Di usia 24-th Paroline Benedicta adalah wanita yang paling banyak dibicarakan di kampusnya di Los Angeles. Menawan, kaya, dan penuh teka-teki, ia menyusuri lorong kampus bukan dengan tas desainer, melainkan dengan kereta bayi yang membawa Andreas Sunny yang berusia dua tahun. Rumor yang beredar sangat kejam, mereka bilang dia adalah sosialita yang jatuh, seorang gadis yang ditinggalkan kekasihnya setelah melakukan kesalahan yang ceroboh.
Kenyataannya, Paroline adalah wanita yang memegang teguh janjinya, membesarkan putra yatim piatu dari mendiang sahabatnya seolah anaknya sendiri. Ia telah menukar malam-malam liarnya dan gaun pesta sutranya dengan kekuatan tenang dari seorang ibu, mengubur masa lalu pemberontaknya demi memberikan kehidupan yang sempurna bagi Andreas.
Masuklah Fharell Desmon, mahasiswa baru berusia sembilan belas tahun sekaligus pewaris karismatik dari Desmon Group.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#5
Malam itu, suasana di kediaman mewah keluarga Benedicta terasa berbeda. Paroline sedang duduk di atas karpet bulu di ruang bermain Andreas, mencoba menyusun balok-balok kayu bersama putranya. Biasanya, Andreas hanya akan mengeluarkan suara-suara gumaman tak bermakna atau paling banyak hanya memanggil "Mama" atau "Ma".
Dokter anak memang pernah bilang bahwa Andreas mungkin sedikit terlambat bicara karena kurangnya simulasi dari sosok ayah atau lingkungan yang lebih ramai. Paro selalu merasa bersalah akan hal itu, merasa bahwa kasih sayangnya saja tidak cukup.
Namun, sepulang dari kelas Fharell siang tadi, sesuatu yang ajaib terjadi.
"Sunny, ini warna apa?" tanya Paro lembut sambil menunjukkan balok biru.
Andreas tidak melihat balok itu. Mata besarnya menatap pintu kamar yang terbuka, seolah sedang menunggu seseorang. "Pa... Pa..." gumamnya pelan.
Paro tertegun. Ia menghentikan gerakannya. "Sunny sayang? Bilang apa?"
"Papa... Papa..." Andreas tiba-tiba berceloteh dengan sangat jelas. Ia mulai merangkak ke arah pintu, tangannya menggapai-gapai udara. "Papa... mau... Papa..."
Paroline menutup mulutnya dengan tangan, matanya membelalak tidak percaya. Itu bukan sekadar satu kata. Itu adalah rangkaian kata yang selama ini sangat sulit keluar dari bibir Andreas. Seolah-olah pertemuan singkat dengan Fharell telah membuka sumbat di tenggorokannya.
"Papa... Fharell... Papa... Main... Pa... Pa..." Andreas terus berceloteh, bahkan jumlah katanya kini terasa melonjak drastis. Paro menghitung dalam hati, hampir 50 kata baru keluar dari mulut Andreas hanya dalam beberapa jam terakhir. Nama Fharell seolah menjadi kunci pembuka dunia bahasa bagi bayi itu.
Paro terduduk lemas di lantai, air mata haru mulai menggenang. Di satu sisi, ia sangat bahagia melihat perkembangan anaknya. Namun di sisi lain, ada rasa getir yang aneh. Bagaimana mungkin seorang mahasiswa baru berusia 19 tahun bisa memberikan stimulasi yang begitu kuat pada Andreas dalam waktu singkat?
"Sepertinya dia benar-benar merindukan Fharell,?" bisik Paro pada dirinya sendiri.
Ia mengambil ponselnya dan melihat pesan balasan dari Fharell yang masuk dengan cepat:
Fharell: "Tentu saja aku mau! Aku bahkan sudah memesan tiket VIP untuk kita bertiga. Andreas bilang apa lagi sekarang? Jangan bilang dia sudah mulai memintaku membelikannya mobil sport? Haha!"
Paro tersenyum sambil mengusap air matanya. Ia mengetik balasan dengan tangan bergetar.
Paroline: "Kau tidak akan percaya ini, Fharell. Dia tidak berhenti menyebut namamu. Dia terus bergumam 'Mau Papa'. Kau sepertinya sudah memberikan mantra pada anakku."
Keesokan harinya, Fharell sudah menunggu di depan gerbang taman bermain dengan gaya yang sangat modis, kacamata hitam, kaus putih polos, dan jaket denim. Saat mobil Paroline berhenti di depannya, ia langsung berlari kecil membukakan pintu.
"Papa!" Andreas yang berada di car seat langsung bersorak kegirangan begitu melihat wajah Fharell.
Fharell membeku sesaat, lalu tertawa sangat lebar. Ia segera menggendong Andreas dan menghujani pipi bayi itu dengan ciuman. "Hei, Pangeran! Wah, bicaramu makin lancar ya? Siapa yang ajari? Papa Fharell ya?"
Paroline keluar dari mobil, mengenakan sundress putih yang simpel namun tetap memperlihatkan aura seksinya yang elegan. Ia menatap interaksi keduanya dengan perasaan campur aduk.
"Dia tidak berhenti bicara sejak kemarin, Fharell. Dokter bilang dia butuh stimulasi, dan sepertinya... stimulasinya adalah kau," ujar Paro sambil tersenyum tulus.
Fharell menatap Paroline, lalu mendekat hingga jarak mereka hanya tersisa beberapa senti. "Kalau begitu, aku harus sering-sering ada di dekatnya, kan? Dan itu artinya, aku juga harus sering-sering ada di dekatmu."
Ia mengedipkan sebelah mata, membuat jantung Paroline berdegup kencang lagi. Fharell benar-benar tahu bagaimana cara memanfaatkan situasi dengan humor dan keberaniannya.
"Ayo, hari ini kita buat Andreas bicara 100 kata!" seru Fharell sambil memanggul Andreas di bahunya, berjalan mendahului Paroline dengan langkah tegap, seolah ia memang ayah kandung dari anak itu.
🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰