab Khaira, jujur.

Hal itu membuat Galvin ingin tersenyum sekaligus merasa

 

kasihan terhadap Khaira.

"Mau pulang sekarang?" tanya Galvin, kembali.

Khaira langsung mengangguk. "Hm."

Galvin memilih untuk mengajak Khaira pulang, karena dia tidak ingin sekretaris sekaligus istrinya itu terlalu larut dalam kesedihan.

"Ngapain?" tanya Galvin, menahan Khaira yang hendak melepaskan jaket yang dia pakaikan kepada Khaira sebelumnya.

"Jaket kamu, aku kembalikan. Kamu juga pasti kedinginan, kan?" jawab Khaira.

Dia hendak kembali melepas jaket itu dari tubuhnya, tetapi lagi

dan lagi Galvin mencegahnya.

"Pake aja. Lo lebih perlu," ucap

Galvin, datar.

Khaira tersenyum tenang di

balik cadar. "Makasih, Galvin."

Mereka tidak lagi

memperdebatkan perihal jaket itu,

mereka memutuskan untuk

langsung pulang.

 

"Assalamu'alaikum," ucap

salam dari Khaira dan Galvin,

begitu mereka memasuki rumah

mereka.

Setelah beberapa puluh menit

di perjalanan, akhirnya mereka

sampai.

Untung saja jalanan tidak

terlalu padat seperti biasanya,

sehingga mereka bisa tiba di rumah

dalam waktu yang lebih cepat dari

perkiraan.

"Wa'alaikumsalam, Sayang.

Akhirnya kalian sampai juga,"

jawab Diana, menyambut anak dan

menantunya itu dengan ramah.

Galvin dan Khaira langsung

berjalan ke arah meja makan, di

mana di sana sudah terdapat Diana

dan Hadi yang hendak menyantap

makan malam.

"Ayo sini, kita makan malam

sama-sama," ajak Hadi, yang ikut

menyambut kedatangan mereka

berdua.

Galvin dan Khaira langsung

mencium tangan orang tua mereka,

sebelum akhirnya mereka berdua

ikut duduk bersama di meja makan.

Sementara Diana dan Hadi

sudah pulang lebih dulu dari kantor

mereka, sehingga mereka sudah

lebih dulu berada di meja makan

itu.

"Bunda sama ayah nungguin

kita?" tanya Khaira, merasa tidak

enak kepada ayah dan ibu

mertuanya itu, karena mereka

sudah berada di meja makan lebih

dulu.

"Pastinya. Bunda dan Ayah

khawatir kalau kalian belum

pulang," jawab Diana, dan langsung

mendapat anggukkan dari Hadi.

"Kenapa kamu ga bilang dari

awal?" tanya Khaira, menatap

Galvin.

Padahal Galvin bisa langsung

memintanya untuk pulang,

sehingga ayah dan ibu mertuanya

tidak akan menunggu seperti itu.

"Buat apa bilang?" tanya Galvin,

santai.

Khaira langsung

menggelengkan kepalanya, begitu

melihat tanggapan Galvin yang

masih bisa bersikap santai seperti

itu.

"Ayah, Bunda, maaf sudah buat

kalian menunggu." Khaira benar-

benar merasa bersalah.

"Tidak papa, Nak. Ayah sama

bunda juga baru turun dari kamar.

Sebelumnya, kami sama-sama

membersihkan diri," jawab Hadi,

mencoba menghilangkan

kegelisahan Khaira karena rasa

bersalahnya.

Khaira langsung menghembus

napasnya dengan pelan. "Syukurlah

kalau begitu," ucapnya, merasa

lega.

Mereka mulai mengambil menu

makan malam yang tersedia di atas

meja, yang sudah disiapkan bibi

sebelumnya.

Khaira menunggu ayah dan ibu

mertuanya untuk mengambil

makanan lebih dulu, sebagai tanda

bahwa dia menghormati

mertuanya.

Setelah itu, barulah dia

mengambil sebuah piring yang

masih menangkup di sana.

"Kamu mau makan apa?"

tanyanya kepada Galvin, yang

duduk tepat di sampingnya.

"Biar gue ambil sendiri," ucap

Galvin.

Dia hendak meraih piring yang

ada di genggaman Khaira, tetapi

Khaira segera menjauhkannya.

"Aku aja," ucap Khaira, lembut.

Galvin tidak ingin berdebat, dia

akhirnya mengangguk dan

mengizinkan Khaira

mengambilkan nasi untuknya.

Padahal awalnya dia ingin

melakukan sendiri, karena tidak

ingin merepotkan Khaira.

"Lauknya mau apa?" tanya

Khaira kembali.

"Apa aja."

Galvin memanglah tipikal

orang yang pemilih dalam

makanan. Namun, semua makanan

yang sudah terhidang di atas meja

makannya, sudah pasti dia suka.

Hal itu dikarenakan kepala

pelayanan dan juru masak di

rumahnya sudah tau makanan apa

yang dia suka dan makanan apa

yang tidak dia suka.

"Suka pedes?" tanya Khaira,

sebelum menambahkan sambel

pada piring makan Galvin.

"Ngga," jawab Galvin singkat.

"Di rumah ini cuma bunda yang

suka pedes, jadi bunda selalu minta

bibi buatin sambel."

"Kebetulan Khaira juga suka

pedes, Bunda." Khaira

memberitahu, karena dia cukup

ecaitid begitu tahu ibu mertuanya

menyukai hal yang sama

dengannya.

"Wah, bagus. Bunda jadi punya

temen," respon Diana yang tidak

kalah ecaitid-nya dari Khaira.

"Jangan keseringan makan

pedes apalagi pedes banget. Ga baik

buat kesehatan," ucap Hadi,

memperingati.

"Mereka berdua memang selalu

larang bunda makan pedes," cibir

Diana, sambil melirik ke arah Hadi

dan Galvin secara bergantian, lewat

sudut matanya.

Khaira tertawa pelan melihat

tingkah ibu mertuanya yang

mengadukan hal itu padanya.

"Ini cukup?" tanya Khaira

kembali beralih kepada Galvin,

sambil menunjukkan makanan di

piring itu.

Galvin langsung mengangguk.

"Hm, cukup."

Mereka mulai menyantap

makan malam itu dengan khidmat.

Tidak terlalu banyak berbicara dan

mengobrol.

Waktu mereka difokuskan

untuk makan, hingga makan

malam mereka selesai.

"Kalian mau langsung istirahat

atau ngobrol dulu di sini?" tanya

Diana, kepada Khaira dan Galvin.

Mereka sudah berada di ruang

keluarga, yang jaraknya cukup

dekat dengan ruang makan mereka.

"Langsung istirahat, Bun."

Galvin menjawab, tanpa berdiskusi

lebih dulu dengan Khaira.

Khaira merasa tidak enak

dengan mertuanya, tetapi dia juga

tidak mungkin menentang

keinginan Galvin yang ingin

langsung beristirahat.

"Ayo, Khaira." Galvin mengajak

Khaira.

Khaira terkejut, karena Galvin mengajaknya, padahal dia berpikir

jika Galvin akan beristirahat lebih

dulu, tanpa mempedulikannya.

Ditambah lagi kamar tidur

mereka yang terpisah, sehingga

tidak berpengaruh, jika mereka

istirahat bersama atau tidak.

Galvin kembali menatap

Khaira, karena Khaira masih setia

duduk di sofa itu bersama kedua

orang tuanya.

Khaira yang paham akan

tatapan itu, langsung saja menatap

ayah dan ibu mertuanya untuk

berpamitan.

"Kita ke atas duluan, Ayah,

Bunda." Khaira bangkit dari sofa

itu.

"Silahkan, Nak." Hadi

mengizinkan, begitu juga Diana.

Khaira menundukkan sedikit

kepalanya kepada mereka, sebelum

akhirnya dia menyusul Galvin yang

sudah lebih dulu menaiki anak

tangga.

"Lucu sekali mereka. Masih

malu-malu dan canggung," ucap

Diana, sambil tersenyum melihat

tingkah anak dan menantunya itu.

"Kenapa mereka saling

canggung gitu ya, Bun? Bukannya

mereka teman satu kelas dan

Khaira juga sekretaris Galvin di

sekolahan, kan?" tanya Hadi.

"Jelas canggung, Ayah. Mereka

belum terbiasa dengan status baru

mereka." Diana menjawab, dan

kembali tertawa pelan.

"Benar juga." Hadi setuju.

Mereka melanjutkan kembali

menonton televisi di ruang

keluarga. Sementara Khaira dan

Galvin sudah hilang dari

pandangan mereka.

"Langsung tidur," ucap Galvin,

saat mereka berdua sudah berada di

depan pintu masing-masing.

Khaira langsung mengangguk.

Dia juga akan langsung beristirahat

setelah nanti membersihkan diri

terlebih dahulu, karena dia sungguh

merasakan lelah dengan

aktivitasnya di hari ini.

"Kamu udah shalat isya?" tanya

Khaira, begitu Galvin hendak

membuka pintu kamarnya.

Galvin mengangguk pelan.

Pertanda bahwa dia sudah

melakukan salah satu kewajiban

itu.

Khaira langsung tersenyum

sambil mengangguk.

"Ada lagi?" tanya Galvin, sambil

menaikkan salah satu alisnya.

Khaira langsung

menggelengkan kepalanya, sambil

tersenyum di balik cadar.

"Assalamu'alaikum," salam

Khaira, sebelum mereka benar-

benar berpisah di pintu kamar itu.

"Wa'alaikumsalam," jawab

Galvin.

Mereka kemudian masuk ke

dalam kamar mereka masing-

masing yang saling bersampingan.

Derztt… Derztt… Derztt…

Deringan ponsel itu

mengganggu ketenangan.

Galvin yang baru saja berbaring

dan hendak memejamkan mata

untuk tidur, tiba-tiba dikejutkan

oleh suara deringan ponselnya yang

dia letakkan di atas nakas, samping

tempat tidurnya.

Awalnya Galvin enggan

menerima panggilan itu, tetapi

semakin lama suara panggilan itu

semakin menganggunya.

Hingga akhirnya di

memutuskan untuk meraih

ponselnya, kemudian memeriksa

siapa yang berani mengganggunya

malam-malam seperti itu.

— Fardan —

Setelah melihat nama kontak

itu di layar ponselnya, tanpa lama

lagi Galvin langsung mengangkat

panggilannya.

Jika Fardan sudah

meneleponnya hingga berkali-kali

seperti itu, sudah dapat dipastikan

ada hal penting yang terjadi.

"Kenapa?" tanya Galvin, lewat

panggilan telepon.

"Ezar dikeroyok dan sekarang

dia ga sadar. Lo buruan ke rumah

sakit. Gue sharelok sekarang,"

jawab Fardan, dari seberang telepon

sana.

"Gue ke sana sekarang." Galvin

langsung menjawab, tanpa

berpikir.

Tutt!

Panggilan itu langsung

terputus.

Galvin yang mematikan

panggilan itu, tanpa menanggapi

lagi tentang apa yang Fardan

katakan.

Dengan cepat, dia bangkit dari

tempat tidurnya kemudian meraih

dan mengenakkan jaketnya

hitamnya.

Setelah itu, dia langsung

mengambil kunci motornya yang

dia simpan di dalam nakas.

Ceklek!

Pintu kamar Galvin terbuka

bersamaan dengan pintu kamar

Khaira yang ikut terbuka.

"Kamu mau ke mana?" tanya

Khaira, yang hendak pergi ke dapur

untuk membawa air minum.

"Ke luar sebentar ada urusan,"

jawab Galvin, sambil menatap

pesan yang baru saja masuk ke

ponselnya.

Pesan itu berasal dari Fardan

yang mengirimkan alamat rumah

sakit di mana Ezar berada.

"Izin sama ayah dan bunda

juga?" tanya Khaira kembali.

Galvin langsung memasukkan

ponselnya ke dalam saku jaket.

"Mereka pasti udah tidur,"

jawabnya, atas pertanyaan Khaira.

Dia masih bisa menjawab

dengan tenang, supaya Khaira tidak

terlalu banyak mempertanyakan ke

mana dia akan pergi.

"Kamu pulangnya jam berapa?"

tanya Khaira kembali.

"Jangan nunggu gue pulang. Lo

langsung tidur aja," jawab Galvin.

"Terus siapa nanti yang buka

pintu?" Khaira terus bertanya

seperti itu, karena dia khawatir

kepada Galvin.

Masalahnya, hari sudah sangat

malam, di mana sudah masuk

waktunya untuk orang-orang

beristirahat.

"Gue punya kunci cadangan,"

jawab Galvin, simpel.

"Yaudah, hati-hati," lirih Khaira

pelan, tampak tidak rela.

Ingin sekali dia melarang

Galvin pergi, tetapi dia tidak berani

untuk mengatakan itu, karena

mereka sudah sepakat untuk tidak

saling mengganggu dan tidak saling

menuntut dalam hal apa pun.

"Gue pergi," ucap Galvin.

Khaira langsung mengangguk

tanpa bertanya lagi.

Setelah mendapat anggukkan

dari Khaira, Galvin langsung pergi

begitu saja memasuki pintu lift yang ada di rumah mereka.

Melihat sikap Galvin yang tampak terburu-buru seperti itu, membuat Khaira beranggapan bahwa ada sesuatu yang penting terjadi, sehingga Galvin pergi melewati pintu lift dan Galvin pergi tanpa mengucapkan salam terlebih dulu.

'Semoga kamu baik-baik saja,' batin Khaira, dengan segala rasa khawatirnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!